/ Romansa / TETANGGA TAPI PANAS / Bab 101 Blokir

공유

Bab 101 Blokir

작가: Penulis Hoki
last update 게시일: 2026-06-03 23:46:39

Reza memejamkan matanya rapat-rapat, mengatur ritme napasnya agar terdengar sehalus dan seatur mungkin, persis seperti orang yang sudah terlelap ke dalam tidur yang nyenyak. Namun, di balik kelopak mata yang tertutup itu, otak Reza sedang bekerja dengan kecepatan penuh, berputar dengan sangat liar. Kepalanya dipenuhi oleh berbagai macam kalkulasi dan strategi yang dingin.

Siapa kira-kira orang yang berani mengirimkan jam wecker dengan kamera pengintai itu ke rumahnya? Pertanyaan itu terus berga
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 103 Milikku

    Kantin Genta Pustaka di lantai dasar biasanya selalu ramai oleh hiruk pikuk karyawan, namun pagi ini suasananya sangat lengang. Jam kerja sudah dimulai sejak setengah jam yang lalu, menyisakan deretan meja dan kursi kosong yang tertata rapi. Di salah satu sudut kantin yang berdekatan dengan jendela kaca besar, Ruby duduk berhadapan dengan Vico. Di atas meja mereka tersaji dua porsi nasi goreng dan dua cangkir kopi yang asapnya masih mengepul tipis.Ruby tampak sangat asyik menikmati sarapannya. Wanita itu menunduk, matanya sepenuhnya fokus pada piring di hadapannya. Ruby memiliki prinsip yang selalu ia pegang teguh sejak kecil, yaitu saat sedang makan, ia pantang untuk berbicara. Baginya, menikmati hidangan adalah sebuah ritual sunyi untuk mensyukuri makanan, sehingga ia benar-benar mengunci mulutnya rapat-rapat. Sesekali ia hanya mengunyah dengan pelan, sama sekali tidak memedulikan keberadaan pria berjas abu-abu terang yang duduk di seberangnya.Padahal, pria di depannya itu bukan p

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 102 Perubahan aura

    Pagi itu, suasana di gedung Genta Pustaka terasa sedikit berbeda. Vico, sang rubah licik yang biasanya hanya datang untuk urusan rapat dewan direksi, kini sudah menampakkan batang hidungnya sejak pagi buta. Pria berjas abu-abu terang tanpa dasi itu berdiri bersandar di dekat mesin absensi lobi utama, seolah sedang menunggu mangsa. Dan benar saja, mangsa yang ditunggunya muncul. Ruby berjalan masuk dengan wajah sedikit lesu, masih memikirkan rentetan kejadian semalam di rumahnya bersama Reza.Melihat kehadiran Ruby, Vico langsung menegakkan tubuhnya dan menyunggingkan senyum maut. Dengan langkah panjang, ia memangkas jarak dan menyejajarkan langkahnya di samping Ruby. Vico mulai melancarkan aksinya, dengan berani mendekati Ruby, memuji penampilan wanita itu hari ini, dan melontarkan lelucon ringan yang memaksa Ruby untuk merespons dengan senyum canggung.Vico sangat tahu batas, ia tidak langsung menyerang secara agresif, melainkan merayap perlahan seperti bisa ular yang masuk ke dalam

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 101 Blokir

    Reza memejamkan matanya rapat-rapat, mengatur ritme napasnya agar terdengar sehalus dan seatur mungkin, persis seperti orang yang sudah terlelap ke dalam tidur yang nyenyak. Namun, di balik kelopak mata yang tertutup itu, otak Reza sedang bekerja dengan kecepatan penuh, berputar dengan sangat liar. Kepalanya dipenuhi oleh berbagai macam kalkulasi dan strategi yang dingin.Siapa kira-kira orang yang berani mengirimkan jam wecker dengan kamera pengintai itu ke rumahnya? Pertanyaan itu terus bergaung di benak Reza. Pikiran pertamanya tentu saja tertuju pada Dimas Adiwijaya, si psikopat yang selama ini pernah mencari celah untuk mendekati Ruby di kantor.Hubungan kerja yang tidak wajar di antara istrinya dan bosnya itu sudah lama membuat insting protektif Reza siaga satu. “Apakah Dimas mau berulah lagi? Memasang mata-mata langsung di dalam ruangan paling pribadi tempat dia dan Ruby memadu kasih?” Sialan, batin Reza menggeram dalam diam.Namun, ingatan Reza kemudian melayang pada kejadian

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 100 Titik 12

    Setelah menembus kemacetan malam, mereka akhirnya sampai di rumah kecil mereka yang nyaman. Aura dingin Reza benar-benar menguap begitu dia menginjakkan kaki di dapur. Sambil bersenandung kecil, pria itu mulai sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Ruby memperhatikan suaminya dari meja makan, merasa hangat sekaligus bersyukur memiliki pria yang begitu memperhatikannya di tengah segala badai yang sedang mengancam dari luar. Rasa lelahnya sedikit berkurang melihat punggung tegap Reza yang sedang mengaduk masakan di atas wajan.Selesai makan malam yang sederhana namun nikmat, mereka berdua pindah ke ruang tengah untuk menonton televisi. Reza duduk di sofa sambil menarik Ruby ke dalam dekapan lengannya, membiarkan kepala istrinya bersandar di dada bidangnya. Jari-jari besar Reza mengusap rambut Ruby dengan lembut, menciptakan suasana damai yang sudah lama tidak Ruby rasakan.Sambil menatap layar televisi yang menampilkan acara bincang-bincang malam, Reza tiba-tiba membuka suara

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 99 Curiga

    Sore itu, langit Jakarta mulai meredup, menandakan jam pulang kantor telah tiba. Di lobi utama gedung Genta Pustaka yang megah, lalu lalang karyawan tampak padat. Namun, perhatian sebagian besar karyawati di lobi itu tanpa sadar tertuju pada satu titik yang sama.Di dekat pilar pualam, berdirilah Reza.Pria itu tidak mengenakan setelan jas mahal seharga ratusan juta seperti Dimas atau Vico. Ia hanya mengenakan kaus hitam polos yang melekat ketat mencetak otot dada dan lengannya, dipadukan dengan celana jins gelap dan jaket kulit hitam yang disampirkan di satu bahu. Namun, aura yang dipancarkannya sungguh luar biasa mendominasi. Wajah tampannya yang tegas bersorot sangat tajam dan dingin, seolah ada lapisan es tebal yang membekukan siapa saja yang berani menatapnya.Tari, sang editor muda yang haus perhatian, melihat kesempatan emas. Tari sengaja merapikan blusnya agar belahan dadanya lebih terlihat, lalu berjalan gemulai menghampiri Reza."Permisi... Mas ini suaminya Mbak Ruby, ya?" s

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 98 Uler

    Mendapat bentakan keras dari Dimas yang menggelegar di seluruh penjuru ruangan, Vico sama sekali tidak terlihat gentar. Pria berjas maroon gelap itu justru terkekeh pelan, sebuah tawa kering yang terdengar sangat meremehkan. Ia mengangkat kedua tangannya ke udara setinggi dada, memberikan gestur menyerah yang jelas-jelas palsu."Oke, oke. Santai, Bro. Gue nggak akan ikut campur urusan lu sama... mainan baru lu ini," ucap Vico santai, sengaja menekan kata "mainan" untuk menginjak harga diri Ruby sekaligus memancing emosi Dimas.Tanpa menunggu balasan dari Dimas yang wajahnya sudah memerah padam menahan murka, Vico memutar tubuhnya untuk berjalan keluar. Namun, sebelum pria itu benar-benar melangkah melewati ambang pintu mahoni, ia menghentikan langkahnya dan menoleh sekali lagi ke belakang.Bukan menatap Dimas, melainkan menatap langsung ke kedalaman mata Ruby.Dari balik dekapan posesif Dimas, tubuh Ruby menegang kaku saat matanya beradu pandang dengan mata elang Vico. Pria itu menyun

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status