Beranda / Romansa / TETANGGA TAPI PANAS / Bab 107 Flashback

Share

Bab 107 Flashback

Penulis: Penulis Hoki
last update Tanggal publikasi: 2026-06-21 01:34:50

"Dengar baik-baik, Vico," desis Dimas dengan suara yang sangat rendah, berat, dan bergetar karena menahan amarah yang sudah mencapai puncaknya. "Jika kau berani menyentuh Ruby walau hanya seujung rambutnya saja, jika kau sampai membuat satu lecet pun di kulitnya... aku bersumpah atas segala iblis di neraka, aku tidak akan segan-segan untuk membongkar isi perutmu dan menjadikan ususmu sebagai pajangan di lobi gedung ini. Di mana kau menyembunyikan wanitaku?"

Mendengar ancaman kejam tersebut, Vic
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Suzy.1 Satu
berasa masuk ke cerita kerajaan ,cinta utk anak selir dan anak istri sah..hhh
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 120 Pingsan

    Kebingungan di mata Ruby terlihat begitu murni, begitu tak berdosa. Raut wajah polos tanpa cacat itu seolah menjeritkan ketidaktahuannya akan apa yang tengah terjadi. Namun bagi Reza, ketidaktahuan itu justru terasa seperti racun yang menyiksa. Di dalam kepalanya, memori visual tentang video ciuman di dalam mobil dan deretan foto keintiman istrinya bersama Dimas berputar terus di otaknya.Ia tidak bisa berlama-lama di sini. Dinding-dinding pertahanan psikologis yang ia bangun mulai retak saat melihat bulir air mata jatuh melintasi pipi pucat Ruby. Ada satu bagian dalam jiwanya yang meronta, bagian yang ingin mempercayai wanita di depannya, bagian yang berbisik bahwa ia sanggup memaafkan segalanya—bahkan jika harus berlutut di depan kaki Ruby, memeluk lutut istrinya, dan berderai air mata memohon agar wanita itu mau menggugurkan janin di dalam kandungannya demi memulai segalanya dari nol.Ketakutan akan kelumpuhan emosional itu memicu insting bertahan hidup terdasar dalam diri Reza. Ia

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 119 Mau kemana?

    Suasana di lantai bawah rumah persembunyian itu kini tidak lagi terasa seperti tempat perlindungan. Ruangan itu telah berubah menjadi ruangan kedap udara yang menyesakkan, tempat di mana sisa-sisa kepercayaan seorang Reza dihancurkan hingga menjadi kepingan debu.Reza bangkit dari lantai kayu. Wajahnya yang beberapa menit lalu hancur oleh air mata dan keputusasaan, kini telah berubah mengeras, sedingin bongkahan es di kutub terdalam. Segala rasa cinta, kelembutan, dan insting melindunginya telah mati rasa, tergantikan oleh kekosongan yang mengerikan.Dengan gerakan mekanis dan rahang terkatup rapat, Reza berjalan menuju tas ransel taktis hitamnya. Ia mulai memasukkan barang-barangnya. Ia hanya mengambil barang-barang yang benar-benar miliknya. Reza bahkan sengaja mengeluarkan sebuah kemeja flanel pemberian Ruby dari dalam tas itu, membuangnya ke lantai seolah kemeja itu dipenuhi oleh bisa racun yang mematikan.Ia tidak akan membalas dendam pada Ruby. Ia tidak akan menyakiti wanita itu

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 118 Lumpuh

    Mata Reza terbelalak lebar. Jantungnya serasa berhenti berdetak selama beberapa detik. Oksigen di ruang tengah itu seolah tersedot habis.Anakku... yang tengah Ruby kandung saat ini.Otak Reza langsung memutar kembali kejadian beberapa menit yang lalu. Mual yang sangat tiba-tiba. Penolakan ekstrem terhadap bau badan. Tubuh yang lemas tanpa sebab yang jelas. Itu bukan sekadar stres lambung. Itu adalah morning sickness. Ruby sedang hamil.Tapi yang membuat dada Reza terasa seperti ditikam menggunakan pisau berkarat adalah klaim Dimas. Pewarisku."Brengsek..." desis Reza, tangannya gemetar memegang ponsel. Ia berusaha menggunakan logika intelijennya, berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini hanyalah manipulasi Dimas, taktik kotor untuk menghancurkan mentalnya.Namun, sebelum Reza bisa merasionalkan pikirannya, dua buah pesan lanjutan masuk secara berurutan. Kali ini bukan berupa teks, melainkan lampiran berkas multimedia. Sebuah video dan sederet tautan foto.Dengan napas yang mulai memburu

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 117 Senjata Dimas

    Setelah tombol Kirim ditekan dan surel pengunduran diri itu melesat membelah jaringan maya menuju kotak masuk Genta Pustaka, keheningan yang tersisa di ruang tengah rumah persembunyian itu terasa berbeda. Ada beban berat yang seolah baru saja terangkat dari pundak Ruby. Rantai kasat mata yang selama ini mengikat lehernya perlahan melonggar.Ruby menghela napas panjang, menutup layar laptopnya, dan menyandarkan punggungnya ke sofa. Reza, yang sejak tadi duduk bersila di sampingnya, meraih laptop itu dan meletakkannya di atas meja. Pria itu kemudian beringsut mendekat, menarik tubuh mungil istrinya ke dalam pelukannya."Sudah selesai," bisik Reza lembut, mengecup puncak kepala Ruby berulang kali. "Kamu bebas sekarang, By."Ruby mengangguk pelan di ceruk leher suaminya. Aroma maskulin yang menguar dari tubuh Reza—selalu berhasil menjadi penenang terbaik bagi Ruby. Di tengah segala kekacauan dan pelarian ini, pelukan Reza adalah satu-satunya tempat di mana Ruby merasa dunia kembali normal

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 116 Pengunduran diri

    Mendengar penjelasan suaminya yang masuk akal dan merasakan perlindungan posesif yang begitu nyata dari pria itu, pertahanan ego profesional Ruby runtuh. Reza benar. Tidak ada gunanya mempertahankan karier cemerlang jika harus bekerja di bawah tatapan mata seorang predator yang telah menanam kamera di dalam kamar tidurnya sendiri.Ruby mengangguk pelan. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian, lalu meletakkan kesepuluh jemarinya di atas keyboard.Tanpa ragu lagi, Ruby mulai mengetik. Jari-jarinya menari di atas tuts dengan suara ketukan yang konstan memecah keheningan ruang tengah.Reza memperhatikan setiap kata yang diketik istrinya dalam diam.Yth. Manajemen Genta Pustaka dan Bapak Bramantyo,Menanggapi surel penyesuaian jadwal ini, bersamaan dengan ini saya, Ruby, selaku Penulis Genta Pustaka, menyatakan pengunduran diri saya secara resmi dari perusahaan, terhitung mulai hari ini dan detik ini juga.Keputusan ini saya ambil demi alasan keselamatan dan kesehatan pribad

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 115 Email penting

    Mobil SUV hitam pekat itu perlahan mulai bergerak dari bahu jalan. Mesin bertenaga besarnya berputar begitu halus nyaris tanpa getaran, meluncur membelah genangan air hujan di atas aspal dengan senyap. Tidak ada decitan ban, tidak ada lampu sorot yang menyilaukan, dan tidak ada jejak intimidasi yang ditinggalkan di depan pagar kayu rumah persembunyian tersebut.Kendaraan mewah itu melaju perlahan meninggalkan pinggiran kota, berbelok di persimpangan sepi, dan menghilang ke dalam kegelapan malam ibu kota—membawa serta seorang pria yang memilih untuk menyimpan amarahnya di dalam lemari es, mengubah perburuan brutal menjadi sebuah catur psikologis yang lambat, elegan, dan jauh lebih mematikan dari apa pun yang pernah dibayangkan oleh Ruby maupun suaminya.***Sinar matahari pagi menyusup masuk melalui celah tirai jendela di lantai dua rumah persembunyian itu, melukis garis-garis keemasan di atas lantai kayu berlapis pelitur. Suasana di kawasan pinggiran kota itu begitu damai, hanya terde

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 4 Kurang hot

    "Kurang dapet, By. Masih hambar."Ruby nyaris menjatuhkan ponselnya saat Mbak Tari, editor senior di tempatnya menulis, menggeser tablet dengan raut wajah tidak puas."Hambar gimana, Mbak? Itu view-nya paling tinggi di minggu ini, lho," sahut Ruby, mencoba membela diri meski suaranya agak bergetar.

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 3 Ahh...

    Ruby mengumpat habis-habisan begitu pintu kamarnya tertutup rapat."Gue nggak mau ketemu lo lagi. sama lo, Za!" desisnya sambil mengusap bibirnya kasar dengan punggung tangan.Ia melempar bantal ke arah pintu dengan tenaga sisa, seolah bantal itu bisa menembus kayu dan mengenai wajah menyebalkan Re

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 2 Butuh bantuan?

    "Reza, gue nggak lagi bercanda!" Ruby menjejakkan kakinya ke lantai dengan frustrasi.Ia kembali melompat lebih tinggi, melupakan segala akal sehatnya. Sisa harga dirinya yang tertulis di dalam catatan itu harus diselamatkan. Ruby terus bergerak mencari celah dari pertahanan Reza untuk meraih ponse

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 1 Ketahuan

    "Nyari ini, By?"Bulu kuduk Ruby serentak berdiri mendengar suara berat dan serak itu. Dia berputar cepat, nyaris terpeleset lantai kamar mandi yang masih basah.Di sana, Reza bersandar dengan santai di kusen pintu kamarnya seolah itu markas pribadinya.Tetangga sebelah rumah yang selama ini cuma R

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status