LOGINKesadaranku kembali dalam bentuk fragmen-fragmen yang menyakitkan. Hal pertama yang kurasakan bukan lagi api yang mencabik organ dalamku, melainkan sensasi dingin yang merambat dari ujung jari kaki hingga ke ubun-ubun.
Namun, itu bukan dingin yang mematikan lebih seperti dingin yang menenangkan, seperti kompres es di tengah demam yang membara. Mataku perlahan terbuka, namun segera menyempit karena cahaya lampu minyak yang remang-remang di sudut ruangan.Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui jendela besar Paviliun Mawar terasa seperti silet yang mengiris kelopak mataku. Cahaya itu terlalu terang, terlalu suci untuk suasana hatiku yang gelap. Meskipun tubuhku terasa jauh lebih ringan dibandingkan semalam, terima kasih kepada sisa-sisa energi kegelapan Vincent yang masih mendekam di pusat kutukanku. Nyeri tumpul di perutku masih menyisakan jejak racun yang belum sepenuhnya hilang. [Status Sistem: Pemulihan Pasca-Racun (70%)] [Peringatan: Resonansi Elemen Tidak Seimbang. Inang membutuhkan stabilisasi cahaya segera.] Aku bangkit dari tempat tidur dengan bantuan dua orang pelayan pribadi yang gemetar. Mereka bahkan tidak berani menatap mataku. Berita tentang apa yang terjadi di aula semalam pasti sudah menyebar seperti wabah. Seorang calon Permaisuri yang diracun, seorang Putra Mahkota yang mengamuk, dan seorang Duke yang menantang otoritas kerajaan demi tunangannya. "Lady Lavinia, Anda harus beristirahat. Kai
Kesadaranku kembali dalam bentuk fragmen-fragmen yang menyakitkan. Hal pertama yang kurasakan bukan lagi api yang mencabik organ dalamku, melainkan sensasi dingin yang merambat dari ujung jari kaki hingga ke ubun-ubun. Namun, itu bukan dingin yang mematikan lebih seperti dingin yang menenangkan, seperti kompres es di tengah demam yang membara. Mataku perlahan terbuka, namun segera menyempit karena cahaya lampu minyak yang remang-remang di sudut ruangan. Aku tidak lagi berada di Aula Agung yang bising. Bau parfum yang memuakkan dan aroma keringat para bangsawan telah digantikan oleh wangi cendana dan aroma tajam obat-obatan herbal. Aku berada di Paviliun Mawar sebuah bangunan terisolasi di sayap timur istana yang biasanya digunakan untuk anggota keluarga kerajaan yang sedang sakit parah atau ingin menyendiri. [Peringatan Sistem: Status Pasca-Racun!]
Aula utama Istana Blackwood terasa seolah-olah sedang menyusut. Suhu udara yang tadinya sejuk oleh sihir pendingin, kini terasa menyesakkan dan pengap. Di mataku, cahaya lampu kristal yang bergelantungan di langit-langit tidak lagi tampak mewah tapi mereka terlihat seperti ribuan mata tajam yang menghakimi, menunggu saat yang tepat untuk melihatku jatuh. Namun di dalam benakku sebuah peringatan muncul. [MISI UTAMA DIAKTIFKAN: Penjaga Keseimbangan Darah!] [Deskripsi: Kutukan Gairah keluarga Whitmore telah mencapai ambang batas. Untuk mencegah ‘kegilaan gairah’ inang pada usia 18 tahun, Anda harus menyatukan dan menstabilkan elemen darah murni dari tiga target utama.] [Persyaratan Stabilitas:] Elemen Api (Adrian Blackwood) – Progres: 30% Elemen Cahaya (Alaric Montague) – Progres: 0% Elemen Kegelapan (Vincent Valerius) – Progres: 0% [Sisa Waktu: 26 Hari Menuju ‘Kegilaan Gairah’ Puncak.] Aku menarik napas panjang, mencoba menekan denyut panas yang mulai menjalar
Begitu pintu aula agung dibuka, suasana berubah menjadi mencekam. Seluruh bangsawan Kekaisaran Blackwood berdiri di sana, namun atmosfernya seolah membeku saat aku melangkah masuk dengan menggandeng lengan Putra Mahkota. Gaun merah darah yang kukenakan sengaja menyingkap bagian punggung, tempat tato mawar hitam itu berada yang sekarang tampak sedikit bercahaya di bawah kulit porselenku akibat suhu tubuh yang mencapai 38.7°C. Mataku langsung terjatuh pada sosok di sudut aula. Alaric Montague. Ia berdiri kaku, wajahnya yang rupawan tampak hancur saat melihatku. Di sampingnya, berdiri sosok yang membuat sistemku berdenyut aneh. Vincent Valerius. Vincent adalah pria dengan identitas yang rumit. Di mata publik, dia adalah tangan kanan kepercayaan Alaric Montague. Namun, sebagai Lavinia yang didukung sistem dan pernah membaca novelnya, aku tahu kebenaran yang lebih dalam bahwa Vincent adalah ‘Bayangan Kerajaan’ yang merupakan pengawas rahasia yang ditugaskan langsung oleh Kaisar un
Aku tersenyum tipis. Marie masuk dengan langkah ragu, tangannya gemetar saat memegang nampan teh. "Nona... ada banyak kiriman hadiah di bawah. Dan... Duke Montague kembali datang. Beliau terlihat sangat mengerikan." "Biarkan dia menunggu. Kirim dulu surat ini lewat kurir resmi istana agar semua orang tahu bahwa aku, Lavinia Whitmore, yang membuang Duke itu sebelum dia sempat mengucapkan sepatah kata pun," kataku tenang. Setelah membiarkannya menunggu selama dua jam di aula bawah, aku akhirnya turun. Alaric Montague berdiri di sana, masih dengan wajah hancur seperti semalam, namun kali ini ia tampak lebih putus asa. "Lavinia! Aku sudah menerima surat itu dan aku merobeknya!" Alaric melangkah maju, mencoba mencengkeram tanganku, namun aku mundur dengan anggun. "Aku tahu aku telah menjadi bajingan. Aku tahu aku telah menyakitimu demi wanita yang ternyata hanya menggunakan aku. Tapi tolong... beri aku satu kesempatan lagi. Aku akan mengusir Clarissa, aku akan melakukan apa pun!"
Malam itu benar-benar menjadi titik balik yang tak terelakkan. Di dalam kereta kuda kerajaan yang berlambang singa emas, suasana terasa jauh lebih menyesakkan daripada di aula pesta yang riuh tadi. Bukan karena udara yang sempit, tapi karena aura Putra Mahkota Adrian Blackwood yang duduk di hadapanku terasa begitu mendominasi, seolah-olah ia sedang mengklaim setiap inci oksigen yang aku hirup. Adrian melepaskan kancing teratas seragam militernya dengan kasar, tampak berusaha mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan. Efek berada di dekatku saat kutukanku sedang aktif ternyata mulai memengaruhi dia juga. Meskipun dia memiliki energi sihir yang kuat, gairah yang terpancar dari mawar hitam di bahuku bukanlah sesuatu yang bisa ditepis dengan mudah oleh logika ksatria mana pun. "kamu benar-benar berbahaya, Lavinia," suara Adrian pecah dalam kesunyian kereta yang bergerak dinamis. Mata birunya yang tajam menatapku, seolah sedang menelanjangi semua rencana yang ada di kepala







