LOGINDi dalam kereta, aku menghela napas panjang. "Itu tadi sangat dramatis, Yang Mulia."
Adrian tidak langsung menjawab. Ia menatap tangannya yang tadi memegang pinggangku, lalu menatapku dengan senyum miring yang terlihat sangat kekanakan namun berbahaya. "Kamu benar-benar wanita yang merepotkan, Lavinia," gumamnya. "Tapi kurasa, aku mulai menyukai kerepotan ini." Aku tersenyum puas. Satu target sudah masuk perangkap. Sekarang tinggal menunggu ulang tahunku yang ke-18. Rahasia kutukan ini belum sepenuhnya tuntas, dan aku tahu, malam itu akan menjadi malam yang jauh lebih liar dari jamuan makan siang ini. *** Kereta kuda Putra Mahkota akhirnya berhenti tepat di depan gerbang megah kediaman Whitmore. Adrian tidak langsung melepaskanku. Ia menatapku lama, seolah sedang menimbang-nimbang apakah harus membiarkanku pergi atau membawaku sekalian ke istananya. "Istirahatlah, Lavinia," ucap Adrian, suaranya kini kembali dingin namun ada nada protektif yang tak bisa ia sembunyikan. "Jangan biarkan Duke itu mengganggumu malam ini. Aku akan mengirim tabib pribadiku besok pagi." Aku tersenyum manja, jemariku dengan berani mengusap rahangnya yang tegas. "Terima kasih, Yang Mulia. Kamu benar-benar pangeran berkuda putihku hari ini." Adrian berdehem canggung, telinganya memerah sebelum ia memerintahkan kusir untuk segera memacu kereta untuk pergi. Aku berdiri di depan gerbang, menatap laju kereta yang menjauh, lalu menghela napas panjang. Rasa panas di tubuhku sudah sedikit mereda berkat energi sihir Adrian, tapi aku tahu ini hanya penundaan sementara. "Nona! Anda akhirnya pulang!" Marie berlari menghampiriku dengan wajah panik. "Duke Alaric... dia sudah menunggu di dalam ruang tamu. Wajahnya terlihat sangat menyeramkan!" Aku memutar bola mataku. Si pria kaku itu benar-benar tidak tahu kapan harus menyerah. Saat aku melangkah masuk ke ruang tamu, suasana terasa mencekam. Alaric duduk di sofa kulit, masih dengan pakaian militer yang berantakan. Di sudut ruangan, ada sosok pria lain yang sedang berdiri membelakangi pintu, menatap lukisan keluarga Whitmore. "Akhirnya kau pulang, Lavinia," Alaric berdiri, suaranya bergetar karena amarah yang ditahan. "Apa kau tahu betapa memalukannya melihat tunanganku sendiri keluar dari kereta Putra Mahkota dalam kondisi berantakan?" Aku melepas jubah luar dan melemparkannya ke kursi dengan santai. "Memalukan? Menurutku itu justru prestasi. Setidaknya ada pria yang benar-benar peduli saat aku pusing, bukannya sibuk meniup tangan gadis lain." "Lavinia!" bentak Alaric. "Sudahlah, Alaric. Jangan berteriak begitu pada wanita cantik, itu tidak sopan." Pria yang tadinya berdiri di sudut ruangan berbalik. Dia adalah Vincent Valerius, second male lead yang di dalam novel aslinya adalah tangan kanan Duke dan orang yang paling setia melindungi Clarissa. Dia memiliki rambut cokelat gelap yang rapi dan senyum yang selalu tersungging di bibirnya. Senyum yang terlihat ramah tapi tidak pernah mencapai matanya. Inilah dia, pria yang menyimpan obsesi gelap di balik wajah malaikatnya. "Vincent? Sedang apa kamu di sini?" tanyaku, memberikan tatapan penasaran yang centil. Vincent melangkah mendekat, ia meraih tanganku dan mengecup punggung tanganku dengan sangat elegan. "Aku mendengar Lady Whitmore sedang sakit, jadi aku datang membawakan ramuan penenang dari wilayah Barat. Tapi sepertinya... Anda terlihat jauh lebih segar daripada yang kudengar." Matanya yang tajam menatapku, seolah bisa melihat menembus kulitku dan menemukan rahasia kutukan yang sedang bersembunyi di sana. "Oh, aku sudah jauh lebih baik berkat bantuan Yang Mulia Adrian," jawabku sambil menarik tanganku perlahan, memberikan kesan "sulit didapatkan". Alaric mendengus kasar. "Vincent, tinggalkan kami berdua. Aku harus bicara dengan tunanganku." Vincent memberikan senyum miring yang provokatif. "Tentu, Duke. Tapi jangan lupa, besok malam adalah pesta topeng di kediaman Beaumont. Bukankah Anda berjanji akan menemani Lady Clarissa ke sana?" Wajah Alaric mendadak kaku. Dia melirikku dengan rasa bersalah yang terselip, tapi harga dirinya terlalu tinggi untuk mengakuinya. "Pergilah, Alaric," ucapku santai sambil berjalan menuju tangga. "Bawa saja Clarissa-mu itu. Aku juga punya banyak undangan lain yang lebih menarik." "Lavinia, kau mau ke pesta itu dengan siapa?" tanya Alaric dengan nada menuntut. Aku berhenti di anak tangga pertama, menoleh ke belakang, dan mengedipkan mata pada Vincent yang masih berdiri di sana. "Mungkin dengan seseorang yang tahu cara menghargai wanita. Benar kan, Vincent?" Vincent terkekeh rendah, matanya berkilat penuh minat. "Akan menjadi kehormatan besar bagiku, Lady Lavinia." Malam harinya, aku mengurung diri di kamar. Panel sistem kembali muncul di hadapanku. [Status Kutukan: Tahap 2.] [Sisa Waktu: 28 Hari Menuju Ulang Tahun ke-18.] [Target Terdeteksi: Vincent Valerius. Level Obsesi: 15% (Meningkat).] "Gila," gumamku sambil memijat pelipis. "Baru sehari di sini, aku sudah membuat Putra Mahkota hampir menciumku, Duke hampir gila karena cemburu, dan sekarang si obsessive lead Vincent mulai tertarik." Aku tahu pesta topeng di kediaman Beaumont besok adalah jebakan. Di novel aslinya, Clarissa akan menjebak Lavinia agar terlihat sedang mencoba meracuni minumannya, yang berakhir dengan Alaric menampar Lavinia di depan umum. Tapi kali ini, aku yang akan membuat pertunjukan. Jika Clarissa suka bermain peran sebagai korban, aku akan memberinya panggung yang paling megah. Aku akan menggunakan kutukanku sebagai senjata. Jika aku harus merasa "panas", maka aku akan memastikan seluruh pria di pesta itu ikut terbakar bersamaku. Aku memanggil Marie. "Marie, siapkan gaun paling berani yang pernah dibuat penjahit keluarga Whitmore. Aku ingin gaun sutra hitam dengan belahan kaki setinggi paha dan punggung terbuka." "Tapi Nona... itu akan dianggap sangat tidak pantas!" Marie protes. "Tepat sekali," aku tersenyum licik sambil menatap bulan purnama dari jendela. "Aku bukan lagi Lavinia yang memohon cinta. Aku adalah Lavinia yang akan membuat mereka semua memohon padaku." Di kegelapan luar jendela, aku tidak menyadari ada sosok yang berdiri di atas dahan pohon besar di taman. Vincent Valerius sedang mengamati kamarku, ia memainkan sebilah pisau kecil di tangannya sambil tersenyum tipis. "Berubahlah sesukamu, Lavinia," bisik Vincent pada angin malam. "Semakin kau memberontak, semakin aku ingin menghancurkanmu dalam pelukanku." Ia menghilang ke dalam kegelapan taman secepat bayangan, meninggalkan keheningan yang mencekam di bawah balkon kamar. Aku masih berdiri di sana, mencengkeram pagar balkon dengan jari-jari yang gemetar bukan karena takut, tapi karena adrenalin yang meledak-ledak. Vincent Valerius bukan lagi sekadar karakter pendukung yang bisa kuabaikan. Dia adalah predator yang baru saja mencium bau darah. Aku berbalik masuk ke kamar, menutup pintu balkon rapat-rapat dan menguncinya. Marie sedang menungguku dengan wajah cemas, memegang sehelai kain sutra hitam yang akan menjadi bagian dari gaunku besok. "Nona, apakah Anda baik-baik saja? Wajah Anda terlihat... sangat bersemangat," tanya Marie hati-hati. "Aku merasa sangat hidup, Marie," jawabku sambil duduk di depan meja rias. Aku menatap pantulanku. Rambut merah muda ini, mata merah ini... semuanya terasa seperti senjata yang baru saja diasah. "Besok, aku ingin semua orang di pesta itu lupa bagaimana cara bernapas saat melihatku." Aku mulai membuka laci-laci perhiasan warisan keluarga Whitmore. Lavinia yang asli biasanya memilih permata yang besar dan norak untuk pamer kekayaan tapi aku memilih sesuatu yang berbeda. Sebuah kalung choker hitam dengan batu obsidian di tengahnya. Sederhana, tapi memberikan kesan mencekam dan berkelas. "Marie, dengarkan aku," aku menarik tangan pelayanku itu, menatap matanya dengan serius. "Besok di pesta Beaumont, jangan pernah tinggalkan sisiku kecuali aku yang meminta. Dan jika kau melihat pelayan dengan pita kuning di lengannya mendekatiku, kau harus segera menjatuhkan sesuatu apapun untuk mengalihkan perhatian." Marie mengangguk cepat. "Baik, Nona. Saya mengerti." Setelah Marie keluar, aku kembali memanggil layar sistem di udara kosong. [Status Host: Stabil.] [Peringatan: Plot Armor Clarissa Beaumont sedang aktif.] [Saran: Gunakan 'Kutukan Darah' sebagai pengalih perhatian untuk mematahkan Plot Armor target.] "Jadi, kutukan ini bisa jadi keuntungan?" gumamku. Aku mencoba berkonsentrasi, merasakan aliran panas di dalam tubuhku. Kutukan Whitmore selama ini dianggap sebagai aib, tapi jika aku bisa mengendalikannya menggunakannya untuk memancarkan aura gairah yang tak tertahankan aku bisa memikat siapapun yang kukehendaki. Bukan dengan cinta yang tulus, tapi dengan obsesi yang menghancurkan. Aku mengambil sebuah buku catatan kecil dan mulai menuliskan daftar nama. 1. Alaric: Harus dibuat merasa sangat bersalah dan cemburu hingga ia meragukan setiap kata yang keluar dari mulut Clarissa. 2. Adrian: Harus dijadikan tameng politik. Jika Putra Mahkota ada di pihakku, Alaric tidak akan berani menyentuh leherku. 3. Vincent: Variabel yang berbahaya. Aku harus menjaganya cukup dekat untuk memanfaatkannya, tapi cukup jauh agar ia tidak benar-benar 'menghancurkanku' seperti yang ia bisikkan tadi. Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku menghabiskan waktu dengan berlatih berjalan, berlatih tersenyum di depan cermin, dan melatih nada suaraku agar tetap terdengar manja namun penuh otoritas. Aku bukan lagi Celestine yang bekerja lembur di kantor. Aku adalah Lavinia Whitmore, wanita yang akan menulis ulang sejarah kerajaannya sendiri. *** Keesokan paginya, suasana kediaman Whitmore terasa sibuk luar biasa. Kabar bahwa aku akan menghadiri pesta topeng Beaumont dengan gaun "berani" sudah menyebar ke telinga ayahku, Count Whitmore. Beliau adalah pria tua yang hanya peduli pada reputasi, dan dia masuk ke kamarku dengan wajah merah padam saat aku sedang mencoba sepatu hak tinggiku. "Lavinia! Apa yang kudengar ini?! Kau ingin mempermalukan nama keluarga kita lagi dengan pakaian yang tidak senonoh?" teriaknya sambil menggebrak meja. Aku tidak bergeming. Aku hanya bangkit berdiri, menatapnya dengan pandangan dingin yang membuat teriakan ayahku mendadak terhenti di tenggorokan. "Ayah," suaraku terdengar rendah dan tenang. "Selama ini aku bersikap seperti anak bodoh yang mengejar cinta Alaric, dan apa hasilnya? Keluarga kita dianggap remeh. Tapi mulai malam ini, aku akan menunjukkan pada mereka bahwa keluarga Whitmore adalah keluarga yang harus mereka takuti dan puja. Jika pakaian 'berani' ini bisa membuat Putra Mahkota bertekuk lutut padaku, apakah Ayah masih akan protes?" Count Whitmore terdiam. Penyebutan 'Putra Mahkota' langsung membungkam egonya. Ia tahu bahwa satu kata dari Adrian Blackwood bisa mengangkat derajat keluarga kami lebih tinggi dari siapapun. "Lakukan... lakukan sesukamu," gumamnya sambil pergi meninggalkan kamar, tidak lagi berani menatap mataku. Aku tersenyum puas. Satu rintangan hilang. *** Jangan lupa like/vote dan komen cerita ini biar author makin semangat nulisnya!Lavinia merasakan kehangatan yang luar biasa menjalar di hatinya. Kekaisaran Blackwood saat ini sedang berada dalam masa kejayaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. Stabilitas politik daratan terjaga sempurna berkat penyatuan elemen mereka berempat. Namun di luar sana, dalam buku-buku sejarah kuno yang kaku, mereka mungkin akan diingat sebagai para penguasa yang tidak konvensional karena tidak memiliki selir asing, yang menikah dalam upacara melingkar kontroversial, dan yang memilih hidup di pengasingan mewah. Tapi bagi Lavinia, ini adalah kemenangan mutlak atas hidupnya. Ia tidak lagi menjadi subjek dari program Sistem mekanis yang dingin. Ia adalah tokoh utama dari jalan hidupnya sendiri. Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar di pintu ruang makan. Itu adalah pelayan pribadi yang paling mereka percaya, tampak sedikit ragu menghadapi atmosfer intim para tuannya. "Yang Mulia... ada p
Cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah gorden sutra di kamar utama Sanctum Blackwood. Ruangan itu besar, hangat, dan dipenuhi dengan aroma kayu gaharu yang menenangkan sangat kontras dengan suasana kastel utama yang dingin dan penuh intrik politik. Di atas ranjang berukuran raksasa, Lavinia berbaring dalam posisi yang sekali lagi sangat mustahil. Kepalanya berada di pangkuan Adrian, kakinya tersampir di atas dada Alaric, dan lengannya melingkar di leher Vincent yang masih terlelap dengan seringai tipis di wajah tampannya. Tubuhnya terasa remuk, sebuah sensasi dari ‘audit’ yang sangat teliti, mendalam, dan tanpa ampun dari ketiga suaminya semalam suntuk di tempat peraduan yang baru. Namun, alih-alih merasa lelah, Lavinia justru merasa sangat hidup. Setiap jengkal kulitnya seolah memiliki memori rekaman tak kasat mata tentang bagaimana Adrian mencintainya dengan kobaran api naga, bagaimana Alaric memujanya dengan cahaya kesucian
Resepsi pernikahan setelahnya adalah puncak dari kemegahan dinasti. Aula perjamuan istana didekorasi dengan ribuan kristal yang memantulkan cahaya lilin. Hidangan-hidangan paling langka disajikan, dan musik berdansa tidak pernah berhenti sepanjang malam. Lavinia berdansa dengan Adrian, lalu berganti dengan Alaric, dan terakhir dengan Vincent, sementara tatapan posesif dan berahi tersembunyi dari ketiga pria itu tidak pernah lepas dari raga porselennya setiap detik. Di balik meja utama, Kaisar tertawa terbahak-bahak melihat ketiga pria pilar itu terus-menerus menempel ketat pada Lavinia setiap kali ada bangsawan muda yang mencoba mengajak wanita itu berdansa. "Kau punya tangan yang penuh dengan mereka, Lavinia," ujar Kaisar Alexander sambil menyesap anggur mahalnya dengan tatapan penuh konspirasi. "Tapi kulihat kau menikmati kendali atas mereka." "Mereka memang merepotkan dan terlalu protektif, Yang Mulia," jawab Lavini
Lonceng Katedral Agung Blackwood berdenting merdu, membelah keheningan pagi yang berkabut dengan dentuman yang terasa hingga ke akar-akar pohon di seluruh ibu kota. Hari ini adalah hari yang akan dicatat dalam tinta emas oleh para sejarawan selama seribu tahun ke depan. Hari di mana tiga pilar utama kekaisaran dari Putra Mahkota, Ksatria Suci, dan Pemimpin Orde Bayangan secara resmi mengikat diri pada satu wanita yang sama: Lavinia. Di dalam ruang ganti pribadi yang kini dipenuhi oleh wangi bunga lili dan dupa mahal, Lavinia berdiri tegak di depan cermin raksasa. Ia mengenakan gaun pengantin yang merupakan mahakarya perpaduan dari tiga visi yang berbeda. Bagian bodinya dibuat dari sutra putih murni yang melambangkan kesucian, sementara di sepanjang pinggang hingga menjuntai ke lantai, terdapat bordir sisik naga emas yang tampak hidup, seolah-olah naga api milik Adrian sedang melingkar memeluk raga porselennya. Di bagian
Lavinia ternganga, sisi humoris dan budak korporatnya berteriak konyol. Ia tidak percaya naga jantan yang perkasa ini benar-benar membahas urusan menggendong saat mereka sedang dalam suasana yang begitu manis dan puitis. Vincent langsung terpingkal-pingkal meremehkan, sementara Alaric memutar bola matanya dengan dramatis. "Menggendong? Benar-benar?" tanya Vincent sambil tertawa rendah yang sangat seksi. "Apa kita sekarang sedang berada di dalam sebuah drama romansa murahan kelas bawah? Kamu ingin menggendongnya seperti pangeran yang menyelamatkan putri dari menara tinggi?" "Setidaknya aku punya fisik yang mampu melakukannya tanpa lelah!" balas Adrian tak terima, memompa hawa panasnya untuk menegaskan kekuatannya. "Lagipula, itu adalah hak prerogatifku sebagai pewaris sah takhta kekaisaran!" "Hak prerogatif?" Alaric ikut tersenyum tipis, tapi ada nada menantang dan dominan dalam suaranya yang tenang. "Jika kita bicara t
Malam itu, langit di atas Kastel Whitmore tidak lagi berwarna hitam pekat, melainkan diselimuti oleh rona ungu kemerahan yang misterius seolah-olah alam semesta sendiri sedang merayakan ketegangan yang menggantung di udara. Di balkon utama yang menghadap langsung ke arah ibu kota Blackwood, Lavinia berdiri mematung. Angin malam yang dingin membelai kulitnya, namun ia sama sekali tidak merasa kedinginan. Ada kehangatan magis yang melingkupi jiwanya, sebuah ketenangan yang selama ini selalu terasa semu, kini menjadi nyata dan tak tergoyahkan setelah asimilasi energi tiga darah mengunci takdirnya. Di balik gaun sutra yang lembut, Lavinia merasakan detak jantungnya berirama selaras dengan detak dunia di bawah sana. Ia menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan, menyadari bahwa besok, ia tidak lagi akan dikenal sebagai Lavinia sang villainess atau Lavinia sang Countess yang penuh misteri. Besok, ia akan menjadi pusat dari selu
Sore itu, cakrawala di atas ibu kota kekaisaran tampak terbakar. Warna langit berubah dari jingga menjadi ungu kemerahan yang pekat, persis seperti warna mataku di cermin saat kutukan ini mulai berdenyut. Tepat ketika aku sedang menyesuaikan napas untuk menahan gejolak panas di perut ba
Tubuhku terasa seperti sedang dipanggang di atas bara api yang tak kasat mata. Setiap embusan napas yang keluar dari bibirku terasa panas, dan setiap inci kulitku mendambakan sentuhan dingin untuk meredakan gejolak ini.Kutukan Whitmore benar-benar bukan lelucon. Ini bukan sekadar n
Sinar matahari pagi menembus jendela kaca patri kediaman Whitmore, memantulkan warna-warna pelangi di atas meja rias kayuku yang mahal. Aku sudah duduk di sini selama hampir dua jam. Jika di kehidupan nyataku sebagai Celestine aku hanya punya waktu lima menit untuk memakai pelembap sebelum lari me
Dunia ini tidak adil. Kalimat itu adalah hal terakhir yang terlintas di benakku, Celestine Montclair. Saat tubuhku terlempar ke aspal yang keras. Suara decitan ban truk yang menghantamku masih terngiang, memekakkan telinga sebelum semuanya mendadak sunyi. Aku mati di usia 24 tahun hanya karena m







