分享

Bab 2

作者: Dinwa
last update publish date: 2026-04-28 18:00:23

Tubuhku terasa seperti sedang dipanggang di atas bara api yang tak kasat mata. Setiap embusan napas yang keluar dari bibirku terasa panas, dan setiap inci kulitku mendambakan sentuhan dingin untuk meredakan gejolak ini.

Kutukan Whitmore benar-benar bukan lelucon. Ini bukan sekadar nafsu; ini adalah rasa lapar yang menyakitkan.

​"Lavinia? Hei, jawab aku! Kamu sakit?"

​Suara Adrian Blackwood terdengar tepat di atas kepalaku. Tangannya yang kuat menahan pinggangku agar tidak merosot ke tanah.

Aroma tubuhnya campuran antara sandalwood dan udara musim dingin yang masuk ke indra penciumanku, memberikan kelegaan sesaat yang memabukkan.

​Aku mendongak pelan. Mata biru laut Adrian tampak sangat jernih di bawah sinar matahari sore. Dia tampan, dengan garis rahang yang tegas namun memiliki ekspresi yang sedikit polos, jika memperhatikannya cukup lama.

​"Yang Mulia..." bisikku, sengaja membiarkan suaraku terdengar serak dan sedikit bergetar.

Aku menyandarkan kepalaku di dadanya, bisa merasakan detak jantungnya yang mulai menggila.

"Dingin... tanganmu terasa sangat dingin dan nyaman." ​Aku mengambil tangannya yang besar dan menempelkannya ke pipiku yang membara.

Adrian tersentak, seluruh tubuhnya menegang. Sebagai Putra Mahkota, dia mungkin terbiasa dengan wanita yang bersujud atau bersikap kaku di depannya, bukan villainess yang tiba-tiba menempel seperti kucing manja.

​"Tanganmu... hangat sekali, Lavinia," gumam Adrian. Matanya yang tadi dingin kini menunjukkan kebingungan yang lucu.

Dia terlihat seperti remaja laki-laki yang baru pertama kali menyentuh lawan jenis, sangat kontras dengan statusnya yang agung.

​"Hentikan itu!" ​Sebuah suara berat memecah suasana.

Aku melirik dari balik bahu Adrian. Duke Alaric Montague berdiri di sana, hanya beberapa meter dari kami.

Wajahnya gelap gulita, tangannya terkepal erat di sisi tubuh. Di belakangnya, Clarissa tampak mengejar dengan wajah cemas yang dibuat-buat.

​"Duke Montague?" Adrian melepaskan sedikit pelukannya, tapi aku justru semakin mengeratkan peganganku pada jubah sang Pangeran. "Ada apa? Aku hanya menolong Lady Whitmore yang sepertinya sedang tidak sehat."

​Alaric melangkah maju, matanya menatap tajam pada tanganku yang masih memegang lengan Adrian.

"Lady Whitmore adalah tunanganku, Yang Mulia. Sudah menjadi kewajibanku untuk mengurusnya. Silakan lepaskan dia."

​Aku tertawa kecil, suara tawa yang sengaja kubuat terdengar sinis namun menggoda. "Tunangan? Oh, Duke sayang... bukankah tadi pagi kamu bilang tidak sudi menyentuhku meskipun aku mati? Sekarang kenapa tiba-tiba merasa memiliki?"

​Alaric terdiam, rahangnya mengeras hingga urat lehernya terlihat.

​"Lavinia, jangan buat keributan di depan Yang Mulia," Clarissa menyela, suaranya lembut namun penuh racun.

Dia mendekat ke arah Alaric dan mencoba menyentuh lengannya. "Duke hanya khawatir kamu akan mempermalukan nama keluarga Whitmore dengan bersikap tidak sopan pada Putra Mahkota."

​Aku menoleh pada Clarissa, lalu tersenyum sangat lebar jenis senyuman yang biasanya kuberikan pada pelayan toko saat sedang menawar harga.

​"Konyol sekali," kataku sambil melepaskan peganganku dari Adrian, namun tetap berdiri sangat dekat di samping sang Pangeran.

"Mempermalukan? Aku sedang sakit, Clarissa. Dan Yang Mulia Adrian dengan sangat gentleman menolongku. Justru kamu yang terlihat aneh, mengejar-ngejar tunangan orang lain sampai ke tengah jalan. Apa kamu tidak punya harga diri?"

​Wajah Clarissa memucat. Dia menatap Alaric, mengharap pembelaan. Namun, Alaric justru sedang menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara amarah dan rasa ingin tahu?

​"Cukup," Adrian menengahi. Sifat kekanakannya mendadak hilang, digantikan aura otoritas seorang calon raja.

"Lady Whitmore sedang demam tinggi. Aku sendiri yang akan mengantarnya pulang dengan kereta kudaku. Duke, kuberikan izin padamu untuk menemani Lady Beaumont kembali ke kediamannya."

​"Tapi Yang Mulia—" Alaric mencoba membantah.

​"Ini perintah, Duke Montague," tegas Adrian.

​Aku memberikan lambaian jari yang centil pada Alaric dan Clarissa sebelum Adrian membimbingku masuk ke dalam keretanya yang berlambang singa emas.

Saat pintu tertutup, aku bisa melihat wajah Clarissa yang hampir menangis karena kesal. Ah, kepuasan ini lebih manis daripada cokelat paling mahal.

​Di dalam kereta yang luas, suasananya berubah menjadi sangat intim. Adrian duduk di hadapanku, namun karena suhu tubuhku yang semakin tidak stabil, aku terus bergeser hingga akhirnya duduk tepat di sampingnya.

​"Lavinia, kursi di sana masih luas," ucap Adrian dengan wajah yang memerah hebat. Dia mencoba menjauh, tapi aku menarik ujung jubahnya.

​"Aku pusing, Yang Mulia. Bolehkah aku meminjam bahumu sebentar saja?" aku menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca efek kutukan yang membuat emosiku tidak stabil.

​Adrian menghela napas panjang, namun dia tidak menolak saat aku menyandarkan kepalaku.

Tangannya yang besar ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya menepuk-nepuk pundakku pelan.

​"Kamu benar-benar berubah," gumamnya pelan. "Dulu kamu hanya tahu caranya berteriak dan memaki Clarissa. Tapi sekarang kamu terlihat lebih seperti manusia."

​"Apakah itu pujian?" tanyaku sambil mendongak, membuat hidung kami hampir bersentuhan.

​Adrian terdiam. Dia menatap bibirku selama beberapa detik sebelum tersadar dan memalingkan wajah dengan canggung. "Anggap saja begitu. Dan... soal kutukan itu..."

​Jantungku berhenti berdetak sejenak. "Kutukan? Apa maksudmu?"

​Adrian menatapku dengan serius. "Keluarga Blackwood memiliki hubungan sejarah yang panjang dengan keluarga Whitmore. Aku tahu tentang rahasia darah kalian. Kamu sedang berada di fase awal, bukan? Usiamu akan menginjak 18 tahun sebentar lagi."

​Aku tertegun. Jadi, Putra Mahkota tahu? Ini adalah informasi yang tidak ada di novel aslinya!

​"Jika kamu tidak menemukan pria yang bisa menyeimbangkan energimu, kamu akan hancur saat malam ulang tahunmu," lanjut Adrian, suaranya merendah.

"Alaric tidak akan bisa membantumu selama dia masih terobsesi pada Clarissa. Pesona Clarissa itu... ada sesuatu yang tidak beres dengannya."

​"Maksudmu?"

​"Dia memiliki kemampuan untuk memanipulasi emosi orang di sekitarnya. Itu sebabnya Alaric seperti kehilangan akal sehat jika menyangkut dia. Tapi anehnya,"

Adrian menatapku lekat-lekat, "sejak kamu berubah, pengaruh Clarissa padaku menghilang sepenuhnya. Seolah-olah kehadiranmu adalah racun bagi manipulasinya."

​Aku tersenyum licik. Jadi itu sebabnya semua orang mulai berbalik arah padaku? Karena jiwa asliku (Celestine) tidak terpengaruh oleh sistem "Protagonis" milik Clarissa?

​Tiba-tiba, rasa panas di tubuhku melonjak tajam. Aku mengerang pelan dan tanpa sadar mencengkeram kemeja Adrian, menariknya hingga kancing atasnya terlepas.

​"Lavinia! Tenanglah!" Adrian mencoba menahan tanganku, tapi aku sudah kehilangan kendali.

​Aku mendekatkan wajahku ke lehernya, menghirup aroma maskulinnya yang menenangkan. Kutukan itu menuntut pemuasan, dan Adrian adalah pria paling kuat di ruangan ini.

​"Tolong... bantu aku..." bisikku di perpotongan lehernya.

​Adrian membeku. Aku bisa merasakan otot-otot tubuhnya mengeras. Namun, bukannya mendorongku, dia justru melingkarkan lengannya di pinggangku, menarikku lebih dekat hingga tidak ada celah di antara kami.

​"Sial," umpat Adrian rendah, suaranya terdengar jauh lebih dewasa dan berbahaya. "Jangan salahkan aku jika setelah ini kamu tidak bisa lepas dariku, Lavinia Whitmore."

Suasana di dalam kereta kencana itu mendadak berubah drastis. Jika sebelumnya udara terasa panas karena demam kutukan, kini atmosfernya terasa pekat oleh ketegangan yang menyesakkan napas.

​Adrian Blackwood, sang Putra Mahkota yang biasanya terlihat kaku dan dingin, kini menatapku dengan tatapan yang belum pernah kulihat.

Sebelumnya intens, gelap, dan penuh dengan kepemilikan. Tangannya yang besar mencengkeram pinggangku dengan kuat, seolah-olah ia sedang menahan diri agar tidak menghancurkanku saat itu juga.

​"Y-Yang Mulia..." bisikku, mencoba memanggil sisa kesadaranku.

​Napas Adrian terasa panas di telingaku. "Tadi kamu yang memohon, Lavinia. Sekarang, jangan coba-coba menarik kembali kata-katamu."

​Ia mendekatkan wajahnya, membiarkan ujung hidung kami bersentuhan. Aku bisa merasakan energi sihirnya yang meluap terasa dingin dan murni berusaha meredam api kutukan yang membakar pembuluh darahku.

Rasa sakit yang tadi menyiksa perlahan memudar, berganti dengan sensasi kesemutan yang aneh namun menenangkan.

​Namun, tepat sebelum bibir kami bersentuhan, kereta kuda itu berhenti dengan sentakan yang sangat keras.

​BRAKK!

​Suara benturan logam terdengar dari luar. Kereta berguncang hebat, membuatku terlempar ke pelukan Adrian.

​"Pangeran Adrian! Lepaskan tunanganku!"

​Itu suara Alaric. Suaranya menggelegar penuh amarah, lebih keras dari biasanya.

Aku menoleh ke arah jendela dan melihat Duke Alaric Montague berdiri di luar di atas kudanya yang terengah-engah.

Ia baru saja menggunakan pedangnya untuk menahan roda kereta agar berhenti paksa. Tindakan gila yang bisa dianggap sebagai pengkhianatan terhadap keluarga kerajaan.

​Adrian mendesis kesal. Ia melepaskan pelukannya perlahan, namun tetap merangkul bahuku seolah menunjukkan posisinya. Ia membuka pintu kereta dengan tendangan kasar.

​"Duke Montague," suara Adrian terdengar sedingin es. "Kau sudah gila? Kau baru saja menyerang kereta Putra Mahkota."

​Alaric melompat turun dari kudanya. Napasnya memburu, rambut hitamnya berantakan terkena angin. Ia tidak memedulikan protokol.

Matanya hanya tertuju pada Lavinia yang berantakan, dengan kancing baju yang sedikit terbuka dan wajah yang masih kemerahan.

​"Dia adalah tunanganku," kata Alaric, suaranya bergetar antara amarah dan... cemburu?

"Bawa dia keluar dari sana sekarang."

​Aku merapatkan jubahku, mencoba duduk tegak. Rasa centilku mendadak muncul melihat dua pria paling berkuasa ini saling melotot karenaku.

​"Duh, Duke..." kataku sambil menyandarkan kepala di bahu Adrian, membuat Alaric semakin murka.

"Tadi kan kamu yang sibuk mengurus Clarissa. Kenapa sekarang mendadak jadi pahlawan kesiangan? Putra Mahkota Adrian jauh lebih lembut darimu, lho."

​Alaric mematung. Kata-kataku seperti tamparan fisik baginya. Di belakang Alaric, kereta kuda keluarga Beaumont tiba.

Clarissa keluar dengan wajah pucat, matanya membelalak melihat pemandangan di depannya.

​"Lavinia... apa yang kau lakukan pada Yang Mulia?" Clarissa bertanya dengan suara bergetar, air mata palsunya mulai menggenang.

"Kenapa kau selalu mencoba menggoda pria yang ada di dekatku?"

​Aku tertawa renyah, meski tubuhku masih sedikit lemas. "Menggoda? Clarissa Sayang, matamu perlu diperiksa. Lihatlah baik-baik, siapa yang sedang memegang siapa sekarang?"

​Adrian justru mempererat rangkulannya di bahuku. "Lady Beaumont, sebaiknya simpan air matamu. Lady Whitmore sedang dalam perlindunganku. Duke Montague, jika kau ingin membicarakan status tunangan, temui aku di istana besok pagi. Untuk sekarang... minggir dari jalanku."

​Alaric tidak bergerak. Ia mencengkeram hulu pedangnya hingga buku jarinya memutih. "Lavinia, turun. Kita pulang sekarang."

​Aku menatap Alaric dalam-dalam. Di dalam novel aslinya, saat ini Lavinia akan menangis bahagia karena Alaric menjemputnya tapi aku bukan Lavinia yang asli.

​"Aku lebih nyaman di sini, Duke," ucapku dengan senyum manis yang mematikan. "Kereta Pangeran punya penghangat yang sangat... pas untukku."

​Adrian memberikan isyarat pada kusir. Kereta pun kembali melaju, meninggalkan Alaric yang terpaku di tengah jalan dan Clarissa yang akhirnya benar-benar menangis karena diabaikan sepenuhnya.

***

Jangan lupa like/vote dan komen cerita ini biar author makin semangat nulisnya!

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 84 End

    ​Lavinia merasakan kehangatan yang luar biasa menjalar di hatinya. Kekaisaran Blackwood saat ini sedang berada dalam masa kejayaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. Stabilitas politik daratan terjaga sempurna berkat penyatuan elemen mereka berempat. Namun di luar sana, dalam buku-buku sejarah kuno yang kaku, mereka mungkin akan diingat sebagai para penguasa yang tidak konvensional karena tidak memiliki selir asing, yang menikah dalam upacara melingkar kontroversial, dan yang memilih hidup di pengasingan mewah. ​Tapi bagi Lavinia, ini adalah kemenangan mutlak atas hidupnya. Ia tidak lagi menjadi subjek dari program Sistem mekanis yang dingin. Ia adalah tokoh utama dari jalan hidupnya sendiri. ​Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar di pintu ruang makan. Itu adalah pelayan pribadi yang paling mereka percaya, tampak sedikit ragu menghadapi atmosfer intim para tuannya. "Yang Mulia... ada p

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 83

    Cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah gorden sutra di kamar utama Sanctum Blackwood. Ruangan itu besar, hangat, dan dipenuhi dengan aroma kayu gaharu yang menenangkan sangat kontras dengan suasana kastel utama yang dingin dan penuh intrik politik. ​Di atas ranjang berukuran raksasa, Lavinia berbaring dalam posisi yang sekali lagi sangat mustahil. Kepalanya berada di pangkuan Adrian, kakinya tersampir di atas dada Alaric, dan lengannya melingkar di leher Vincent yang masih terlelap dengan seringai tipis di wajah tampannya. ​Tubuhnya terasa remuk, sebuah sensasi dari ‘audit’ yang sangat teliti, mendalam, dan tanpa ampun dari ketiga suaminya semalam suntuk di tempat peraduan yang baru. Namun, alih-alih merasa lelah, Lavinia justru merasa sangat hidup. Setiap jengkal kulitnya seolah memiliki memori rekaman tak kasat mata tentang bagaimana Adrian mencintainya dengan kobaran api naga, bagaimana Alaric memujanya dengan cahaya kesucian

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 82

    ​Resepsi pernikahan setelahnya adalah puncak dari kemegahan dinasti. Aula perjamuan istana didekorasi dengan ribuan kristal yang memantulkan cahaya lilin. Hidangan-hidangan paling langka disajikan, dan musik berdansa tidak pernah berhenti sepanjang malam. Lavinia berdansa dengan Adrian, lalu berganti dengan Alaric, dan terakhir dengan Vincent, sementara tatapan posesif dan berahi tersembunyi dari ketiga pria itu tidak pernah lepas dari raga porselennya setiap detik. ​Di balik meja utama, Kaisar tertawa terbahak-bahak melihat ketiga pria pilar itu terus-menerus menempel ketat pada Lavinia setiap kali ada bangsawan muda yang mencoba mengajak wanita itu berdansa. ​"Kau punya tangan yang penuh dengan mereka, Lavinia," ujar Kaisar Alexander sambil menyesap anggur mahalnya dengan tatapan penuh konspirasi. "Tapi kulihat kau menikmati kendali atas mereka." ​"Mereka memang merepotkan dan terlalu protektif, Yang Mulia," jawab Lavini

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 81

    Lonceng Katedral Agung Blackwood berdenting merdu, membelah keheningan pagi yang berkabut dengan dentuman yang terasa hingga ke akar-akar pohon di seluruh ibu kota. Hari ini adalah hari yang akan dicatat dalam tinta emas oleh para sejarawan selama seribu tahun ke depan. Hari di mana tiga pilar utama kekaisaran dari Putra Mahkota, Ksatria Suci, dan Pemimpin Orde Bayangan secara resmi mengikat diri pada satu wanita yang sama: Lavinia. ​Di dalam ruang ganti pribadi yang kini dipenuhi oleh wangi bunga lili dan dupa mahal, Lavinia berdiri tegak di depan cermin raksasa. Ia mengenakan gaun pengantin yang merupakan mahakarya perpaduan dari tiga visi yang berbeda. Bagian bodinya dibuat dari sutra putih murni yang melambangkan kesucian, sementara di sepanjang pinggang hingga menjuntai ke lantai, terdapat bordir sisik naga emas yang tampak hidup, seolah-olah naga api milik Adrian sedang melingkar memeluk raga porselennya. ​Di bagian

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 80

    ​Lavinia ternganga, sisi humoris dan budak korporatnya berteriak konyol. Ia tidak percaya naga jantan yang perkasa ini benar-benar membahas urusan menggendong saat mereka sedang dalam suasana yang begitu manis dan puitis. Vincent langsung terpingkal-pingkal meremehkan, sementara Alaric memutar bola matanya dengan dramatis. ​"Menggendong? Benar-benar?" tanya Vincent sambil tertawa rendah yang sangat seksi. "Apa kita sekarang sedang berada di dalam sebuah drama romansa murahan kelas bawah? Kamu ingin menggendongnya seperti pangeran yang menyelamatkan putri dari menara tinggi?" ​"Setidaknya aku punya fisik yang mampu melakukannya tanpa lelah!" balas Adrian tak terima, memompa hawa panasnya untuk menegaskan kekuatannya. "Lagipula, itu adalah hak prerogatifku sebagai pewaris sah takhta kekaisaran!" ​"Hak prerogatif?" Alaric ikut tersenyum tipis, tapi ada nada menantang dan dominan dalam suaranya yang tenang. "Jika kita bicara t

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 79

    Malam itu, langit di atas Kastel Whitmore tidak lagi berwarna hitam pekat, melainkan diselimuti oleh rona ungu kemerahan yang misterius seolah-olah alam semesta sendiri sedang merayakan ketegangan yang menggantung di udara. ​Di balkon utama yang menghadap langsung ke arah ibu kota Blackwood, Lavinia berdiri mematung. Angin malam yang dingin membelai kulitnya, namun ia sama sekali tidak merasa kedinginan. Ada kehangatan magis yang melingkupi jiwanya, sebuah ketenangan yang selama ini selalu terasa semu, kini menjadi nyata dan tak tergoyahkan setelah asimilasi energi tiga darah mengunci takdirnya. ​Di balik gaun sutra yang lembut, Lavinia merasakan detak jantungnya berirama selaras dengan detak dunia di bawah sana. Ia menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan, menyadari bahwa besok, ia tidak lagi akan dikenal sebagai Lavinia sang villainess atau Lavinia sang Countess yang penuh misteri. Besok, ia akan menjadi pusat dari selu

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 3

    Di dalam kereta, aku menghela napas panjang. "Itu tadi sangat dramatis, Yang Mulia."​Adrian tidak langsung menjawab. Ia menatap tangannya yang tadi memegang pinggangku, lalu menatapku dengan senyum miring yang terlihat sangat kekanakan namun berbahaya.​"Kamu benar-be

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 1

    Sinar matahari pagi menembus jendela kaca patri kediaman Whitmore, memantulkan warna-warna pelangi di atas meja rias kayuku yang mahal. Aku sudah duduk di sini selama hampir dua jam. Jika di kehidupan nyataku sebagai Celestine aku hanya punya waktu lima menit untuk memakai pelembap sebelum lari me

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Prolog

    Dunia ini tidak adil. Kalimat itu adalah hal terakhir yang terlintas di benakku, Celestine Montclair. Saat tubuhku terlempar ke aspal yang keras. Suara decitan ban truk yang menghantamku masih terngiang, memekakkan telinga sebelum semuanya mendadak sunyi. Aku mati di usia 24 tahun hanya karena m

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 4

    Sore itu, cakrawala di atas ibu kota kekaisaran tampak terbakar. Warna langit berubah dari jingga menjadi ungu kemerahan yang pekat, persis seperti warna mataku di cermin saat kutukan ini mulai berdenyut. Tepat ketika aku sedang menyesuaikan napas untuk menahan gejolak panas di perut ba

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status