ANMELDENTubuhku terasa seperti sedang dipanggang di atas bara api yang tak kasat mata. Setiap embusan napas yang keluar dari bibirku terasa panas, dan setiap inci kulitku mendambakan sentuhan dingin untuk meredakan gejolak ini.
Kutukan Whitmore benar-benar bukan lelucon. Ini bukan sekadar nafsu; ini adalah rasa lapar yang menyakitkan. "Lavinia? Hei, jawab aku! Kamu sakit?" Suara Adrian Blackwood terdengar tepat di atas kepalaku. Tangannya yang kuat menahan pinggangku agar tidak merosot ke tanah. Aroma tubuhnya campuran antara sandalwood dan udara musim dingin yang masuk ke indra penciumanku, memberikan kelegaan sesaat yang memabukkan. Aku mendongak pelan. Mata biru laut Adrian tampak sangat jernih di bawah sinar matahari sore. Dia tampan, dengan garis rahang yang tegas namun memiliki ekspresi yang sedikit polos, jika memperhatikannya cukup lama. "Yang Mulia..." bisikku, sengaja membiarkan suaraku terdengar serak dan sedikit bergetar. Aku menyandarkan kepalaku di dadanya, bisa merasakan detak jantungnya yang mulai menggila. "Dingin... tanganmu terasa sangat dingin dan nyaman." Aku mengambil tangannya yang besar dan menempelkannya ke pipiku yang membara. Adrian tersentak, seluruh tubuhnya menegang. Sebagai Putra Mahkota, dia mungkin terbiasa dengan wanita yang bersujud atau bersikap kaku di depannya, bukan villainess yang tiba-tiba menempel seperti kucing manja. "Tanganmu... hangat sekali, Lavinia," gumam Adrian. Matanya yang tadi dingin kini menunjukkan kebingungan yang lucu. Dia terlihat seperti remaja laki-laki yang baru pertama kali menyentuh lawan jenis, sangat kontras dengan statusnya yang agung. "Hentikan itu!" Sebuah suara berat memecah suasana. Aku melirik dari balik bahu Adrian. Duke Alaric Montague berdiri di sana, hanya beberapa meter dari kami. Wajahnya gelap gulita, tangannya terkepal erat di sisi tubuh. Di belakangnya, Clarissa tampak mengejar dengan wajah cemas yang dibuat-buat. "Duke Montague?" Adrian melepaskan sedikit pelukannya, tapi aku justru semakin mengeratkan peganganku pada jubah sang Pangeran. "Ada apa? Aku hanya menolong Lady Whitmore yang sepertinya sedang tidak sehat." Alaric melangkah maju, matanya menatap tajam pada tanganku yang masih memegang lengan Adrian. "Lady Whitmore adalah tunanganku, Yang Mulia. Sudah menjadi kewajibanku untuk mengurusnya. Silakan lepaskan dia." Aku tertawa kecil, suara tawa yang sengaja kubuat terdengar sinis namun menggoda. "Tunangan? Oh, Duke sayang... bukankah tadi pagi kamu bilang tidak sudi menyentuhku meskipun aku mati? Sekarang kenapa tiba-tiba merasa memiliki?" Alaric terdiam, rahangnya mengeras hingga urat lehernya terlihat. "Lavinia, jangan buat keributan di depan Yang Mulia," Clarissa menyela, suaranya lembut namun penuh racun. Dia mendekat ke arah Alaric dan mencoba menyentuh lengannya. "Duke hanya khawatir kamu akan mempermalukan nama keluarga Whitmore dengan bersikap tidak sopan pada Putra Mahkota." Aku menoleh pada Clarissa, lalu tersenyum sangat lebar jenis senyuman yang biasanya kuberikan pada pelayan toko saat sedang menawar harga. "Konyol sekali," kataku sambil melepaskan peganganku dari Adrian, namun tetap berdiri sangat dekat di samping sang Pangeran. "Mempermalukan? Aku sedang sakit, Clarissa. Dan Yang Mulia Adrian dengan sangat gentleman menolongku. Justru kamu yang terlihat aneh, mengejar-ngejar tunangan orang lain sampai ke tengah jalan. Apa kamu tidak punya harga diri?" Wajah Clarissa memucat. Dia menatap Alaric, mengharap pembelaan. Namun, Alaric justru sedang menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara amarah dan rasa ingin tahu? "Cukup," Adrian menengahi. Sifat kekanakannya mendadak hilang, digantikan aura otoritas seorang calon raja. "Lady Whitmore sedang demam tinggi. Aku sendiri yang akan mengantarnya pulang dengan kereta kudaku. Duke, kuberikan izin padamu untuk menemani Lady Beaumont kembali ke kediamannya." "Tapi Yang Mulia—" Alaric mencoba membantah. "Ini perintah, Duke Montague," tegas Adrian. Aku memberikan lambaian jari yang centil pada Alaric dan Clarissa sebelum Adrian membimbingku masuk ke dalam keretanya yang berlambang singa emas. Saat pintu tertutup, aku bisa melihat wajah Clarissa yang hampir menangis karena kesal. Ah, kepuasan ini lebih manis daripada cokelat paling mahal. Di dalam kereta yang luas, suasananya berubah menjadi sangat intim. Adrian duduk di hadapanku, namun karena suhu tubuhku yang semakin tidak stabil, aku terus bergeser hingga akhirnya duduk tepat di sampingnya. "Lavinia, kursi di sana masih luas," ucap Adrian dengan wajah yang memerah hebat. Dia mencoba menjauh, tapi aku menarik ujung jubahnya. "Aku pusing, Yang Mulia. Bolehkah aku meminjam bahumu sebentar saja?" aku menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca efek kutukan yang membuat emosiku tidak stabil. Adrian menghela napas panjang, namun dia tidak menolak saat aku menyandarkan kepalaku. Tangannya yang besar ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya menepuk-nepuk pundakku pelan. "Kamu benar-benar berubah," gumamnya pelan. "Dulu kamu hanya tahu caranya berteriak dan memaki Clarissa. Tapi sekarang kamu terlihat lebih seperti manusia." "Apakah itu pujian?" tanyaku sambil mendongak, membuat hidung kami hampir bersentuhan. Adrian terdiam. Dia menatap bibirku selama beberapa detik sebelum tersadar dan memalingkan wajah dengan canggung. "Anggap saja begitu. Dan... soal kutukan itu..." Jantungku berhenti berdetak sejenak. "Kutukan? Apa maksudmu?" Adrian menatapku dengan serius. "Keluarga Blackwood memiliki hubungan sejarah yang panjang dengan keluarga Whitmore. Aku tahu tentang rahasia darah kalian. Kamu sedang berada di fase awal, bukan? Usiamu akan menginjak 18 tahun sebentar lagi." Aku tertegun. Jadi, Putra Mahkota tahu? Ini adalah informasi yang tidak ada di novel aslinya! "Jika kamu tidak menemukan pria yang bisa menyeimbangkan energimu, kamu akan hancur saat malam ulang tahunmu," lanjut Adrian, suaranya merendah. "Alaric tidak akan bisa membantumu selama dia masih terobsesi pada Clarissa. Pesona Clarissa itu... ada sesuatu yang tidak beres dengannya." "Maksudmu?" "Dia memiliki kemampuan untuk memanipulasi emosi orang di sekitarnya. Itu sebabnya Alaric seperti kehilangan akal sehat jika menyangkut dia. Tapi anehnya," Adrian menatapku lekat-lekat, "sejak kamu berubah, pengaruh Clarissa padaku menghilang sepenuhnya. Seolah-olah kehadiranmu adalah racun bagi manipulasinya." Aku tersenyum licik. Jadi itu sebabnya semua orang mulai berbalik arah padaku? Karena jiwa asliku (Celestine) tidak terpengaruh oleh sistem "Protagonis" milik Clarissa? Tiba-tiba, rasa panas di tubuhku melonjak tajam. Aku mengerang pelan dan tanpa sadar mencengkeram kemeja Adrian, menariknya hingga kancing atasnya terlepas. "Lavinia! Tenanglah!" Adrian mencoba menahan tanganku, tapi aku sudah kehilangan kendali. Aku mendekatkan wajahku ke lehernya, menghirup aroma maskulinnya yang menenangkan. Kutukan itu menuntut pemuasan, dan Adrian adalah pria paling kuat di ruangan ini. "Tolong... bantu aku..." bisikku di perpotongan lehernya. Adrian membeku. Aku bisa merasakan otot-otot tubuhnya mengeras. Namun, bukannya mendorongku, dia justru melingkarkan lengannya di pinggangku, menarikku lebih dekat hingga tidak ada celah di antara kami. "Sial," umpat Adrian rendah, suaranya terdengar jauh lebih dewasa dan berbahaya. "Jangan salahkan aku jika setelah ini kamu tidak bisa lepas dariku, Lavinia Whitmore." Suasana di dalam kereta kencana itu mendadak berubah drastis. Jika sebelumnya udara terasa panas karena demam kutukan, kini atmosfernya terasa pekat oleh ketegangan yang menyesakkan napas. Adrian Blackwood, sang Putra Mahkota yang biasanya terlihat kaku dan dingin, kini menatapku dengan tatapan yang belum pernah kulihat. Sebelumnya intens, gelap, dan penuh dengan kepemilikan. Tangannya yang besar mencengkeram pinggangku dengan kuat, seolah-olah ia sedang menahan diri agar tidak menghancurkanku saat itu juga. "Y-Yang Mulia..." bisikku, mencoba memanggil sisa kesadaranku. Napas Adrian terasa panas di telingaku. "Tadi kamu yang memohon, Lavinia. Sekarang, jangan coba-coba menarik kembali kata-katamu." Ia mendekatkan wajahnya, membiarkan ujung hidung kami bersentuhan. Aku bisa merasakan energi sihirnya yang meluap terasa dingin dan murni berusaha meredam api kutukan yang membakar pembuluh darahku. Rasa sakit yang tadi menyiksa perlahan memudar, berganti dengan sensasi kesemutan yang aneh namun menenangkan. Namun, tepat sebelum bibir kami bersentuhan, kereta kuda itu berhenti dengan sentakan yang sangat keras. BRAKK! Suara benturan logam terdengar dari luar. Kereta berguncang hebat, membuatku terlempar ke pelukan Adrian. "Pangeran Adrian! Lepaskan tunanganku!" Itu suara Alaric. Suaranya menggelegar penuh amarah, lebih keras dari biasanya. Aku menoleh ke arah jendela dan melihat Duke Alaric Montague berdiri di luar di atas kudanya yang terengah-engah. Ia baru saja menggunakan pedangnya untuk menahan roda kereta agar berhenti paksa. Tindakan gila yang bisa dianggap sebagai pengkhianatan terhadap keluarga kerajaan. Adrian mendesis kesal. Ia melepaskan pelukannya perlahan, namun tetap merangkul bahuku seolah menunjukkan posisinya. Ia membuka pintu kereta dengan tendangan kasar. "Duke Montague," suara Adrian terdengar sedingin es. "Kau sudah gila? Kau baru saja menyerang kereta Putra Mahkota." Alaric melompat turun dari kudanya. Napasnya memburu, rambut hitamnya berantakan terkena angin. Ia tidak memedulikan protokol. Matanya hanya tertuju pada Lavinia yang berantakan, dengan kancing baju yang sedikit terbuka dan wajah yang masih kemerahan. "Dia adalah tunanganku," kata Alaric, suaranya bergetar antara amarah dan... cemburu? "Bawa dia keluar dari sana sekarang." Aku merapatkan jubahku, mencoba duduk tegak. Rasa centilku mendadak muncul melihat dua pria paling berkuasa ini saling melotot karenaku. "Duh, Duke..." kataku sambil menyandarkan kepala di bahu Adrian, membuat Alaric semakin murka. "Tadi kan kamu yang sibuk mengurus Clarissa. Kenapa sekarang mendadak jadi pahlawan kesiangan? Putra Mahkota Adrian jauh lebih lembut darimu, lho." Alaric mematung. Kata-kataku seperti tamparan fisik baginya. Di belakang Alaric, kereta kuda keluarga Beaumont tiba. Clarissa keluar dengan wajah pucat, matanya membelalak melihat pemandangan di depannya. "Lavinia... apa yang kau lakukan pada Yang Mulia?" Clarissa bertanya dengan suara bergetar, air mata palsunya mulai menggenang. "Kenapa kau selalu mencoba menggoda pria yang ada di dekatku?" Aku tertawa renyah, meski tubuhku masih sedikit lemas. "Menggoda? Clarissa Sayang, matamu perlu diperiksa. Lihatlah baik-baik, siapa yang sedang memegang siapa sekarang?" Adrian justru mempererat rangkulannya di bahuku. "Lady Beaumont, sebaiknya simpan air matamu. Lady Whitmore sedang dalam perlindunganku. Duke Montague, jika kau ingin membicarakan status tunangan, temui aku di istana besok pagi. Untuk sekarang... minggir dari jalanku." Alaric tidak bergerak. Ia mencengkeram hulu pedangnya hingga buku jarinya memutih. "Lavinia, turun. Kita pulang sekarang." Aku menatap Alaric dalam-dalam. Di dalam novel aslinya, saat ini Lavinia akan menangis bahagia karena Alaric menjemputnya tapi aku bukan Lavinia yang asli. "Aku lebih nyaman di sini, Duke," ucapku dengan senyum manis yang mematikan. "Kereta Pangeran punya penghangat yang sangat... pas untukku." Adrian memberikan isyarat pada kusir. Kereta pun kembali melaju, meninggalkan Alaric yang terpaku di tengah jalan dan Clarissa yang akhirnya benar-benar menangis karena diabaikan sepenuhnya. *** Jangan lupa like/vote dan komen cerita ini biar author makin semangat nulisnya!Begitu pintu aula agung dibuka, suasana berubah menjadi mencekam. Seluruh bangsawan Kekaisaran Blackwood berdiri di sana, namun atmosfernya seolah membeku saat aku melangkah masuk dengan menggandeng lengan Putra Mahkota. Gaun merah darah yang kukenakan sengaja menyingkap bagian punggung, tempat tato mawar hitam itu berada yang sekarang tampak sedikit bercahaya di bawah kulit porselenku akibat suhu tubuh yang mencapai 38.7°C. Mataku langsung terjatuh pada sosok di sudut aula. Alaric Montague. Ia berdiri kaku, wajahnya yang rupawan tampak hancur saat melihatku. Di sampingnya, berdiri sosok yang membuat sistemku berdenyut aneh. Vincent Valerius. Vincent adalah pria dengan identitas yang rumit. Di mata publik, dia adalah tangan kanan kepercayaan Alaric Montague. Namun, sebagai Lavinia yang didukung sistem dan pernah membaca novelnya, aku tahu kebenaran yang lebih dalam bahwa Vincent adalah ‘Bayangan Kerajaan’ yang merupakan pengawas rahasia yang ditugaskan langsung oleh Kaisar u
Aku tersenyum tipis. Marie masuk dengan langkah ragu, tangannya gemetar saat memegang nampan teh. "Nona... ada banyak kiriman hadiah di bawah. Dan... Duke Montague kembali datang. Beliau terlihat sangat mengerikan." "Biarkan dia menunggu. Kirim dulu surat ini lewat kurir resmi istana agar semua orang tahu bahwa aku, Lavinia Whitmore, yang membuang Duke itu sebelum dia sempat mengucapkan sepatah kata pun," kataku tenang. Setelah membiarkannya menunggu selama dua jam di aula bawah, aku akhirnya turun. Alaric Montague berdiri di sana, masih dengan wajah hancur seperti semalam, namun kali ini ia tampak lebih putus asa. "Lavinia! Aku sudah menerima surat itu dan aku merobeknya!" Alaric melangkah maju, mencoba mencengkeram tanganku, namun aku mundur dengan anggun. "Aku tahu aku telah menjadi bajingan. Aku tahu aku telah menyakitimu demi wanita yang ternyata hanya menggunakan aku. Tapi tolong... beri aku satu kesempatan lagi. Aku akan mengusir Clarissa, aku akan melakukan apa pun!"
Malam itu benar-benar menjadi titik balik yang tak terelakkan. Di dalam kereta kuda kerajaan yang berlambang singa emas, suasana terasa jauh lebih menyesakkan daripada di aula pesta yang riuh tadi. Bukan karena udara yang sempit, tapi karena aura Putra Mahkota Adrian Blackwood yang duduk di hadapanku terasa begitu mendominasi, seolah-olah ia sedang mengklaim setiap inci oksigen yang aku hirup.Adrian melepaskan kancing teratas seragam militernya dengan kasar, tampak berusaha mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan. Efek berada di dekatku saat kutukanku sedang aktif ternyata mulai memengaruhi dia juga. Meskipun dia memiliki energi sihir yang kuat, gairah yang terpancar dari mawar hitam di bahuku bukanlah sesuatu yang bisa ditepis dengan mudah oleh logika ksatria mana pun."kamu benar-benar berbahaya, Lavinia," suara Adrian pecah dalam kesunyian kereta yang bergerak dinamis. Mata birunya yang tajam menatapku, seolah sedang menelanjangi semua rencana yang ada di kepala kecilku.
Sore itu, cakrawala di atas ibu kota kekaisaran tampak terbakar. Warna langit berubah dari jingga menjadi ungu kemerahan yang pekat, persis seperti warna mataku di cermin saat kutukan ini mulai berdenyut. Tepat ketika aku sedang menyesuaikan napas untuk menahan gejolak panas di perut bawahku, sebuah paket misterius tiba di depan pintu kamar.Tidak ada nama pengirim, hanya sebuah botol kecil berbahan kristal berisi cairan perak yang berkilau seperti serpihan bintang yang dicairkan. Di bawah botol itu, terselip sebuah catatan pendek dengan tulisan tangan yang tajam dan tegas:"Untuk meredam panasmu malam ini, Mawar Kecil. Jangan sampai kamu pingsan sebelum dansa pertama dimulai."Aku menghirup aroma kertasnya. Bau kayu cendana dan sihir yang dingin seperti aroma yang sama dengan yang kuhirup di dalam kereta Adrian kemarin. Aku tersenyum tipis. Ternyata sang Putra Mahkota jauh lebih perhatian, atau mungkin jauh lebih posesif,
Di dalam kereta, aku menghela napas panjang. "Itu tadi sangat dramatis, Yang Mulia."Adrian tidak langsung menjawab. Ia menatap tangannya yang tadi memegang pinggangku, lalu menatapku dengan senyum miring yang terlihat sangat kekanakan namun berbahaya."Kamu benar-benar wanita yang merepotkan, Lavinia," gumamnya. "Tapi kurasa, aku mulai menyukai kerepotan ini."Aku tersenyum puas. Satu target sudah masuk perangkap. Sekarang tinggal menunggu ulang tahunku yang ke-18.Rahasia kutukan ini belum sepenuhnya tuntas, dan aku tahu, malam itu akan menjadi malam yang jauh lebih liar dari jamuan makan siang ini.***Kereta kuda Putra Mahkota akhirnya berhenti tepat di depan gerbang megah kediaman Whitmore. Adrian tidak langsung melepaskanku.Ia menatapku lama, seolah sedang menimbang-nimbang apakah harus membiarkanku pergi atau membawaku sekalian ke istananya."Istirahatlah, Lavi
Tubuhku terasa seperti sedang dipanggang di atas bara api yang tak kasat mata. Setiap embusan napas yang keluar dari bibirku terasa panas, dan setiap inci kulitku mendambakan sentuhan dingin untuk meredakan gejolak ini.Kutukan Whitmore benar-benar bukan lelucon. Ini bukan sekadar nafsu; ini adalah rasa lapar yang menyakitkan."Lavinia? Hei, jawab aku! Kamu sakit?"Suara Adrian Blackwood terdengar tepat di atas kepalaku. Tangannya yang kuat menahan pinggangku agar tidak merosot ke tanah.Aroma tubuhnya campuran antara sandalwood dan udara musim dingin yang masuk ke indra penciumanku, memberikan kelegaan sesaat yang memabukkan.Aku mendongak pelan. Mata biru laut Adrian tampak sangat jernih di bawah sinar matahari sore. Dia tampan, dengan garis rahang yang tegas namun memiliki ekspresi yang sedikit polos, jika memperhatikannya cukup lama."Yang Mulia..." bisikku, sengaja membiarkan suaraku terdeng







