LOGINLembah Whitmore tidak lagi menyerupai lanskap bumi yang organik. Seluruh permukaannya telah meleleh di bawah suhu ekstrem yang dilepaskan oleh Adrian, sekaligus membeku dalam fraksi detik berikutnya oleh pasak kegelapan milik Vincent.
Udara yang terperangkap di dalam lingkaran krisis ini begitu pekat oleh uap belerang, partikel mikro dari kode-kode sistem Project: Gaia yang terbakar, serta kepulan asap putih dari sisa-sisa penguapan kabut kelabu. Suara gemuruhGema pertempuran di Lembah Whitmore mungkin telah usai di dokumen resmi kekaisaran, namun suasana di dalam paviliun utama Istana Mawar masih menyisakan ketegangan taktis yang pekat. Udara di dalam kamar tidur utama terasa sangat hangat, dipenuhi sisa-sisa uap mana elemen api milik Adrian yang masih meletup-letup konstan di sudut ruangan, seolah-olah manifestasi dari emosinya yang membara ikut mengungkung seisi kamar. Aku duduk bersandar pada tumpukan bantal sutra di kepala ranjang, baru saja selesai membasuh sisa-sisa energi pertempuran dari tubuhku. Jubah tidur beludru hitam berpotongan elegan kini membungkus tubuhku dengan rapi. Di sudut penglihatanku, untaian teks digital dari sistem yang telah diretas sepenuhnya kini berkedip dengan ritme yang tenang, memvalidasi stabilitas duniaku setelah badai melanda. Aku menatap tiga sosok pria raksasa yang saat ini mengelilingi ranjangku, masing-masing memancarkan aura dominasi yang sanggup me
Lembah Whitmore tidak lagi menyerupai lanskap bumi yang organik. Seluruh permukaannya telah meleleh di bawah suhu ekstrem yang dilepaskan oleh Adrian, sekaligus membeku dalam fraksi detik berikutnya oleh pasak kegelapan milik Vincent. Udara yang terperangkap di dalam lingkaran krisis ini begitu pekat oleh uap belerang, partikel mikro dari kode-kode sistem Project: Gaia yang terbakar, serta kepulan asap putih dari sisa-sisa penguapan kabut kelabu. Suara gemuruh perang tidak lagi terdengar seperti benturan pedang konvensional, melainkan dentuman konstan dari sirkulasi mana tingkat tinggi yang saling bergesekan, menciptakan tekanan atmosfer yang sanggup meremukkan paru-paru prajurit biasa. Di pusat barikade yang kini telah bersinar kembali dengan pendar emas-merah yang masif, Alaric berdiri dengan keagungan seorang malaikat pencabut nyawa yang baru saja mencicipi buah terlarang. Sisa-sisa air liurku masih mengkilap samar d
Alaric mengerang rendah, sebuah lenguhan parau yang sarat akan getaran energi dan rasa nikmat yang luar biasa menggairahkan meluncur dari sela-sela bibir kami yang saling mengunci. Napasnya yang semula tersengal berat seketika berubah menjadi buruan napas yang panas dan menuntut. Sentuhanku perlahan semakin berani dibalut kedok transfer energi ini, aku mengirimkan sengatan listrik masif yang langsung merayap turun ke pusat tubuhnya. Arus sihir yang teramat padat dan panas itu memicu ketegangan pada pusatnya, mengalir deras melalui jalur sarafnya dan berpusat di balik baju zirah peraknya. Energi baru yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya terasa melegakan. Tubuh sang Kesatria Suci yang biasanya tegak dan kaku seperti pilar batu kini mendadak melunak, kehilangan seluruh kekuatan penolakannya. Ia gemetar hebat di bawah dominasi ciumanku yang sengaja mempermainkan sensitivitas bibirnya hingga basah dan merona kemerahan. Alaric yang selalu diagungk
Lembah Whitmore yang dulunya hijau dan asri kini benar-benar berubah menjadi replika neraka yang sedang mengalami error sistem. Suasana di medan tempur begitu kacau, suara ledakan sihir api yang memekakkan telinga beradu dengan desis kabut kelabu yang merayap bagaikan predator lapar. Udara terasa berat, penuh dengan partikel debu sihir dan aroma hangus dari boneka-boneka kosong yang terbakar. Begitu perintah eksekusi kuberikan, Adrian benar-benar bertindak seperti meteor jatuh. Pangeran psikopat itu terjun bebas dari atas bukit, tubuhnya diselimuti lidah api merah raksasa yang membentuk siluet naga. Begitu kakinya menyentuh tanah lembah, sebuah gelombang kejut panas meledak ke segala arah, menghanguskan ribuan boneka kosong dalam sekejap hingga menjadi abu. "Lavinia! Lihatlah bagaimana aku membakar sampah-sampah ini untukmu!" Adrian meraung gila di tengah medan tempur. Pedang besarnya terayun brutal, setiap tebasannya menciptakan gelombang api yang me
Di dalam kereta, suasana romantis yang penuh tekanan ini kian terasa nyata. Adrian duduk di hadapanku memberikan tatapan lapar yang tidak putus-putus. Sementara tangannya tidak berhenti membelai ujung jubah beludruku seolah-olah kain itu adalah bagian dari kulitku. Namun, pemandangan di luar jendela kereta kian lama kian merusak suasana romantis kami. Desa-desa perkebunan yang biasanya hijau kini tampak mati terlihat dari daun-daun tanaman yang menghitam dan membusuk akibat paparan partikel dari kabut abu-abu yang mulai bocor dari perbatasan utara. Para penduduk lokal yang tidak sempat melarikan diri terlihat merangkak di pinggir jalan dengan tatapan mata yang kosong. Kulit mereka berubah menjadi seputih kapur dengan urat-urat hitam yang menonjol di sekujur tubuh. Mereka adalah produk gagal dari proses kerusakan awal Project: Gaia. Mereka
Semburat fajar yang muncul di ufuk timur Kekaisaran Blackwood tidak membawa kehangatan yang manis seperti di novel-novel cinta yang biasa dibaca para nona bangsawan. Langit pagi itu justru terlihat menakutkan seperti perpaduan warna merah tua yang pekat dan kepulan abu-abu dari kabut Project: Gaia yang mirip polusi udara kota besar akibat proyek gagal. Udara di luar paviliun terasa sangat dingin menusuk kulit, membawa embun yang berbau karat besi dari arah utara. Itu adalah tanda jelas bahwa ribuan nyawa di perbatasan Whitmore sedang terancam oleh sistem dunia yang mendadak rusak. Namun, di dalam kamar tidur utama paviliun, masalah besar kekaisaran itu mendadak terasa kalah mendesak jika dibandingkan dengan masalah medis di atas ranjang sutra besarku. Ranjang besar itu kini tampak berantakan seperti medan perang yang hancur lebur. Sprei sutra robek di beberapa bagian, bantal-b
Sore itu, cakrawala di atas ibu kota kekaisaran tampak terbakar. Warna langit berubah dari jingga menjadi ungu kemerahan yang pekat, persis seperti warna mataku di cermin saat kutukan ini mulai berdenyut. Tepat ketika aku sedang menyesuaikan napas untuk menahan gejolak panas di perut ba
Di dalam kereta, aku menghela napas panjang. "Itu tadi sangat dramatis, Yang Mulia."Adrian tidak langsung menjawab. Ia menatap tangannya yang tadi memegang pinggangku, lalu menatapku dengan senyum miring yang terlihat sangat kekanakan namun berbahaya."Kamu benar-be
Tubuhku terasa seperti sedang dipanggang di atas bara api yang tak kasat mata. Setiap embusan napas yang keluar dari bibirku terasa panas, dan setiap inci kulitku mendambakan sentuhan dingin untuk meredakan gejolak ini.Kutukan Whitmore benar-benar bukan lelucon. Ini bukan sekadar n
Dunia ini tidak adil. Kalimat itu adalah hal terakhir yang terlintas di benakku, Celestine Montclair. Saat tubuhku terlempar ke aspal yang keras. Suara decitan ban truk yang menghantamku masih terngiang, memekakkan telinga sebelum semuanya mendadak sunyi. Aku mati di usia 24 tahun hanya karena m







