LOGINSore itu, cakrawala di atas ibu kota kekaisaran tampak terbakar. Warna langit berubah dari jingga menjadi ungu kemerahan yang pekat, persis seperti warna mataku di cermin saat kutukan ini mulai berdenyut.
Tepat ketika aku sedang menyesuaikan napas untuk menahan gejolak panas di perut bawahku, sebuah paket misterius tiba di depan pintu kamar. Tidak ada nama pengirim, hanya sebuah botol kecil berbahan kristal berisi cairan perak yang berkilau seperti serpihan bintang yang dicairkan. Di bawah botol itu, terselip sebuah catatan pendek dengan tulisan tangan yang tajam dan tegas: "Untuk meredam panasmu malam ini, Mawar Kecil. Jangan sampai kamu pingsan sebelum dansa pertama dimulai." Aku menghirup aroma kertasnya. Bau kayu cendana dan sihir yang dingin seperti aroma yang sama dengan yang kuhirup di dalam kereta Adrian kemarin. Aku tersenyum tipis. Ternyata sang Putra Mahkota jauh lebih perhatian, atau mungkin jauh lebih posesif, daripada yang digambarkan dalam novel aslinya. Dia tidak ingin ‘mainannya’ rusak sebelum dia sendiri yang menikmatinya. Tanpa ragu, aku meminum cairan itu. Rasanya seperti es yang mencair di tenggorokanku, seketika menyebarkan rasa dingin yang menenangkan ke seluruh nadiku. Rasa panas yang menggila itu tertekan, memberiku kendali penuh atas tubuhku kembali. "Terima kasih, Putra Mahkota. Ini akan sangat membantuku untuk tetap tenang saat aku menghancurkan Clarissa nanti," gumamku pada bayangan diriku sendiri. Marie masuk ke kamar dengan wajah pucat, membawa gaun hitam yang telah kami modifikasi. "Sudah waktunya, Nona. Kereta sudah siap." Aku berdiri dan membiarkan Marie memakaikan gaun itu. Kain sutra hitamnya terasa sejuk, memeluk lekuk tubuhku seperti kulit kedua. Gaun ini adalah sebuah pernyataan perang dengan belahan kaki yang setinggi paha, punggung yang terbuka lebar, dan potongan dada yang rendah namun tetap elegan. Saat aku mengenakan topeng renda hitamku, aku tahu bahwa malam ini tidak akan ada yang bisa menghentikanku. Clarissa mungkin punya ‘Plot Armor’ sebagai protagonis suci kesayangan penulis, tapi aku punya pengetahuan masa depan sebuah dukungan sistem, dan gairah mematikan yang tidak bisa ia bayangkan. "Mari berangkat, Marie," kataku dengan suara yang penuh otoritas. "Panggung sudah siap, dan aku tidak sabar mendengar suara retakan hati Clarissa Beaumont saat dia menyadari bahwa pahlawannya telah beralih pihak." Kediaman Beaumont malam itu tampak seperti istana kristal yang berpijar. Ratusan lilin aromatik menyala di sepanjang lorong, namun baunya yang manis tak mampu menutupi aura busuk dari rencana yang sedang disiapkan sang tuan rumah. Begitu aku melangkah turun dari kereta kuda keluarga Whitmore, angin malam langsung menyapu gaun hitamku, menyingkap kaki jenjangku di bawah lampu gantung yang benderang. "Nona, semua orang menatap Anda," bisik Marie dengan suara gemetar. Ia belum terbiasa dengan perhatian sebesar ini. "Biarkan saja, Marie. Mereka butuh sesuatu yang indah untuk dibicarakan sebelum skandal besar malam ini pecah," jawabku tenang. Aku melangkah masuk ke aula utama dengan kepala tegak, membiarkan bunyi sepatuku bergema di lantai marmer. Seketika, orkestra yang sedang memainkan melodi lambat seolah memelan. Percakapan para bangsawan terhenti. Tatapan lapar, iri, dan bingung menyatu menjadi satu atmosfer yang mencekam. Lavinia yang mereka kenal biasanya datang dengan gaun warna-warni yang norak dan riasan berlebihan, tapi sosok yang berdiri di hadapan mereka sekarang adalah perwujudan kegelapan yang anggun dan berkelas. Di tengah aula, Duke Alaric Montague sedang berdiri berdampingan dengan Clarissa. Alaric mengenakan topeng perak yang menutupi setengah wajah tampannya, tapi aku bisa melihat rahangnya mengeras saat matanya terkunci padaku. Clarissa, di sisinya, tampak seperti boneka porselen dalam balutan gaun putih polos yang bagiku terlihat sangat membosankan dan munafik. "Lavinia," suara Alaric rendah dan berat saat aku berjalan melewati mereka dengan anggun. "Aku sudah melarangmu datang ke pesta ini." Aku menghentikan langkahku, memutar tubuh perlahan hingga belahan gaunku menyingkap sedikit lebih banyak kulit pahaku. Aku bisa melihat mata Alaric tak sengaja melirik ke sana sebelum ia dengan cepat memalingkan wajahnya dengan gusar. "Tuan Duke... sejak kapan seorang tunangan yang diabaikan harus menuruti perintah pria yang sedang sibuk menjaga wanita lain?" Aku memberikan senyum miring yang provokatif. "Aku di sini untuk bersenang-senang, bukan untuk meminta izinmu." Aku mengedipkan mata pada Alaric yang wajahnya mulai memerah, lalu beralih pada Clarissa yang mulai mengeluarkan jurus andalannya ‘mata berkaca-kaca’. "Clarissa Sayang, gaunmu... manis sekali. Sangat cocok untuk seseorang yang ingin terlihat 'suci' “,bisikku tepat di depannya. "L-lavinia, apa maksudmu?" suara Clarissa bergetar, tangannya mencengkeram lengan Alaric erat. "Sudahlah," aku melambai centil dan berjalan menuju area bar, meninggalkan mereka yang mulai menjadi pusat bisik-bisik para tamu. [Peringatan Sistem: Target Bergerak.] [Pelayan berpita kuning mendekat dari arah jam 3. Kandungan dalam minuman: Aphrodisiac tingkat tinggi & Halusinogen.] Aku tersenyum dalam hati. Clarissa benar-benar ingin aku mempermalukan diri sendiri dengan menjadi wanita haus gairah yang menggila di depan umum. Sial baginya, aku punya sistem dan botol penawar dari Adrian yang sudah mengalir di nadiku. Seorang pelayan dengan pita kuning di lengan bajunya mendekat, membawa nampan berisi dua gelas anggur merah. "Minuman untuk merayakan pesta, Lady Whitmore?" Entah kemana pelayanku itu, tadi dia kusuruh mengambil barang tapi belum dateng juga. "Oh, tentu. Terima kasih, manis," aku mengambil gelas itu. Alih-alih meminumnya, aku memutar-mutar gelas itu di jemariku, mengamati cairan merah yang mengandung jebakan tersebut. Tiba-tiba, sebuah tangan besar dengan sarung tangan hitam mendarat di bahuku. Vincent Valerius. Topeng hitamnya membuatnya terlihat seperti iblis dari neraka yang paling tampan. "Lady Lavinia, apakah Anda akan meminum cairan berisiko itu sendirian?" "Tentu tidak, Tuan Valerius. Tapi kurasa minuman ini lebih cocok untuk seseorang yang sedang... sangat kehausan," aku melirik Clarissa yang sedang berjalan ke arah kami bersama Alaric. Saat mereka sudah dalam jarak yang tepat, aku sengaja berpura-pura kehilangan keseimbangan karena tumit sepatuku. "Aaah!" Byurrr! Dengan akurasi yang kupelajari dari sistem, aku menyiramkan seluruh isi gelas itu ke dada Alaric dan sebagian mengenai wajah serta leher Clarissa. "Astaga! Maafkan aku! Aku benar-benar ceroboh karena terlalu bersemangat!" seruku dengan nada manja yang sengaja dibuat keras hingga seluruh penghuni aula menoleh. "Lavinia! Apa yang kamu lakukan?!" Alaric berteriak, mencoba menyeka anggur dari kemeja putihnya yang kini tembus pandang karena basah. Tapi aku tahu apa yang akan terjadi. Cairan itu meresap ke kulit mereka. Aphrodisiac tingkat tinggi ini tidak perlu diminum untuk bekerja tapi kontak kulit saja sudah cukup untuk memicu gelombang panas yang tak tertahankan. Alaric Montague, sang Ksatria Suci yang diagungkan karena kontrol dirinya, mendadak kehilangan pijakan. Kemeja putihnya yang basah mencetak jelas otot dadanya yang bidang, namun yang lebih memalukan adalah getaran hebat di tangannya yang tak bisa ia sembunyikan. Di depan para uskup dan bangsawan yang memujanya, Alaric tampak seperti pria bejat yang sedang sakamu. Matanya merah dan berkabut, napasnya memburu dengan suara berat yang memenuhi keheningan aula. Martabatnya sebagai ksatria tak bercelah runtuh seketika, ia tak mampu lagi melindungi Clarissa karena ia sendiri sedang berperang melawan ereksi yang menyakitkan di balik seragam militer kebanggaannya. Ironisnya, dalam halusinasinya, aroma Lavinia terasa begitu memikat, menjauhkan keinginannya dari Clarissa dan menarik seluruh obsesinya ke arah Lavinia. Sementara itu, Clarissa kehilangan kendali total. Wajah ‘suci’-nya memerah padam. Matanya kosong, hanya dipenuhi nafsu liar yang dipicu ramuannya sendiri. Di depan ratusan pasang mata bangsawan, tangan Clarissa mulai gemetar hebat. "Panas... ini terlalu panas..." rintih Clarissa. Tanpa malu, dia mulai merobek bagian dada gaun putihnya sendiri. Aula mendadak sunyi sesunyi kuburan saat kain putih itu terkoyak, menyingkap kulitnya. Clarissa tidak berhenti. Dia jatuh terduduk di lantai dansa, menyibakkan roknya ke atas hingga pangkal paha, dan di depan semua orang termasuk para ksatria yang menghormatinya. Dia mulai menggosokkan tangannya dengan liar ke area intimnya sendiri di balik pakaian dalamnya yang sudah basah. Suara desahannya yang menjijikkan bergema di seluruh ruangan, meruntuhkan reputasi ‘Lady Suci’ dalam hitungan detik. "Clarissa! Apa yang kamu lakukan?!" Alaric berteriak, suaranya parau karena menahan gairah yang salah tempat. Ia merasa jijik melihat wanita yang dulu ia lindungi bertingkah seperti hewan di lantai, namun tubuhnya yang terpengaruh sihir justru mengkhianatinya seperti ingin menerjang, tapi sasarannya adalah Lavinia, sang Villainess yang menatapnya dengan pandangan menghina. "Astaga, Clarissa! Bagaimana bisa kamu melakukan hal serendah itu di pesta keluargamu sendiri?!" suaraku yang lantang memastikan skandal ini tercatat abadi di ingatan semua orang. Di saat puncak kehinaan mereka, terompet kerajaan bergema. "Putra Mahkota Adrian Blackwood memasuki aula!" Adrian masuk dengan jubah kebesarannya yang memancarkan otoritas mutlak. Ia melirik Clarissa yang masih sibuk mengocok area intimnya di lantai dengan tatapan sangat jijik, seolah-olah ia sedang melihat serangga yang perlu diinjak. Adrian melewati Alaric yang basah kuyup dan gemetar tanpa sepatah kata pun, mengabaikan eksistensi sang Duke seolah-olah Alaric hanyalah debu. Ia berhenti tepat di depanku. "Lady Whitmore," Adrian mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung tangan putih. "Aku percaya dansa pertama malam ini adalah milikku." Aku menyambut tangannya. "Dengan senang hati, Yang Mulia." Kami berdansa di tengah aula, melewati sosok Clarissa yang kini diseret paksa oleh para pelayan Beaumont yang panik untuk menutupi tubuhnya. Alaric hanya bisa berdiri mematung di pinggir lantai dansa, mencengkeram tiang penyangga dengan sangat kuat hingga marmernya retak. Harga dirinya sebagai ksatria, sebagai pria, dan sebagai pelindung Clarissa telah mati malam ini. "Kamu melakukan pekerjaan yang sangat bersih, Lavinia," bisik Adrian di earphone maksudku, tepat di dekat telingaku. Tangannya meremas pinggangku dengan posesif yang menyakitkan. "Duke itu... dia terlihat ingin memperkosamu dengan matanya sekarang. Tapi sayang sekali, kamu akan pulang bersamaku malam ini." Aku tertawa manja, melirik Alaric yang menatapku dengan kebencian bercampur nafsu yang putus asa. "Pesta yang sangat menyenangkan bukan begitu, Putra Mahkotaku?" Vincent di sudut ruangan mengangkat gelasnya, memberikan senyum misterius ke arahku. Malam ini, aku telah membakar kesucian protagonis wanita dan menghancurkan benteng pertahanan sang ksatria suci. Dan dari abunya, aku akan membangun takhtaku sendiri. *** Jangan lupa like/vote dan komen cerita ini biar author makin semangat nulisnya!Lavinia merasakan kehangatan yang luar biasa menjalar di hatinya. Kekaisaran Blackwood saat ini sedang berada dalam masa kejayaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. Stabilitas politik daratan terjaga sempurna berkat penyatuan elemen mereka berempat. Namun di luar sana, dalam buku-buku sejarah kuno yang kaku, mereka mungkin akan diingat sebagai para penguasa yang tidak konvensional karena tidak memiliki selir asing, yang menikah dalam upacara melingkar kontroversial, dan yang memilih hidup di pengasingan mewah. Tapi bagi Lavinia, ini adalah kemenangan mutlak atas hidupnya. Ia tidak lagi menjadi subjek dari program Sistem mekanis yang dingin. Ia adalah tokoh utama dari jalan hidupnya sendiri. Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar di pintu ruang makan. Itu adalah pelayan pribadi yang paling mereka percaya, tampak sedikit ragu menghadapi atmosfer intim para tuannya. "Yang Mulia... ada p
Cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah gorden sutra di kamar utama Sanctum Blackwood. Ruangan itu besar, hangat, dan dipenuhi dengan aroma kayu gaharu yang menenangkan sangat kontras dengan suasana kastel utama yang dingin dan penuh intrik politik. Di atas ranjang berukuran raksasa, Lavinia berbaring dalam posisi yang sekali lagi sangat mustahil. Kepalanya berada di pangkuan Adrian, kakinya tersampir di atas dada Alaric, dan lengannya melingkar di leher Vincent yang masih terlelap dengan seringai tipis di wajah tampannya. Tubuhnya terasa remuk, sebuah sensasi dari ‘audit’ yang sangat teliti, mendalam, dan tanpa ampun dari ketiga suaminya semalam suntuk di tempat peraduan yang baru. Namun, alih-alih merasa lelah, Lavinia justru merasa sangat hidup. Setiap jengkal kulitnya seolah memiliki memori rekaman tak kasat mata tentang bagaimana Adrian mencintainya dengan kobaran api naga, bagaimana Alaric memujanya dengan cahaya kesucian
Resepsi pernikahan setelahnya adalah puncak dari kemegahan dinasti. Aula perjamuan istana didekorasi dengan ribuan kristal yang memantulkan cahaya lilin. Hidangan-hidangan paling langka disajikan, dan musik berdansa tidak pernah berhenti sepanjang malam. Lavinia berdansa dengan Adrian, lalu berganti dengan Alaric, dan terakhir dengan Vincent, sementara tatapan posesif dan berahi tersembunyi dari ketiga pria itu tidak pernah lepas dari raga porselennya setiap detik. Di balik meja utama, Kaisar tertawa terbahak-bahak melihat ketiga pria pilar itu terus-menerus menempel ketat pada Lavinia setiap kali ada bangsawan muda yang mencoba mengajak wanita itu berdansa. "Kau punya tangan yang penuh dengan mereka, Lavinia," ujar Kaisar Alexander sambil menyesap anggur mahalnya dengan tatapan penuh konspirasi. "Tapi kulihat kau menikmati kendali atas mereka." "Mereka memang merepotkan dan terlalu protektif, Yang Mulia," jawab Lavini
Lonceng Katedral Agung Blackwood berdenting merdu, membelah keheningan pagi yang berkabut dengan dentuman yang terasa hingga ke akar-akar pohon di seluruh ibu kota. Hari ini adalah hari yang akan dicatat dalam tinta emas oleh para sejarawan selama seribu tahun ke depan. Hari di mana tiga pilar utama kekaisaran dari Putra Mahkota, Ksatria Suci, dan Pemimpin Orde Bayangan secara resmi mengikat diri pada satu wanita yang sama: Lavinia. Di dalam ruang ganti pribadi yang kini dipenuhi oleh wangi bunga lili dan dupa mahal, Lavinia berdiri tegak di depan cermin raksasa. Ia mengenakan gaun pengantin yang merupakan mahakarya perpaduan dari tiga visi yang berbeda. Bagian bodinya dibuat dari sutra putih murni yang melambangkan kesucian, sementara di sepanjang pinggang hingga menjuntai ke lantai, terdapat bordir sisik naga emas yang tampak hidup, seolah-olah naga api milik Adrian sedang melingkar memeluk raga porselennya. Di bagian
Lavinia ternganga, sisi humoris dan budak korporatnya berteriak konyol. Ia tidak percaya naga jantan yang perkasa ini benar-benar membahas urusan menggendong saat mereka sedang dalam suasana yang begitu manis dan puitis. Vincent langsung terpingkal-pingkal meremehkan, sementara Alaric memutar bola matanya dengan dramatis. "Menggendong? Benar-benar?" tanya Vincent sambil tertawa rendah yang sangat seksi. "Apa kita sekarang sedang berada di dalam sebuah drama romansa murahan kelas bawah? Kamu ingin menggendongnya seperti pangeran yang menyelamatkan putri dari menara tinggi?" "Setidaknya aku punya fisik yang mampu melakukannya tanpa lelah!" balas Adrian tak terima, memompa hawa panasnya untuk menegaskan kekuatannya. "Lagipula, itu adalah hak prerogatifku sebagai pewaris sah takhta kekaisaran!" "Hak prerogatif?" Alaric ikut tersenyum tipis, tapi ada nada menantang dan dominan dalam suaranya yang tenang. "Jika kita bicara t
Malam itu, langit di atas Kastel Whitmore tidak lagi berwarna hitam pekat, melainkan diselimuti oleh rona ungu kemerahan yang misterius seolah-olah alam semesta sendiri sedang merayakan ketegangan yang menggantung di udara. Di balkon utama yang menghadap langsung ke arah ibu kota Blackwood, Lavinia berdiri mematung. Angin malam yang dingin membelai kulitnya, namun ia sama sekali tidak merasa kedinginan. Ada kehangatan magis yang melingkupi jiwanya, sebuah ketenangan yang selama ini selalu terasa semu, kini menjadi nyata dan tak tergoyahkan setelah asimilasi energi tiga darah mengunci takdirnya. Di balik gaun sutra yang lembut, Lavinia merasakan detak jantungnya berirama selaras dengan detak dunia di bawah sana. Ia menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan, menyadari bahwa besok, ia tidak lagi akan dikenal sebagai Lavinia sang villainess atau Lavinia sang Countess yang penuh misteri. Besok, ia akan menjadi pusat dari selu
Di dalam kereta, aku menghela napas panjang. "Itu tadi sangat dramatis, Yang Mulia."Adrian tidak langsung menjawab. Ia menatap tangannya yang tadi memegang pinggangku, lalu menatapku dengan senyum miring yang terlihat sangat kekanakan namun berbahaya."Kamu benar-be
Tubuhku terasa seperti sedang dipanggang di atas bara api yang tak kasat mata. Setiap embusan napas yang keluar dari bibirku terasa panas, dan setiap inci kulitku mendambakan sentuhan dingin untuk meredakan gejolak ini.Kutukan Whitmore benar-benar bukan lelucon. Ini bukan sekadar n
Sinar matahari pagi menembus jendela kaca patri kediaman Whitmore, memantulkan warna-warna pelangi di atas meja rias kayuku yang mahal. Aku sudah duduk di sini selama hampir dua jam. Jika di kehidupan nyataku sebagai Celestine aku hanya punya waktu lima menit untuk memakai pelembap sebelum lari me
Dunia ini tidak adil. Kalimat itu adalah hal terakhir yang terlintas di benakku, Celestine Montclair. Saat tubuhku terlempar ke aspal yang keras. Suara decitan ban truk yang menghantamku masih terngiang, memekakkan telinga sebelum semuanya mendadak sunyi. Aku mati di usia 24 tahun hanya karena m







