LOGINSinar matahari pagi menembus jendela kaca patri kediaman Whitmore, memantulkan warna-warna pelangi di atas meja rias kayuku yang mahal.
Aku sudah duduk di sini selama hampir dua jam. Jika di kehidupan nyataku sebagai Celestine aku hanya punya waktu lima menit untuk memakai pelembap sebelum lari mengejar bus, di sini, merias diri adalah sebuah ibadah. "Nona, apakah Anda yakin ingin memakai gaun ini? Bukankah ini sedikit... terlalu mencolok untuk makan siang santai?" tanya Marie, pelayan pribadiku yang masih sering gemetar jika aku menatapnya terlalu lama. Aku melihat pantulanku di cermin. Aku memilih gaun sutra berwarna merah marun dengan potongan dada yang rendah namun tetap elegan, dipadukan dengan korset hitam yang mempertegas lekuk pinggangku. Rambut merah mudaku dibiarkan terurai dengan ombak besar yang jatuh di bahu, dihiasi jepit rambut berbentuk mawar emas. "Mencolok? Oh, Marie Sayang," aku berbalik dan mencubit pipinya pelan, membuat gadis itu membelalak kaget. "Di dunia ini, kalau kamu tidak menjadi pusat perhatian, kamu hanyalah dekorasi ruangan. Dan aku? Aku adalah pemeran utamanya." Aku mengedipkan sebelah mata pada bayanganku sendiri. Sifat manja dan centil ini mulai terasa alami. Mungkin karena jiwa asliku memang sedikit extra, atau mungkin tubuh Lavinia ini memang diciptakan untuk memikat. Hari ini adalah jadwal makan siang bersama di kediaman Duke Montague. Seharusnya, ini adalah momen di mana Lavinia asli akan membuat keributan karena cemburu melihat kedekatan Alaric dan Clarissa Beaumont tapi hari ini, aku punya rencana lain. Saat kereta kudaku tiba di kediaman Montague, suasana terasa kaku. Aku melangkah keluar dengan anggun, membiarkan para pelayan pria di sana menelan ludah melihat betapa kontrasnya penampilanku hari ini. Tidak ada lagi wajah cemberut atau mata yang bengkak karena menangis. Di taman mawar yang luas, aku melihat mereka. Duke Alaric Montague yang tampak gagah dengan kemeja putih longgar, dan di sampingnya, Clarissa Beaumont. Gadis itu mengenakan gaun putih polos, rambut pirangnya diikat sederhana, tampak seperti malaikat yang suci dan tak berdosa. "Ah, Lavinia. Kamu datang," suara Alaric terdengar dingin, namun ada sedikit nada ragu saat matanya menyapu penampilanku dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Maaf ya membuat kalian menunggu lama," ucapku dengan nada yang sengaja kutinggikan, sedikit manja. Aku berjalan mendekat, bukannya duduk di kursi yang jauh, aku justru sengaja berjalan melewati Alaric, membiarkan aroma parfum mawar dan vanilaku tertinggal di indra penciumannya. "Lavinia, kamu terlihat... berbeda hari ini," Clarissa bersuara dengan nada lembut yang dibuat-buat. Matanya yang besar tampak berkaca-kaca, senjata andalannya untuk menarik simpati. "Biasanya kamu akan marah-marah jika melihatku duduk di dekat Duke." Aku duduk di kursi di seberang mereka, menyilangkan kaki dengan perlahan— sebuah gerakan yang sangat tidak sopan bagi bangsawan, tapi sangat efektif untuk menarik perhatian. "Marah? Untuk apa, Clarissa Manis?" aku tertawa kecil, suara tawa yang terdengar seperti denting lonceng. "Dulu aku memang bodoh, mengira cinta bisa dipaksakan tapi sekarang aku sadar, melihatmu dan Duke bersama itu seperti melihat... piring dan sendok. Serasi, tapi membosankan." Alaric tersedak minumannya. Clarissa mematung, wajah polosnya sesaat menunjukkan keterkejutan yang nyata. "Apa maksudmu, Lavinia?" tanya Alaric dengan alis bertaut. "Maksudku," aku menopang dagu dengan tangan, menatap Alaric dalam-dalam dengan mata merahku yang berkilau nakal. "Aku memutuskan untuk tidak lagi mengejarmu dengan cara yang melelahkan. Aku ingin menikmati hidup. Lagipula, aku baru sadar kalau di luar sana banyak sekali pria tampan yang mengantre untuk sekadar memegang tanganku. Benarkan, Duke?" Aku memberikan senyum paling menggoda yang bisa kukerahkan. Alaric memalingkan wajah, tapi aku bisa melihat telinganya memerah. Skor satu untukku. Makan siang dimulai. Clarissa, yang merasa posisinya sebagai pusat perhatian terancam, mulai melancarkan aksinya. Dia sengaja menumpahkan sedikit teh ke tangannya dan merintih pelan. "Aduh... panas sekali," keluhnya dengan nada cengeng. Sesuai alur novel, Alaric seharusnya langsung panik, mengambil saputangan, dan meniup tangan Clarissa sambil menatapku tajam seolah itu salahku. Dan benar saja, Alaric bergerak mengambil saputangannya. Tapi sebelum dia sempat menyentuh Clarissa, aku sudah lebih dulu bergerak. Aku bangkit dari kursi, menyambar tangan Clarissa dengan gerakan cepat namun lembut. "Oh, ya ampun! Clarissa, kamu ceroboh sekali sih?" ucapku dengan nada manja yang sangat prihatin. Aku mengambil gelas berisi air es milikku dan menyiramkannya pelan ke tangan Clarissa. "L-Lavinia! Apa yang kau lakukan?" teriak Clarissa kaget. "Mendinginkan lukamu, Sayang. Air es lebih efektif daripada saputangan Duke yang kering itu," aku tersenyum manis, lalu mengambil saputangan dari saku gaunku dan mengelap tangan Clarissa dengan gerakan yang sangat perhatian tapi sebenarnya aku menekan tangannya cukup kuat sampai dia meringis. Aku menoleh pada Alaric yang terpaku. "Duke, lihatlah betapa kasihan gadis kecil ini. Dia bahkan tidak bisa memegang cangkir dengan benar. Sepertinya kamu benar-benar harus menjaganya seperti menjaga bayi, ya?" Kalimatku terdengar seperti pujian, tapi secara tersirat aku sedang mengejek Clarissa sebagai wanita yang tidak kompeten dan manja berlebihan. Alaric tampak bingung harus merespons apa. Di satu sisi, aku terlihat sangat baik hati menolong Clarissa, tapi di sisi lain atmosfernya terasa sangat aneh. "Terima kasih... Lavinia," gumam Clarissa dengan wajah yang sekarang benar-benar merah karena menahan kesal. Rencana fitnahnya gagal total. Setelah makan siang yang penuh ketegangan itu, aku meminta izin untuk berjalan-jalan di taman belakang Montague. Aku butuh udara segar. Namun, baru beberapa langkah, sebuah tangan menarik lenganku dan memutar tubuhku. Aku menabrak dada yang keras. Alaric. "Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Lavinia Whitmore?" desisnya. Wajahnya sangat dekat, aku bisa mencium aroma kayu cendana dari tubuhnya. "Kemarin kamu berteriak gila padaku, dan sekarang kamu bersikap seolah kita adalah teman baik? Apa ini taktik baru untuk membuatku merasa bersalah?" Aku tidak menghindar. Justru, aku melingkarkan tanganku di lehernya, membuat Alaric tersentak kaget. Tubuhnya menegang, namun ia tidak segera melepaskan dekapanku. "Kalau iya, memangnya kenapa?" bisikku tepat di telinganya. "Apa Duke yang hebat ini mulai merasa... tertarik padaku lagi?" "Jangan bermimpi," balasnya, meskipun suaranya sedikit bergetar. Aku melepaskan pelukan itu sambil tertawa kecil. "Kita lihat saja nanti. Oh, dan Duke... berhati-hatilah dengan 'malaikat' kecilmu. Kadang-kadang, sayap putih itu hanya menutupi hati yang penuh lumpur." Aku melambai kecil dan berjalan pergi, meninggalkan Alaric yang berdiri diam menatap punggungku. Aku tahu, benih keraguan mulai tumbuh di kepalanya. Namun, saat aku berjalan menuju kereta kuda, perutku tiba-tiba terasa panas. Sebuah rasa bergejolak yang aneh menjalar dari perut bawah ke seluruh tubuhku. Jantungku berdegup kencang secara tidak wajar. [Peringatan: Kutukan Gairah Mendekati Fase Awal.] [Suhu Tubuh Meningkat. Kebutuhan Akan Kontak Fisik: Rendah (Meningkat).] Sial. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisku. Kutukan itu... dia mulai menyapa lebih cepat dari yang kukira. Aku mencengkeram kusen pintu kereta kudaku, mencoba mengatur napas. "Nona? Anda baik-baik saja? Wajah Anda sangat merah," tanya Marie khawatir. "Jalan... cepat jalan sekarang," perintahku dengan suara yang mulai serak. Di dalam kereta yang tertutup, aku meringkuk. Rasa panas ini bukan panas biasa. Ini adalah gairah yang merobek logika. Aku butuh seseorang. Aku butuh energi pria untuk menekan rasa sakit ini. Dan jika dalam 30 hari aku tidak menemukan "penawar" yang tetap, aku akan hancur. Tiba-tiba, kereta kudaku berhenti mendadak. "Ada apa?!" teriakku dari dalam. "Maaf, Nona! Jalanan ditutup oleh rombongan Putra Mahkota!" Aku menyibakkan tirai jendela. Di sana, di atas kuda putih yang gagah, duduklah Adrian Blackwood. Sang Putra Mahkota yang memiliki sifat dingin namun sebenarnya sangat kekanakan jika sudah mengenal seseorang. Adrian menoleh ke arah keretaku. Mata biru lautnya bertemu dengan mata merahku yang sedang diselimuti kabut gairah karena kutukan. Target baru telah muncul, pikirku di tengah rasa sakit yang mulai membakar. Jika Alaric terlalu sulit untuk dijinakkan dalam waktu singkat, mungkin sang Putra Mahkota bisa menjadi batu loncatan yang menarik. Aku membuka pintu kereta, keluar dengan langkah yang sedikit lunglai namun tetap terlihat sangat menggoda di bawah sinar matahari sore. "Yang Mulia Putra Mahkota..." aku memanggilnya dengan suara yang serak dan manja, sengaja membiarkan diriku hampir terjatuh agar ia memiliki alasan untuk menangkapku. Dan benar saja, Adrian turun dari kudanya dengan gerakan cepat, menangkap tubuhku yang panas. "Lavinia? Kamu... kenapa tubuhmu sangat panas?" tanya Adrian, matanya menunjukkan kekhawatiran yang tulus dan sedikit ketertarikan yang mulai tumbuh. Aku mendongak, menatapnya dengan tatapan sayu yang menghancurkan pertahanannya. "Aku... aku merasa sedikit pusing, Yang Mulia. Maukah Anda membantuku?" Di kejauhan, aku bisa melihat Alaric yang ternyata mengikuti keretaku, berdiri mematung melihatku berada di pelukan Adrian. Permainan yang sebenarnya baru saja dimulai. *** 💖 Author's Note Kalau kalian suka bab ini, jangan lupa tinggalkan vote dan komentar yaa 🥹✨ Aku selalu senang membaca teori, pendapat, atau reaksi kalian setelah membaca setiap bab. Sampai ketemu di chapter berikutnya ❤️Lavinia merasakan kehangatan yang luar biasa menjalar di hatinya. Kekaisaran Blackwood saat ini sedang berada dalam masa kejayaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. Stabilitas politik daratan terjaga sempurna berkat penyatuan elemen mereka berempat. Namun di luar sana, dalam buku-buku sejarah kuno yang kaku, mereka mungkin akan diingat sebagai para penguasa yang tidak konvensional karena tidak memiliki selir asing, yang menikah dalam upacara melingkar kontroversial, dan yang memilih hidup di pengasingan mewah. Tapi bagi Lavinia, ini adalah kemenangan mutlak atas hidupnya. Ia tidak lagi menjadi subjek dari program Sistem mekanis yang dingin. Ia adalah tokoh utama dari jalan hidupnya sendiri. Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar di pintu ruang makan. Itu adalah pelayan pribadi yang paling mereka percaya, tampak sedikit ragu menghadapi atmosfer intim para tuannya. "Yang Mulia... ada p
Cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah gorden sutra di kamar utama Sanctum Blackwood. Ruangan itu besar, hangat, dan dipenuhi dengan aroma kayu gaharu yang menenangkan sangat kontras dengan suasana kastel utama yang dingin dan penuh intrik politik. Di atas ranjang berukuran raksasa, Lavinia berbaring dalam posisi yang sekali lagi sangat mustahil. Kepalanya berada di pangkuan Adrian, kakinya tersampir di atas dada Alaric, dan lengannya melingkar di leher Vincent yang masih terlelap dengan seringai tipis di wajah tampannya. Tubuhnya terasa remuk, sebuah sensasi dari ‘audit’ yang sangat teliti, mendalam, dan tanpa ampun dari ketiga suaminya semalam suntuk di tempat peraduan yang baru. Namun, alih-alih merasa lelah, Lavinia justru merasa sangat hidup. Setiap jengkal kulitnya seolah memiliki memori rekaman tak kasat mata tentang bagaimana Adrian mencintainya dengan kobaran api naga, bagaimana Alaric memujanya dengan cahaya kesucian
Resepsi pernikahan setelahnya adalah puncak dari kemegahan dinasti. Aula perjamuan istana didekorasi dengan ribuan kristal yang memantulkan cahaya lilin. Hidangan-hidangan paling langka disajikan, dan musik berdansa tidak pernah berhenti sepanjang malam. Lavinia berdansa dengan Adrian, lalu berganti dengan Alaric, dan terakhir dengan Vincent, sementara tatapan posesif dan berahi tersembunyi dari ketiga pria itu tidak pernah lepas dari raga porselennya setiap detik. Di balik meja utama, Kaisar tertawa terbahak-bahak melihat ketiga pria pilar itu terus-menerus menempel ketat pada Lavinia setiap kali ada bangsawan muda yang mencoba mengajak wanita itu berdansa. "Kau punya tangan yang penuh dengan mereka, Lavinia," ujar Kaisar Alexander sambil menyesap anggur mahalnya dengan tatapan penuh konspirasi. "Tapi kulihat kau menikmati kendali atas mereka." "Mereka memang merepotkan dan terlalu protektif, Yang Mulia," jawab Lavini
Lonceng Katedral Agung Blackwood berdenting merdu, membelah keheningan pagi yang berkabut dengan dentuman yang terasa hingga ke akar-akar pohon di seluruh ibu kota. Hari ini adalah hari yang akan dicatat dalam tinta emas oleh para sejarawan selama seribu tahun ke depan. Hari di mana tiga pilar utama kekaisaran dari Putra Mahkota, Ksatria Suci, dan Pemimpin Orde Bayangan secara resmi mengikat diri pada satu wanita yang sama: Lavinia. Di dalam ruang ganti pribadi yang kini dipenuhi oleh wangi bunga lili dan dupa mahal, Lavinia berdiri tegak di depan cermin raksasa. Ia mengenakan gaun pengantin yang merupakan mahakarya perpaduan dari tiga visi yang berbeda. Bagian bodinya dibuat dari sutra putih murni yang melambangkan kesucian, sementara di sepanjang pinggang hingga menjuntai ke lantai, terdapat bordir sisik naga emas yang tampak hidup, seolah-olah naga api milik Adrian sedang melingkar memeluk raga porselennya. Di bagian
Lavinia ternganga, sisi humoris dan budak korporatnya berteriak konyol. Ia tidak percaya naga jantan yang perkasa ini benar-benar membahas urusan menggendong saat mereka sedang dalam suasana yang begitu manis dan puitis. Vincent langsung terpingkal-pingkal meremehkan, sementara Alaric memutar bola matanya dengan dramatis. "Menggendong? Benar-benar?" tanya Vincent sambil tertawa rendah yang sangat seksi. "Apa kita sekarang sedang berada di dalam sebuah drama romansa murahan kelas bawah? Kamu ingin menggendongnya seperti pangeran yang menyelamatkan putri dari menara tinggi?" "Setidaknya aku punya fisik yang mampu melakukannya tanpa lelah!" balas Adrian tak terima, memompa hawa panasnya untuk menegaskan kekuatannya. "Lagipula, itu adalah hak prerogatifku sebagai pewaris sah takhta kekaisaran!" "Hak prerogatif?" Alaric ikut tersenyum tipis, tapi ada nada menantang dan dominan dalam suaranya yang tenang. "Jika kita bicara t
Malam itu, langit di atas Kastel Whitmore tidak lagi berwarna hitam pekat, melainkan diselimuti oleh rona ungu kemerahan yang misterius seolah-olah alam semesta sendiri sedang merayakan ketegangan yang menggantung di udara. Di balkon utama yang menghadap langsung ke arah ibu kota Blackwood, Lavinia berdiri mematung. Angin malam yang dingin membelai kulitnya, namun ia sama sekali tidak merasa kedinginan. Ada kehangatan magis yang melingkupi jiwanya, sebuah ketenangan yang selama ini selalu terasa semu, kini menjadi nyata dan tak tergoyahkan setelah asimilasi energi tiga darah mengunci takdirnya. Di balik gaun sutra yang lembut, Lavinia merasakan detak jantungnya berirama selaras dengan detak dunia di bawah sana. Ia menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan, menyadari bahwa besok, ia tidak lagi akan dikenal sebagai Lavinia sang villainess atau Lavinia sang Countess yang penuh misteri. Besok, ia akan menjadi pusat dari selu
Sore itu, cakrawala di atas ibu kota kekaisaran tampak terbakar. Warna langit berubah dari jingga menjadi ungu kemerahan yang pekat, persis seperti warna mataku di cermin saat kutukan ini mulai berdenyut. Tepat ketika aku sedang menyesuaikan napas untuk menahan gejolak panas di perut ba
Di dalam kereta, aku menghela napas panjang. "Itu tadi sangat dramatis, Yang Mulia."Adrian tidak langsung menjawab. Ia menatap tangannya yang tadi memegang pinggangku, lalu menatapku dengan senyum miring yang terlihat sangat kekanakan namun berbahaya."Kamu benar-be
Tubuhku terasa seperti sedang dipanggang di atas bara api yang tak kasat mata. Setiap embusan napas yang keluar dari bibirku terasa panas, dan setiap inci kulitku mendambakan sentuhan dingin untuk meredakan gejolak ini.Kutukan Whitmore benar-benar bukan lelucon. Ini bukan sekadar n
Dunia ini tidak adil. Kalimat itu adalah hal terakhir yang terlintas di benakku, Celestine Montclair. Saat tubuhku terlempar ke aspal yang keras. Suara decitan ban truk yang menghantamku masih terngiang, memekakkan telinga sebelum semuanya mendadak sunyi. Aku mati di usia 24 tahun hanya karena m







