分享

Bab 1

作者: Dinwa
last update publish date: 2026-04-27 18:00:38

Sinar matahari pagi menembus jendela kaca patri kediaman Whitmore, memantulkan warna-warna pelangi di atas meja rias kayuku yang mahal.

Aku sudah duduk di sini selama hampir dua jam. Jika di kehidupan nyataku sebagai Celestine aku hanya punya waktu lima menit untuk memakai pelembap sebelum lari mengejar bus, di sini, merias diri adalah sebuah ibadah.

​"Nona, apakah Anda yakin ingin memakai gaun ini? Bukankah ini sedikit... terlalu mencolok untuk makan siang santai?" tanya Marie, pelayan pribadiku yang masih sering gemetar jika aku menatapnya terlalu lama.

​Aku melihat pantulanku di cermin. Aku memilih gaun sutra berwarna merah marun dengan potongan dada yang rendah namun tetap elegan, dipadukan dengan korset hitam yang mempertegas lekuk pinggangku.

Rambut merah mudaku dibiarkan terurai dengan ombak besar yang jatuh di bahu, dihiasi jepit rambut berbentuk mawar emas.

​"Mencolok? Oh, Marie Sayang," aku berbalik dan mencubit pipinya pelan, membuat gadis itu membelalak kaget.

"Di dunia ini, kalau kamu tidak menjadi pusat perhatian, kamu hanyalah dekorasi ruangan. Dan aku? Aku adalah pemeran utamanya."

​Aku mengedipkan sebelah mata pada bayanganku sendiri. Sifat manja dan centil ini mulai terasa alami.

Mungkin karena jiwa asliku memang sedikit extra, atau mungkin tubuh Lavinia ini memang diciptakan untuk memikat.

​Hari ini adalah jadwal makan siang bersama di kediaman Duke Montague. Seharusnya, ini adalah momen di mana Lavinia asli akan membuat keributan karena cemburu melihat kedekatan Alaric dan Clarissa Beaumont tapi hari ini, aku punya rencana lain.

​Saat kereta kudaku tiba di kediaman Montague, suasana terasa kaku. Aku melangkah keluar dengan anggun, membiarkan para pelayan pria di sana menelan ludah melihat betapa kontrasnya penampilanku hari ini. Tidak ada lagi wajah cemberut atau mata yang bengkak karena menangis.

​Di taman mawar yang luas, aku melihat mereka. Duke Alaric Montague yang tampak gagah dengan kemeja putih longgar, dan di sampingnya, Clarissa Beaumont.

Gadis itu mengenakan gaun putih polos, rambut pirangnya diikat sederhana, tampak seperti malaikat yang suci dan tak berdosa.

​"Ah, Lavinia. Kamu datang," suara Alaric terdengar dingin, namun ada sedikit nada ragu saat matanya menyapu penampilanku dari ujung rambut hingga ujung kaki.

​"Maaf ya membuat kalian menunggu lama," ucapku dengan nada yang sengaja kutinggikan, sedikit manja. Aku berjalan mendekat, bukannya duduk di kursi yang jauh, aku justru sengaja berjalan melewati Alaric, membiarkan aroma parfum mawar dan vanilaku tertinggal di indra penciumannya.

​"Lavinia, kamu terlihat... berbeda hari ini," Clarissa bersuara dengan nada lembut yang dibuat-buat. Matanya yang besar tampak berkaca-kaca, senjata andalannya untuk menarik simpati. "Biasanya kamu akan marah-marah jika melihatku duduk di dekat Duke."

​Aku duduk di kursi di seberang mereka, menyilangkan kaki dengan perlahan— sebuah gerakan yang sangat tidak sopan bagi bangsawan, tapi sangat efektif untuk menarik perhatian.

​"Marah? Untuk apa, Clarissa Manis?" aku tertawa kecil, suara tawa yang terdengar seperti denting lonceng.

"Dulu aku memang bodoh, mengira cinta bisa dipaksakan tapi sekarang aku sadar, melihatmu dan Duke bersama itu seperti melihat... piring dan sendok. Serasi, tapi membosankan."

​Alaric tersedak minumannya. Clarissa mematung, wajah polosnya sesaat menunjukkan keterkejutan yang nyata.

​"Apa maksudmu, Lavinia?" tanya Alaric dengan alis bertaut.

​"Maksudku," aku menopang dagu dengan tangan, menatap Alaric dalam-dalam dengan mata merahku yang berkilau nakal.

"Aku memutuskan untuk tidak lagi mengejarmu dengan cara yang melelahkan. Aku ingin menikmati hidup. Lagipula, aku baru sadar kalau di luar sana banyak sekali pria tampan yang mengantre untuk sekadar memegang tanganku. Benarkan, Duke?"

​Aku memberikan senyum paling menggoda yang bisa kukerahkan. Alaric memalingkan wajah, tapi aku bisa melihat telinganya memerah. Skor satu untukku.

​Makan siang dimulai. Clarissa, yang merasa posisinya sebagai pusat perhatian terancam, mulai melancarkan aksinya. Dia sengaja menumpahkan sedikit teh ke tangannya dan merintih pelan.

​"Aduh... panas sekali," keluhnya dengan nada cengeng.

​Sesuai alur novel, Alaric seharusnya langsung panik, mengambil saputangan, dan meniup tangan Clarissa sambil menatapku tajam seolah itu salahku. Dan benar saja, Alaric bergerak mengambil saputangannya.

​Tapi sebelum dia sempat menyentuh Clarissa, aku sudah lebih dulu bergerak. Aku bangkit dari kursi, menyambar tangan Clarissa dengan gerakan cepat namun lembut.

​"Oh, ya ampun! Clarissa, kamu ceroboh sekali sih?" ucapku dengan nada manja yang sangat prihatin. Aku mengambil gelas berisi air es milikku dan menyiramkannya pelan ke tangan Clarissa.

​"L-Lavinia! Apa yang kau lakukan?" teriak Clarissa kaget.

​"Mendinginkan lukamu, Sayang. Air es lebih efektif daripada saputangan Duke yang kering itu," aku tersenyum manis, lalu mengambil saputangan dari saku gaunku dan mengelap tangan Clarissa dengan gerakan yang sangat perhatian tapi sebenarnya aku menekan tangannya cukup kuat sampai dia meringis.

​Aku menoleh pada Alaric yang terpaku. "Duke, lihatlah betapa kasihan gadis kecil ini. Dia bahkan tidak bisa memegang cangkir dengan benar. Sepertinya kamu benar-benar harus menjaganya seperti menjaga bayi, ya?"

​Kalimatku terdengar seperti pujian, tapi secara tersirat aku sedang mengejek Clarissa sebagai wanita yang tidak kompeten dan manja berlebihan.

Alaric tampak bingung harus merespons apa. Di satu sisi, aku terlihat sangat baik hati menolong Clarissa, tapi di sisi lain atmosfernya terasa sangat aneh.

​"Terima kasih... Lavinia," gumam Clarissa dengan wajah yang sekarang benar-benar merah karena menahan kesal. Rencana fitnahnya gagal total.

​Setelah makan siang yang penuh ketegangan itu, aku meminta izin untuk berjalan-jalan di taman belakang Montague.

Aku butuh udara segar. Namun, baru beberapa langkah, sebuah tangan menarik lenganku dan memutar tubuhku. ​Aku menabrak dada yang keras. Alaric.

​"Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Lavinia Whitmore?" desisnya. Wajahnya sangat dekat, aku bisa mencium aroma kayu cendana dari tubuhnya.

"Kemarin kamu berteriak gila padaku, dan sekarang kamu bersikap seolah kita adalah teman baik? Apa ini taktik baru untuk membuatku merasa bersalah?"

​Aku tidak menghindar. Justru, aku melingkarkan tanganku di lehernya, membuat Alaric tersentak kaget. Tubuhnya menegang, namun ia tidak segera melepaskan dekapanku.

​"Kalau iya, memangnya kenapa?" bisikku tepat di telinganya. "Apa Duke yang hebat ini mulai merasa... tertarik padaku lagi?"

​"Jangan bermimpi," balasnya, meskipun suaranya sedikit bergetar.

​Aku melepaskan pelukan itu sambil tertawa kecil. "Kita lihat saja nanti. Oh, dan Duke... berhati-hatilah dengan 'malaikat' kecilmu. Kadang-kadang, sayap putih itu hanya menutupi hati yang penuh lumpur."

​Aku melambai kecil dan berjalan pergi, meninggalkan Alaric yang berdiri diam menatap punggungku. Aku tahu, benih keraguan mulai tumbuh di kepalanya.

​Namun, saat aku berjalan menuju kereta kuda, perutku tiba-tiba terasa panas. Sebuah rasa bergejolak yang aneh menjalar dari perut bawah ke seluruh tubuhku. Jantungku berdegup kencang secara tidak wajar.

​[Peringatan: Kutukan Gairah Mendekati Fase Awal.]

[Suhu Tubuh Meningkat. Kebutuhan Akan Kontak Fisik: Rendah (Meningkat).]

​Sial. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisku. Kutukan itu... dia mulai menyapa lebih cepat dari yang kukira. Aku mencengkeram kusen pintu kereta kudaku, mencoba mengatur napas.

​"Nona? Anda baik-baik saja? Wajah Anda sangat merah," tanya Marie khawatir.

​"Jalan... cepat jalan sekarang," perintahku dengan suara yang mulai serak.

​Di dalam kereta yang tertutup, aku meringkuk. Rasa panas ini bukan panas biasa. Ini adalah gairah yang merobek logika.

Aku butuh seseorang. Aku butuh energi pria untuk menekan rasa sakit ini. Dan jika dalam 30 hari aku tidak menemukan "penawar" yang tetap, aku akan hancur.

​Tiba-tiba, kereta kudaku berhenti mendadak.

​"Ada apa?!" teriakku dari dalam.

​"Maaf, Nona! Jalanan ditutup oleh rombongan Putra Mahkota!"

​Aku menyibakkan tirai jendela. Di sana, di atas kuda putih yang gagah, duduklah Adrian Blackwood. Sang Putra Mahkota yang memiliki sifat dingin namun sebenarnya sangat kekanakan jika sudah mengenal seseorang.

​Adrian menoleh ke arah keretaku. Mata biru lautnya bertemu dengan mata merahku yang sedang diselimuti kabut gairah karena kutukan.

​Target baru telah muncul, pikirku di tengah rasa sakit yang mulai membakar. Jika Alaric terlalu sulit untuk dijinakkan dalam waktu singkat, mungkin sang Putra Mahkota bisa menjadi batu loncatan yang menarik.

​Aku membuka pintu kereta, keluar dengan langkah yang sedikit lunglai namun tetap terlihat sangat menggoda di bawah sinar matahari sore.

​"Yang Mulia Putra Mahkota..." aku memanggilnya dengan suara yang serak dan manja, sengaja membiarkan diriku hampir terjatuh agar ia memiliki alasan untuk menangkapku.

​Dan benar saja, Adrian turun dari kudanya dengan gerakan cepat, menangkap tubuhku yang panas.

​"Lavinia? Kamu... kenapa tubuhmu sangat panas?" tanya Adrian, matanya menunjukkan kekhawatiran yang tulus dan sedikit ketertarikan yang mulai tumbuh.

​Aku mendongak, menatapnya dengan tatapan sayu yang menghancurkan pertahanannya. "Aku... aku merasa sedikit pusing, Yang Mulia. Maukah Anda membantuku?"

​Di kejauhan, aku bisa melihat Alaric yang ternyata mengikuti keretaku, berdiri mematung melihatku berada di pelukan Adrian.

​Permainan yang sebenarnya baru saja dimulai.

***

Jangan lupa like/vote dan komen cerita ini biar author makin semangat nulisnya!

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 7

    ​Begitu pintu aula agung dibuka, suasana berubah menjadi mencekam. Seluruh bangsawan Kekaisaran Blackwood berdiri di sana, namun atmosfernya seolah membeku saat aku melangkah masuk dengan menggandeng lengan Putra Mahkota. Gaun merah darah yang kukenakan sengaja menyingkap bagian punggung, tempat tato mawar hitam itu berada yang sekarang tampak sedikit bercahaya di bawah kulit porselenku akibat suhu tubuh yang mencapai 38.7°C. ​Mataku langsung terjatuh pada sosok di sudut aula. Alaric Montague. Ia berdiri kaku, wajahnya yang rupawan tampak hancur saat melihatku. Di sampingnya, berdiri sosok yang membuat sistemku berdenyut aneh. Vincent Valerius. ​Vincent adalah pria dengan identitas yang rumit. Di mata publik, dia adalah tangan kanan kepercayaan Alaric Montague. Namun, sebagai Lavinia yang didukung sistem dan pernah membaca novelnya, aku tahu kebenaran yang lebih dalam bahwa Vincent adalah ‘Bayangan Kerajaan’ yang merupakan pengawas rahasia yang ditugaskan langsung oleh Kaisar u

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 6

    Aku tersenyum tipis. Marie masuk dengan langkah ragu, tangannya gemetar saat memegang nampan teh. "Nona... ada banyak kiriman hadiah di bawah. Dan... Duke Montague kembali datang. Beliau terlihat sangat mengerikan." ​"Biarkan dia menunggu. Kirim dulu surat ini lewat kurir resmi istana agar semua orang tahu bahwa aku, Lavinia Whitmore, yang membuang Duke itu sebelum dia sempat mengucapkan sepatah kata pun," kataku tenang. Setelah membiarkannya menunggu selama dua jam di aula bawah, aku akhirnya turun. Alaric Montague berdiri di sana, masih dengan wajah hancur seperti semalam, namun kali ini ia tampak lebih putus asa. "Lavinia! Aku sudah menerima surat itu dan aku merobeknya!" Alaric melangkah maju, mencoba mencengkeram tanganku, namun aku mundur dengan anggun. "Aku tahu aku telah menjadi bajingan. Aku tahu aku telah menyakitimu demi wanita yang ternyata hanya menggunakan aku. Tapi tolong... beri aku satu kesempatan lagi. Aku akan mengusir Clarissa, aku akan melakukan apa pun!"

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 5

    Malam itu benar-benar menjadi titik balik yang tak terelakkan. Di dalam kereta kuda kerajaan yang berlambang singa emas, suasana terasa jauh lebih menyesakkan daripada di aula pesta yang riuh tadi. Bukan karena udara yang sempit, tapi karena aura Putra Mahkota Adrian Blackwood yang duduk di hadapanku terasa begitu mendominasi, seolah-olah ia sedang mengklaim setiap inci oksigen yang aku hirup.​Adrian melepaskan kancing teratas seragam militernya dengan kasar, tampak berusaha mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan. Efek berada di dekatku saat kutukanku sedang aktif ternyata mulai memengaruhi dia juga. Meskipun dia memiliki energi sihir yang kuat, gairah yang terpancar dari mawar hitam di bahuku bukanlah sesuatu yang bisa ditepis dengan mudah oleh logika ksatria mana pun.​"kamu benar-benar berbahaya, Lavinia," suara Adrian pecah dalam kesunyian kereta yang bergerak dinamis. Mata birunya yang tajam menatapku, seolah sedang menelanjangi semua rencana yang ada di kepala kecilku.

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 4

    Sore itu, cakrawala di atas ibu kota kekaisaran tampak terbakar. Warna langit berubah dari jingga menjadi ungu kemerahan yang pekat, persis seperti warna mataku di cermin saat kutukan ini mulai berdenyut. Tepat ketika aku sedang menyesuaikan napas untuk menahan gejolak panas di perut bawahku, sebuah paket misterius tiba di depan pintu kamar.​Tidak ada nama pengirim, hanya sebuah botol kecil berbahan kristal berisi cairan perak yang berkilau seperti serpihan bintang yang dicairkan. Di bawah botol itu, terselip sebuah catatan pendek dengan tulisan tangan yang tajam dan tegas:​"Untuk meredam panasmu malam ini, Mawar Kecil. Jangan sampai kamu pingsan sebelum dansa pertama dimulai."​Aku menghirup aroma kertasnya. Bau kayu cendana dan sihir yang dingin seperti aroma yang sama dengan yang kuhirup di dalam kereta Adrian kemarin. Aku tersenyum tipis. Ternyata sang Putra Mahkota jauh lebih perhatian, atau mungkin jauh lebih posesif,

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 3

    Di dalam kereta, aku menghela napas panjang. "Itu tadi sangat dramatis, Yang Mulia."​Adrian tidak langsung menjawab. Ia menatap tangannya yang tadi memegang pinggangku, lalu menatapku dengan senyum miring yang terlihat sangat kekanakan namun berbahaya.​"Kamu benar-benar wanita yang merepotkan, Lavinia," gumamnya. "Tapi kurasa, aku mulai menyukai kerepotan ini."​Aku tersenyum puas. Satu target sudah masuk perangkap. Sekarang tinggal menunggu ulang tahunku yang ke-18.Rahasia kutukan ini belum sepenuhnya tuntas, dan aku tahu, malam itu akan menjadi malam yang jauh lebih liar dari jamuan makan siang ini.***Kereta kuda Putra Mahkota akhirnya berhenti tepat di depan gerbang megah kediaman Whitmore. Adrian tidak langsung melepaskanku.Ia menatapku lama, seolah sedang menimbang-nimbang apakah harus membiarkanku pergi atau membawaku sekalian ke istananya.​"Istirahatlah, Lavi

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 2

    Tubuhku terasa seperti sedang dipanggang di atas bara api yang tak kasat mata. Setiap embusan napas yang keluar dari bibirku terasa panas, dan setiap inci kulitku mendambakan sentuhan dingin untuk meredakan gejolak ini.Kutukan Whitmore benar-benar bukan lelucon. Ini bukan sekadar nafsu; ini adalah rasa lapar yang menyakitkan.​"Lavinia? Hei, jawab aku! Kamu sakit?"​Suara Adrian Blackwood terdengar tepat di atas kepalaku. Tangannya yang kuat menahan pinggangku agar tidak merosot ke tanah.Aroma tubuhnya campuran antara sandalwood dan udara musim dingin yang masuk ke indra penciumanku, memberikan kelegaan sesaat yang memabukkan.​Aku mendongak pelan. Mata biru laut Adrian tampak sangat jernih di bawah sinar matahari sore. Dia tampan, dengan garis rahang yang tegas namun memiliki ekspresi yang sedikit polos, jika memperhatikannya cukup lama.​"Yang Mulia..." bisikku, sengaja membiarkan suaraku terdeng

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status