LOGINCassian shattered her after one reckless night, leaving only memories and the echo of his touch. Now he wants her back into his world, to wear his name, and fight a war beside him. Three months ago, Aria Ravenwood walked in with pastries and dreams. She left with a broken heart, after finding the man she loved in bed with someone else, and not even with a woman. One betrayal. One party. One spiked drink that dragged her into the darkest night of her life… and into the arms of the cold, commanding and addictive Cassian Wolfe. They shared a single night; reckless, raw, unforgettable. By morning, he was gone. Now he’s back. Not with apologies, but a contract. One year. One marriage. No love. No lies. Only vengeance wrapped in silk and whispered promises. Aria says yes not for love, but for power. To reclaim what was stolen. To burn every bridge and make them all regret ever crossing her. But Cassian Wolfe isn’t just a weapon… he’s a storm. And every kiss, every touch, every look threatens to turn revenge into surrender. Because the real game isn’t survival. It’s learning how to win… When your heart is the first thing you’re willing to sacrifice.
View More“Kau tahu, kecerdasan itu diturunkan dari ibunya?”
Lila mengangguk mengiyakan ucapan Sekar, ibu mertuanya. “Itu sebabnya mama memilihmu untuk menjadi istri Sean, untuk melahirkan keturunan-keturunan yang cerdas bagi keluarga Wismoyojati.” Dahulu Lila adalah salah satu mahasiswa pintar yang mendapatkan beasiswa dari perusahaan Wismoyojati. Saat magang di perusahaan itu, Lila menunjukkan kinerja yang sangat baik, hingga membuat Sekar begitu tertarik kepada dirinya. Bahkan untuk bisa mendapatkan dirinya saat itu, Sekar membanjiri keluarga Lila dengan begitu banyak hadiah, agar Lila bersedia menikah dengan Sean, putra tunggalnya. “Tapi setelah mama pikir-pikir, setelah dua tahun pernikahan kalian, apa gunanya memiliki menantu yang cerdas kalau ternyata mandul?” Lila menunduk menyembunyikan kegetiran hatinya. Setelah dilambungkan setinggi langit, lalu dijatuhkan hingga hancur berantakan. “Sean adalah pewaris tunggal di keluarga Wismoyojati, apa jadinya jika dia tidak memiliki keturunan?” tanya Sekar dengan tatap mata yang tajam. “Keluarga ini butuh penerus, bukan hanya untuk meneruskan trah Wismoyojati, tetapi juga untuk melanjutkan kepemimpinan di perusahaan. Jika kamu tidak bisa memberi keturunan maka pilihanmu hanya dua, cerai atau poligami.” Berulang kali Lila menghela napas dalam-dalam berusaha untuk menenangkan hatinya, menata hatinya yang hancur dan berdarah-darah. Lila hanya bisa diam tidak tahu harus memberi tanggapan apa lagi terhadap ucapan ibu mertuanya. Keheningan merambat membuat suasana terasa sangat mencekam. Hingga suara langkah kaki mengalihkan perhatian pasangan mertua dan menantu tersebut. “Maaf, saya terlambat,” ucap Sean sambil menghampiri Lila, kecupan singkat dia labuhkan ke kening istrinya. “Meetingnya baru selesai.” Sean mengambil posisi duduk tepat di samping Lila, menunjukkan keharmonisan rumah tangganya di hadapan Sekar. “Kalian berdua sibuk kerja, terus kapan mau beri mama cucu?” tanya Sekar dengan nada kesal. Bukan hanya karena banyak temannya yang sudah memiliki cucu, tetapi ada kebutuhan yang mendesak yang berhubungan dengan keberlanjutan perusahaan keluarga Wismoyojati. “Lagi on process, Ma,” sahut Sean sambil mengalihkan pandangan ke arah Lila yang menundukkan kepala, lalu dia meraih tangan Lila dan menggenggamnya dengan erat. Bukan untuk berbagi beban, tetapi untuk menyempurnakan sandiwara. “Prosas-proses, dari dulu proses terus nggak jadi-jadi. Kalau memang ladangnya tidak subur, mungkin bisa mencoba cari ladang lain.” Sean tersenyum tipis mendengar kalimat kiasan dari sang mama, sementara Lila tetap diam, merasa tidak berguna. Sekar bangkit dari duduknya lalu. “Sudah waktunya makan siang,” ucap Sekar sambil melangkah menuju ke ruang makan. Lila dan Sean mengikuti di belakang. Mereka menikmati makan siang dalam suasana yang hening. Lila tampak tidak berselera dengan hidangan di depan matanya. Ucapan Sekar sampai saat ini masih terngiang di benaknya, menyita konsentrasi dan fokus berpikirnya. Setelah selesai makan siang bersama, Lila dan Sean harus kembali ke kantor masing-masing. Kini keduanya sudah berada di dalam mobil Sean, mengisi waktu dengan obrolan ringan. “Tadi ngobrol apa saja sama mama?” tanya Sean dengan nada dingin dan datar. “Biasa,” jawab singkat Lila, terlihat enggan untuk membahasnya. “Masalah cucu lagi?” Sikap diam Lila diartikan ‘ya’ oleh Sean. “Kamu ngomong apa?” tanya Sean Lagi. Lila menggelengkan kepala. “Tidak ada, aku hanya mendengarkan saja.” Sean melirik Lila dan berkata dengan tenang. “Dulu mama memiilih kamu karena kepintaranmu.” Lila mengalihkan pandangan ke samping, melihat bahu jalanan sambil menyeka air matanya. Pujian Sean justru terdengar layaknya hinaan. Lila sadar, keberadaannya di keluarga Wismoyojati karena Sekar yang menginginkan dirinya sebagai menantu, bukan Sean yang ingin memperistri dirinya. Sampai dua tahun usia pernikahan, hubungan mereka tetap kaku tidak ada kemajuan berarti, terlihat hangat dan romantis hanya di depan Sekar dan publik saja. Terdengar suara dering ponsel Sean. Mata Lila sempat menangkap nama Bella tertulis di layar ponsel Sean. Lila tahu, Bella adalah sekretaris Sean, sosok wanita yang lebih banyak membersamai Sean daripada dia, istrinya. “OK, aku jemput kamu,” ucap Sean saat berbicara melalui ponselnya, tanpa mempedulikan perasaan Lila. Sean segera meletakkan ponsel ke tempat semula. Pandangannya langsung teralihkan ke Lila yang duduk di sampingnya. “Setelah ini aku ada meeting dengan klien, jadi tidak bisa mengantarmu kembali ke kantor.” Lila hanya mengangguk lemah, dia hanya bisa menerima semua perbuatan Sean. “Aku bisa pesan taksi.” Tidak ada gunanya bersikap manja di hadapan Sean, karena tidak akan berhasil menarik perhatiannya sama sekali. Seputus asa itu Lila menghadapi Sean dan menjalani pernikahan ini. Sean menghentikan mobilnya di depan sebuah restaurant mewah. Tampak di sana Bella sudah menunggu, sekretaris cantik dan seksi yang selalu menemani suaminya. Tanpa banyak bicara dan pamitan, Lila segera keluar dari mobilnya. “Selamat siang, Bu Lila,” sapa Bella dengan ramah. “Siang,” balas Lila dengan seulas senyum di bibirnya. Bella pun segera memasuki mobil mewah milik Sean, dan duduk di posisi yang sebelumnya diduduki oleh Lila, di samping Sean. Cemburu, marah? Lila hanya bisa menebalkan hatinya, sudah biasa dia merasakan pengabaian dari Sean. Rasa putus asa mulai menyergap dalam hati, mungkin mengakhiri pernikahan ini adalah jalan terbaik untuk masa depannya, untuk kebahagiaannya. *** Malam merangkak semakin larut. Sebelum tidur Lila memeriksa beberapa email yang masuk, sebagai persiapan esok hari. Suara pintu kamar yang ketuk mengalihkan perhatian Lila. Sudah pasti itu Sean, karena mereka tinggal berdua di apartemen, terpisah dari Sekar. Lila terkejut melihat Sean berdiri di depan pintu dengan penampilan yang berantakan dan sorot mata yang tajam. Tampaknya dia baru saja menjalani hari yang berat. “Aku pusing.” Lila meneguk ludah dengan kasar, sudah tahu dan hafal apa yang diinginkan suaminya jika sudah berbicara seperti itu. Lila membuka pintu lebih lebar, memberi jalan kepada Sean untuk memasuki kamarnya. Setelah Sean sudah masuk, dengan perlahan Lila menutup pintu. Dia ingin menenangkan dirinya barang sejenak, sebelum menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Sean membuang jasnya sembarang, lalu pandangan kembali tertuju kepada Lila. Tidak sabar, Sean segera menghampiri istrinya. “Lamban!” Sean mendorong pintu dengan kedua lengan yang mengungkung tubuh Lila. Semilir hangat hembusan napas menyapa leher Lila, membuatnya mendesah gelisah diambang kepasrahan. Suara yang tidak sengaja lolos dari bibir Lila layaknya bensin yang membakar gairah Sean. Sean membalik tubuh Lila. Kini mereka dalam posisi saling berhadapan, hingga membuat Sean dengan mudah meraup rakus bibir ranum Lila. Sungguh tidak sabar, Sean segera mengangkat tubuh Lila menuju ke peraduan mereka. Seperti biasa, Sean bukanlah pria yang egois di atas ranjang, dia akan memberi kesempatan kepada Lila untuk mencari kepuasannya sendiri, dengan bergerak liar di atas tubuhnya. Hingga saat Sean merasa harus kembali mengambil alih kendali, dia mengubah posisi membuat Lila berada dibawahnya. Suara desah dan erangan bersahutan, peluh pun bercucuran. Perburuan kenikmatan itu telah hampir mencapai puncaknya. Kembali Lila harus menelan kekecewaan. Saat pekik kenikmatan itu tidak tertahan lagi, ternyata harus dibarengi dengan lelehan air mata, kala Lila merasakan cairan kental menumbuk dagunya. Jika pada saat awal pernikahan, Lila bisa menerima sikap Sean sebagai upaya untuk menunda memiliki momongan, tentu tidak dengan sekarang. Setelah dua tahun pernikahan, Sean tetap sama. Setiap kali melakukan hubungan suami istri, Sean selalu menggunakan pengaman. Jika dia sampai lupa, maka Sean akan membuangnya di luar seperti yang baru saja dia lakukan. Lila merasa betapa tidak berharga tubuhnya. Sean tidak pernah memperlakukan dirinya selayaknya seorang istri, tetapi hanya sebagai pelampiasan hasrat biologisnya saja.After lunch and all the near-chaotic moments that had them choking and laughing, Cassian went back to his study. He didn’t go there because there was work waiting. He just needed to breathe, to put a wall between himself and the soft, flustered woman whose blush still clung to his thoughts like an aftertaste.The door shut behind him with a soft click. He dragged a hand down his face, exhaling slowly, and leaned back in his chair. For a while, he simply sat there, staring at the blank screen of his phone until the haze in his chest settled. Then he finally dialed a number.The doctor picked up almost immediately.“Dr. Levin.”“How’s Sienna?” he said, his voice calm, though his fingers drummed lightly against the armrest.There was a light rustle of paper on the other end before the doctor spoke again. “She’s fine. Her vitals are steady. The bruising hasn’t fully healed yet, but she’s alert and stable. No complications.”Cassian leaned back a little, his eyes half-closed. “Good. Keep h
~ARIA~I’d gotten tired of lying around since noon, so I decided to walk a little. I first went to the garden, but the blazing sun soon drove me back indoors, so I settled for the sunroom instead. And maybe because I hadn’t spent much time there lately, I didn’t notice the little changes that had been made; new drapes, and a softer scent in the air. I sat down, letting the breeze drift over me. I’d spent too much time at the office, hidden under air conditioning, and I’d forgotten how alive it felt to just breathe in open air.Maybe I’d suddenly turned into a workaholic like Cassian. Sienna even crowned it all. The thought of her made me reach for my phone again, trying to call, but it still went to voicemail. I sighed, dropped it beside me, and shut my eyes. I wasn’t going to stress much since Cassian had been there that night, and there was no way he could have saved me without saving her too.But a thought flashed in my mind: what if something bad had happened to Sienna before Cass
Cassian’s hands tightened on the wheel, his jaw locked as he drove toward the gate. Ellen Wolfe wasn't someone he couldn't handle but the least he wanted at that moment was something that would stir any kind of headache near the estate.On getting to the gate, his phone buzzed against the console. He tapped the button, putting it on speaker. Vaughn’s voice came through, sharp with background noise.“Are you driving?” he asked after a bit.Cassian didn’t answer. Vaughn sighed and continued. “I hope you haven’t gone too far if you’re on the road because Ellen rerouted. She’s headed to the family house, not the estate anymore.”Cassian, who had already started easing on the pedal at Vaughn’s question, felt the tension drop from his shoulders. His grip loosened, and he muttered an “alright” before ending the call.From the passenger seat, Ames let out a long breath, exaggerated like he’d been holding it the whole time. “Jesus, man. For a second there, I thought we’d both witness the apoca
When breakfast was over, Aria excused herself quietly, her steps fading down the hallway. Cassian waited until the sound of the door closing echoed faintly from upstairs before glancing at Ames, who was still seated, lazily stirring the last of his coffee.“You can drop the act now,” Cassian said, his tone low but steady.Ames smirked, leaning back in his chair. “What act? I was being charming. You should try it sometime.”Cassian ignored that, his gaze settling on the table for a second before he said, “If you’re going to examine her, do it properly. She’s barely recovered and I don’t want her stressed.”Ames hummed, setting his cup down and reaching for the small black notebook he’d brought with him. “Relax. I’m not new at this, Cassian. I’ll start with simple vitals, reflexes, and a few questions. Nothing invasive. You thought I’d pull out a needle at the breakfast table?”“That wouldn’t surprise me.”Ames laughed under his breath, flipping open the notebook. “You know, for someone
~CASSIAN~The bar was dim and low-ceilinged, with shelves lined with old books and dark bottles. The kind of place that looked like it had been around longer than the building it stood in. It smelled faintly of oak, old paper, and something spiced in the backroom I didn’t bother identifying.Somewh
~ARIA~The candidate sitting across from me had a résumé padded with buzzwords and a cologne that arrived three seconds before he did. He was halfway through explaining how he’d “streamlined several client-facing pivots” when my phone lit up beside the laptop.I ignored it.“For example,” he contin
~ARIA~I didn’t hear the elevator, or the door, or even the footsteps.But I felt him.Before I turned around. Before I even knew it for certain, something in the air shifted. A subtle charge. A quiet pull. The kind of awareness that bloomed under my skin like something primal, something undeniable
~CASSIAN~[THE NEXT DAY]The room was already thick with cameras and expectation by the time we arrived. Reporters in tailored suits, publicists on comms, flashes testing their rhythm like a war drum - everyone was here to see one thing:Aria Ravenwood.The woman cast out of the Ravenwood family. T






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore