Share

bab 10

Penulis: Melisa Satya
last update Tanggal publikasi: 2026-07-06 23:31:36

Alvian sudah berganti pakaian dan duduk di ruang kerjanya, pengawal baru saja menyerahkan laporan cctv yang di pintanya setengah jam yang lalu.

Di layar laptop.

Lily tampak berjalan di atas railing dengan kecepatan lambat. Alvian mencari celah yang mencurigakan, dari gestur tubuh Lily yang mungkin menunjukkan kepura-puraan. Namun, sayangnya akting Lily yang totalitas membuat Alvian hanya melihat seorang gadis yang tampak benar-benar rapuh dan didorong oleh halusinasi trauma masa lalunya. In
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • TOPENG KEGILAAN SANG PUTRI MILIARDER   bab 17

    Tuan Malik mengelus dadanya yang berdebar kencang, lalu mengisyaratkan istri dan anaknya untuk menyusul ke lantai atas dengan wajah seolah tidak terjadi apa-apa.Sementara itu, Alvian melangkah mantap menaiki tangga sembari menggenggam erat tangan Lily. Langkah kakinya terasa berat bukan karena lelah, melainkan karena rasa geram yang terus menumpuk di dadanya. Ucapan Lily soal kamar loteng yang penuh tikus tadi terus berputar di kepalanya. Pria itu menatap punggung kecil Lily yang berjalan santai di sampingnya, membayangkan bagaimana gadis ini bertahan hidup di rumah yang begitu besar namun seperti neraka.Lily melihat semuanya, semua tata letak benda dan masuk ke kamarnya.Ruangan itu memang dipoles dengan sangat cantik, dinding bernuansa pastel, kasur berukuran king size dengan sprei sutra, hingga balkon pribadi yang menghadap ke halaman depan. Sangat berbeda jauh dengan loteng kumuh tempat Lily dikurung selama sebelas tahun."Nah, Lily sayang... ini kamar barumu," ujar Lyora yang

  • TOPENG KEGILAAN SANG PUTRI MILIARDER   16

    Langkah kaki Wira terhenti di ambang pintu. Di dalam kamar, Lily sedang duduk di tepi ranjang. Jemari lentiknya yang biasa melipat origami biru kini bertumpu rapi di atas pangkuannya. "Ehmm, boleh saya masuk?" Lily menoleh menatap Wira. Sorot matanya sama sekali tidak mencerminkan seorang penderita gangguan jiwa."Kamu sengaja melarang Alvian masuk?" tanya Wira seraya menutup pintu rapat-rapat lalu berjalan mendekat dengan tas medisnya.Lily tak langsung menjawab. Dia menatap pintu sejenak, memastikan tidak ada bayangan yang mengintai, sebelum akhirnya berbicara."Alvian terlalu mudah ditebak jika sedang emosi, Dokter. Jika dia ikut masuk, dia pasti akan melarangku pulang ke rumah itu."Wira menghentikan gerakannya yang hendak mengeluarkan stetoskop. Dia menatap Lily lekat-lekat. "Kamu tahu rumah kediaman Malik itu neraka, Lily. Kenapa kamu malah bersikeras masuk kembali ke sarang serigala?""Karena bukti penggelapan harta ibuku dan racun saraf itu ada di brankas ruang kerja ayahku

  • TOPENG KEGILAAN SANG PUTRI MILIARDER   bab 15

    "Tuan, apa saya tidak salah dengar?" Bu Ratna menatap pilu dengan kepala tertunduk. "Anda akan menyerahkan Nona Lily kepada keluarganya?" "Ya." Alvian tahu, pelan-pelan semua orang di villa itu mulai menyayangi Lily. Meski dia terlihat gila, Lily tak pernah menyakiti siapapun. "Tapi, Tuan!" "Bu Ratna, setelah ku pikir-pikir. Tetap menahan Lily di sini akan membuat ayah atau orang luar berpikiran yang tidak-tidak. Sebelum hal itu terjadi, lebih baik kita cegah saja." "Lalu, bagaimana jika non Lily disiksa lagi?" "Tenang saja, aku akan mengutus seseorang untuk menjaganya." Bu Ratna paham lalu melangkah mundur. Di lantai atas, Bi Inah juga mendengar semuanya. Dia dengan cepat menemui Lily yang sejak tadi melipat kertas origami. "Nona! Nona, aku dengar Tuan Alvian akan memulangkan kita ke rumah Tuan besar." Lily menatapnya tenang. "Nona, bagaimana ini? Kita harus segera kabur!" Lily menggelengkan kepala. "Tidak, Bi. Kita tidak boleh kabur. Aku yang meminta Alvian m

  • TOPENG KEGILAAN SANG PUTRI MILIARDER   bab 14

    Baru saja Tuan Malik mengingatkan putrinya, suara bel pintu rumah terdengar nyaring. Ketiga orang itu saling menatap, perasaan khawatir kini bersarang di dada. "Nggak mungkin, itu ngga mungkin orang-orangnya Alvian kan, Pa?" Tuan Malik mematung ditempatnya. Dia dan istrinya tahu betul bagaimana kuasa keluarga Adhitama, mereka tak pernah main-main dalam memberi pelajaran. "Jesika! Kamu benar-benar! Bisa ngga, dalam sehari kamu ngga nyusahin mama dan papamu?" "Ma! Aku mana tahu jika keluarga Alvian sehebat itu." Suara bel semakin bersahutan, mau tak mau pelayan datang membukakan pintu. "Selamat pagi." "Pagi, maaf cari siapa?" Pelayan itu bertanya dengan nada sopan. "Kami di sini untuk bertemu dengan Tuan Malik." Seorang pria berjas rapi mengantarkan sebuah amplop tebal berwarna hitam dengan segel logo firma hukum Adhitama. Penasaran dengan siapa yang datang, Tuan Malik pun keluar diikuti oleh anak dan istrinya. "Saya sendiri, ada apa ya?" Amplop itu di serahkan, Tuan Malik

  • TOPENG KEGILAAN SANG PUTRI MILIARDER   bab 13

    Malam itu, Lily diam termenung di dalam kamarnya. Semenjak kedatangannya di villa milik Tuan Alvian. Kediaman itu tak lagi tenang. Lily tahu, apa yang terjadi siang tadi tak akan berlalu begitu saja. Jesika tak akan diam dan menerima penghinaan yang dilontarkan Alvian. "Kau belum tidur?" Alvian berdiri di ambang pintu. Menatapnya sejak tadi tanpa disadari oleh Lily. Gadis itu menatapnya sendu. Toples berisi kertas origami itu di simpan di atas meja, begitu dekat dengan tempat Lily berada. "Ada apa? Kenapa belum tidur?" Lily menggeleng pelan. Alvian mendekat, bukan apa-apa. Dia hanya takut jika Lily berulah seperti kemarin malam dan melakukan sesuatu yang membahayakan nyawanya. "Tidurlah, tidak akan terjadi apa-apa. Jesika tidak akan bisa masuk seenaknya lagi." Lily tampak sedih, dia pun berbaring di tempat tidurnya menuruti permintaan Alvian. "Jesika akan datang membawaku pergi," ucap Lily pada akhirnya. Tatapannya menerawang jauh. Memperlihatkan sikap layaknya seorang

  • TOPENG KEGILAAN SANG PUTRI MILIARDER   bab 12

    "Aachh!!! Sialan!" Jesika murkah dan berteriak sarkas di ruang tamu setibanya di rumah. Para pelayan terkesiap, menatap penuh dengan rasa penasaran ke arahnya. "Mama dengar kata Alvian itu kan? Dasar sialan! Dia pikir dia siapa?" Nyonya Lyora merebahkan diri di sofa, kepalanya sungguh pening apalagi Jesika terus saja mengomel sepanjang perjalanan. "Beraninya dia! Mama juga, kenapa mama diam saja saat Alvian mengataiku anak haram! Aku ini anak mama bukan sih?" Kesalnya. "Diam kamu! Semua ini juga gara-gara kamu yang suka bertindak sembrono. Andai saja kita datang bersama papamu, kejadiannya pasti tidak akan berakhir memalukan seperti tadi." Ucapan Lyora membuat putrinya terpaku. "Apa? Jadi, mama nyalahin aku?" Nyonya Lyora mengalami migran yang hebat, kepalanya pusing namun Jesika terus mencari masalah. "Mama serius mau nyalahin aku? Aku di katain dan Mama hanya bisa lepas tangan seperti ini? Mama bahkan ngga menampik ucapan Alvian sialan itu tadi. Mama ngga bela aku sama seka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status