Langkah Alvian yang hendak memasuki pintu mobilnya mendadak tertahan. Di tengah keheningan malam halaman luas keluarga Malik, suara tawa kecil terdengar. Bukan tawa melengking yang mengganggu seperti di aula tadi, melainkan suara cekikikan halus yang terdengar... murni. Alvian menolehkan kepalanya ke arah halaman samping yang dibatasi oleh pagar besi tinggi. Di sana, di bawah temaram lampu taman, tampak sosok Lily. Dia tidak lagi berlari-lari histeris. Gadis itu kini sedang berjongkok di atas rumput, ditemani oleh seorang pelayan paruh baya yang memegang sebuah lampion kertas berwana jingga yang mulai mengembang karena hawa panas api di dalamnya. "Wah! Apinya sudah besar, Bi! Ayo terbang! Terbang!" Lily bertepuk tangan dengan riang, melompat-lompat kecil layaknya anak usia sepuluh tahun. "Iya, Nona Lily. Pegang bagian bawahnya, kita lepaskan bersama-sama, ya," ucap pelayan itu dengan nada sabar, tampak sudah terbiasa melayani tingkah aneh nona mudanya. "Kupu-kupu ini akan sampa
Terakhir Diperbarui : 2026-06-06 Baca selengkapnya