Mag-log inAyooo, kira- kira El mau ngajak Violet ke mana ya???
"Ken, you oke?" Tanya Papa Violet mendekat ke arah Ken yang sedang berusaha untuk duduk.Ken mengannguk, wajah pertama yang ia lihat bukan pria yang menanyai kabarnya, tapi justru mata ketakutan dan penuh rasa bersalah yang dari tadi menatap lantai dengan bahu terunduk."Violet, kenapa diam saja? kamu gak khawatir sama pacar kamu sendiri?" tanya Papanya merangkul bahu putrinya, menggeser sedikit ke depan agar lebih dekat ke sisi Ken."Jadi, Ken yang selama ini kamu bicarakan Pa? Ken pacar Vio?" tanya Mamanya memperjelas kebingungannya."Iya, Papa juga baru tahu beberapa hari yang lalu. Belum sampai satu minggu." jelasnya."Santai saja Arka, mungkin Violet juga sama khawatirnya dengan kita sampai dia tidak bisa mengatakan apa- apa melihat kondisi Ken yang seperti ini, iya kan Vio? Om baru lihat kamu dengan jelas, biasanya cuma lihat dari postingan Papa kamu sama ceritanya saja. Ternyata benar anaknya cantik sekali." puji Papa nya Ken ringan, membuat suasana hati Papa Violet sedikit memb
"Udah gue bilang Violet itu cewek gak bener, maunya sana- sini. Muka dan senyum polosnya itu cuma topeng" ketik salah satu siswi tak di kenalDalam waktu kurang dari 24 Jam berita ketua osis yang tampan dan populer itu menjadi bahan gosip di grup sekolah karna di anggap sebagai orang ketiga dari hubungan Elgard dan Violet, beberapa pembenci yang kebanyakan dari para siswi yang iri dengan Violet dan sebagian lagi adalah dari pecundang yang hanya tahu cara berkomentar busuk. "Gak nyangka ya, Ka Ken ternyata perusak hubungan orang. Padahal dia ganteng, tapi sukanya rebutan punya orang" ucap sisi lain yang juga dengan nama anonim di grup."Gak kebayang sih Elgard bakal semarah apa kalo tahu berita ini," tak cuma di grup sekolah, para siswa juga berbincang di sepanjang lorong sambil men- scroll ponsel masing- masing.Dinda berlarian melewati orang- orang sepanjang lorong, rambutnya yang sedikit keriting hampir menutupi sebagian wajahnya yang berkeringat karna terlalu banyak berlari."Diman
Violet pulang diam- diam, mengangkat ujung kakinya agar orang tuanya tak mendengar pergerakan apapun. Ini hampir jam sebelas malam dan Papanya akan mengeratkan tali di lehernya jika dia tahu."Akhirnya cinderella kita pulang setelah bertemu pangerannya"Langkah kaki kecilnya membeku dan tatapannya bertemu dengan mata hitam sosok yang bahkan hanya menyebutkan namanya saja bulu kuduknya sudah berdiri.Kaki yang satu langkah menambah jarak untuk kematian Violet. Gadis itu memejamkan matanya sambil menarik nafas yang hampir tak berujung."P-pa--""Sudah pacarannya?"Deg... rasanya sesuatu yang berat menimpa kedua pundaknya dengan tekanan yang besar hingga ia tak berani mengangkat kepalanya. Papanya tahu dia menemui Elgard?"Papa gak nyangka ternyata pacar kamu yang selama ini Papa benci adalah anak teman Papa dulu, dunia sesempit itu rupanya."Violet mendongak, melihat ekspresi Papanya yang melawan arus beberapa saat lalu, kini wajahnya memancarkan senyuman yang ramah."Lain kali, bilang
"Lu di bonceng sama Ken ya, dia ikut juga, perwakilan dari Osis soalnya."Violet hanya mengangguk setuju, dan segera naik di sepeda motor sang ketua osis.Violet mendadak menjadi pendiam di belakang punggung ketua osis. Mereka tak begitu dekat. Hanya saja, Violet tahu bahwa hampir setengah dari wanita di sekolahnya adalah fans berat dari laki- laki yang sekarang memboncengnya ini."Vio~"Tapi Violet tak menyahut dari belakang, tengg*lam dalam hempas*n angin di wajahnya yang sejuk."Vio, heyyy"Dia sedikit tersentak saat ada sedikit sentuh*n di lututnya."I-iya, kenapa Ken?""Pegangan ya, kita kayanya harus ngejar mereka di depan. Sekalian HP kamu masukin ke tas aku aja, nanti jatuh kalo kamu pegang gitu"Violet memang tidak sempat membawa tas dan hanya membawa ponselnya saat pergi, ia mengikuti saran Ken untuk memasukan ponselnya ke tas Ken sementara mereka berkendara."Aku ngebut ya" sekali lagi Ken memperingati.Violet melihat ke depan, motor ke dua temannya hanya terlihat seperti t
"Vio, sayang~"Saat pintu terbuka, Mamanya justru panik melihat Violet yang hampir tenggelam dengan selimutnya. Ia berpikir anaknya jatuh sakit karena terlalu banyak menangis."Kamu sakit? Maafkan Mama--""Ma- j-jangan ke sini-"Saat Mamanya mengambil langkah, Violet spontan mencicit di balik selimutnya."Kenapa sayang? Kamu demam? biar Mama cek suhu badan kamu sayang. Mama takut--""Vio, lapar Ma- ya,.. lapar sekali"Itu kalimat bodoh yang terpaksa ia ucapkan untuk mengalihkan Mamanya.Giginya menekan bibir bawahnya, menahan suara laknat yang mungkin akan lolos dari sela bibirnya saat lidah basah yang bermain di bawah selimut itu menyebar di sekitar perutnya."Ohh ya ampun Mama hampir lupa kamu belum makan, tunggu sebentar ya. Mama ambil sesuatu untuk di makan."Saat pintu di tutup kembali, Violet segera membuka selimutnya dan melotot pada pelaku mesum yang sedari tadi hampir menjadi kematiannya di depan Mamanya. Alih- alih bersembunyi di lemari, Elgard memilih menempel di tubuh Viol
"Jadi kamu beneran mau resign?"Tiara merasa ia akan kehilangan teman yang baru saja ia dapat beberapa minggu terakhir ini. Bukan apa- apa, tapi menjadi pegawai termuda di cafe ini bukan hal yang mudah, dan semenjak Violet datang Tiara setidaknya punya teman yang seumuran."Aku bakalan sering mampir kok, aku janji"Ini adalah shift terakhirnya di cafe ini, ia harus membereskannya sebelum ketahuan Papanya bahwa ia pernah bekerja di Cafe tanpa sepengetahuannya. Ia juga telah bilang pada pemilik kosan bahwa dirinya tidak akan melanjutkan sewa untuk bulan depan.Sebenarnya, Violet ingin bertahan lama dengan keputusannya dengan bekerja di cafe ini dan menetap di kosan. Tapi, ia tidak bisa menghadapi Papanya. Jadi ia memutuskan untuk menyerah untuk melakukan perlawanan."Violet, meja 25 memesan tiga latte. Bisa tolong antarkan?"Violet dan Tiara bubar dari sesi pendek mengobrol nya dan segera kembali bekerja.Hari ini cafe begitu ramai dan sesak oleh pelanggan. Violet dan Tiara sebagai wait







