Home / Romansa / TOXIC | Boyfriend / Lorong Komentar

Share

Lorong Komentar

Author: inay
last update Huling Na-update: 2025-10-29 16:53:56

"Udah gue bilang Violet itu cewek gak bener, maunya sana- sini. Muka dan senyum polosnya itu cuma topeng" ketik salah satu siswi tak di kenal

Dalam waktu kurang dari 24 Jam berita ketua osis yang tampan dan populer itu menjadi bahan gosip di grup sekolah karna di anggap sebagai orang ketiga dari hubungan Elgard dan Violet, beberapa pembenci yang kebanyakan dari para siswi yang iri dengan Violet dan sebagian lagi adalah dari pecundang yang hanya tahu cara berkomentar busuk. 

"Gak nyangka ya, Ka Ken ternyata perusak hubungan orang. Padahal dia ganteng, tapi sukanya rebutan punya orang" ucap sisi lain yang juga dengan nama anonim di grup.

"Gak kebayang sih Elgard bakal semarah apa kalo tahu berita ini," tak cuma di grup sekolah, para siswa juga berbincang di sepanjang lorong sambil men- scroll ponsel masing- masing.

Dinda berlarian melewati orang- orang sepanjang lorong, rambutnya yang sedikit keriting hampir menutupi sebagian wajahnya yang berkeringat karna terlalu banyak berlari.

"Dimana sih tuh bocah, ck" Dia melirik ke kanan dan kiri, berharap menemukan seseorang yang sedang dia cari, Violet.

Brakkkk

"Berita apa ini Vio!!" Seseorang membuka pintu ruang Penyiaran sekolah dengan kencang, membuat dua orang yang berada di dalam sana terkejut di antara diskusi mereka.

"Apa yang salah?" Tanya Violet dengan tatapan tajam sebelum mengambil ponsel wakil ketua Jurnalis itu yang tersodor ke wajahnya.

"Baca!!"

Violet mengambil benda pipih itu dan membacanya seksama, tangannya menggeser semakin bawah layar dan banyak menemukan komentar yang semakin tak berperasaan dari seseorang yang memposting fotonya bersama seseorang beberapa jam lalu.

"Lu tahu gak, kelakuan lu yang kaya gini bisa bikin pers kampus jelek?! sejak awal gue gak setuju lu masuk ke klub ini, lu cuma bisa bikin malu."

"RISA!! cukup, apaan sih lu marah tiba- tiba kaya gini."

"Mening lu liat juga, baru lu bisa simpulin lu harus marah juga apa enggak."

Ketua itu langsung mendekat ke Violet dan mengarahkan matanya ke pusat yang sama, sampai ia menyadari perubahan wajah Violet yang muram.

"Vio, ini.. beneran?" 

Wakil ketua mengambil ponselnya kembali dan dengan kecutnya melontarkan kalimat.

"Semua orang tahu sekarang segimana buruknya lu Vio."

"Lu gak tahu apa- apa Risa, jadi jangan berkomentar sembarangan." Bela Violet karna tidak tahan dengan serangan mulut Risa.

"Ren, gue kayanya gak bisa lanjutin diskusi, gue.."

"Oke oke, gue paham. Lo bisa selesain urusan ini dulu, diskusi kita bisa nyusul." Ucap sang ketua yang pengertian, sedangkan Risa yang masih bermuka masam masih memandang kepergian Violet sampai ujung lorong dengan kebencian.

Berulang kali langkahnya maju, mengukur lantai sekolah yang dingin, sepanjang itulah ia melihat semua mata yang tadinya sibuk melirik ke arahnya dengan tatapan tidak suka. 

Violet panik, keringat di tangannya yang terkepal membuatnya sedikit basah. Sampai sesuatu membuyarkan kepanikan itu dengan hal yang lebih mengerikan, di ujung lapangan basket, dua orang berada di bawah lantai lapangan saling sikut dan memukul wajah satu sama lain.

"ELGARD, CUKUP"

Violet yang awalnya berjalan lambat kini berlari ke lapangan untuk menghentikan pertengkaran itu. Wajah kekasihnya itu sudah mendapat luka di di bagian pelipis, tak berbeda dengan ujung bibir ketua osis yang sedikit mengalami robekan.

"LEPASIN GUE!" Elgard menyikut lengan Violet yang berusaha menjauhkannya dari Ken.

"Gue udah bisa lihat motif lu selama ini, gue tahu lu suka sama Violet selama ini kan?! Tapi gue biarin karna gue gak mau kita ada masalah, dan sekarang? lu sendiri yang buat masalah, ini kan yang lu mau? Tinju gue? Argghhh" Satu pukulan kembali di layangkan di sisi kanan wajah Ken membuat beberapa orang yang menyaksikan mereka kaget dan ngilu.

"BUBAR, BUBAR KALIAN SEMUA!"

Seorang guru datang dengan peluitnya, membubarkan kerumunan.

Beberapa siswa terlihat mundur tapi masih berada di area dekat mereka untuk menyaksikan hal selanjutnya yang akan terjadi.

Sampai ke duanya di bawa ke ruang guru, dan meninggalkan lapangan dengan sisa- sisa keringat dan darah yang sempat merembes dari kulit masing- masing petengkar.

Jarinya mengetuk- ngetuk ke casing HP nya menjadi irama yang tak beraturan. Ia berdiri di ujung ruang guru menunggu Elgard dan Ken ke luar, tapi tak kunjung melihat wajah keduanya. 

"Vio, Papa kamu telpon katanya udah di depan gerbang sekolah." Dinda membawakan tas Violet yang sempat membolos kelas terakhir di hari ini karna masih kalut.

"Din, gimana kalau Papa tahu mereka berantem gara- gara gue? gimana kalau..."

"Vi, itu bukan salah lo, gue saranin lo pulang sama Papa lo daripada Papa lo marah- marah dan jemput lo sampai sini." setelah mengucapkan itu, Dinda izin pulang duluan karna ada janji dengan keluarganya.

"Hai Pa," sapanya saat membuka pintu mobil dengan setenang mungkin.

"Kamu ketemu Ken gak hari ini? ada yang mau Papa sampaikan sama dia." 

Violet langsung terdiam, menatap mata Papanya penuh tanya.

"Kenapa Papa cari Ken?" tanya nya menelisik.

Tanya itu hanya kata, yang tidak mendapat jawab karna saat panggilan masuk di terima Papanya mengintrupsi, Papanya segera memutar mobil ke arah yang berlawanan dan pergi dari sana.

Di rumah, Violet tak bisa tenang. Kakinya terus memutar balik langkah setelah ujung kamarnya sampai ke jari kakinya.

Dia berulang kali memutar nomor yang sama tapi tidak mendapatkan apapun selain suara operator telpon. 

"Owh please, jangan seperti ini."

Dalam keheningan yang sepi, Violet sampai tak menyadari pintu kamarnya terbuka.

"Vio, ganti baju kamu sayang, kita pergi jenguk anaknya temen Papa." Mamanya membawa kabar.

"Maksud Mama?"

Papanya yang ikut masuk ke kamar Violet juga tampak terlihat gusar campur khawatir.

"Ma, Violet sudah siap? Ayo cepat." sambil terus melihat jam di tangannya.

"Pa, ada apa?"

"Kamu gak tahu ada yang mukulin Ken? sekolah heboh dengan berita ketua Osis yang babak belur. Kemana saja kamu seharian tadi sampai kamu gak tahu pacar kamu di pukulin orang." Caci Papanya menaruh curiga, jangan- jangan anak yang sangat dia sayangi ini telah membolos di sekolah atau semacamnya sampai ia bisa melewatkan berita seheboh itu di sekolahnya.

"Pacar? Apa maksud kamu pacar Vio?" tanya Mamanya tak paham.

"A.. aku, aku tahu."

"Kamu tahu tapi kamu gak bilang Papa?" Nada Papanya sedikit meninggi, sedangkan Mamanya berada di antara kebingungan yang sama sekali belum bisa ia mengerti apa yang suami dan anaknya bahas.

"Kemana kamu? jangan bilang kamu bolos sekolah Vio"

"Pa! jangan tuduh anak kamu seperti itu, Violet gak mungkin bolos." Bela sang Mama tak terima dengan tuduhan suaminya.

"Arghhh.. oke, kita lanjutkan ini nanti. Cepat masuk mobil"

Violet dan orang tuanya sampai di rumah Ken, terlihat Ken terbaring dengan seorang pria yang seumuran dengan Papanya di sisi kirinya. 

Violet bergetar, entah kenapa kakinya berat untuk melangkah. Dia tidak menyangka luka di wajah Ken bisa terlihat lebih buruk dari yang dia lihat sebelumnya.

"Siapa murid sial*an yang membuat wajah anakmu sampai begini Chan?" tanya Papanya.

"Si anj*ng gila itu memang tukang bikin rusuh, ini bukan sekali dia berantem di sekolah. Anak itu memang pernah berkali- kali kena kasus."

"Kamu tahu namanya?" timpal Papanya dengan penasaran.

"El, kalo gak salah namanya Elgard"

Violet menelan ludah kasar, tatapannya jatuh ke tanah. Sampai ponsel yang dia genggam bergetar, menampakan nama yang beberapa menit di sebutkan, Violet dapat melihat layar yang terus berkedip meski dalam mode getar.

Elgard,

Getaran itu berlangsung lama, sampai pesan masuk muncuk di pop up membuat nya semakin merasa bersalah.

"Aku di depan jendela rumah kamu, kita perlu bicara sekarang."

inay

Hai, im comeback guys. so sorry for late update ya. Dewasa ini lumayan ribet haha, baru punya waktu untuk kalian sekarang, pliss enjoy with mew chapter...

| Like
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • TOXIC | Boyfriend   Salah di antara Luka

    "Ken, you oke?" Tanya Papa Violet mendekat ke arah Ken yang sedang berusaha untuk duduk.Ken mengannguk, wajah pertama yang ia lihat bukan pria yang menanyai kabarnya, tapi justru mata ketakutan dan penuh rasa bersalah yang dari tadi menatap lantai dengan bahu terunduk."Violet, kenapa diam saja? kamu gak khawatir sama pacar kamu sendiri?" tanya Papanya merangkul bahu putrinya, menggeser sedikit ke depan agar lebih dekat ke sisi Ken."Jadi, Ken yang selama ini kamu bicarakan Pa? Ken pacar Vio?" tanya Mamanya memperjelas kebingungannya."Iya, Papa juga baru tahu beberapa hari yang lalu. Belum sampai satu minggu." jelasnya."Santai saja Arka, mungkin Violet juga sama khawatirnya dengan kita sampai dia tidak bisa mengatakan apa- apa melihat kondisi Ken yang seperti ini, iya kan Vio? Om baru lihat kamu dengan jelas, biasanya cuma lihat dari postingan Papa kamu sama ceritanya saja. Ternyata benar anaknya cantik sekali." puji Papa nya Ken ringan, membuat suasana hati Papa Violet sedikit memb

  • TOXIC | Boyfriend   Lorong Komentar

    "Udah gue bilang Violet itu cewek gak bener, maunya sana- sini. Muka dan senyum polosnya itu cuma topeng" ketik salah satu siswi tak di kenalDalam waktu kurang dari 24 Jam berita ketua osis yang tampan dan populer itu menjadi bahan gosip di grup sekolah karna di anggap sebagai orang ketiga dari hubungan Elgard dan Violet, beberapa pembenci yang kebanyakan dari para siswi yang iri dengan Violet dan sebagian lagi adalah dari pecundang yang hanya tahu cara berkomentar busuk. "Gak nyangka ya, Ka Ken ternyata perusak hubungan orang. Padahal dia ganteng, tapi sukanya rebutan punya orang" ucap sisi lain yang juga dengan nama anonim di grup."Gak kebayang sih Elgard bakal semarah apa kalo tahu berita ini," tak cuma di grup sekolah, para siswa juga berbincang di sepanjang lorong sambil men- scroll ponsel masing- masing.Dinda berlarian melewati orang- orang sepanjang lorong, rambutnya yang sedikit keriting hampir menutupi sebagian wajahnya yang berkeringat karna terlalu banyak berlari."Diman

  • TOXIC | Boyfriend   Cinderella

    Violet pulang diam- diam, mengangkat ujung kakinya agar orang tuanya tak mendengar pergerakan apapun. Ini hampir jam sebelas malam dan Papanya akan mengeratkan tali di lehernya jika dia tahu."Akhirnya cinderella kita pulang setelah bertemu pangerannya"Langkah kaki kecilnya membeku dan tatapannya bertemu dengan mata hitam sosok yang bahkan hanya menyebutkan namanya saja bulu kuduknya sudah berdiri.Kaki yang satu langkah menambah jarak untuk kematian Violet. Gadis itu memejamkan matanya sambil menarik nafas yang hampir tak berujung."P-pa--""Sudah pacarannya?"Deg... rasanya sesuatu yang berat menimpa kedua pundaknya dengan tekanan yang besar hingga ia tak berani mengangkat kepalanya. Papanya tahu dia menemui Elgard?"Papa gak nyangka ternyata pacar kamu yang selama ini Papa benci adalah anak teman Papa dulu, dunia sesempit itu rupanya."Violet mendongak, melihat ekspresi Papanya yang melawan arus beberapa saat lalu, kini wajahnya memancarkan senyuman yang ramah."Lain kali, bilang

  • TOXIC | Boyfriend   Menjenguk Elgard

    "Lu di bonceng sama Ken ya, dia ikut juga, perwakilan dari Osis soalnya."Violet hanya mengangguk setuju, dan segera naik di sepeda motor sang ketua osis.Violet mendadak menjadi pendiam di belakang punggung ketua osis. Mereka tak begitu dekat. Hanya saja, Violet tahu bahwa hampir setengah dari wanita di sekolahnya adalah fans berat dari laki- laki yang sekarang memboncengnya ini."Vio~"Tapi Violet tak menyahut dari belakang, tengg*lam dalam hempas*n angin di wajahnya yang sejuk."Vio, heyyy"Dia sedikit tersentak saat ada sedikit sentuh*n di lututnya."I-iya, kenapa Ken?""Pegangan ya, kita kayanya harus ngejar mereka di depan. Sekalian HP kamu masukin ke tas aku aja, nanti jatuh kalo kamu pegang gitu"Violet memang tidak sempat membawa tas dan hanya membawa ponselnya saat pergi, ia mengikuti saran Ken untuk memasukan ponselnya ke tas Ken sementara mereka berkendara."Aku ngebut ya" sekali lagi Ken memperingati.Violet melihat ke depan, motor ke dua temannya hanya terlihat seperti t

  • TOXIC | Boyfriend   Di bawah selimut

    "Vio, sayang~"Saat pintu terbuka, Mamanya justru panik melihat Violet yang hampir tenggelam dengan selimutnya. Ia berpikir anaknya jatuh sakit karena terlalu banyak menangis."Kamu sakit? Maafkan Mama--""Ma- j-jangan ke sini-"Saat Mamanya mengambil langkah, Violet spontan mencicit di balik selimutnya."Kenapa sayang? Kamu demam? biar Mama cek suhu badan kamu sayang. Mama takut--""Vio, lapar Ma- ya,.. lapar sekali"Itu kalimat bodoh yang terpaksa ia ucapkan untuk mengalihkan Mamanya.Giginya menekan bibir bawahnya, menahan suara laknat yang mungkin akan lolos dari sela bibirnya saat lidah basah yang bermain di bawah selimut itu menyebar di sekitar perutnya."Ohh ya ampun Mama hampir lupa kamu belum makan, tunggu sebentar ya. Mama ambil sesuatu untuk di makan."Saat pintu di tutup kembali, Violet segera membuka selimutnya dan melotot pada pelaku mesum yang sedari tadi hampir menjadi kematiannya di depan Mamanya. Alih- alih bersembunyi di lemari, Elgard memilih menempel di tubuh Viol

  • TOXIC | Boyfriend   Jendela kamar

    "Jadi kamu beneran mau resign?"Tiara merasa ia akan kehilangan teman yang baru saja ia dapat beberapa minggu terakhir ini. Bukan apa- apa, tapi menjadi pegawai termuda di cafe ini bukan hal yang mudah, dan semenjak Violet datang Tiara setidaknya punya teman yang seumuran."Aku bakalan sering mampir kok, aku janji"Ini adalah shift terakhirnya di cafe ini, ia harus membereskannya sebelum ketahuan Papanya bahwa ia pernah bekerja di Cafe tanpa sepengetahuannya. Ia juga telah bilang pada pemilik kosan bahwa dirinya tidak akan melanjutkan sewa untuk bulan depan.Sebenarnya, Violet ingin bertahan lama dengan keputusannya dengan bekerja di cafe ini dan menetap di kosan. Tapi, ia tidak bisa menghadapi Papanya. Jadi ia memutuskan untuk menyerah untuk melakukan perlawanan."Violet, meja 25 memesan tiga latte. Bisa tolong antarkan?"Violet dan Tiara bubar dari sesi pendek mengobrol nya dan segera kembali bekerja.Hari ini cafe begitu ramai dan sesak oleh pelanggan. Violet dan Tiara sebagai wait

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status