LOGINFoto itu masih terjepit di antara jari-jari Valeria, rapuh seperti kenangan yang hampir terlupakan.
Sudut-sudutnya telah menguning, dimakan waktu. Permukaannya terserut goresan halus, namun dua sosok kecil di dalamnya tetap terlihat jelas—seorang gadis kecil dengan rambut acak-acakan karena habis berlari mengejar angin, dan seorang bocah laki-laki yang berdiri tegak di sampingnya, menggenggam erat dua buah jeruk di tangannya.Valeria menatapnya lama. Matanya menelusuri setiaPagi belum sepenuhnya tiba ketika Valeria memasuki gedung utama Academia Real de Velmora.Semalam, ia hampir tidak tidur. Panggilan dari Dr. Vargas dan kabar mengenai keberatan sponsor terus mengganggu pikirannya. Namun, setelah memikirkan semuanya, ia memutuskan satu hal: dirinya tidak akan mundur.Bukan setelah semua yang telah dilaluinya.Bukan setelah berbulan-bulan mengorbankan waktu, tenaga, dan kesempatan hanya untuk memperoleh tempat di akademi itu.Bukan pula karena seseorang merasa berhak menentukan seberapa jauh ia boleh melangkah.Di depan pintu ruang administrasi, Valeria berhenti sejenak. Jemarinya merapikan map biru yang dibawanya. Di dalamnya terdapat salinan hasil evaluasi, catatan kontribusi setiap anggota tim, serta surat keberatan yang telah disusunnya bersama Catalina.Ia menarik napas."Kalau mereka ingin membuatku menyerah, mereka harus mencari alasan yang lebih baik.""Sudah kuduga kau ak
Pagi itu, Valeria datang ke Academia Real de Velmora dengan perasaan yang jauh dari kata tenang.Tidurnya tidak nyenyak. Sejak malam sebelumnya, pikirannya terus dipenuhi berbagai kejadian yang membuatnya muak. Ia masih teringat bagaimana namanya dicantumkan dalam catatan pengamatan keluarga Valencia, seolah-olah seluruh perjuangannya selama ini hanya bagian dari eksperimen seseorang.Hari yang buruk ternyata belum selesai.Pagi-pagi sekali, Isabella meneleponnya. Pemilik tempat tinggal mereka meminta pembayaran yang tertunda, sementara pekerjaan tambahan yang selama ini diandalkan ibunya terpaksa dihentikan karena pemilik usaha mengalami masalah keuangan. Isabella berusaha terdengar biasa saja, bahkan sempat melontarkan candaan agar Valeria tidak khawatir.Namun, Valeria mengenal suara ibunya.Ia tahu perempuan itu sedang menahan kecemasan.Setelah telepon berakhir, Valeria hanya mampu menatap layar ponselnya cukup lama.
Valeria tidak tidur nyenyak malam itu.Dokumen yang diterimanya dari panel evaluasi terus terbayang dalam pikirannya. Namanya tercantum berdampingan dengan Alejandro, disertai catatan yang menyebutkan bahwa respons laki-laki itu harus diamati selama simulasi berlangsung.Semakin lama membacanya, semakin besar rasa muak yang memenuhi dadanya.Selama berminggu-minggu, ia menghabiskan waktu untuk menganalisis laporan, memeriksa angka, dan mempertahankan keputusan tim. Ia bahkan harus menghadapi tuduhan yang tidak pernah dilakukannya.Sekarang, ia mengetahui bahwa mungkin sejak awal ada orang yang sengaja menjadikan keberadaannya sebagai bagian dari pengamatan.Apakah semua kerja kerasnya hanya menjadi alat untuk menguji seorang pewaris?Tidak.Ia menolak menerima kemungkinan itu.Valeria meletakkan ponsel di meja dengan gerakan kasar. Rahangnya mengeras, sementara jemarinya mengepal di atas selimut.Ia membenci hasil seperti itu. Hasil yang menghapus nilai kerja keras seseorang dan mengg
Pukul tujuh lewat lima belas menit, Valeria sudah berdiri di depan ruang kepala akademi.Ia datang lebih awal karena tidak ingin membicarakan dokumen itu di tengah keramaian. Nama Dr. Emilio Vargas tercantum sebagai pihak yang menyetujui distribusi ringkasan Aurelia Global sebelum simulasi dimulai. Namun, sebuah tanda tangan tidak cukup untuk membuktikan adanya pelanggaran.Valeria memahami itu.Justru karena itulah ia ingin mendengar penjelasan langsung.“Kau datang lebih awal.”Suara Alejandro terdengar dari belakang.Valeria menoleh. Laki-laki itu berjalan mendekat dengan seragam hitam yang rapi dan rambut yang masih sedikit basah, seolah baru selesai mandi sebelum berangkat.“Kau juga,” balas Valeria.“Aku tidak bisa tidur nyenyak.”“Karena memikirkan sidang?”“Karena seseorang mengirim pesan bahwa kami perlu berbicara dengan kepala akademi, lalu tidak menjelaskan lebih jauh.”Vale
Amplop itu terasa lebih berat daripada selembar kertas biasa.Valeria berdiri di depan ruang Dr. Emilio Vargas, menimbang apakah ia harus langsung mengetuk pintu atau menunggu sampai pikirannya lebih tenang.Rafael Valencia telah menyerahkan dokumen tersebut untuk diperiksa secara resmi. Itu berarti Valeria tidak memiliki alasan untuk membukanya sendiri.Ia mengetuk tiga kali.Tok! Tok! Tok!“Masuk.”Dr. Vargas sedang berbicara dengan seorang staf administrasi ketika Valeria memasuki ruangan. Begitu melihat amplop di tangannya, ia menghentikan percakapan.“Apa itu?”“Pak Rafael Valencia meminta saya menyerahkannya kepada Anda. Katanya, dokumen di dalamnya harus diperiksa secara resmi.”Dr. Vargas segera berdiri.“Apakah Anda membukanya?”“Tidak.”“Bagus. Letakkan di sini.”Valeria menyerahkan amplop tersebut. Staf administrasi mencatat waktu penerimaan, kemudian memer
Valeria membaca kalimat itu untuk ketiga kalinya.Permintaan salinan khusus untuk keperluan evaluasi pewaris.Tulisan tersebut tidak membuktikan bahwa Alejandro melakukan kecurangan. Namun, keterlibatan Rafael Valencia membuat persoalan ini jauh lebih rumit daripada sekadar keberatan akademik.“Apakah dokumen ini membuktikan bahwa Alejandro mengetahui isi ringkasan tersebut sebelum simulasi dimulai?” tanya Valeria.Perempuan dari panel evaluasi menggeleng.“Belum. Kami baru memastikan bahwa ringkasan pernah diminta dan dikirim. Kami masih harus memeriksa waktu penerimaan, isi dokumen, serta apakah informasi tersebut memengaruhi keputusan tim.”“Kalau begitu, saya tidak bisa memberikan kesimpulan tentang Alejandro.”“Kami tidak meminta Anda menjatuhkan kesimpulan. Kami hanya membutuhkan keterangan yang sesuai dengan apa yang Anda ketahui.”Valeria mengangguk.“Kalau begitu, saya ingin mencatat satu hal.

![Without You [Indonesia]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)





