Mag-log in
"Berhati-hatilah, Xuan Li. Kita bersiap sekarang!" seru Yan Hui dengan sikap waspada.
"Emm." Xuan Li mengangguk, ia menggenggam pedangnya dengan erat. Napasnya berat, bukan hanya karena rasa takut, tetapi juga karena ini adalah pertama kalinya ia berburu binatang roh. Nyawa ayahnya tergantung pada kristal roh itu, dan ia harus mendapatkannya, apa pun risikonya. Tiba-tiba, tanah bergetar. Dari balik kegelapan hutan, sepasang mata merah menyala muncul, diikuti raungan dahsyat. Naga Hitam, makhluk buas dengan sisik gelap mengkilat, menyerbu dengan kecepatan yang sulit diprediksi. Bau manusia memancing insting berburunya sehingga pertarungan tidak mungkin terhindarkan. Adrenalin Xuan Li melonjak. Dengan gerakan gugup, ia mengayunkan pedangnya. Namun, kekuatannya terlalu kecil. Serangan itu hanya menggores sisik keras Naga Hitam dan membuat makhluk itu semakin murka. “Arrggh!” Tubuh Xuan Li terpental, menghantam batu besar hingga darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Ia terus menjadi bulan-bulanan binatang roh Naga Hitam yang terus menyerangnya tanpa ampun. Pandangannya mulai kabur, namun ia melihat sekilas Yan Hui berdiri diam, menyaksikan semuanya tanpa bergerak. Sebuah senyum misterius terlihat samar di wajah Yan Hui. Sebagai seorang pengawal terlatih, ia sebenarnya mampu untuk melawan monster itu. Namun, ia tidak melakukannya dan membiarkan Xuan Li yang lebih banyak bertarung. “Yan Hui... Tolong aku...” Merasa cukup dengan permainannya, dengan gerakan cepat Yan Hui melompat ke udara, lalu menyerang Naga Hitam. Tidak butuh waktu lama akhirnya binatang roh itu pun mati di tangannya. la lalu mengambil kristal roh sebelum akhirnya datang menghampiri Xuan Li. Xuan Li terluka parah dan tidak bisa menggerakkan tubuhnya. "Terima kasih sudah membantuku mendapatkan kristal roh." Xuan Li tersenyum, mengabaikan luka-lukanya. "Bodoh. Benda ini tidak ada gunanya untukmu." Xuan Li menatap Yan Hui tidak percaya. Ia belum sepenuhnya mengerti maksud dari ucapan sahabatnya itu. Sejak kecil mereka saling mengenal tetapi hari ini ia melihatnya sebagai orang yang berbeda. Sebelum semuanya menjadi jelas, Yan Hui sudah menyeret tubuhnya dengan kasar dan membawanya berjalan. "Yan ... Hui ... Apa yang terjadi padamu?" tanya Xuan Li sembari menyeringai kesakitan. Yan Hui hanya meliriknya sekilas tanpa ada niatan untuk menjawab. Benar-benar berbeda dengan orang yang sebelumnya dikenal baik oleh Xuan Li. Saat ini ia lebih mirip dengan iblis kejam. 'Apa yang terjadi pada Yan Hui? Apakah dia tersihir oleh kekuatan gelap?' Xuan Li bertanya-tanya dalam hati, ia tidak percaya jika Yan Hui akan mengkhianatinya. Tubuh Xuan Li yang tidak mampu berkultivasi semakin melemah. Ia tidak mampu melawan meskipun tidak ingin menyerah. Tiba-tiba, Yan Hui menghentikan langkahnya ketika tiba di bibir tebing yang curam. "Mulai detik ini, kamu tidak akan menjadi beban siapapun lagi." Yan Hui mengangkat tubuh Xuan Li dengan satu tangannya. Mata Xuan Li terbelalak saat melihat jurang yang dalam di bawah mereka. Bayangan kematian membuatnya bergidik. Wajahnya memucat oleh ketakutan yang menjalar di sekujur tubuhnya. "Apa yang ingin kamu lakukan? Bukankah aku selalu memperlakukanmu dengan baik?" "Baik katamu? Demi melindungimu aku kehilangan orang yang kusayangi satu persatu. Terimalah takdimu, Sampah!" Setelah mengatakan itu, Yan Hui melepaskan tubuh Xuan Li dan membiarkannya jatuh ke dalam jurang. Tubuh Xuan Li menghantam batu besar di dasar jurang, menyisakan teriakan keras yang menggema di seluruh penjuru hutan. Ia merasa jika hidupnya telah berakhir. "Kerja bagus." Seorang pria menatap ke dasar jurang yang gelap dan tidak melihat tubuh Xuan Li lagi. "Ayo kita kembali. Ayah akan memberimu imbalan besar." "Terima kasih, Tuan." Di ambang kesadarannya, Xuan Li mengenali suara pria itu. Dadanya bergetar oleh emosi yang bercampur dengan rasa sakit. "Jadi ini kenyataannya..." pikir Xuan Li. "Aku hanyalah sampah memalukan di mata ayahku dan anak yang tidak diinginkan oleh ibuku. Semua ini sudah direncanakan sejak awal." Air mata jatuh dari sudut matanya, tetapi amarah mulai berkobar di dalam dirinya. "Tidak... Aku tidak boleh mati. Tidak di sini." Di kedalaman jiwanya, Xuan Li merasa kekuatan yang lama terpendam mulai bangkit. Tiba-tiba muncul rasa sakit yang melebihi semua luka fisiknya. Sesuatu di dalam tubuhnya menggeliat, seolah ingin lepas dari rantai yang telah lama mengikatnya. Jurang yang gelap menjadi saksi ketika sebuah aura misterius menyelimuti tubuhnya. Batu-batu di sekitarnya mulai retak, udara bergetar, dan cahaya merah keemasan menyemburat dari tubuhnya. "Ada apa dengan tubuhku?" Xuan Li menyeringai menahan semua siksaan.Xuan Huayin menarik napas panjang. Ia bangkit, lalu membawa Liang Xue menjauh dari tubuh Xuan Li. "Kita harus kembali ke istana. Kau butuh perawatan." Liang Xue mengangguk lemah. Ia tidak bisa berjalan sendiri, jadi Xuan Huayin menggendongnya. Sebelum pergi, Xuan Huayin menoleh ke arah Xuan Yi yang berdiri diam di kejauhan. "Yi'er." Xuan Yi langsung melangkah maju, membungkuk sopan. "Ya, ayah." "Bawa adikmu kembali ke istana. Panggil tabib terbaik untuk merawatnya." Xuan Huayin menatap tajam. "Jangan sampai ada yang salah. Mengerti?" Xuan Yi menunduk lebih dalam. "Tentu saja, ayah. Aku akan menjaganya seperti menjaga nyawaku sendiri." Xuan Huayin mengangguk, lalu membawa Liang Xue pergi dengan kereta kuda tercepat. Begitu sosok ayahnya menghilang dari pandangan, senyum Xuan Yi langsung runtuh. Ia berbalik, menatap tubuh Xuan Li yang tergeletak dengan ekspresi dingin. "Seperti menjaga nyawaku sendiri?" Ia mendengus pelan. "Konyol." Ia melangkah mendekati tubuh Xuan Li, lalu
"Apa yang sedang kau lakukan?"Pertanyaan Xuan Huayin keluar dengan nada gemetar. Matanya terpaku pada cahaya merah keemasan yang melayang di telapak tangan Xuan Li.Api kecil itu terlihat indah, tetapi aura yang dipancarkannya membuat udara terasa padat.Xuan Li tidak menjawab. Napasnya sudah tidak stabil. Keringat terus mengalir dari dahinya, membasahi wajahnya yang pucat.Ia menutup mata sejenak, lalu membuka lagi dengan tatapan tajam."Jika kau ingin menghentikanku, lakukan saja." Suaranya rendah, serak. "Tapi aku tidak akan berhenti."Tangannya bergerak perlahan, mengarahkan api itu ke arah Liang Xue.Cahaya merah keemasan mulai menyentuh jiwa wanita itu. Seketika, tubuh Liang Xue bergetar hebat.Matanya yang tadinya kosong kini mulai berkedip cepat. Sesuatu sedang terjadi di dalam kesadarannya.Xuan Li mengeluarkan seluruh energi yang tersisa. Darahnya terus keluar dari sudut bibirnya, lalu mengalir ke dagu.Api jiwa bukan sekadar teknik biasa. Ini adalah inti kekuatan transform
“Darah lebih kental dari air,” ucap Xuan Huayin dengan napas berat, mencoba menahan gejolak yang semakin sulit ia kendalikan. “Ayah tahu kesalahan ayah terlalu besar. Tapi kita masih bisa memperbaiki semuanya. Kita adalah keluarga. Kau dan kakakmu... bisa menentukan posisi putra mahkota secara adil.”Di dalam kalimat itu, tidak ada wibawa seorang kaisar, hanya permohonan dari seseorang yang takut kehilangan segalanya.Di sisi lain, Xuan Yi merasakan dadanya mengencang. Tangannya mengepal tanpa sadar. Kata-kata “adil” terasa seperti ancaman baginya. Ia tahu betul, jika harus bersaing secara terbuka dengan Xuan Li dalam kondisinya sekarang, ia tidak akan punya peluang.Sementara itu, Xuan Li hanya mengeluarkan dengusan pelan. Ia merasa muak.“Aku tidak berminat.”Jawaban singkat itu menghancurkan sisa harapan ayahnya.Bagi Xuan Li, semua yang ditawarkan Xuan Huayin sudah tidak memiliki arti. Kekuasaan? Tahta? Status putra mahkota? Semua hanyalah simbol kosong.Dulu ia pernah mengejarn
Xuan Li melangkah perlahan mendekati Liang Xue. Jarak di antara mereka semakin menipis, tetapi suasana justru terasa makin menekan. Wanita itu masih berdiri tegak, tubuhnya kaku seperti patung. Matanya terbuka, namun kosong, tanpa kehidupan. “Teknik Ilusi Jiwa, Penjara Alam Bawah Sadar...” gumam Xuan Li lirih, mengingat kembali apa yang telah ia lakukan. Lingkaran cahaya yang sebelumnya menjerat kesadaran Liang Xue masih berdenyut samar di sekeliling tubuhnya. Sulur kristal yang melilitnya juga tidak menunjukkan tanda-tanda melemah. Teknik berlapis yang ia gunakan bukan sekadar menahan tubuh, tetapi juga mengunci jiwa. Xuan Huayin yang berdiri beberapa langkah di belakangnya menatap dengan cemas. Luka-lukanya belum pulih, tetapi kekhawatiran di wajahnya jauh lebih terasa dibanding rasa sakit fisik. “Apakah... dia masih bisa sadar kembali?” tanyanya dengan suaranya serak. Tidak ada nada kekaisaran dalam pertanyaan itu. Yang tersisa hanyalah seorang pria yang dilanda keta
"Xuan Li..." gumam Xuan Huayin, masih belum yakin."Aku adalah Wu Yu, Xuan Li sudah mati," jawab Xuan Li dengan nada dingin yang menusuk. "Dan kau tidak memiliki hak untuk memerintahku, Xuan Huayin."Panggilan tanpa gelar kehormatan tersebut membuat kaisar terkejut. Tidak ada yang berani memanggil namanya secara langsung, kecuali keluarga terdekat atau seseorang yang sudah tidak mengakui otoritasnya.Xuan Li berbalik menghadap ayahnya sepenuhnya. "Seharusnya kau berterima kasih kepadaku. Aku telah melindungi rakyatmu dari ancaman yang nyaris menghancurkan kerajaan. Namun bukannya bersyukur, kau malah menghalangi ketika aku hendak menghabisi musuh negara ini."Kata-kata tersebut menohok hati Xuan Huayin lebih dalam dari luka fisik apa pun. Dia melihat kebencian dan kekecewaan yang mendalam di mata putranya, perasaan yang selama ini dia khawatirkan akan muncul suatu hari.Kaisar yang pernah ditakuti oleh seluruh benua kini terduduk lemah di hadapan putranya sendiri. Air mata mulai menga
Seruan putus asa Xuan Huayin terdengar samar di tengah gemuruh pertarungan, namun Xuan Li sama sekali tidak menghiraukan. Mata yang heterokromnya terfokus penuh pada Liang Xue yang kini mulai terengah-engah di hadapannya. Energi spiritual yang mengalir dalam tubuh gioknya seolah tidak mengenal batas, terus bergelombang seperti samudra yang tidak pernah surut."Masih belum cukup," gumam Xuan Li dengan suara dingin yang menggetarkan udara di sekelilingnya.Sayap hitam kristal di punggungnya mengembang lebar, memancarkan aura gelap yang menakutkan. Namun yang membuat Liang Xue waspada bukanlah kekuatan fisiknya, melainkan energi spiritual yang mulai mengalir ke arah yang berbeda. Energi tersebut tidak lagi berkonsentrasi untuk serangan langsung, tetapi menyebar dalam pola-pola rumit yang tidak dapat dipahami.Liang Xue merasakan sesuatu yang aneh mulai merasuki pikirannya. Dunia di sekitarnya tampak berubah secara perlahan, warna mulai memudar, suara menjadi teredam, dan realitas tampak
Energi spiritual yang mengalir dari tubuh Liang Xue mulai berkumpul di ujung jari-jarinya. Cahaya kebiruan yang samar-samar muncul ketika ia mengucapkan mantra dalam bahasa kuno yang hampir terlupakan."Portal Dimensi Bayangan... buka jalanmu."Ruangan yang sebelumnya gelap mulai berkilauan dengan
Ia kemudian melanjutkan pencariannya ke arah yang berbeda. Setiap langkah yang ia ambil semakin menguatkan dugaannya bahwa memang ada pihak-pihak yang tidak diinginkan yang sudah mengetahui keberadaan tempat persembunyian mereka.Setelah mencari selama hampir satu jam, Liang Xue tidak menemukan sos
Suara langkah kaki yang hampir tidak terdengar menggema di lorong-lorong gua yang sempit. Seorang pengawal ras iblis bergerak dengan hati-hati, matanya yang tajam memindai setiap sudut dengan kewaspadaan tinggi. Energi spiritual yang mengalir dari tubuhnya menunjukkan bahwa ia adalah salah satu pr
Angin malam bertiup kencang ketika Xuan Li melintasi langit dengan kecepatan penuh. Tubuh gioknya yang memancarkan cahaya biru keemasan samar meninggalkan jejak berkilau di antara awan-awan yang bergerak cepat.Perasaan gelisah terus menggerogoti hatinya. Setiap detik yang berlalu terasa seperti hi







