Compartilhar

56.

Autor: Dre LA
last update Data de publicação: 2026-11-05 17:31:50

"Cepat dobrak pintunya sekarang, bego!" raung salah seorang perawat bayaran sambil membanting bahunya ke daun pintu jati yang mendadak terkunci rapat dari luar, napasnya memburu panik seraya menatap ke belakang dengan pupil membesar.

"Nggak bisa kebuka, kuncinya macet!" balas rekannya seraya menendang slot besi dengan kalap, air mata ketakutan membanjiri pipinya saat mencium bau busuk yang kian pekat mematikan saraf.

Dari atas ranjang kayu kuno di tengah kamar tidur vila b
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Janda Pesugihan!   56.

    "Cepat dobrak pintunya sekarang, bego!" raung salah seorang perawat bayaran sambil membanting bahunya ke daun pintu jati yang mendadak terkunci rapat dari luar, napasnya memburu panik seraya menatap ke belakang dengan pupil membesar. "Nggak bisa kebuka, kuncinya macet!" balas rekannya seraya menendang slot besi dengan kalap, air mata ketakutan membanjiri pipinya saat mencium bau busuk yang kian pekat mematikan saraf. Dari atas ranjang kayu kuno di tengah kamar tidur vila berkabut itu, jeritan manusia Sinta sudah lenyap sepenuhnya. Suara tulangnya yang berderak remuk terdengar beriringan, KREK! KRAK! Sendi-sendi lutut dan sikunya tertekuk terbalik ke arah luar, menyerupai kaki unggas raksasa yang siap mencengkeram mangsa. Tubuh montok yang dulu ia banggakan di bilik warung kini menyusut drastis menjadi seonggok kulit keriput membungkus tulang, sementara seluruh sari hidup dan dagingnya diserap rakus oleh benih terkutuk di dalam rahim. Perutnya yang membu

  • Janda Pesugihan!   55.

    Di dalam kamar tidur vila terpencil di kaki bukit, hawa dingin mendadak menusuk tulang sampai uap putih mengepul tipis dari celah bibir kedua perawat bayaran. Bau busuk bangkai ayam bercampur anyir darah kental tiba-tiba menyengat hidung, mematikan seluruh wangi melati dan minyak dupa di atas nakas. Kedua perawat itu melangkah mundur merapat ke dinding semen, gemetaran memegangi dada masing-masing. Di atas ranjang kayu kuno, tubuh Sinta mendadak melenting kaku ke udara. Punggungnya melengkung tinggi dengan tumpuan hanya pada tumit dan belakang kepalanya, sementara gaun daster sutra merah yang dia pakai basah kuyup oleh keringat hitam berbau sangit. Perutnya yang membusung sebesar tong air mendadak bergolak hebat dari dalam. DUG! DUG! DUG! Dari balik kulit perutnya yang menegang tipis sampai urat-urat birunya mencuat mengerikan, muncul benjolan-benjolan lancip menyerupai paruh burung gagak dan cakar runcing yang mencakar

  • Janda Pesugihan!   54.

    "Tahan dia! Jangan sampai jatuh dari ranjang!" bentak salah seorang perawat bayaran sambil merangsek maju, berusaha menahan bahu Sinta yang mendadak kejang dan melenting kaku ke udara. "Nggak bisa! Badannya keras kayak batu, Mbak!" teriak perawat kedua seraya menyambar sehelai kain pengikat dengan tangan gemetar hebat. Malam itu, vila terpencil di kaki bukit yang sunyi diselimuti kabut tebal dan kepungan bau melati yang luar biasa pekat. Dari luar, bangunan kolonial tua berlumut itu tampak mati dan ditinggalkan peradaban. Namun, di dalam kamar tidur utama yang remang-remang, pertarungan gaib tengah berlangsung mencekam. Lampu minyak di atas nakas bergoyang pelan, menerangi sosok Sinta yang terbaring kaku dengan kedua tumit menancap di atas kasur kayu tua. Perutnya yang membusung besar dan tegang bagai tong air terus berdenyut kencang. Dari balik kulit tipis yang meregang hingga urat-urat birunya mencuat mengerikan, tampak desakan-desakan lancip menyerup

  • Janda Pesugihan!   53.

    Malam-malam di mansion megah kawasan Menteng itu kian berubah menjadi mimpi buruk yang mencekam. Hanya berselang beberapa hari sejak keributan di ruang kerja, perut Sinta yang semula rata kini membesar secara tak wajar. Bentuknya membulat kencang dan tegang, menyerupai kehamilan sembilan bulan yang dipaksakan mekar dalam hitungan malam. Namun, yang paling mengerikan adalah perubahan perilakunya. Sinta mulai menunjukkan gelagat ngidam yang melenceng dari akal sehat manusia. Tengah malam buta, ketika seisi rumah terlelap, Bagas sering memergoki janda pirang itu duduk bersila di lantai sudut kamar mandi. Lampu sengaja dimatikan, dan dengan mata mendelik putih tanpa pupil, Sinta mengunyah sejumput tanah pekat yang dibungkus kain kafan kusam—tanah kuburan tua yang ia minta secara histeris lewat para pelayan. Tidak hanya itu, bibir bergincu pucatnya terus mengunyah kelopak bunga melati dan kantil mentah, membiarkan sari bunga beraroma kuburan itu menetes di dagunya ber

  • Janda Pesugihan!   52.

    Ruang kerja pribadi di lantai dua mansion Menteng itu terkunci rapat dari dalam. Dari balik pintu ganda berukir jati pualam, riak pertikaian antara Sinta dan ketiga asisten rumah tangga di lantai bawah perlahan meredam, tergantikan oleh sunyi yang janggal. Sari meletakkan map tebal berkas pelabuhan di atas meja kaca mahoni dengan gerakan teramat hati-hati. Jemarinya yang ramping sedikit gemetar. Ia berdiri terpaku di seberang meja, menatap Bagas yang tengah melepaskan kancing kerah kemeja linennya dengan helaan napas letih. Di ruangan yang luas dan temaram ini, tatapan mata Sari yang polos tampak berkilau cemas. "Mas Bagas kelihatan capek banget..." bisik Sari lirih, suaranya terdengar tulus tanpa kepalsuan riasan maupun intrik birahi. "Biar Sari ambilkan air putih hangat ke dapur, ya?" Bagas mendongak, menatap gadis masa lalunya itu. Di tengah pusaran orang-orang yang mendekatinya demi tumpukan uang seratus ribuan, mobil dinas, atau kemewahan ranjang,

  • Janda Pesugihan!   51.

    Suasana di dalam mansion megah kawasan Menteng itu mendadak berubah menjadi arena perang dingin yang pekat. Sejak tiga orang mantan kandidat sekretaris diboyong masuk untuk menempati paviliun belakang sebagai asisten rumah tangga pribadi dengan gaji setara staf eksekutif, ketenangan istana pualam Bagas seketika menguap. Sinta, yang merasa posisinya paling tinggi karena sudah lebih dulu menempati kamar tamu lantai dua dan tengah mengandung "darah daging" Bagas, melangkah anggun menuruni tangga pualam. Gaun tidurnya terbuat dari sutra merah menyala dengan belahan dada rendah yang sengaja dibiarkan terhampar bebas. Tangannya tak henti-hentinya mengelus perut ratanya yang mulai memancarkan denyut gaib sedingin es, bertindak seolah-olah ia adalah nyonya besar mutlak pemilik tahta. "Kalian bertiga, dengar ya!" seru Sinta dengan suara melengking tajam, berdiri pongah di depan tiga wanita yang baru saja menyelesaikan pembersihan ruang tengah. "Jangan mentang-mentang Mas

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status