Share

52.

Author: Dre LA
last update publish date: 2026-11-04 18:26:09

Ruang kerja pribadi di lantai dua mansion Menteng itu terkunci rapat dari dalam. Dari balik pintu ganda berukir jati pualam, riak pertikaian antara Sinta dan ketiga asisten rumah tangga di lantai bawah perlahan meredam, tergantikan oleh sunyi yang janggal.

Sari meletakkan map tebal berkas pelabuhan di atas meja kaca mahoni dengan gerakan teramat hati-hati. Jemarinya yang ramping sedikit gemetar. Ia berdiri terpaku di seberang meja, menatap Bagas yang tengah melepaskan kancing kerah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Janda Pesugihan!   55.

    Di dalam kamar tidur vila terpencil di kaki bukit, hawa dingin mendadak menusuk tulang sampai uap putih mengepul tipis dari celah bibir kedua perawat bayaran. Bau busuk bangkai ayam bercampur anyir darah kental tiba-tiba menyengat hidung, mematikan seluruh wangi melati dan minyak dupa di atas nakas. Kedua perawat itu melangkah mundur merapat ke dinding semen, gemetaran memegangi dada masing-masing. Di atas ranjang kayu kuno, tubuh Sinta mendadak melenting kaku ke udara. Punggungnya melengkung tinggi dengan tumpuan hanya pada tumit dan belakang kepalanya, sementara gaun daster sutra merah yang dia pakai basah kuyup oleh keringat hitam berbau sangit. Perutnya yang membusung sebesar tong air mendadak bergolak hebat dari dalam. DUG! DUG! DUG! Dari balik kulit perutnya yang menegang tipis sampai urat-urat birunya mencuat mengerikan, muncul benjolan-benjolan lancip menyerupai paruh burung gagak dan cakar runcing yang mencakar

  • Janda Pesugihan!   54.

    "Tahan dia! Jangan sampai jatuh dari ranjang!" bentak salah seorang perawat bayaran sambil merangsek maju, berusaha menahan bahu Sinta yang mendadak kejang dan melenting kaku ke udara. "Nggak bisa! Badannya keras kayak batu, Mbak!" teriak perawat kedua seraya menyambar sehelai kain pengikat dengan tangan gemetar hebat. Malam itu, vila terpencil di kaki bukit yang sunyi diselimuti kabut tebal dan kepungan bau melati yang luar biasa pekat. Dari luar, bangunan kolonial tua berlumut itu tampak mati dan ditinggalkan peradaban. Namun, di dalam kamar tidur utama yang remang-remang, pertarungan gaib tengah berlangsung mencekam. Lampu minyak di atas nakas bergoyang pelan, menerangi sosok Sinta yang terbaring kaku dengan kedua tumit menancap di atas kasur kayu tua. Perutnya yang membusung besar dan tegang bagai tong air terus berdenyut kencang. Dari balik kulit tipis yang meregang hingga urat-urat birunya mencuat mengerikan, tampak desakan-desakan lancip menyerup

  • Janda Pesugihan!   53.

    Malam-malam di mansion megah kawasan Menteng itu kian berubah menjadi mimpi buruk yang mencekam. Hanya berselang beberapa hari sejak keributan di ruang kerja, perut Sinta yang semula rata kini membesar secara tak wajar. Bentuknya membulat kencang dan tegang, menyerupai kehamilan sembilan bulan yang dipaksakan mekar dalam hitungan malam. Namun, yang paling mengerikan adalah perubahan perilakunya. Sinta mulai menunjukkan gelagat ngidam yang melenceng dari akal sehat manusia. Tengah malam buta, ketika seisi rumah terlelap, Bagas sering memergoki janda pirang itu duduk bersila di lantai sudut kamar mandi. Lampu sengaja dimatikan, dan dengan mata mendelik putih tanpa pupil, Sinta mengunyah sejumput tanah pekat yang dibungkus kain kafan kusam—tanah kuburan tua yang ia minta secara histeris lewat para pelayan. Tidak hanya itu, bibir bergincu pucatnya terus mengunyah kelopak bunga melati dan kantil mentah, membiarkan sari bunga beraroma kuburan itu menetes di dagunya ber

  • Janda Pesugihan!   52.

    Ruang kerja pribadi di lantai dua mansion Menteng itu terkunci rapat dari dalam. Dari balik pintu ganda berukir jati pualam, riak pertikaian antara Sinta dan ketiga asisten rumah tangga di lantai bawah perlahan meredam, tergantikan oleh sunyi yang janggal. Sari meletakkan map tebal berkas pelabuhan di atas meja kaca mahoni dengan gerakan teramat hati-hati. Jemarinya yang ramping sedikit gemetar. Ia berdiri terpaku di seberang meja, menatap Bagas yang tengah melepaskan kancing kerah kemeja linennya dengan helaan napas letih. Di ruangan yang luas dan temaram ini, tatapan mata Sari yang polos tampak berkilau cemas. "Mas Bagas kelihatan capek banget..." bisik Sari lirih, suaranya terdengar tulus tanpa kepalsuan riasan maupun intrik birahi. "Biar Sari ambilkan air putih hangat ke dapur, ya?" Bagas mendongak, menatap gadis masa lalunya itu. Di tengah pusaran orang-orang yang mendekatinya demi tumpukan uang seratus ribuan, mobil dinas, atau kemewahan ranjang,

  • Janda Pesugihan!   51.

    Suasana di dalam mansion megah kawasan Menteng itu mendadak berubah menjadi arena perang dingin yang pekat. Sejak tiga orang mantan kandidat sekretaris diboyong masuk untuk menempati paviliun belakang sebagai asisten rumah tangga pribadi dengan gaji setara staf eksekutif, ketenangan istana pualam Bagas seketika menguap. Sinta, yang merasa posisinya paling tinggi karena sudah lebih dulu menempati kamar tamu lantai dua dan tengah mengandung "darah daging" Bagas, melangkah anggun menuruni tangga pualam. Gaun tidurnya terbuat dari sutra merah menyala dengan belahan dada rendah yang sengaja dibiarkan terhampar bebas. Tangannya tak henti-hentinya mengelus perut ratanya yang mulai memancarkan denyut gaib sedingin es, bertindak seolah-olah ia adalah nyonya besar mutlak pemilik tahta. "Kalian bertiga, dengar ya!" seru Sinta dengan suara melengking tajam, berdiri pongah di depan tiga wanita yang baru saja menyelesaikan pembersihan ruang tengah. "Jangan mentang-mentang Mas

  • Janda Pesugihan!   50.

    "Singkirkan tanganmu dari bajuku, Sinta," ucap Bagas dingin, menepis pelan jemari janda pirang itu dari kerah jasnya. Sinta tersentak mundur, mengerjapkan matanya menatap Bagas yang mendadak menjaga jarak. Namun, rasa mual kembali menghentak ulu hatinya. Ia membekap mulutnya sendiri seraya bertumpu pada tepi meja kerja, napasnya memburu dengan keringat dingin yang mulai membasahi pelipisnya. "Mas... beneran, ini beda," bisik Sinta dengan nada tercekat, matanya menatap perutnya sendiri dengan rasa ngeri yang mulai merayap di balik rasa bangganya. "Rasanya... bukan cuma mual masuk angin biasa. Kayak ada sesuatu yang berdenyut kencang di dalam sini... dingin banget, Mas. Mas Bagas ngerasa juga, kan?" Bagas tidak menjawab, namun kedua matanya tertuju lurus pada perut rata wanita di hadapannya. Dari jarak sedekat itu, ia bisa merasakan aura tak wajar—hawa dingin menusuk yang sangat ia kenali dari cincin akik hitam di jarinya. Benih Raja Gagak itu benar-benar telah hidup, berakar di dala

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status