Share

TUMBAL JANDA PERAWAN
TUMBAL JANDA PERAWAN
Author: Dre LA

BAB 1.

Author: Dre LA
last update publish date: 2026-10-12 13:39:24

"Sadar diri, Bagas!”

Gelegar suara Bu Ratna—ibu mertuanya— langsung menusuk indera pendengaran Bagas, membuat semua orang menoleh ke arahnya.

“Berapa uang yang kamu kasih, hah? Masih untung, aku kasih kamu makan ya, uang yang kamu kasih itu nggak seberapa! Uangmu nggak cukup buat beli beras, lauk, sayur!”

Suasana meja makan mendadak hening. Piring seng dibanting ke depan Bagas sampai bunyinya berdenting nyaring memekakkan telinga.

Di atas piring itu cuma ada dua biji ceker ayam pucat seperti dimasak asal-asalan, tanpa bumbu, dan tidak menggairahkan selera sama sekali. Kuahnya pun bening encer, tak ada aroma kaldu, seperti hanya diberi air saja.

“Sekarang harga bahan pokok mahal. Kamu pikir dengan uang yang kamu kasih, aku bisa masak steak wagyu, heh? Jangan banyak ngarep, Gas! Masih syukur, aku kasih kamu nasi lengkap sama lauknya. Aku ini mertua yang baik, kalau orang lain yang jadi mertua kamu, jangankan makan satu meja, ngelihat muka kamu aja udah muak! Dasar menantu nggak guna!”

Cacian, hinaan, dan kata kasar-kasar yang terlontar sudah bukan hal baru. Bagas sadar akan posisinya, tapi setiap manusia jelas memiliki batasan.

Bagas melirik sang kakak ipar, makanan di piring Nurdin beda, perbedaan itu bak bumi dan langit. Terbentang jelas, pilih kasih yang secara terang-terangan.

Di situ Nurdin, kakak iparnya yang berstatus pegawai negeri sipil menggunakan piring keramik penuh dengan potongan dada ayam goreng, montok berbumbu kuning gurih, lengkap pakai sambal terasi dan lalapan segar.

Bahkan aroma sedap menguar sampai ke indera penciuman Bagas, membuatnya menelan ludah. Air liurnya hampir tumpah sampai sang mertua kembali mengoceh.

“Makan tuh ceker!” hardik Bu Ratna sambil melirik sinis. “Makanan itu udah cocok dengan gajimu yang imut. Nggak usah banyak protes!”

“Kalau Nurdin ya jelas beda, Nurdin kan menantu kebanggaan keluarga, PNS gitu loh! Masa depannya jelas, gajinya jelas, tunjangan di hari tua juga ada! Pantes makan makanan enak. Nah kamu?” Tatapan Bu Ratna sangat menghakimi.

“Kamu itu cuma sopir ojol, gaji nggak nentu. Kadang bawa uang, kadang enggak, dan lebih seringnya bawa uang kecil. Udah hari-hari bau keringat, malu-maluin keluarga. Gitu kok masih ngarep makanan mewah. Ngaca, Gas!"

Bagas merapatkan bibir, tak membalas. Ia hanya bisa mengepalkan tangan di bawah meja sampai buku-buku jarinya memutih.

Jaket hijaunya yang pudar masih tersampir di sandaran kursi. Bagas memang hanya ojol, tapi setidaknya ia masih berkontribusi memenuhi kebutuhan rumah. Kadang mengisi token listrik, kadang membeli beras, kadang membelikan makanan kesukaan sang mertua untuk menyenangkan hati wanita paruh baya itu, tapi semua yang ia lakukan tidak pernah dianggap.

Pengorbanannya tak tampak, meski seharian ia memeras keringat, menembus panas dan debu jalanan demi mengumpulkan uang seratus lima puluh ribu untuk diserahkan ke rumah ini. Uang yang didapatnya dengan susah payah. Tapi tiap pulang, cuma hinaan yang terlempar tepat ke wajahnya.

Bagas menoleh ke samping, menatap Lina, istrinya. Berharap ada sedikit pembelaan atau rasa kasihan dari wanita yang sudah dua tahun ia nikahi itu. Bukankah selama ini ia sudah berusaha membahagiakan istrinya itu?

Namun, bukan pembelaan yang ia dapat, Lina malah melipat tangan di dada dan buang muka sambil mendengus mencibir. Seakan membenarkan semua hinaan itu.

"Nggak usah liat-liat aku kayak gitu, Mas!” sembur Lina tanpa sedikit belas kasih.

“Apa kata Ibu bener semua kok. Aku tuh sampai malu tiap kumpul keluarga sering dijadiin bahan gosip, Mas! Keluarga besarku sering ngerendahin aku karena aku nikah sama ojol!”

Bagas tersentak, tapi dia hanya diam. Jika istrinya merasa rendah karena pekerjaannya, lalu apa yang harus ia lakukan? Bagas sudah berusaha keras mencari pekerjaan lain, tapi menemukan pekerjaan itu tak semudah membalikkan tangan. Ada banyak kriteria yang harus dipenuhi, pendidikan tinggi, penampilan menarik, dan tetek-bengek yang lain.

“Mas Nurdin tiap bulan kasih Mbak Rika uang belanja berjuta-juta, beliin emas, ngajak jalan-jalan ke mal. Beli baju bagus tiap hari, beli kosmetik mahal, kalau mau beli apa-apa nggak usah mikir banyak hal. Nggak kayak aku!”

Lina meluapkan segala kekesalan yang mengendap. Hidupnya jauh lebih menderita, jauh lebih susah. Padahal ia tidak jelek-jelek amat, tapi sayang, nasibnya malah berjodoh dengan ojol. Suami yang tidak bisa memberinya kebahagiaan.

“Lah kamu? Apa yang kamu kasih?” Lina membuang napas kesal. “Cuma bisa bawa pulang uang nggak seberapa. Uang receh, lecek, bau bensin pula! Kalau tahu hidup sama kamu cuma makan ati begini, mending dari dulu aku minta cerai!"

"Lin... aku banting tulang dari subuh sampai malam juga demi kamu, demi makan kita sekeluarga," sahut Bagas pelan, menahan sesak yang membakar rongga dadanya. Menahan emosi dan perasaan rendah. Jika ia dihina oleh orang lain, Bagas masih sanggup menahannya, tapi ini istrinya sendiri.

"Halah, alasan basi!" potong Nurdin sambil mengunyah dada ayamnya santai, sengaja mengecap keras di depan Bagas. "Laki-laki itu dinilai dari isi dompetnya, Gas. Kalau cuma modal omong, modal kerja seadanya, ya tahu diri aja.”

Tawa sinis seketika pecah di meja makan. Bu Ratna, Lina, dan Nurdin saling berpandangan puas melihat Bagas terpojok tak berkutik.

“Harusnya kamu sadar diri, istri kamu nggak cuma butuh cinta, dia butuh perawatan, butuh pakaian bagus, kalau kamu nggak bisa ngasih itu semua. Itu tandanya kamu udah gagal jadi suami.” Nurdin mengulum senyum miring.

“Sekarang, nggak usah banyak omong. Makan tuh ceker, atau kalau gengsi, mending angkat kaki sana dari rumah ini!”

Bagas menatap dua ceker ayam di depannya. Rasanya bukan sekadar makanan sisa, tapi harga dirinya sebagai kepala rumah tangga yang diludahi habis-habisan. Ia merasa tidak dihargai.

Napasnya memburu. Bagas langsung berdiri sampai kursinya berderit keras. Perutnya yang tadi lapar, sekarang sudah kenyang karena hinaan dan caci maki.

“Kenapa? Mau ngambek kamu?!” bentak Bu Ratna melotot tajam. “Pergi sana sekalian bawa motor rongsokanmu itu! Malu-maluin aja. Motor butut kayak gitu dipake!”

“Cukup."

Bagas hampir kehilangan kendali, tapi dia masih bisa mengendalikan emosi.

Bagas melirik Lina, Bu Ratna dan Nurdin. Ia menyambar jaketnya, berbalik, lalu melangkah lebar keluar dari rumah tersebut tanpa menoleh lagi.

***

Bagas meminggirkan motornya di dekat emperan warung kopi pinggir jalan yang sudah sepi dan tutup.

Pria itu duduk di atas jok motornya yang robek, menatap jalanan gelap dengan napas sesak.

“Kenapa hidupku gini amat, ya?” gumam Bagas sambil memukul setang motornya pelan. Emosi, kecewa, dan rasa rendah diri bercampur menjadi satu.

“Aku memang bukan PNS, bukan pekerja kantoran, tapi bukan berarti mereka bisa nginjak-nginjak harga diriku sesuka hati!”

Hinaan dan cacian itu menghadirkan rasa putus asa dan dendam yang perlahan memenuhi dada, hingga di titik rendahnya, telinga Bagas tanpa sengaja mendengar obrolan santai dua bapak-bapak yang sedang berteduh di teras ruko kosong samping warung.

“Eh, pernah denger pesugihan tumbal di kaki Gunung Salak nggak?” bisik salah satu bapak dengan suara berat.

Bagas masih bisa mendengar suara itu meski samar-samar. Punggungnya tiba-tiba menegak, indera pendengarannya mendadak menajam.

"Yang dukunnya Mbah Jono itu, kan?" timpal temannya sambil mengisap rokok dalam-dalam.

"Iya, bener! Katanya bisa bikin cepet kaya mendadak dalam semalam tanpa perlu banting tulang kerja rodi. Tapi ya gitu, syarat tumbalnya ngeri... harus nyerahin janda perawan buat disetubuhi jin penunggunya."

Mendengar kata-kata itu, Bagas sempat tersentak. Dadanya berdegup kencang seakan ia tengah mendengar sesuatu yang tidak seharusnya.

‘Kaya mendadak? Kalau aku kaya, bukankah aku bisa membalas mereka!?’

Namun, sedetik kemudian Bagas menggelengkan kepalanya keras-keras, dia pun segera mengusap wajahnya.

“Istighfar, Bagas... jangan gila,” gumamnya mengingatkan diri sendiri. “Hari gini nggak ada ceritanya dukun-dukunan!”

“Tapi gimana kalau itu beneran ada?!”

Bagas terdiam sejenak. Diam-diam hatinya tertarik, tapi akal sehatnya terus menahannya.

“Ah! Sial! Sadar, Gas! Sebajingan apa pun mereka menghina, jangan sampai memilih jalan yang salah. Itu musyrik dan jual jiwa ke iblis. Ingat, di atas langit, masih ada Tuhan, aku masih bisa cari rezeki halal buat buktiin ke Lina."

Bagas menarik napas panjang, berusaha menepis godaan sesat pesugihan itu. Meski hatinya penuh dengan kekecewaan, ia tak ingin mengambil jalan pintas. Ia masih memikirkan istrinya.

Bagas memutuskan untuk pulang ke rumah, berniat bicara baik-baik dengan Lina dan melupakan pertengkaran di meja makan tadi.

Namun....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TUMBAL JANDA PERAWAN    Bab 7.

    “Terserah. Ambil apa aja yang kalian mau, hari ini aku yang traktir!” sahut Bagas tanpa menoleh, matanya terus mengunci tatapan Sinta. Sinta mematung, tak percaya. Bagaimana bisa Bagas yang dikenalnya ojol kere tapi punya uang segepok? Matanya melotot lebar menatap tumpukan uang merah di depannya. Sikap judes dan cibirannya langsung amblas tanpa sisa, berganti dengan rasa takjub campur malu yang membuat pipinya merona. Ia menelan ludah susah payah. Uang di meja itu lebih dari cukup untuk menutup omzet warungnya selama dua hari penuh! “E-eh... Mas Bagas... ya ampun, kok repot-repot banget sih, Mas?” Nada suara Sinta mendadak berubah seratus delapan puluh derajat, begitu manis dan mendesah manja. “Duduk dulu, Mas... biar Sinta bikinin kopi spesial khusus buat Mas Bagas ya...” Uang mampu mengubah segalanya, dan itu juga terjadi pada Lina. Istrinya juga berubah karena uang. Karena lembar kertas itu, Bagas dicampakkan, dikhianati, bahkan diinjak-injak harga dirinya. Tapi sekarang,

  • TUMBAL JANDA PERAWAN    Bab 6.

    Siang itu, matahari menyengat ubun-ubun di kawasan pangkalan truk. Debu jalanan beterbangan tertiup angin panas, membuat suasana sekitar kian gerah dan pengap. Warung kopi bambu milik Sinta tampak ramai dipenuhi sopir-sopir berbadan legam dan para pemuda kampung yang sengaja nongkrong berdesakan. Mereka datang hanya demi menikmati lekuk tubuh sintal sang janda pirang. Memesan satu cangkir kopi hitam seharga empat ribu perak, mereka sanggup bertahan duduk berjam-jam sambil memandangi tubuh Sinta yang sengaja dibalut pakaian serba minim. Bagas memarkir motor matik bututnya agak jauh di bawah naungan pohon rindang. Pria itu menatap warung bambu dari kejauhan dengan tarikan napas tertata rapi. Tangan kanannya merogoh saku celana jeans kusam, menggenggam erat amplop cokelat kecil berisi sisa tabungan terakhir. Uang darurat sebesar satu juta rupiah—dana simpanan yang rencananya mau dipakai mencicil motor dan mencari kontrakan agar tak lagi hidup serumah dengan mertua yang gemar mencaci

  • TUMBAL JANDA PERAWAN    Bab 5.

    "Apa pilihan ini sudah benar atau tidak?" Sepanjang jalan, kalimat itu terus memenuhi kepala Bagas. Jujur, ia masih takut Tuhan, tapi dendam dan rasa sakitnya melampui batas. Hingga akhirnya, deru motor butut Bagas akhirnya mati tepat di ujung jalan setapak lereng Gunung Salak. Pria itu memberanikan tekad, tak ada jalan kembali. Kabut tebal yang turun pelan-pelan, menusuk kulitnya yang cuma terbalut jaket ojol kusam. Bau tanah basah sisa hujan campur dedaunan busuk membuat bulu kuduk berdiri, tapi semua itu tidak akan menghentikan langkahnya. Bahkan dinginnya hutan tidak sebanding dengan sakit hati Bagas. “Nggak. Aku harus kaya!” Bagas menanamkan kata itu dalam-dalam. Demi mendapatkan kekayaan yang ia ingin, akal sehatnya tak mampu berpikir secara rasional. Dari petunjuk obrolan bapak-bapak di warung kopi, ia nekat menerobos semak belukar, membiarkan tubuhnya tertusuk duri-duri kecil, sampai akhirnya berdiri di depan sebuah gubuk kayu reyot di tengah lebatnya pepohonan y

  • TUMBAL JANDA PERAWAN    Bab 4.

    “Diam! Tutup mulutmu, Bagas!” sergah Bu Ratna jauh lebih galak. “Nurdin itu laki-laki, wajar kalau dia butuh pelampiasan apalagi Rika jauh! Daripada dia beli di luar sana, belum tentu ceweknya bersih, gimana kalau punya penyakit? Nggak cuma itu aja, Nurdin itu PNS, kalau sampai ketahuan sama cewek nggak bener, nanti ngaruh di pekerjaan dia! Ibu ini nggak mau sampai menantu Ibu kenapa-kenapa, dan Ibu nggak mau rumah tangga Rika dan Nurdin malah dirusak sama cewek di luar sana!” “Itu pemikiran yang salah, Bu!” Bagas jelas tak bisa menerima pendapat mertuanya yang melenceng. “Salah atau tidak, bukan kamu yang menilai! Sekarang minggir sana, jangan kotori ruang makan ini! Baumu itu loh, nyebar kemana-mana. Pantes aja, Lina lebih suka sama Nurdin, dia wangi. Nggak kayak kamu, bau keringat, bensin, apek, campur-campur, nggak jelas!" Di tengah amarah yang membakar dada, Bagas bergegas menyusul Lina yang sedang berada di dalam kamar tidur mereka. Ia langsung membanting pintu kamar, m

  • TUMBAL JANDA PERAWAN    Bab 3.

    “Bahkan di ranjang pun nggak bisa muasin dia! Lina sendiri yang datang, dia sendiri yang menawarkan diri, dan ya, aku cuma menjawab apa yang dia mau. Dia minta dijamah, minta dibiayain hidupnya! Dan tahu kenapa? Itu karena kamu nggak sanggup ngasih kehidupan yang Lina mau!” Lina yang meringkuk di sudut kasur tak berani menatap mata Bagas, tapi bibirnya tetap menggumam sinis dari balik selimut. “Pergi kamu, Mas... aku nggak sudi punya suami sampah kayak kamu ...” Kata-kata itu bagai belati tajam yang dihujamkan berulang kali tepat di ulu hati Bagas. Seluruh tulang di tubuhnya terasa remuk, hidupnya hancur, sehancur-hancurnya. Cinta, ketulusan, dan pengorbanan banting tulang yang ia berikan selama bertahun-tahun dibalas dengan pengkhianatan paling hina di bawah selimut rumah mertuanya sendiri. Bagas gelap mata, ia mengepalkan tinjunya kuat-kuat, melangkah maju hendak menghajar wajah sok Nurdin. "Mati! Mati saja kamu, Bangsat!" Tinju Bagas terangkat, tetapi sebelum tinju itu m

  • TUMBAL JANDA PERAWAN    Bab 2.

    Ketika sampai rumah, saat Bagas melangkah perlahan ke pintu depan dan melepas helm kusamnya, dia merasa aneh saat melihat pintu kayu jati itu tidak terkunci rapat, melainkan sedikit renggang menyisakan celah tipis. "Ini aneh," gumam Bagas sambil mengernyitkan dahi. Biasanya Bu Ratna cerewet sekali soal mengunci pintu rumah sebelum tidur. Tanpa prasangka apa-apa, Bagas mendorong daun pintu pelan-pelan tanpa menimbulkan decitan. Hawa dingin dari lantai ruang tamu langsung menyapa telapak kakinya yang bertelanjang. Rumah itu sunyi senyap, hanya denting jam samar yang terdengar. Namun, saat Bagas melangkahkan kaki melewati lorong menuju kamarnya, telinganya mendadak menangkap keanehan. Perasaannya mulai tak tenang. Bagas menatap tajam sekeliling, suara itu bukan dari kamar ibunya, bukan pula dari kamarnya sendiri. Suara itu berasal dari kamar tamu—kamar ber-AC yang biasanya hanya dipakai keluarga besar kalau sedang menginap di akhir pekan. Kriet... kriet... Derit ranjang ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status