Share

Bab 2.

Author: Dre LA
last update publish date: 2026-10-12 13:47:16

Ketika sampai rumah, saat Bagas melangkah perlahan ke pintu depan dan melepas helm kusamnya, dia merasa aneh saat melihat pintu kayu jati itu tidak terkunci rapat, melainkan sedikit renggang menyisakan celah tipis.

"Ini aneh," gumam Bagas sambil mengernyitkan dahi.

Biasanya Bu Ratna cerewet sekali soal mengunci pintu rumah sebelum tidur. Tanpa prasangka apa-apa, Bagas mendorong daun pintu pelan-pelan tanpa menimbulkan decitan. Hawa dingin dari lantai ruang tamu langsung menyapa telapak kakinya yang bertelanjang.

Rumah itu sunyi senyap, hanya denting jam samar yang terdengar. Namun, saat Bagas melangkahkan kaki melewati lorong menuju kamarnya, telinganya mendadak menangkap keanehan.

Perasaannya mulai tak tenang. Bagas menatap tajam sekeliling, suara itu bukan dari kamar ibunya, bukan pula dari kamarnya sendiri. Suara itu berasal dari kamar tamu—kamar ber-AC yang biasanya hanya dipakai keluarga besar kalau sedang menginap di akhir pekan.

Kriet... kriet...

Derit ranjang kayu yang berirama konstan membelah keheningan malam. Degup jantung Bagas berpacu bak irama drum yang menghentak lantang.

“Ah... Ah, Mas. Terus, Mas. ahhh...."

Suara desahan tertahan dan napas memburu terdengar kian jelas di balik pintu kamar tamu yang terbuka selebar dua jari.

Jantung Bagas semakin berdegup kencang tanpa kendali. Darahnya berdesir panas, bercampur dengan firasat buruk yang mendadak mencengkeram dadanya.

“Kamu hebat, Sayang!" Suara lelaki yang terdengar familiar tertangkap indera pendengaran Bagas, membuat pria itu mempercepat langkahnya.

“Ahhh.... aku suka, Mas. Tusukanmu luar biasa, ahh!"

Langkah Bagas terhenti sejenak, dia jelas mengenali suara itu, tapi berusaha tak percaya dengan apa yang dia dengar.

Matanya menyipit, mengintip ke dalam ruangan temaram yang hanya diterangi cahaya remang-remang lampu tidur di atas nakas.

Dan pada detik itu juga, seluruh dunia Bagas serasa runtuh menghantam bumi, saat melihat siapa yang ada yang di dalam!

“Kamu lebih suka milikku ini, kan, Sayang?”

Di atas ranjang empuk berseprai merah marun, dua tubuh tanpa sehelai benang pun tengah bergumul buas. Pakaian dinas PNS warna cokelat teronggok mengenaskan di lantai dingin, bercampur baur dengan daster tidur milik wanita yang sangat ia kenal.

Itu benar-benar istrinya. Lina.

Bagas tak mungkin salah mengenali sosok wanita yang membersamai hidupnya. Dan wanita itu sedang berbaring pasrah dengan rambut berantakan di atas bantal itu.

Istri yang dinikahinya dua tahun lalu dengan maskawin jerih payahnya sendiri. Wajah Lina memerah penuh gairah, matanya terpejam sayup dengan bibir bergincu tipis yang melenguh keenakan. Jemari lentik Lina mencengkeram erat punggung kekar pria yang berada di atasnya.

Pria yang sedang menindih Lina tanpa ampun, menggenjot tubuh sang istri dengan seringai kepuasan... adalah Nurdin. Kakak iparnya sendiri! Suami dari Rika, kakak kandung Lina!

“Mas Nurdin... nghhh... pelan-pelan, Mas... nanti Bagas mendadak pulang...” bisik Lina mendesah manja seraya mengalungkan kedua kakinya di pinggang Nurdin.

Nurdin tertawa mengejek, napasnya terengah-engah tapi gerakannya justru semakin liar dan kasar di atas tubuh Lina.

“Ngapain mikirin si gembel bau asem itu, Sayang?" sahut Nurdin pongah, suaranya terdengar sangat jelas di telinga Bagas.

“Palingan si tolol itu lagi nangis sesenggukan di pinggir jalan sambil meluk motor bututnya.”

Lina tertawa kecil alih-alih membela Bagas. Padahal pernikahan mereka diawali dengan manis, tapi entah sejak kapan semua berubah.

“Lagian yang bisa bikin kamu mendesah puas dan menuhin segala kebutuhan mewahmu itu aku, Sayang. Bukan ojek payah yang cuma bisa bawa recehan lecek!"

Lina mendongakkan kepalanya, mendesah keras seiring gerakan Nurdin yang kian menuntut. “Bener banget. Mas Nurdin yang hebat... Mas Bagas nggak pernah bisa kayak gini... aku jijik disentuh dia...”

“Jelaslah, Sayang. Pecundang seperti dia mana paham cara manjain perempuan secantik kamu,” seringai Nurdin kian buas. "Mulai sekarang kamu punyaku. Biar si Bagas jadi pembantu di rumah ini seumur hidup!”

BRAAAKKK!

Pintu kamar tamu itu ditendang hingga menghantam dinding beton dengan suara menggelegar. Suara yang memecah keheningan di rumah tersebut.

"B-Bagas?!" pekik Lina terbata-bata, ketakutan melihat suaminya berdiri di sana bagai iblis pencabut nyawa.

Aktivitas menjijikkan di atas ranjang itu seketika terhenti. Lina menjerit histeris sambil buru-buru menarik selimut tebal menutupi dadanya, wajahnya langsung pucat pasi seperti mayat. Malu dan takut setengah mati.

Di ambang pintu, Bagas berdiri mematung. Tubuhnya bergetar hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rahangnya mengeras sampai otot pipinya berkedut menahan luapan amarah dan rasa sakit yang menyayat jiwa raganya. Matanya menyala merah menatap tajam ke arah dua manusia laknat di atas kasur itu.

Namun, Nurdin tidak panik sama sekali. Pria PNS bertubuh gempal itu hanya berdecak kesal karena kenikmatannya diganggu. Dengan santai tanpa rasa bersalah atau takut ketahuan seisi orang rumah, Nurdin bangkit dari ranjang, meraih handuk mandi dan melilitkannya di pinggangnya yang berlemak.

Nurdin tersenyum sinis, melangkah mendekati Bagas dengan dagu terangkat pongah seakan menunjukkan betapa tinggi posisinya di rumah tersebut.

“Oh, udah balik, Gas?” celetuk Nurdin tanpa ada guratan malu atau pun takut. Matanya menatap Bagas dari atas ke bawah penuh cemoohan, tak sadar bahwa yang ia lakukan jauh menjijikan. “Bagus deh kalau udah liat semuanya sendiri. Biar kamu sadar diri dan nggak mimpi ketinggian!” Ia berdecih, alisnya naik setengah.

“B-bajingan ...” Suara Bagas bergetar oleh kemarahan. “Kalian berdua... Benar-benar nggak tahu diri, munafik, iblis! Lina itu masih istriku! Dan kamu... Kamu kakak iparnya sendiri, suami Mbak Rika, Anjing!”

"Istri kamu?" potong Nurdin tertawa terbahak-bahak, tawanya terdengar begitu merendahkan di telinga Bagas. “Ngaca, bego! Udah bener ngasih nafkah Lina? Udah bisa ngebeliin apa pun yang Lina mau?!”

“Sadar, sadar, tolol! Ngasih nafkah aja nggak bener, belagu banget sebut Lina istri!” sentak Nurdin, menunjuk-nunjuk Bagas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TUMBAL JANDA PERAWAN    Bab 7.

    “Terserah. Ambil apa aja yang kalian mau, hari ini aku yang traktir!” sahut Bagas tanpa menoleh, matanya terus mengunci tatapan Sinta. Sinta mematung, tak percaya. Bagaimana bisa Bagas yang dikenalnya ojol kere tapi punya uang segepok? Matanya melotot lebar menatap tumpukan uang merah di depannya. Sikap judes dan cibirannya langsung amblas tanpa sisa, berganti dengan rasa takjub campur malu yang membuat pipinya merona. Ia menelan ludah susah payah. Uang di meja itu lebih dari cukup untuk menutup omzet warungnya selama dua hari penuh! “E-eh... Mas Bagas... ya ampun, kok repot-repot banget sih, Mas?” Nada suara Sinta mendadak berubah seratus delapan puluh derajat, begitu manis dan mendesah manja. “Duduk dulu, Mas... biar Sinta bikinin kopi spesial khusus buat Mas Bagas ya...” Uang mampu mengubah segalanya, dan itu juga terjadi pada Lina. Istrinya juga berubah karena uang. Karena lembar kertas itu, Bagas dicampakkan, dikhianati, bahkan diinjak-injak harga dirinya. Tapi sekarang,

  • TUMBAL JANDA PERAWAN    Bab 6.

    Siang itu, matahari menyengat ubun-ubun di kawasan pangkalan truk. Debu jalanan beterbangan tertiup angin panas, membuat suasana sekitar kian gerah dan pengap. Warung kopi bambu milik Sinta tampak ramai dipenuhi sopir-sopir berbadan legam dan para pemuda kampung yang sengaja nongkrong berdesakan. Mereka datang hanya demi menikmati lekuk tubuh sintal sang janda pirang. Memesan satu cangkir kopi hitam seharga empat ribu perak, mereka sanggup bertahan duduk berjam-jam sambil memandangi tubuh Sinta yang sengaja dibalut pakaian serba minim. Bagas memarkir motor matik bututnya agak jauh di bawah naungan pohon rindang. Pria itu menatap warung bambu dari kejauhan dengan tarikan napas tertata rapi. Tangan kanannya merogoh saku celana jeans kusam, menggenggam erat amplop cokelat kecil berisi sisa tabungan terakhir. Uang darurat sebesar satu juta rupiah—dana simpanan yang rencananya mau dipakai mencicil motor dan mencari kontrakan agar tak lagi hidup serumah dengan mertua yang gemar mencaci

  • TUMBAL JANDA PERAWAN    Bab 5.

    "Apa pilihan ini sudah benar atau tidak?" Sepanjang jalan, kalimat itu terus memenuhi kepala Bagas. Jujur, ia masih takut Tuhan, tapi dendam dan rasa sakitnya melampui batas. Hingga akhirnya, deru motor butut Bagas akhirnya mati tepat di ujung jalan setapak lereng Gunung Salak. Pria itu memberanikan tekad, tak ada jalan kembali. Kabut tebal yang turun pelan-pelan, menusuk kulitnya yang cuma terbalut jaket ojol kusam. Bau tanah basah sisa hujan campur dedaunan busuk membuat bulu kuduk berdiri, tapi semua itu tidak akan menghentikan langkahnya. Bahkan dinginnya hutan tidak sebanding dengan sakit hati Bagas. “Nggak. Aku harus kaya!” Bagas menanamkan kata itu dalam-dalam. Demi mendapatkan kekayaan yang ia ingin, akal sehatnya tak mampu berpikir secara rasional. Dari petunjuk obrolan bapak-bapak di warung kopi, ia nekat menerobos semak belukar, membiarkan tubuhnya tertusuk duri-duri kecil, sampai akhirnya berdiri di depan sebuah gubuk kayu reyot di tengah lebatnya pepohonan y

  • TUMBAL JANDA PERAWAN    Bab 4.

    “Diam! Tutup mulutmu, Bagas!” sergah Bu Ratna jauh lebih galak. “Nurdin itu laki-laki, wajar kalau dia butuh pelampiasan apalagi Rika jauh! Daripada dia beli di luar sana, belum tentu ceweknya bersih, gimana kalau punya penyakit? Nggak cuma itu aja, Nurdin itu PNS, kalau sampai ketahuan sama cewek nggak bener, nanti ngaruh di pekerjaan dia! Ibu ini nggak mau sampai menantu Ibu kenapa-kenapa, dan Ibu nggak mau rumah tangga Rika dan Nurdin malah dirusak sama cewek di luar sana!” “Itu pemikiran yang salah, Bu!” Bagas jelas tak bisa menerima pendapat mertuanya yang melenceng. “Salah atau tidak, bukan kamu yang menilai! Sekarang minggir sana, jangan kotori ruang makan ini! Baumu itu loh, nyebar kemana-mana. Pantes aja, Lina lebih suka sama Nurdin, dia wangi. Nggak kayak kamu, bau keringat, bensin, apek, campur-campur, nggak jelas!" Di tengah amarah yang membakar dada, Bagas bergegas menyusul Lina yang sedang berada di dalam kamar tidur mereka. Ia langsung membanting pintu kamar, m

  • TUMBAL JANDA PERAWAN    Bab 3.

    “Bahkan di ranjang pun nggak bisa muasin dia! Lina sendiri yang datang, dia sendiri yang menawarkan diri, dan ya, aku cuma menjawab apa yang dia mau. Dia minta dijamah, minta dibiayain hidupnya! Dan tahu kenapa? Itu karena kamu nggak sanggup ngasih kehidupan yang Lina mau!” Lina yang meringkuk di sudut kasur tak berani menatap mata Bagas, tapi bibirnya tetap menggumam sinis dari balik selimut. “Pergi kamu, Mas... aku nggak sudi punya suami sampah kayak kamu ...” Kata-kata itu bagai belati tajam yang dihujamkan berulang kali tepat di ulu hati Bagas. Seluruh tulang di tubuhnya terasa remuk, hidupnya hancur, sehancur-hancurnya. Cinta, ketulusan, dan pengorbanan banting tulang yang ia berikan selama bertahun-tahun dibalas dengan pengkhianatan paling hina di bawah selimut rumah mertuanya sendiri. Bagas gelap mata, ia mengepalkan tinjunya kuat-kuat, melangkah maju hendak menghajar wajah sok Nurdin. "Mati! Mati saja kamu, Bangsat!" Tinju Bagas terangkat, tetapi sebelum tinju itu m

  • TUMBAL JANDA PERAWAN    Bab 2.

    Ketika sampai rumah, saat Bagas melangkah perlahan ke pintu depan dan melepas helm kusamnya, dia merasa aneh saat melihat pintu kayu jati itu tidak terkunci rapat, melainkan sedikit renggang menyisakan celah tipis. "Ini aneh," gumam Bagas sambil mengernyitkan dahi. Biasanya Bu Ratna cerewet sekali soal mengunci pintu rumah sebelum tidur. Tanpa prasangka apa-apa, Bagas mendorong daun pintu pelan-pelan tanpa menimbulkan decitan. Hawa dingin dari lantai ruang tamu langsung menyapa telapak kakinya yang bertelanjang. Rumah itu sunyi senyap, hanya denting jam samar yang terdengar. Namun, saat Bagas melangkahkan kaki melewati lorong menuju kamarnya, telinganya mendadak menangkap keanehan. Perasaannya mulai tak tenang. Bagas menatap tajam sekeliling, suara itu bukan dari kamar ibunya, bukan pula dari kamarnya sendiri. Suara itu berasal dari kamar tamu—kamar ber-AC yang biasanya hanya dipakai keluarga besar kalau sedang menginap di akhir pekan. Kriet... kriet... Derit ranjang ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status