LOGIN“Bahkan di ranjang pun nggak bisa muasin dia! Lina sendiri yang datang, dia sendiri yang menawarkan diri, dan ya, aku cuma menjawab apa yang dia mau. Dia minta dijamah, minta dibiayain hidupnya! Dan tahu kenapa? Itu karena kamu nggak sanggup ngasih kehidupan yang Lina mau!”
Lina yang meringkuk di sudut kasur tak berani menatap mata Bagas, tapi bibirnya tetap menggumam sinis dari balik selimut. “Pergi kamu, Mas... aku nggak sudi punya suami sampah kayak kamu ...” Kata-kata itu bagai belati tajam yang dihujamkan berulang kali tepat di ulu hati Bagas. Seluruh tulang di tubuhnya terasa remuk, hidupnya hancur, sehancur-hancurnya. Cinta, ketulusan, dan pengorbanan banting tulang yang ia berikan selama bertahun-tahun dibalas dengan pengkhianatan paling hina di bawah selimut rumah mertuanya sendiri. Bagas gelap mata, ia mengepalkan tinjunya kuat-kuat, melangkah maju hendak menghajar wajah sok Nurdin. "Mati! Mati saja kamu, Bangsat!" Tinju Bagas terangkat, tetapi sebelum tinju itu mendarat, Nurdin dengan sigap mendorong dada Bagas dengan keras hingga tubuh kurus Bagas terhuyung menabrak kusen pintu. “Beraninya kamu, kamu pikir kamu siapa hah?!" bentak Nurdin matanya melotot mengancam. “Kalau sampe aku lecet, aku pastikan malam ini, kamu mendekap di penjara!” Bagas mendongak, menatap pria gempal dengan emosi yang terus meluap. “Denger Gas, jangan macam-macam! Siapa yang bakal percaya sama omongan ojol miskin? Kamu nggak bakal menang ngelawan omongan PNS terpandang kayak aku! Ibu mertua kita pasti belain aku bukan kamu, menantu miskin!" Nurdin melangkah mendekat, lalu menepuk-nepuk pipi Bagas dengan ujung telunjuknya yang berminyak secara kasar. “Dengerin baik-baik ya, pecundang,” bisik Nurdin dengan nada penuh racun dan seringai kejam. “Mulai malam ini, tahu diri! Rumah ini milik ibu mertua, Lina, istri yang kamu pertahanin, sekarang udah jadi milik aku. Kalau kamu masih mau numpang hidup dan makan ceker ayam sisa, tutup mulut rapat-rapat. Tapi kalau mau pergi... pergi sekarang juga! Jangan pernah bawa sepeser pun barang dari rumah ini!” Nurdin kembali tertawa terbahak-bahak, lalu berbalik dan santai duduk di pinggir ranjang sambil merangkul pundak Lina yang masih telanjang. Bagas berdiri mematung. Air matanya menetes tanpa suara membasahi pipinya yang kusam. Lututnya gemetar lemas. Tak pernah terbersit, pernikahan dua tahun, pada akhirnya berakhir dengan cara paling menyakitkan. “Ngapain masih di sini?” Nurdin menyipit tajam, sementara Lina terus mengulum senyum. “Mau lihat kami mesra-mesraan?!” Bagas tidak membalas. Ia tidak berteriak lagi. Jiwanya serasa ditarik paksa keluar dari raganya, meninggalkan cangkang kosong yang hancur berkeping-keping. Bahkan ia tidak tahu bagaimana menyatukan serpihan jiwanya yang terserak. Luka hatinya amat dalam. Dengan langkah kaki yang limbung dan sempoyongan, Bagas berbalik. Ia berjalan menyusuri lorong rumah yang dingin bagai kuburan, melangkah keluar pintu depan, dan menembus gelapnya malam. Apakah semua akan berakhir seperti ini? Di bawah langit pekat, tak ada bintang, tak ada bulan, malam itu benar-benar suram. Sesuram kehidupan Bagas. “Lina!” Bagas duduk tersungkur di tanah basah di samping motor bututnya. Ia mencengkeram dadanya yang sakit luar biasa sampai sulit bernapas. “Kenapaa ...?” rintih Bagas terisak getir, air matanya tumpah ruah mencium tanah becek. “Kenapa orang baik selalu diinjak-injak? Kenapa orang miskin halal untuk dihancurkan sehina ini?!” Bayangan Nurdin yang menindih Lina, senyum puas sang istri saat dikhianati, dan cemoohan seisi keluarga Broto berputar bagai neraka di kepalanya. Bagai palu yang terus memukul kepalanya keras. Harusnya Bagas sadar, harusnya sejak dulu ia menyerah, tapi ia malah menutup mata akan semua cacian dan hinaan, ia menahan semuanya sebab percaya bahwa masih ada cinta di hati sang istri. Percaya bahwa pernikahan mereka masih bisa diselamatkan. Namun ia bodoh. Terlalu bodoh. Ingatannya mendadak melayang kembali pada bisikan dua orang pria di warung kopi tadi siang. Gunung Salak... Mbah Jono... pesugihan Raja Gagak... tumbal janda perawan... kaya mendadak dalam semalam... Balas dendam... *** Suasana pagi di rumah keluarga Broto terasa begitu menyesakkan dada. Bagas tetap kembali ke rumah itu, meski harga dirinya telah porak-poranda. Namun ia tak memiliki tempat lain selain rumah istrinya. Bagas terdiam, bau harum nasi goreng dan kopi panas tercium dari arah dapur, tapi di tenggorokan Bagas, semuanya terasa seperti menelan segenggam beling. “Pagi-pagi tuh kasih duit yang banyak, bukannya malah masang wajah nggak ngenakin gitu!” semprot Bu Ratna tanpa tedeng-aling-aling. “Dasar nggak tahu diri, nggak tahu diuntung!” Bagas duduk di sudut meja makan, tak ada apa pun di depan matanya. Hanya segelas air putih yang tersisa setengah. Bagas menatap mertuanya, mata merahnya masih sembap akibat tak tidur semalaman. Bu Ratna yang membawa teko kopi, hanya melirik Bagas dengan pandangan menjijikkan. Baginya, keberadaan menantu miskinnya sangat mengganggu, tapi mau bagaimana lagi, meski tidak suka, Bagas masih memberikan kontribusi, walau sedikit. Bagas menggenggam gelas kuat, suaranya parau dan bergetar. “Bu, tadi malam... Mas Nurdin sama Lina tidur bareng di kamar tamu.” Bukannya kaget atau merasa bersalah, Bu Ratna malah tertawa mencemooh sambil meletakkan cangkir kopi ke meja dengan kasar. “Ya terus kenapa?” Bagas tampak kaget mendengar jawaban sang mertua yang enteng, bahkan tak ada reaksi apa-apa di wajah wanita paruh baya itu. “Bu,” Bagas menatap lurus. “Mereka berzina, mereka—” “Memangnya kenapa? Gas, kamu pikir siapa yang ngizinin Nurdin tidur di situ?!” bentak Bu Ratna santai, sama sekali tak punya urat malu. “Satu rumah ini juga sudah tahu dari lama! Cuma kamu aja yang tolol dan nggak peka! Nurdin itu menantu idaman, uangnya banyak, royal ke keluarga. Ibu nggak ada masalah sama sekali, orang Lina juga mau. Dia nggak kepaksa.” “Lagian apa masalahnya? Lina juga bahagia. Dia bisa beli apa-apa, beli yang dia mau. Daripada nunggu kamu yang cuma ojol, uangnya nggak jelas ya mending sama Nurdin kan? Kamu pikir anakku nggak butuh seneng?” Dada Bagas serasa dihantam palu godam. 'Satu rumah sudah tahu?' Artinya, selama ini ia dipermainkan bagai badut dungu di rumah ini. Dipermainkan oleh istrinya sendiri, oleh mertua yang dikiranya hanya kejam di mulut, tapi ternyata jauh lebih brengsek. “Apa Mbak Rika tahu?” Bagas masih menggenggam gelas yang sama, menggenggam kuat-kuat seiring dengan emosi yang terus tumpah. “Itu bukan urusanmu, Gas!” jawab Bu Ratna gugup. Bagas menyipit tajam, dari reaksi mertuanya, ia bisa menyimpulkan satu hal. Mbak Rika—istri sah Nurdin yang kebetulan seorang perawat dan terkadang dinas di luar kota berbulan-bulan, ternyata tidak mengetahui kebusukan keluarganya sendiri. Tidak tahu betapa munafik saudari dan ibunya sendiri. Kesibukannya bekerja, mencari nafkah halal telah dimanfaatkan oleh suaminya. Posisi Mbak Rika yang sekarang LDR, karena ditugaskan di luar kota, menjadi momen yang dimanfaatkan oleh dua bajingan tak tahu diri. Nurdin bebas menggarap adik iparnya sendiri dengan restu sang ibu mertua! “Kalian gila ...!” sentak Bagas, tubuhnya gemetar hebat menahan amarah yang menggelegak. "Mbak Rika kerja pontang-panting di luar kota, banting tulang, tapi suaminya malah kalian biarin tidur sama adiknya sendiri?! Apa Ibu sudah nggak waras? Hanya perkara jabatan, Ibu sampai nggak bisa bedain mana benar dan tidak?!”“Terserah. Ambil apa aja yang kalian mau, hari ini aku yang traktir!” sahut Bagas tanpa menoleh, matanya terus mengunci tatapan Sinta. Sinta mematung, tak percaya. Bagaimana bisa Bagas yang dikenalnya ojol kere tapi punya uang segepok? Matanya melotot lebar menatap tumpukan uang merah di depannya. Sikap judes dan cibirannya langsung amblas tanpa sisa, berganti dengan rasa takjub campur malu yang membuat pipinya merona. Ia menelan ludah susah payah. Uang di meja itu lebih dari cukup untuk menutup omzet warungnya selama dua hari penuh! “E-eh... Mas Bagas... ya ampun, kok repot-repot banget sih, Mas?” Nada suara Sinta mendadak berubah seratus delapan puluh derajat, begitu manis dan mendesah manja. “Duduk dulu, Mas... biar Sinta bikinin kopi spesial khusus buat Mas Bagas ya...” Uang mampu mengubah segalanya, dan itu juga terjadi pada Lina. Istrinya juga berubah karena uang. Karena lembar kertas itu, Bagas dicampakkan, dikhianati, bahkan diinjak-injak harga dirinya. Tapi sekarang,
Siang itu, matahari menyengat ubun-ubun di kawasan pangkalan truk. Debu jalanan beterbangan tertiup angin panas, membuat suasana sekitar kian gerah dan pengap. Warung kopi bambu milik Sinta tampak ramai dipenuhi sopir-sopir berbadan legam dan para pemuda kampung yang sengaja nongkrong berdesakan. Mereka datang hanya demi menikmati lekuk tubuh sintal sang janda pirang. Memesan satu cangkir kopi hitam seharga empat ribu perak, mereka sanggup bertahan duduk berjam-jam sambil memandangi tubuh Sinta yang sengaja dibalut pakaian serba minim. Bagas memarkir motor matik bututnya agak jauh di bawah naungan pohon rindang. Pria itu menatap warung bambu dari kejauhan dengan tarikan napas tertata rapi. Tangan kanannya merogoh saku celana jeans kusam, menggenggam erat amplop cokelat kecil berisi sisa tabungan terakhir. Uang darurat sebesar satu juta rupiah—dana simpanan yang rencananya mau dipakai mencicil motor dan mencari kontrakan agar tak lagi hidup serumah dengan mertua yang gemar mencaci
"Apa pilihan ini sudah benar atau tidak?" Sepanjang jalan, kalimat itu terus memenuhi kepala Bagas. Jujur, ia masih takut Tuhan, tapi dendam dan rasa sakitnya melampui batas. Hingga akhirnya, deru motor butut Bagas akhirnya mati tepat di ujung jalan setapak lereng Gunung Salak. Pria itu memberanikan tekad, tak ada jalan kembali. Kabut tebal yang turun pelan-pelan, menusuk kulitnya yang cuma terbalut jaket ojol kusam. Bau tanah basah sisa hujan campur dedaunan busuk membuat bulu kuduk berdiri, tapi semua itu tidak akan menghentikan langkahnya. Bahkan dinginnya hutan tidak sebanding dengan sakit hati Bagas. “Nggak. Aku harus kaya!” Bagas menanamkan kata itu dalam-dalam. Demi mendapatkan kekayaan yang ia ingin, akal sehatnya tak mampu berpikir secara rasional. Dari petunjuk obrolan bapak-bapak di warung kopi, ia nekat menerobos semak belukar, membiarkan tubuhnya tertusuk duri-duri kecil, sampai akhirnya berdiri di depan sebuah gubuk kayu reyot di tengah lebatnya pepohonan y
“Diam! Tutup mulutmu, Bagas!” sergah Bu Ratna jauh lebih galak. “Nurdin itu laki-laki, wajar kalau dia butuh pelampiasan apalagi Rika jauh! Daripada dia beli di luar sana, belum tentu ceweknya bersih, gimana kalau punya penyakit? Nggak cuma itu aja, Nurdin itu PNS, kalau sampai ketahuan sama cewek nggak bener, nanti ngaruh di pekerjaan dia! Ibu ini nggak mau sampai menantu Ibu kenapa-kenapa, dan Ibu nggak mau rumah tangga Rika dan Nurdin malah dirusak sama cewek di luar sana!” “Itu pemikiran yang salah, Bu!” Bagas jelas tak bisa menerima pendapat mertuanya yang melenceng. “Salah atau tidak, bukan kamu yang menilai! Sekarang minggir sana, jangan kotori ruang makan ini! Baumu itu loh, nyebar kemana-mana. Pantes aja, Lina lebih suka sama Nurdin, dia wangi. Nggak kayak kamu, bau keringat, bensin, apek, campur-campur, nggak jelas!" Di tengah amarah yang membakar dada, Bagas bergegas menyusul Lina yang sedang berada di dalam kamar tidur mereka. Ia langsung membanting pintu kamar, m
“Bahkan di ranjang pun nggak bisa muasin dia! Lina sendiri yang datang, dia sendiri yang menawarkan diri, dan ya, aku cuma menjawab apa yang dia mau. Dia minta dijamah, minta dibiayain hidupnya! Dan tahu kenapa? Itu karena kamu nggak sanggup ngasih kehidupan yang Lina mau!” Lina yang meringkuk di sudut kasur tak berani menatap mata Bagas, tapi bibirnya tetap menggumam sinis dari balik selimut. “Pergi kamu, Mas... aku nggak sudi punya suami sampah kayak kamu ...” Kata-kata itu bagai belati tajam yang dihujamkan berulang kali tepat di ulu hati Bagas. Seluruh tulang di tubuhnya terasa remuk, hidupnya hancur, sehancur-hancurnya. Cinta, ketulusan, dan pengorbanan banting tulang yang ia berikan selama bertahun-tahun dibalas dengan pengkhianatan paling hina di bawah selimut rumah mertuanya sendiri. Bagas gelap mata, ia mengepalkan tinjunya kuat-kuat, melangkah maju hendak menghajar wajah sok Nurdin. "Mati! Mati saja kamu, Bangsat!" Tinju Bagas terangkat, tetapi sebelum tinju itu m
Ketika sampai rumah, saat Bagas melangkah perlahan ke pintu depan dan melepas helm kusamnya, dia merasa aneh saat melihat pintu kayu jati itu tidak terkunci rapat, melainkan sedikit renggang menyisakan celah tipis. "Ini aneh," gumam Bagas sambil mengernyitkan dahi. Biasanya Bu Ratna cerewet sekali soal mengunci pintu rumah sebelum tidur. Tanpa prasangka apa-apa, Bagas mendorong daun pintu pelan-pelan tanpa menimbulkan decitan. Hawa dingin dari lantai ruang tamu langsung menyapa telapak kakinya yang bertelanjang. Rumah itu sunyi senyap, hanya denting jam samar yang terdengar. Namun, saat Bagas melangkahkan kaki melewati lorong menuju kamarnya, telinganya mendadak menangkap keanehan. Perasaannya mulai tak tenang. Bagas menatap tajam sekeliling, suara itu bukan dari kamar ibunya, bukan pula dari kamarnya sendiri. Suara itu berasal dari kamar tamu—kamar ber-AC yang biasanya hanya dipakai keluarga besar kalau sedang menginap di akhir pekan. Kriet... kriet... Derit ranjang ka







