Share

Bab 5.

Author: Dre LA
last update publish date: 2026-10-12 13:55:34

"Apa pilihan ini sudah benar atau tidak?"

Sepanjang jalan, kalimat itu terus memenuhi kepala Bagas. Jujur, ia masih takut Tuhan, tapi dendam dan rasa sakitnya melampui batas. Hingga akhirnya, deru motor butut Bagas akhirnya mati tepat di ujung jalan setapak lereng Gunung Salak.

Pria itu memberanikan tekad, tak ada jalan kembali. Kabut tebal yang turun pelan-pelan, menusuk kulitnya yang cuma terbalut jaket ojol kusam. Bau tanah basah sisa hujan campur dedaunan busuk membuat bulu kuduk berdiri, tapi semua itu tidak akan menghentikan langkahnya. Bahkan dinginnya hutan tidak sebanding dengan sakit hati Bagas.

“Nggak. Aku harus kaya!”

Bagas menanamkan kata itu dalam-dalam. Demi mendapatkan kekayaan yang ia ingin, akal sehatnya tak mampu berpikir secara rasional.

Dari petunjuk obrolan bapak-bapak di warung kopi, ia nekat menerobos semak belukar, membiarkan tubuhnya tertusuk duri-duri kecil, sampai akhirnya berdiri di depan sebuah gubuk kayu reyot di tengah lebatnya pepohonan yang menjulang tinggi.

Krieeet...

Belum sempat Bagas mengetuk, pintu lapuk itu membuka sendiri seolah seseorang di dalamnya sudah tahu bahwa ia berada di luar.

Asap kemenyan yang pekat langsung menyengat hidung. Di dalam, seorang dukun tua berjanggut putih bernama Mbah Jono sedang duduk bersila di kelilingi wadah dupa dan sesajen. Bunga setaman di atas tampah lapuk menarik perhatian Bagas sekilas.

"Kalau langkah kakimu membawamu ke tempat ini, berarti kamu sudah benar-benar putus asa," ujar Mbah Jono tanpa membuka matanya. Semua orang yang datang padanya, semua adalah orang yang putus asa akan kehidupan. Lelah pada takdir yang tak adil.

Bagas melangkah masuk, duduk bersila dengan napas memburu. “Saya mau kaya raya, Mbah! Tolong saya, Mbah, saya sudah bosan diinjak-injak sama orang sombong!”

Mbah Jono membuka mata batinnya yang tajam menusuk.

“Tapi untuk mendapatkan semuanya itu tidak mudah,” kata Mbah Jono dengan suaranya yang berat.

“Saya sanggup, Mbah! Apa pun syaratnya, saya pasti sanggup!” ucap Bagas sungguh-sungguh. Tak ada ragu sedikit pun.

Mbah Jono mengangguk. “Tiga pilihan,” Pria tua itu menatap Bagas serius.

“Menikahi kuntilanak. merelakan istri disetubuhi genderuwo, atau meminjamkan ragamu untuk dirasuki Raja Gagak.”

“Meminjamkan raga saya?” Alis Bagas terangkat, penasaran dengan opsi terakhir.

“Ya, memijamkan ragamu pada jin tingkat tinggi. Jin ini butuh wadah tubuh manusia untuk menyetubuhi wanita tumbal sampai hamil benih gaib dan mati ditarik ke alam gaib. Sebagai gantinya, kamu bakal jadi miliarder dalam semalam!”

“Saya pilih yang opsi ketiga, Mbah!”

Bagas langsung memilih tanpa pertimbangan. Ia tak peduli lagi kalau ada nyawa yang harus melayang. Asal bisa membalas dendam dan membungkam mulut mertua serta ipar sialannya, Bagas rela jadi iblis!

"Bagus. Sekarang bertapalah selama empat puluh hari di gua dekat kolam keramat di bukit sana. Tapi ingat, selama bertapa, kamu hanya boleh minum seteguk air sehari sekali. Apa kamu masih sanggup?"

"Sanggup, Mbah!" tegas Bagas. Entah bertapa seribu hari pun, ia akan melakukannya asal ia mendapatkan kekayaan yang dijanjikan.

***

Hari berlalu begitu cepat. Empat puluh hari bertapa bagaikan neraka. Bagas turun bukit dengan tubuh kurus kering, pipi tirus, dan tulang menonjol jelas. Dendam kesumat pada Nurdin dan Lina adalah satu-satunya alasan bertahan hidup. Alasan ia sanggup memenuhi ritual tersebut.

Sesampainya di gubuk, Bagas melahap makanan berbau kemenyan yang disodorkan sang dukun seperti orang kesurupan. Mengunyah cepat, meneguk minuman yang aromanya seperti bunga sedap malam. Dan setelahnya, mandi kembang tujuh rupa dengan pantauan sang dukun.

Tak hanya itu, ritual terus berlanjut. Malam harinya, Bagas menangkap burung gagak hitam di hutan, memotong dan membakarnya jadi sate sesajen. Tepat tengah malam pukul 00.00 di kuburan tua pinggir hutan, Bagas memutari pohon beringin raksasa sambil membawa nampan sate.

BLAAAR!

Dahan pohon tiba-tiba patah, disusul debaman keras yang memecah kesunyian, dan setelahnya, sosok hitam berbulu lebat setinggi tiga meter lebih muncul dengan mata merah menyala! Hawa panas bangkai menyergap. Raja Gagak menelan sate itu sekaligus dan menggelegar buas:

“SEBUTKAN MAUMU, MANUSIA LEMAH!”

“Saya mau kaya raya, Gusti!” Bagas bersujud gemetaran. Kasarnya tanah dan batu kerikil kecil yang menusuk dahi tak membuatnya gentar.

“KUTERIMA! TAPI SEDIAKAN AKU JANDA MUDA YANG MASIH PERAWAN TING TING! SERAHKAN DIA PADAKU, MAKA KEKAYAAN AKAN MENJADI MILIKMU!”

“Ba-baik, Gusti! Saya sanggup!” sahut Bagas tanpa banyak pikir. Ia sudah siap dengan segala konsekuensinya.

Sosok raksasa itu pun sirna menjadi kepulan asap pekat, menyisakan sebuah cincin batu akik hitam legam yang langsung melingkar panas di jari manis Bagas. Kontrak iblis resmi terikat. Mbah Jono membekali Bagas sebotol cairan pemikat gaib untuk diminumkan ke calon korban agar jiwanya terikat ke alam gaib.

***

Keesokan harinya, Bagas kembali ke kota dengan kepala berdenyut-denyut.

“Janda muda... tapi masih perawan ting ting?”

Di mana ia bisa mencari perempuan langka modelan begini?

Syarat yang satu ini jelas susah dicari, mungkin jarang ada. Tapi bukan berarti tidak ada.

“Cewek yang baru nikah, dan suaminya langsung mati pas ijab jabul, jadi tidak sempat malam pertama,” gumamnya, berbicara dengan diri sendiri. “Di mana aku mendapatkannya?”

Dan sangat kebetulan motor bututnya melintasi daerah pinggiran ruko, tatapan Bagas mendadak membeku di sebuah warung kopi bambu sederhana di pinggir jalan. Di depan etalase warung itu, berdiri seorang wanita muda bertubuh semampai dengan rambut dicat pirang menyala yang diikat ekor kuda tinggi.

Sinta. Si janda kembang penjaga warung.

Melihat sosok berambut pirang dengan dandanan tebal itu, dada Bagas langsung bergemuruh panas. Rasa dongkol dan benci meluap seketika. Ingatan tak mengenakan terputar dalam otak.

Sinta ini bukan tipe janda polos yang ramah. Penampilannya modis norak, baju ketat berleher rendah yang sengaja memamerkan belahan dadanya yang montok berisi, dan gaya bicaranya judes setengah mati. Karena merasa dirinya kembang desa dengan bodi aduhai yang jadi rebutan sopir-sopir truk, lagaknya songong luar biasa.

Dan yang paling membakar ingatan Bagas: sebulan lalu, Bagas pernah mampir ke warung itu saat benar-benar apes seharian belum dapat orderan. Bagas yang kehausan dan kelaparan memesan segelas kopi hitam dan dua potong gorengan. Pas mau bayar, uang kertas Bagas habis, cuma tersisa recehan koin seratusan dan dua ratusan perak di kantong jaket ojolnya. Itu satu-satunya uang yang ia miliki saat itu.

Bukannya menerima dengan baik, Sinta si janda pirang itu malah melotot jijik. Uang koin receh recehan milik Bagas langsung disapu kasar dari atas meja hingga berserakan jatuh ke tanah becek!

“Heh, ojol kere! Kamu pikir warung ini kotak amal masjid, hah?!” bentak Sinta kala itu dengan suara melengking di depan para pelanggan lain. Bagas tak mampu menjawab, saat itu ia hanya menunduk diam dan malu.

“Bayar kopi aja pake uang receh karatan begini! Menjijikkan banget sih jadi cowok! Bikin sempit meja aja!”

Bahkan saat Bagas berjongkok memungut koin-koinnya dengan tangan gemetar menahan malu, Sinta sempat meludah ke tanah tepat di sebelah sepatu butut Bagas. “Cuih! Sampah jalanan! Pergi sana!”

Penghinaan keji itu masih terpatri jelas di otak Bagas. Ia tidak akan pernah lupa dengan penghinaan wanita itu.

Tapi takdir rupanya punya selera humor yang gelap. Dua minggu setelah kejadian itu, Bagas mendengar obrolan para pelanggan warung.

Ternyata, di balik gaya songong dan bodi sintalnya yang mengundang nafsu, Sinta adalah janda kembang yang masih perawan ting ting! Kabarnya, almarhum suaminya yang juragan tanah kampung tewas kecelakaan mobil tepat di malam akad nikah, belum sempat menyentuh atau membuka segel wanita pirang itu sama sekali!

“Cocok!”

Entah takdir sedang berpihak padanya atau mungkin iblis yang membantunya, tapi satu hal yang terlintas di kepala Bagas, Sintalah yang ia butuhkan.

Bagas menatap warung itu dari kejauhan. Cincin akik hitam di jarinya berdenyut panas, seolah merespons mangsa empuk di depan mata.

Senyum dingin dan seringai kejam terbit di wajah kusam Bagas. Ini kesempatan yang pas.

“Janda pirang songong... Kamu pernah meremehkanku, bahkan sampai ngeludah segala cuma gara-gara uang receh,” gumam Bagas penuh racun di balik giginya yang bergemeletuk.

“Kamu ngerasa badan montokmu itu terlalu mahal buat ojol, kan? Bagus. Kamu emang paling cocok dijadiin bangkai tumbal buat Raja Gagak daripada hidup tapi cuma nyakitin orang lain, mending jadi tumbal biar lebih berguna!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TUMBAL JANDA PERAWAN    Bab 7.

    “Terserah. Ambil apa aja yang kalian mau, hari ini aku yang traktir!” sahut Bagas tanpa menoleh, matanya terus mengunci tatapan Sinta. Sinta mematung, tak percaya. Bagaimana bisa Bagas yang dikenalnya ojol kere tapi punya uang segepok? Matanya melotot lebar menatap tumpukan uang merah di depannya. Sikap judes dan cibirannya langsung amblas tanpa sisa, berganti dengan rasa takjub campur malu yang membuat pipinya merona. Ia menelan ludah susah payah. Uang di meja itu lebih dari cukup untuk menutup omzet warungnya selama dua hari penuh! “E-eh... Mas Bagas... ya ampun, kok repot-repot banget sih, Mas?” Nada suara Sinta mendadak berubah seratus delapan puluh derajat, begitu manis dan mendesah manja. “Duduk dulu, Mas... biar Sinta bikinin kopi spesial khusus buat Mas Bagas ya...” Uang mampu mengubah segalanya, dan itu juga terjadi pada Lina. Istrinya juga berubah karena uang. Karena lembar kertas itu, Bagas dicampakkan, dikhianati, bahkan diinjak-injak harga dirinya. Tapi sekarang,

  • TUMBAL JANDA PERAWAN    Bab 6.

    Siang itu, matahari menyengat ubun-ubun di kawasan pangkalan truk. Debu jalanan beterbangan tertiup angin panas, membuat suasana sekitar kian gerah dan pengap. Warung kopi bambu milik Sinta tampak ramai dipenuhi sopir-sopir berbadan legam dan para pemuda kampung yang sengaja nongkrong berdesakan. Mereka datang hanya demi menikmati lekuk tubuh sintal sang janda pirang. Memesan satu cangkir kopi hitam seharga empat ribu perak, mereka sanggup bertahan duduk berjam-jam sambil memandangi tubuh Sinta yang sengaja dibalut pakaian serba minim. Bagas memarkir motor matik bututnya agak jauh di bawah naungan pohon rindang. Pria itu menatap warung bambu dari kejauhan dengan tarikan napas tertata rapi. Tangan kanannya merogoh saku celana jeans kusam, menggenggam erat amplop cokelat kecil berisi sisa tabungan terakhir. Uang darurat sebesar satu juta rupiah—dana simpanan yang rencananya mau dipakai mencicil motor dan mencari kontrakan agar tak lagi hidup serumah dengan mertua yang gemar mencaci

  • TUMBAL JANDA PERAWAN    Bab 5.

    "Apa pilihan ini sudah benar atau tidak?" Sepanjang jalan, kalimat itu terus memenuhi kepala Bagas. Jujur, ia masih takut Tuhan, tapi dendam dan rasa sakitnya melampui batas. Hingga akhirnya, deru motor butut Bagas akhirnya mati tepat di ujung jalan setapak lereng Gunung Salak. Pria itu memberanikan tekad, tak ada jalan kembali. Kabut tebal yang turun pelan-pelan, menusuk kulitnya yang cuma terbalut jaket ojol kusam. Bau tanah basah sisa hujan campur dedaunan busuk membuat bulu kuduk berdiri, tapi semua itu tidak akan menghentikan langkahnya. Bahkan dinginnya hutan tidak sebanding dengan sakit hati Bagas. “Nggak. Aku harus kaya!” Bagas menanamkan kata itu dalam-dalam. Demi mendapatkan kekayaan yang ia ingin, akal sehatnya tak mampu berpikir secara rasional. Dari petunjuk obrolan bapak-bapak di warung kopi, ia nekat menerobos semak belukar, membiarkan tubuhnya tertusuk duri-duri kecil, sampai akhirnya berdiri di depan sebuah gubuk kayu reyot di tengah lebatnya pepohonan y

  • TUMBAL JANDA PERAWAN    Bab 4.

    “Diam! Tutup mulutmu, Bagas!” sergah Bu Ratna jauh lebih galak. “Nurdin itu laki-laki, wajar kalau dia butuh pelampiasan apalagi Rika jauh! Daripada dia beli di luar sana, belum tentu ceweknya bersih, gimana kalau punya penyakit? Nggak cuma itu aja, Nurdin itu PNS, kalau sampai ketahuan sama cewek nggak bener, nanti ngaruh di pekerjaan dia! Ibu ini nggak mau sampai menantu Ibu kenapa-kenapa, dan Ibu nggak mau rumah tangga Rika dan Nurdin malah dirusak sama cewek di luar sana!” “Itu pemikiran yang salah, Bu!” Bagas jelas tak bisa menerima pendapat mertuanya yang melenceng. “Salah atau tidak, bukan kamu yang menilai! Sekarang minggir sana, jangan kotori ruang makan ini! Baumu itu loh, nyebar kemana-mana. Pantes aja, Lina lebih suka sama Nurdin, dia wangi. Nggak kayak kamu, bau keringat, bensin, apek, campur-campur, nggak jelas!" Di tengah amarah yang membakar dada, Bagas bergegas menyusul Lina yang sedang berada di dalam kamar tidur mereka. Ia langsung membanting pintu kamar, m

  • TUMBAL JANDA PERAWAN    Bab 3.

    “Bahkan di ranjang pun nggak bisa muasin dia! Lina sendiri yang datang, dia sendiri yang menawarkan diri, dan ya, aku cuma menjawab apa yang dia mau. Dia minta dijamah, minta dibiayain hidupnya! Dan tahu kenapa? Itu karena kamu nggak sanggup ngasih kehidupan yang Lina mau!” Lina yang meringkuk di sudut kasur tak berani menatap mata Bagas, tapi bibirnya tetap menggumam sinis dari balik selimut. “Pergi kamu, Mas... aku nggak sudi punya suami sampah kayak kamu ...” Kata-kata itu bagai belati tajam yang dihujamkan berulang kali tepat di ulu hati Bagas. Seluruh tulang di tubuhnya terasa remuk, hidupnya hancur, sehancur-hancurnya. Cinta, ketulusan, dan pengorbanan banting tulang yang ia berikan selama bertahun-tahun dibalas dengan pengkhianatan paling hina di bawah selimut rumah mertuanya sendiri. Bagas gelap mata, ia mengepalkan tinjunya kuat-kuat, melangkah maju hendak menghajar wajah sok Nurdin. "Mati! Mati saja kamu, Bangsat!" Tinju Bagas terangkat, tetapi sebelum tinju itu m

  • TUMBAL JANDA PERAWAN    Bab 2.

    Ketika sampai rumah, saat Bagas melangkah perlahan ke pintu depan dan melepas helm kusamnya, dia merasa aneh saat melihat pintu kayu jati itu tidak terkunci rapat, melainkan sedikit renggang menyisakan celah tipis. "Ini aneh," gumam Bagas sambil mengernyitkan dahi. Biasanya Bu Ratna cerewet sekali soal mengunci pintu rumah sebelum tidur. Tanpa prasangka apa-apa, Bagas mendorong daun pintu pelan-pelan tanpa menimbulkan decitan. Hawa dingin dari lantai ruang tamu langsung menyapa telapak kakinya yang bertelanjang. Rumah itu sunyi senyap, hanya denting jam samar yang terdengar. Namun, saat Bagas melangkahkan kaki melewati lorong menuju kamarnya, telinganya mendadak menangkap keanehan. Perasaannya mulai tak tenang. Bagas menatap tajam sekeliling, suara itu bukan dari kamar ibunya, bukan pula dari kamarnya sendiri. Suara itu berasal dari kamar tamu—kamar ber-AC yang biasanya hanya dipakai keluarga besar kalau sedang menginap di akhir pekan. Kriet... kriet... Derit ranjang ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status