Share

Bab 4.

Author: Dre LA
last update publish date: 2026-10-12 13:53:15

“Diam! Tutup mulutmu, Bagas!” sergah Bu Ratna jauh lebih galak.

“Nurdin itu laki-laki, wajar kalau dia butuh pelampiasan apalagi Rika jauh! Daripada dia beli di luar sana, belum tentu ceweknya bersih, gimana kalau punya penyakit? Nggak cuma itu aja, Nurdin itu PNS, kalau sampai ketahuan sama cewek nggak bener, nanti ngaruh di pekerjaan dia! Ibu ini nggak mau sampai menantu Ibu kenapa-kenapa, dan Ibu nggak mau rumah tangga Rika dan Nurdin malah dirusak sama cewek di luar sana!”

“Itu pemikiran yang salah, Bu!” Bagas jelas tak bisa menerima pendapat mertuanya yang melenceng.

“Salah atau tidak, bukan kamu yang menilai! Sekarang minggir sana, jangan kotori ruang makan ini! Baumu itu loh, nyebar kemana-mana. Pantes aja, Lina lebih suka sama Nurdin, dia wangi. Nggak kayak kamu, bau keringat, bensin, apek, campur-campur, nggak jelas!"

Di tengah amarah yang membakar dada, Bagas bergegas menyusul Lina yang sedang berada di dalam kamar tidur mereka. Ia langsung membanting pintu kamar, menatap wanita yang dinikahinya itu dengan tatapan nanar.

“Lin, kamu tega ngelakuin ini di belakangku?! Apa kamu sudah lupa, Lin? Kita memulainya dengan baik-baik, tapi kenapa kamu ....,” lirih Bagas. “Kurang apa aku? Selama ini, aku berjuang siang malam, nggak kenal panas hujan, semua buat kamu!”

Lina yang sedang memoles bedak di depan cermin rias menoleh pelan. Bukannya merasa berdosa, tatapannya justru sinis dan penuh cemoohan. Keputusasaan dan patah hati sang suami sama sekali tak terlihat, perjuangan dan pengorbanan Bagas hilang seketika setelah ia mendapatkan uang yang ia inginkan.

“Kurang apa kamu bilang? Nggak sadar apa pura-pura nggak tahu, Mas?!”

Lina masih duduk di tempat yang sama, ia terhenti sejenak. Memoles bibirnya dengan lisptik mahal, lipstik yang tidak mungkin bisa dibeli oleh sang suami.

“Ya kurang duit lah, Mas!” sembur Lina tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Secara fisik, siapa sih yang mau sama Mas Nurdin yang gendut, hitam, perutnya buncit kayak karung beras! Dan....” Lina mengetuk ujung jarinya pada permukaan meja rias.

“Aku akui kamu jauh lebih tampan, Mas. Walaupun kulitmu sawo matang kebakar matahari pas ngojol, muka kamu jauh lebih ganteng daripada Mas Nurdin! Tapi emangnya tampang doang bisa dimakan? Bisa buat beli bedak, beli baju, jalan-jalan ke kafe?!"

Lina bangkit, melipat tangan di dada dengan angkuh. “Seandainya kamu kaya, punya mobil, punya duit gepokan... aku juga ogah ngelayanin dan godain Mas Nurdin yang badannya bikin enek itu! Tapi aku nggak punya pilihan lain, Mas!”

“Dan Ini semua salah kamu sendiri! Kamu miskin, kamu nggak becus jadi suami!" Lina menunjuk Bagas, melimpahkan perbuatan salahnya pada pria itu, menyalahkan Bagas atas segalanya. “Coba kamu bisa ngebeliin aku apa pun, aku nggak bakal kayak gini, Mas!”

Bagas terdiam kaku. Lidahnya kelu mendengar pembenaran murahan dari istrinya. Namun ia tak mampu membalas, ia sadar, mungkin ini juga salahnya. Salahnya atas ketidakmampuannya membahagiakan sang istri.

Lina lalu mendengus, menatap Bagas dengan seringai licik. “Tapi ya udah lah. Aku masih ada rasa kasihan sama kamu. Aku mau tobat dan nggak bakal nyentuh Mas Nurdin lagi... asalkan kamu bisa kasih aku uang jajan dua ratus ribu per hari. Uang jajan ya, Mas, di luar uang dapur! Sanggup nggak?”

Bagas menelan ludah getir. Dua ratus ribu per hari untuk ukuran sopir ojol biasa adalah target yang luar biasa berat. Seratus ribu saja sudah mati-matian mencarinya, apalagi di atas itu. Tapi rasa cintanya yang begitu buta membuat Bagas mengangguk pasrah.

“Oke. Aku bakal penuhi permintaanmu, Lin. Asal kamu tobat dan nggak khianati aku lagi,” ucap Bagas sungguh-sungguh.

Dia akan melakukan apapun syarat dari Lina, hanya agar mereka tidak bercerai...

***

Mulai hari itu, Bagas memeras tenaga bagai kuda beban. Dari jam lima subuh hingga tengah malam ia menarik orderan, menembus terik matahari dan hujan lebat tanpa kenal istirahat.

Bahkan saat malam pun, ia masih menunggu orderan. Tak kenal kantuk, tak kenal hujan, ia melakukan semuanya untuk membahagiakan istrinya. Makan pun hanya mengandalkan roti murah dan air keran masjid.

Saat sore tiba di pangkalan ojek, Bagas yang duduk kelelahan kembali mendengar obrolan sopir-sopir tua di warung kopi tentang cerita mistis yang sempat ia dengar kemarin.

“Beneran, di kaki Gunung Salak itu ada dukun sakti namanya Mbah Jono... Dia megang pesugihan Raja Gagak. Siapa pun yang ke sana bisa jadi miliarder dalam semalam tanpa perlu kerja banting tulang kayak kita...”

“Tapi syarat tumbalnya ngeri, harus nyediain janda muda yang masih perawan buat disetubuhi jin penunggunya...”

Bagas tertegun mendengarnya. Hatinya sempat bimbang. Pesugihan... uang miliaran... tapi tumbal nyawa manusia?

Bagas menggelengkan kepalanya pelan, berusaha mengusir bisikan iblis itu. Dia merogoh kantong jaketnya, menggenggam erat uang tunai dua ratus ribu hasil jerih payahnya seharian ini.

‘Nggak... Itu musyrik, Gas. Percaya sama pertolongan Tuhan. Lihat, hari ini aja, berhasil dapet uang dua ratus ribu buat Lina. Kita bakal mulai hidup baru,’ batin Bagas penuh harap.

Dengan senyum tipis yang mulai merekah, Bagas memacu motornya pulang lebih cepat. Tak sabar memberikan uang itu kepada istrinya sebagai bukti bahwa dia sanggup membahagiakan Lina dengan cara yang halal. Tak ada usaha yang sia-sia, Bagas yakin usahanya pasti membuahkan hasil. Meski ia harus bekerja jauh lebih keras, meski harus menghemat dan mengikat perut kencang-kencang, tapi tak apa. Jika hasil itu sepadan, Bagas rela melakukan apa saja.

Sekitar jam sepuluh malam, Bagas tiba di rumah mertuanya. Keadaan rumah sepi, mungkin orang-orang rumah sudah tidur, sebab lampu ruang tamu sudah mati.

Dengan langkah riang, Bagas masuk menuju kamar tidurnya, berniat memberi kejutan pada Lina. Namun, saat pintu kamarnya dibuka, kamar itu kosong melompong. Ranjangnya masih rapi. Bantal-bantal tertata, dan sunyi.

Dada Bagas mendadak berdegup kencang, mendadak firasat buruk menghampiri. Kakinya sontak melangkah menuju kamar tamu di lorong samping.

“Nggak mungkin,” Bagas menggeleng kasar, berusaha menyangkal semua tuduhan yang muncul di benaknya. “Lina nggak mungkin, dia udah janji.”

Langkah Bagas semakin cepat, hingga akhirnya ia sampai di depan kamar tamu. Dan benar saja. Pintu kamar tamu itu sedikit terbuka.

Kriet... kriet...

"Ahhh... Mas... terus, Mas. Lebih keras! Aku kangen banget, ahh!"

Suara desahan yang sangat familier kembali menusuk gendang telinganya. Bagas mendorong pintu itu perlahan, dan pemandangan di dalamnya seketika menghancurkan sisa-sisa kewarasannya.

Di atas kasur itu, Lina kembali tanpa busana, mengerang penuh kenikmatan di bawah tindihan tubuh tambun dan berkeringat milik Nurdin! Mereka berdua bergumul buas, saling memagut bibir tanpa ada rasa takut sedikit pun.

“Mas Nurdin... nggak main beberapa hari, kamu makin liar aja... enak banget, Mas ...” rintih Lina mendesah dalam kenikmatan. Keringat menetes dari dagu, ia mencengkeram lengan Nurdin.

“Hahaha, jelas dong! Mana bisa si Bagas gembel itu bikin kamu nikmat kayak gini!” seringai Nurdin buas, terus bergerak di atas tubuh Lina, pergulatan mereka semakin liar, seakan-akan dunia hanya milik berdua.

"Lina... kamu benar-benar sialan!!"

Lembaran uang kertas dua ratus ribu di tangan Bagas tanpa sadar ia remas kuat-kuat hingga robek dan hancur berkeping-keping seperti hatinya saat ini.

Air mata Bagas menetes, bukan lagi karena rasa sedih, bukan karena cemburu, melainkan terbakar api amarah yang kelewat batas. Pengorbanannya, keringatnya, rasa laparnya seharian ini... semuanya diinjak-injak dan ditertawakan begitu kejam. Dan itu ia lakukan untuk seseorang yang tak layak. Seseorang yang tak pantas ia perjuangkan.

‘Dua ratus ribu per hari hanyalah tipu muslihat! Wanita ini memang dasarnya jalang murahan yang haus harta dan nafsu!’

Bagas mundur perlahan tanpa membuat suara. Matanya yang merah kini menggelap pekat, tak ada lagi keraguan, tak ada lagi rasa takut pada dosa. Pikirannya benar-benar gelap mata.

Sambil melangkah keluar rumah dengan tatapan kosong penuh kebencian, Bagas membuang sobekan uang kertas itu ke tanah.

Gunung Salak... Mbah Jono... pesugihan Raja Gagak...

“Persetan dengan halal dan haram!" desis Bagas dari balik giginya yang bergemeletuk buas.

“Jual jiwa ke iblis atau ngasih tumbal perawan, apa pun itu, aku harus kaya dan membuat semua orang di rumah ini menyesal sudah menghinaku!”

Malam itu juga, Bagas menyalakan mesin motor bututnya, memutar arah, dan tancap gas meninggalkan kota menuju kaki Gunung Salak demi menyerahkan jiwanya pada pesugihan terkutuk itu!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TUMBAL JANDA PERAWAN    Bab 7.

    “Terserah. Ambil apa aja yang kalian mau, hari ini aku yang traktir!” sahut Bagas tanpa menoleh, matanya terus mengunci tatapan Sinta. Sinta mematung, tak percaya. Bagaimana bisa Bagas yang dikenalnya ojol kere tapi punya uang segepok? Matanya melotot lebar menatap tumpukan uang merah di depannya. Sikap judes dan cibirannya langsung amblas tanpa sisa, berganti dengan rasa takjub campur malu yang membuat pipinya merona. Ia menelan ludah susah payah. Uang di meja itu lebih dari cukup untuk menutup omzet warungnya selama dua hari penuh! “E-eh... Mas Bagas... ya ampun, kok repot-repot banget sih, Mas?” Nada suara Sinta mendadak berubah seratus delapan puluh derajat, begitu manis dan mendesah manja. “Duduk dulu, Mas... biar Sinta bikinin kopi spesial khusus buat Mas Bagas ya...” Uang mampu mengubah segalanya, dan itu juga terjadi pada Lina. Istrinya juga berubah karena uang. Karena lembar kertas itu, Bagas dicampakkan, dikhianati, bahkan diinjak-injak harga dirinya. Tapi sekarang,

  • TUMBAL JANDA PERAWAN    Bab 6.

    Siang itu, matahari menyengat ubun-ubun di kawasan pangkalan truk. Debu jalanan beterbangan tertiup angin panas, membuat suasana sekitar kian gerah dan pengap. Warung kopi bambu milik Sinta tampak ramai dipenuhi sopir-sopir berbadan legam dan para pemuda kampung yang sengaja nongkrong berdesakan. Mereka datang hanya demi menikmati lekuk tubuh sintal sang janda pirang. Memesan satu cangkir kopi hitam seharga empat ribu perak, mereka sanggup bertahan duduk berjam-jam sambil memandangi tubuh Sinta yang sengaja dibalut pakaian serba minim. Bagas memarkir motor matik bututnya agak jauh di bawah naungan pohon rindang. Pria itu menatap warung bambu dari kejauhan dengan tarikan napas tertata rapi. Tangan kanannya merogoh saku celana jeans kusam, menggenggam erat amplop cokelat kecil berisi sisa tabungan terakhir. Uang darurat sebesar satu juta rupiah—dana simpanan yang rencananya mau dipakai mencicil motor dan mencari kontrakan agar tak lagi hidup serumah dengan mertua yang gemar mencaci

  • TUMBAL JANDA PERAWAN    Bab 5.

    "Apa pilihan ini sudah benar atau tidak?" Sepanjang jalan, kalimat itu terus memenuhi kepala Bagas. Jujur, ia masih takut Tuhan, tapi dendam dan rasa sakitnya melampui batas. Hingga akhirnya, deru motor butut Bagas akhirnya mati tepat di ujung jalan setapak lereng Gunung Salak. Pria itu memberanikan tekad, tak ada jalan kembali. Kabut tebal yang turun pelan-pelan, menusuk kulitnya yang cuma terbalut jaket ojol kusam. Bau tanah basah sisa hujan campur dedaunan busuk membuat bulu kuduk berdiri, tapi semua itu tidak akan menghentikan langkahnya. Bahkan dinginnya hutan tidak sebanding dengan sakit hati Bagas. “Nggak. Aku harus kaya!” Bagas menanamkan kata itu dalam-dalam. Demi mendapatkan kekayaan yang ia ingin, akal sehatnya tak mampu berpikir secara rasional. Dari petunjuk obrolan bapak-bapak di warung kopi, ia nekat menerobos semak belukar, membiarkan tubuhnya tertusuk duri-duri kecil, sampai akhirnya berdiri di depan sebuah gubuk kayu reyot di tengah lebatnya pepohonan y

  • TUMBAL JANDA PERAWAN    Bab 4.

    “Diam! Tutup mulutmu, Bagas!” sergah Bu Ratna jauh lebih galak. “Nurdin itu laki-laki, wajar kalau dia butuh pelampiasan apalagi Rika jauh! Daripada dia beli di luar sana, belum tentu ceweknya bersih, gimana kalau punya penyakit? Nggak cuma itu aja, Nurdin itu PNS, kalau sampai ketahuan sama cewek nggak bener, nanti ngaruh di pekerjaan dia! Ibu ini nggak mau sampai menantu Ibu kenapa-kenapa, dan Ibu nggak mau rumah tangga Rika dan Nurdin malah dirusak sama cewek di luar sana!” “Itu pemikiran yang salah, Bu!” Bagas jelas tak bisa menerima pendapat mertuanya yang melenceng. “Salah atau tidak, bukan kamu yang menilai! Sekarang minggir sana, jangan kotori ruang makan ini! Baumu itu loh, nyebar kemana-mana. Pantes aja, Lina lebih suka sama Nurdin, dia wangi. Nggak kayak kamu, bau keringat, bensin, apek, campur-campur, nggak jelas!" Di tengah amarah yang membakar dada, Bagas bergegas menyusul Lina yang sedang berada di dalam kamar tidur mereka. Ia langsung membanting pintu kamar, m

  • TUMBAL JANDA PERAWAN    Bab 3.

    “Bahkan di ranjang pun nggak bisa muasin dia! Lina sendiri yang datang, dia sendiri yang menawarkan diri, dan ya, aku cuma menjawab apa yang dia mau. Dia minta dijamah, minta dibiayain hidupnya! Dan tahu kenapa? Itu karena kamu nggak sanggup ngasih kehidupan yang Lina mau!” Lina yang meringkuk di sudut kasur tak berani menatap mata Bagas, tapi bibirnya tetap menggumam sinis dari balik selimut. “Pergi kamu, Mas... aku nggak sudi punya suami sampah kayak kamu ...” Kata-kata itu bagai belati tajam yang dihujamkan berulang kali tepat di ulu hati Bagas. Seluruh tulang di tubuhnya terasa remuk, hidupnya hancur, sehancur-hancurnya. Cinta, ketulusan, dan pengorbanan banting tulang yang ia berikan selama bertahun-tahun dibalas dengan pengkhianatan paling hina di bawah selimut rumah mertuanya sendiri. Bagas gelap mata, ia mengepalkan tinjunya kuat-kuat, melangkah maju hendak menghajar wajah sok Nurdin. "Mati! Mati saja kamu, Bangsat!" Tinju Bagas terangkat, tetapi sebelum tinju itu m

  • TUMBAL JANDA PERAWAN    Bab 2.

    Ketika sampai rumah, saat Bagas melangkah perlahan ke pintu depan dan melepas helm kusamnya, dia merasa aneh saat melihat pintu kayu jati itu tidak terkunci rapat, melainkan sedikit renggang menyisakan celah tipis. "Ini aneh," gumam Bagas sambil mengernyitkan dahi. Biasanya Bu Ratna cerewet sekali soal mengunci pintu rumah sebelum tidur. Tanpa prasangka apa-apa, Bagas mendorong daun pintu pelan-pelan tanpa menimbulkan decitan. Hawa dingin dari lantai ruang tamu langsung menyapa telapak kakinya yang bertelanjang. Rumah itu sunyi senyap, hanya denting jam samar yang terdengar. Namun, saat Bagas melangkahkan kaki melewati lorong menuju kamarnya, telinganya mendadak menangkap keanehan. Perasaannya mulai tak tenang. Bagas menatap tajam sekeliling, suara itu bukan dari kamar ibunya, bukan pula dari kamarnya sendiri. Suara itu berasal dari kamar tamu—kamar ber-AC yang biasanya hanya dipakai keluarga besar kalau sedang menginap di akhir pekan. Kriet... kriet... Derit ranjang ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status