Share

Bab 6.

Author: Dre LA
last update publish date: 2026-10-12 15:55:13

Siang itu, matahari menyengat ubun-ubun di kawasan pangkalan truk. Debu jalanan beterbangan tertiup angin panas, membuat suasana sekitar kian gerah dan pengap.

Warung kopi bambu milik Sinta tampak ramai dipenuhi sopir-sopir berbadan legam dan para pemuda kampung yang sengaja nongkrong berdesakan. Mereka datang hanya demi menikmati lekuk tubuh sintal sang janda pirang.

Memesan satu cangkir kopi hitam seharga empat ribu perak, mereka sanggup bertahan duduk berjam-jam sambil memandangi tubuh Sinta yang sengaja dibalut pakaian serba minim.

Bagas memarkir motor matik bututnya agak jauh di bawah naungan pohon rindang. Pria itu menatap warung bambu dari kejauhan dengan tarikan napas tertata rapi.

Tangan kanannya merogoh saku celana jeans kusam, menggenggam erat amplop cokelat kecil berisi sisa tabungan terakhir.

Uang darurat sebesar satu juta rupiah—dana simpanan yang rencananya mau dipakai mencicil motor dan mencari kontrakan agar tak lagi hidup serumah dengan mertua yang gemar mencaci maki.

“Persetan sama cicilan dan kontrakan,” decih Bagas dingin, sorot matanya berkilat tajam.

“Dulu gara-gara recehan, janda sialan itu tega meludah di depan mukaku. Hari ini, duit kertas bakal bikin si janda pirang jilat ludahnya sendiri!”

Bagas melangkah mantap menyusuri tanah berdebu menuju warung bambu tersebut. Derap langkahnya terdengar tegas tanpa keraguan sedikit pun.

Wajah tampan berahang tegas dengan kulit sawo matang khas pekerja keras langsung menyita perhatian orang-orang. Jaket lusuh yang melekat di tubuhnya sempat menuai lirikan sinis, namun ketampanan Bagas jelas tak tertandingi di pangkalan itu.

Bukankah karena pesona wajah tampan itulah Lina dulu bersikeras menikah dengannya, mengabaikan statusnya yang cuma pengemudi ojek online miskin?

Dari jarak lima langkah, Bagas mengunci tatapan pada sosok Sinta. Waktunya membuktikan bahwa pria yang tempo hari diinjak-injak harga dirinya kini bukan sosok menyedihkan.

Di balik meja etalase kayu, Sinta sedang sibuk mengelap cangkir kaca. Rambut pirangnya yang diikat tinggi bergoyang pelan mengikuti irama gerak tubuhnya.

Kaus merah ketat berbelahan dada rendah membuat dua gundukan padat miliknya tampak sintal terangkat ke atas. Nyaris tumpah setiap kali perempuan itu membungkuk sedikit demi menata toples camilan.

Pemandangan menggiurkan itu yang selalu dinanti para sopir dan pemuda kampung. Tatapan mata mereka seketika berkilat liar, penuh nafsu birahi dan kekaguman telanjang.

“Cih! Ojol kere datang lagi!”

Melihat Bagas melangkah masuk melewati tirai bambu, bibir bergincu merah tebal milik Sinta seketika mencibir sinis. Perempuan itu melipat kedua tangan di dada, sengaja membusungkan asetnya seraya menatap Bagas penuh rasa jijik.

“Ngapain lagi kamu ke sini?” sembur Sinta judes setengah mati, suaranya melengking nyaring tanpa tedeng aling-aling.

“Mau bayar kopi pake koin karatan lagi, hah? Masih belum kapok kemarin mukamu aku ludahin di depan orang banyak?!”

Beberapa sopir truk di pojokan meja sontak tergelak terbahak-bahak mendengar makian pedas sang janda kembang.

Seorang pria berkaus buntung dengan tato naga di lengan buru-buru menyahut lantang demi mencari muka di depan Sinta.

“Bwahaha! Udah dibilang jangan halu ketinggian, Tong! Modal muka ganteng doang tapi dompet tipis kayak kerupuk kaleng, berani-beraninya kamu bolak-balik mepet Neng Sinta!”

“Betul banget itu, Neng geulis!” timpal sopir berbadan gempal berkumis tebal sambil membusungkan dada bangga.

“Usir aja kecoak model begini, Neng! Nggak pantes napas di ruangan yang sama kayak bidadari semok pangkalan truk!”

“Mending kamu narik penumpang keliling kota sampai subuh, Mas Bro, baru balik ke sini buat beli rokok sebatang!” celetuk seorang pemuda kampung di dekat pintu, disambut tawa seisi warung.

“Palingan dompetnya cuma isi angin sama struk parkir expired!” seru sopir lain menimpali, memancing gelak tawa kian bergemuruh.

“Sadar diri, Ojol! Keringat kamu yang asem bikin sepet mata Neng Sinta yang bening!” tambah si sopir bertato, menatap Bagas penuh cemooh.

“Kamu kira Neng Sinta levelan cewek murahan yang bisa kamu goda pake modal bensin seliter? Jangan mimpi ketinggian!” ejek sopir bergigi emas ikut menimpali.

Sinta tersenyum pongah, merasa berada di atas angin melihat para pelanggan setianya berlomba-lomba membelanya demi mencuri perhatian.

Perempuan itu menyandarkan pinggulnya ke tepi meja etalase, lalu menunjuk ke arah jalanan dengan dagu terangkat tinggi.

“Denger tuh kata abang-abang sopir!” cibir Sinta penuh seringai puas. “Mending kamu putar balik sekarang juga sebelum mukamu kena siram air cucian gelas bekas!”

Bagas sama sekali tidak terpancing amarah. Pria itu tetap berdiri tegak, memandang kerumunan orang yang menertawakannya tanpa berkedip sedikit pun.

Sebaliknya, seringai tenang terbit di sudut bibirnya yang maskulin.

Dengan gerakan santai dan penuh rasa percaya diri, Bagas merogoh saku jaketnya lalu mengeluarkan dompet kulit yang kusam.

Jemari Bagas menarik selembar uang seratus ribuan baru yang masih kaku dan mulus, lalu mengibaskannya pelan di udara.

Plak!

Bagas menghempaskan lembaran merah bergambar proklamator itu tepat di atas meja etalase kayu, persis beberapa jengkal di depan mata Sinta.

“Bikinin kopi susu paling enak sekarang juga,” ucap Bagas santai dengan nada suara berat yang bergetar tenang.

Sinta terperangah kaku, matanya terkunci pada lembaran merah yang masih licin itu.

Sebelum perempuan itu sempat membuka mulut untuk kembali menghina, tangan Bagas kembali bergerak cepat merogoh sisa isi dompetnya.

“Terus... hitung semua kopi, rokok, sama gorengan yang dimakan orang-orang di warung ini sekarang,” lanjut Bagas, tegas.

“Semuanya biar aku yang bayar.”

Plak! Plak! Plak!

Bagas kembali mengeluarkan lembaran seratus ribuan lainnya satu per satu, membantingnya tanpa ragu hingga berhamburan rapi di atas meja.

Warna merah mencolok lembaran uang baru seketika memantul di bola mata Sinta yang terbelalak lebar. Lidah bergincu merah tebal perempuan itu mendadak kelu seribu bahasa.

Keheningan mendadak menyergap seisi warung kopi bambu. Gelak tawa kencang dan ejekan pedas para sopir truk langsung tersedak kaku di kerongkongan.

Mereka yang tadinya mencibir kini melongo lebar dengan bola mata nyaris melompat keluar.

“W-wah... seriusan ini, Mas?!” seru sopir bertato naga yang tadi paling getol menghina, matanya mendadak berbinar tamak.

“Aku boleh nambah rokok satu bungkus lagi, kan, Bos?!” sahut sopir berbadan gempal dengan nada bicara yang berubah luar biasa manis.

“Gorengannya juga dibungkus boleh, Mas Ojol? Eh, maksudku Mas Bos!” timpal pemuda kampung di pojokan dengan senyum menjilat tanpa malu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TUMBAL JANDA PERAWAN    Bab 7.

    “Terserah. Ambil apa aja yang kalian mau, hari ini aku yang traktir!” sahut Bagas tanpa menoleh, matanya terus mengunci tatapan Sinta. Sinta mematung, tak percaya. Bagaimana bisa Bagas yang dikenalnya ojol kere tapi punya uang segepok? Matanya melotot lebar menatap tumpukan uang merah di depannya. Sikap judes dan cibirannya langsung amblas tanpa sisa, berganti dengan rasa takjub campur malu yang membuat pipinya merona. Ia menelan ludah susah payah. Uang di meja itu lebih dari cukup untuk menutup omzet warungnya selama dua hari penuh! “E-eh... Mas Bagas... ya ampun, kok repot-repot banget sih, Mas?” Nada suara Sinta mendadak berubah seratus delapan puluh derajat, begitu manis dan mendesah manja. “Duduk dulu, Mas... biar Sinta bikinin kopi spesial khusus buat Mas Bagas ya...” Uang mampu mengubah segalanya, dan itu juga terjadi pada Lina. Istrinya juga berubah karena uang. Karena lembar kertas itu, Bagas dicampakkan, dikhianati, bahkan diinjak-injak harga dirinya. Tapi sekarang,

  • TUMBAL JANDA PERAWAN    Bab 6.

    Siang itu, matahari menyengat ubun-ubun di kawasan pangkalan truk. Debu jalanan beterbangan tertiup angin panas, membuat suasana sekitar kian gerah dan pengap. Warung kopi bambu milik Sinta tampak ramai dipenuhi sopir-sopir berbadan legam dan para pemuda kampung yang sengaja nongkrong berdesakan. Mereka datang hanya demi menikmati lekuk tubuh sintal sang janda pirang. Memesan satu cangkir kopi hitam seharga empat ribu perak, mereka sanggup bertahan duduk berjam-jam sambil memandangi tubuh Sinta yang sengaja dibalut pakaian serba minim. Bagas memarkir motor matik bututnya agak jauh di bawah naungan pohon rindang. Pria itu menatap warung bambu dari kejauhan dengan tarikan napas tertata rapi. Tangan kanannya merogoh saku celana jeans kusam, menggenggam erat amplop cokelat kecil berisi sisa tabungan terakhir. Uang darurat sebesar satu juta rupiah—dana simpanan yang rencananya mau dipakai mencicil motor dan mencari kontrakan agar tak lagi hidup serumah dengan mertua yang gemar mencaci

  • TUMBAL JANDA PERAWAN    Bab 5.

    "Apa pilihan ini sudah benar atau tidak?" Sepanjang jalan, kalimat itu terus memenuhi kepala Bagas. Jujur, ia masih takut Tuhan, tapi dendam dan rasa sakitnya melampui batas. Hingga akhirnya, deru motor butut Bagas akhirnya mati tepat di ujung jalan setapak lereng Gunung Salak. Pria itu memberanikan tekad, tak ada jalan kembali. Kabut tebal yang turun pelan-pelan, menusuk kulitnya yang cuma terbalut jaket ojol kusam. Bau tanah basah sisa hujan campur dedaunan busuk membuat bulu kuduk berdiri, tapi semua itu tidak akan menghentikan langkahnya. Bahkan dinginnya hutan tidak sebanding dengan sakit hati Bagas. “Nggak. Aku harus kaya!” Bagas menanamkan kata itu dalam-dalam. Demi mendapatkan kekayaan yang ia ingin, akal sehatnya tak mampu berpikir secara rasional. Dari petunjuk obrolan bapak-bapak di warung kopi, ia nekat menerobos semak belukar, membiarkan tubuhnya tertusuk duri-duri kecil, sampai akhirnya berdiri di depan sebuah gubuk kayu reyot di tengah lebatnya pepohonan y

  • TUMBAL JANDA PERAWAN    Bab 4.

    “Diam! Tutup mulutmu, Bagas!” sergah Bu Ratna jauh lebih galak. “Nurdin itu laki-laki, wajar kalau dia butuh pelampiasan apalagi Rika jauh! Daripada dia beli di luar sana, belum tentu ceweknya bersih, gimana kalau punya penyakit? Nggak cuma itu aja, Nurdin itu PNS, kalau sampai ketahuan sama cewek nggak bener, nanti ngaruh di pekerjaan dia! Ibu ini nggak mau sampai menantu Ibu kenapa-kenapa, dan Ibu nggak mau rumah tangga Rika dan Nurdin malah dirusak sama cewek di luar sana!” “Itu pemikiran yang salah, Bu!” Bagas jelas tak bisa menerima pendapat mertuanya yang melenceng. “Salah atau tidak, bukan kamu yang menilai! Sekarang minggir sana, jangan kotori ruang makan ini! Baumu itu loh, nyebar kemana-mana. Pantes aja, Lina lebih suka sama Nurdin, dia wangi. Nggak kayak kamu, bau keringat, bensin, apek, campur-campur, nggak jelas!" Di tengah amarah yang membakar dada, Bagas bergegas menyusul Lina yang sedang berada di dalam kamar tidur mereka. Ia langsung membanting pintu kamar, m

  • TUMBAL JANDA PERAWAN    Bab 3.

    “Bahkan di ranjang pun nggak bisa muasin dia! Lina sendiri yang datang, dia sendiri yang menawarkan diri, dan ya, aku cuma menjawab apa yang dia mau. Dia minta dijamah, minta dibiayain hidupnya! Dan tahu kenapa? Itu karena kamu nggak sanggup ngasih kehidupan yang Lina mau!” Lina yang meringkuk di sudut kasur tak berani menatap mata Bagas, tapi bibirnya tetap menggumam sinis dari balik selimut. “Pergi kamu, Mas... aku nggak sudi punya suami sampah kayak kamu ...” Kata-kata itu bagai belati tajam yang dihujamkan berulang kali tepat di ulu hati Bagas. Seluruh tulang di tubuhnya terasa remuk, hidupnya hancur, sehancur-hancurnya. Cinta, ketulusan, dan pengorbanan banting tulang yang ia berikan selama bertahun-tahun dibalas dengan pengkhianatan paling hina di bawah selimut rumah mertuanya sendiri. Bagas gelap mata, ia mengepalkan tinjunya kuat-kuat, melangkah maju hendak menghajar wajah sok Nurdin. "Mati! Mati saja kamu, Bangsat!" Tinju Bagas terangkat, tetapi sebelum tinju itu m

  • TUMBAL JANDA PERAWAN    Bab 2.

    Ketika sampai rumah, saat Bagas melangkah perlahan ke pintu depan dan melepas helm kusamnya, dia merasa aneh saat melihat pintu kayu jati itu tidak terkunci rapat, melainkan sedikit renggang menyisakan celah tipis. "Ini aneh," gumam Bagas sambil mengernyitkan dahi. Biasanya Bu Ratna cerewet sekali soal mengunci pintu rumah sebelum tidur. Tanpa prasangka apa-apa, Bagas mendorong daun pintu pelan-pelan tanpa menimbulkan decitan. Hawa dingin dari lantai ruang tamu langsung menyapa telapak kakinya yang bertelanjang. Rumah itu sunyi senyap, hanya denting jam samar yang terdengar. Namun, saat Bagas melangkahkan kaki melewati lorong menuju kamarnya, telinganya mendadak menangkap keanehan. Perasaannya mulai tak tenang. Bagas menatap tajam sekeliling, suara itu bukan dari kamar ibunya, bukan pula dari kamarnya sendiri. Suara itu berasal dari kamar tamu—kamar ber-AC yang biasanya hanya dipakai keluarga besar kalau sedang menginap di akhir pekan. Kriet... kriet... Derit ranjang ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status