แชร์

Aku Mencintaimu

ผู้เขียน: Yoru Akira
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-13 23:59:21

Pelukan Pieter terasa semakin erat, seolah-olah ia sedang berusaha menyatukan kepingan-kepingan diri Cempaka yang sempat retak akibat makian Melati.

Keheningan di ruang tamu itu kini bukan lagi mencekam, melainkan berubah menjadi sesuatu yang lebih berat dan bermuatan listrik.

Cempaka bisa merasakan detak jantung Pieter yang berdegup kencang di balik seragam militer yang kaku, sebuah ritme yang tidak selaras dengan ketenangan wajahnya yang biasanya sedingin es.

Amarah yang tadi meluap dalam diri Cempaka perlahan menguap, digantikan oleh gelombang emosi lain yang lebih mendesak.

Kehangatan tubuh Pieter, aroma maskulin yang bercampur dengan udara malam yang lembap, dan cara pria itu membisikkan kata-kata pengakuan di telinganya, membuat pertahanan diri Cempaka luruh sepenuhnya.

Ia menyandarkan kepalanya di dada Pieter, mencari perlindungan dari dunia luar yang selalu menuntutnya untuk menjadi kuat.

"Pieter..." desah Cempaka pelan.

Suaranya pecah, bukan karena sedih, melainkan karen
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Peta Rahasia

    Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah kelambu, menyapu lantai kayu yang semalam menjadi saksi bisu runtuhnya tembok pertahanan mereka. Cempaka terbangun lebih dulu. Ia merasakan berat yang nyaman di pinggangnya—lengan Pieter yang masih melingkar protektif bahkan dalam tidurnya. Wajah Pieter saat terlelap kehilangan seluruh gurat kekakuan seorang Letnan. Ia tampak manusiawi. Cempaka menyentuh ujung rahang suaminya dengan ujung jari, meresapi kata "mencintaimu" yang masih bergema di benaknya. Namun, kehangatan itu terusik saat matanya tertuju pada kebaya hitam yang tergeletak di lantai. Teringat akan benda di sakunya, Cempaka bangkit perlahan. Ia memungut kain itu dan mengeluarkan sebuah gulungan kertas tua yang sudah menguning dan rapuh. "Kau sudah bangun, Mevrouw?" Suara parau Pieter memecah keheningan. Cempaka tidak menyembunyikannya kali ini. Ia duduk di tepi ranjang, membentangkan kertas itu di atas sprei putih yang berantakan. Pieter bangkit, matanya yang s

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Aku Mencintaimu

    Pelukan Pieter terasa semakin erat, seolah-olah ia sedang berusaha menyatukan kepingan-kepingan diri Cempaka yang sempat retak akibat makian Melati.Keheningan di ruang tamu itu kini bukan lagi mencekam, melainkan berubah menjadi sesuatu yang lebih berat dan bermuatan listrik. Cempaka bisa merasakan detak jantung Pieter yang berdegup kencang di balik seragam militer yang kaku, sebuah ritme yang tidak selaras dengan ketenangan wajahnya yang biasanya sedingin es. Amarah yang tadi meluap dalam diri Cempaka perlahan menguap, digantikan oleh gelombang emosi lain yang lebih mendesak. Kehangatan tubuh Pieter, aroma maskulin yang bercampur dengan udara malam yang lembap, dan cara pria itu membisikkan kata-kata pengakuan di telinganya, membuat pertahanan diri Cempaka luruh sepenuhnya. Ia menyandarkan kepalanya di dada Pieter, mencari perlindungan dari dunia luar yang selalu menuntutnya untuk menjadi kuat. "Pieter..." desah Cempaka pelan.Suaranya pecah, bukan karena sedih, melainkan karen

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Kalah Telak

    Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Melati, yang tadinya meledak-ledak, kini menatap Cempaka dengan mata membelalak. Napasnya memburu, namun gerakannya terkunci oleh gertakan Cempaka dan hadangan lengan kokoh Pieter. "Penjara?" suara Melati mencicit, nyaris tak terdengar. "Apa maksudmu, Cempaka?" Cempaka melangkah maju, membiarkan ujung kebaya hitamnya menyapu lantai dengan suara gesekan yang halus namun mengancam. Ia memberi isyarat pada Pieter untuk sedikit melonggarkan jagaannya, seolah ingin menunjukkan bahwa Melati bukan lagi ancaman baginya. "Kau pikir Wiratama menghilang karena diculik?" Cempaka tersenyum tipis, jenis senyuman yang tidak sampai ke mata. "Dia ditahan atas dugaan konspirasi melawan pemerintah kolonial. Dan kau, Melati... sebagai orang yang mengaku 'tidur' dengannya dan akan menjadi istrinya, bukankah itu menjadikanmu sekutu terdekatnya dalam pengkhianatan ini?" Wajah Melati berubah pucat pasi. Merah bekas tamparan di pipinya kini terlihat

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Perempuan Lacur

    Pieter belum sempat membuka benda yang diberikan Cempaka ketika terdengar ketukan keras dari luar. Tak lama kemudian, Sriah datang tergopoh dengan raut muka tegang. "Tuan, Nyonya, di luar ada tamu. Mengaku masih kerabat, Nyonya." Sriah melapor dengan wajah gentar. Sepertinya ia masih belum terbiasa dengan kemunculan tamu tak diundang di rumah ini sejak kemunculan sang nyonya rumah. "Kerabat? Laki-laki atau perempuan?" tanya Cempaka dengan raut muka berkerut. Seingatnya tak ada kerabat yang berkepentingan dengannya sekarang. Nyi Rengganis bilang, semenjak Bupati Aryotedjo diturunkan dari jabatannya, tak ada lagi kerabat dekat, apalagi jauh yang mengunjungi mereka. Jangankan menawarkan bantuan, bertanya kabar pun tidak. Lantas siapa yang tiba-tiba datang menemui Cempaka menjelang malam begini? "Perempuan, Nyonya. Dia tak mengatakan namanya. Justru mengatakan kalau dia masih kerabat, Nyonya." "Melati," gumam Cempaka saat satu nama terlintas dalam benaknya. "Mau apalagi dia."

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Keraguan Cempaka

    Cempaka mengangguk pelan di dalam dekapan itu, lalu menarik napas dan—untuk pertama kalinya—menjauh setengah langkah. “Lain kali, jangan pernah pergi tanpa seizinku lagi,” ucap Pieter rendah, suaranya masih bergetar oleh sisa ketakutan. “Kau tahu, aku benar-benar bisa gila kalau kau pergi seperti ini lagi, Mevrouw.” Cempaka menatapnya lurus. Tidak membantah. Tidak juga tersenyum. “Maafkan aku, Piet. Aku terpaksa dan harus bergerak cepat.” Kalimat itu membuat Pieter melepaskan pelukannya sepenuhnya. Tatapannya menajam—bukan marah, melainkan waspada. “Apa yang terjadi?” Cempaka menghela napas panjang, seolah menimbang dari mana harus memulai. Ia lalu berbalik, melangkah lebih dulu ke arah lorong samping. “Ke ruang kerja,” katanya singkat. “Tidak aman membicarakannya di sini.” Ruang kerja Rembrandt tertutup rapat. Tirai setengah ditarik, lampu minyak di atas meja menyala redup. Pieter berdiri di dekat jendela, sementara Cempaka meletakkan tas kecilnya di atas meja, membuka pe

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Panik!

    Pieter keluar dari gedung tahanan dengan langkah cepat.Udara di luar terasa lebih panas daripada di dalam ruang interogasi yang dingin dan steril. Bukan karena matahari—melainkan karena percakapan barusan belum benar-benar selesai di kepalanya. Wiratama terlalu tenang. Terlalu siap. Dan itu berarti ada sesuatu yang sudah bergerak lebih dulu.Ia baru saja menuruni anak tangga terakhir ketika sebuah suara menyapanya dari sisi halaman.“Wajah seperti itu biasanya muncul saat seseorang sadar—dia datang terlambat.”Pieter berhenti.Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara itu. Nada santai yang dibuat-buat, pilihan kata yang selalu terasa setengah mengejek.“Adrian,” ucapnya dingin saat akhirnya menoleh.Pria itu berdiri bersandar pada pilar batu, jasnya rapi, topinya miring sedikit seolah dunia tak pernah benar-benar menyentuhnya. Senyum tipis terukir di wajahnya—senyum orang yang tahu sesuatu dan menikmati fakta bahwa orang lain belum sepenuhnya menyadarinya.“Kau terlihat

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status