MasukJantung Bimo seolah berhenti berdetak saat mendengar suara Prof. Malik. Bukankah pria itu sudah dibius sebelumnya? Kenapa bisa tiba-tiba terbangun? Dia dan yang lainnya perlahan berbalik dengan tubuh gemetar ketakutan. Di atas ranjang, Prof. Malik masih berbaring dan memejamkan kedua matanya. Mereka reflek menghembuskan nafas lega secara bersamaan. “Astaga, aku pikir obat bius itu tidak manjur. Sepertinya pria itu mengigau sebelum benar-benar jatuh pingsan,” ucap Angel seraya mengelus dadanya. “Ayo, jangan buang waktu lagi. Ayo kita cari bukti yang lain,” ajak Bimo seraya melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 00.30. Mereka masih memiliki waktu sekitar kurang lebih 30 menit lagi untuk mencari bukti lainnya. Mereka kembali mencari bukti lainnya yang bisa mereka temukan. Hampir 25 menit berlalu, Bimo akhirnya menemukan surat rujukan pengangkatan tahi lalat di bawah mata kirinya Prof. Malik. “Lihat, aku menemukan surat rujukan ke Rumah Sakit Medika. Prof Malik pernah mela
Malam ini Bimo datang ke apartemen Prof. Malik bersama Baskoro dan Angel. Tujuan mereka datang kesana untuk mencari tau apakah pria itu benar-benar Prof. Malik yang asli. Sesampainya disana, Baskoro dengan cekatan menaburkan bubuk terigu di permukaan scan finger apartemen Prof. Malik. Setelah itu, terlihat jejak sidik jari Prof Malik menempel di angka 6,9,1,0,5, dan 7. “Bas, bagaimana kita bisa tahu berapa kode password apartemennya? Kalau kita salah memasukkan angka sebanyak 3 kali, pintunya akan terkunci otomatis selama 24 jam dan alarmnya akan berbunyi,” tanya Bimo seraya melirik ke kanan dan ke kiri, takut jika ada Security yang lewat. “Tenang Bimo, untuk mengetahui urutan angkanya kita tinggal melihat tingkat ketebalan bubuk terigu yang menempel di tombol-tombol itu,” jawab Baskoro seraya mengarahkan lampu senter kecil ke arah keypad.Angel ikut mendekatkan wajahnya, mengamati dengan teliti. “Tombol yang paling pertama ditekan pasti memiliki jejak sidik jari yang paling tebal
Bimo tengah duduk menunggu kedatangan Vanya di dalam ruangannya. Dia tidak tahu kenapa istri sahabatnya itu ingin mengajaknya untuk bertemu. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu yang membuyarkan lamunannya. Tok… tok… tok… “Silahkan masuk!” serunya. Gagang pintu dibuka dari luar, disana terlihat Vanya berdiri dengan pakaian rapi dan modis yang menutupi tubuh montoknya. Wanita itu masuk ke dalam ruangannya dan menutup rapat pintunya. Bimo terpesona melihat kecantikan Vanya siang ini.”Vanya, ayo duduklah. Aku baru saja menyiapkan es kopi Americano dan pisang goreng untukmu.” Vanya tersenyum simpul seraya duduk di hadapan Bimo.”Wah, terima kasih banyak. Mas tahu banget aku lagi laper dan haus. Di luar panas banget ya cuacanya.” “Iya, sekarang memasuki musim kemarau. Asap jerebu ada dimana-mana dan sangat tebal terutama pada pagi dan malam hari. Jangan lupa pakai masker kalau mau bepergian kemana-mana,” jawab Bimo penuh perhatian. Vanya mengeluarkan masker bermotif heloki
Pagi harinya Bimo bangun tubuh yang segar bugar. Berbeda dengan Sella, Dian dan Lilis, mata mereka terlihat menghitam karena kurang tidur setelah semalaman bekerja sama memerah habis benihnya. Saat mereka semua berkumpul di meja makan, Mayang dan Tiara tampak kebingungan saat melihat wajah ketiga wanita itu. “Loh, Sella, Dian, Lilis. Kenapa bawah mata kalian menghitam begitu?” tanya Mayang seraya duduk di atas kursinya. Sella membalik piringnya dengan tatapan sayu dan lesu tak bersemangat.”Semalam kami habis dihajar oleh Mas Bimo.” “Betul Mbak Mayang, pinggangku sampai linu karena digenjot Bimo semalaman,” timpal Dian sambil mengambil satu centong nasi goreng kampung dan menaruhnya di atas piring. Lilis yang sedang mencuci piring di wastafel ikut menimpali.”Iya Nyonya. Punya Tuan sekarang bisa mengembang dan memanjang loh. Pokoknya enak banget. Jos!!” Mayang dan Tiara saling pandang terheran-heran. “Mengembang dan memanjang? Maksudnya?” tanya Tiara tak mengerti apa yang baru sa
Rasa liang sempit para wanita di rumahnya hampir sama-sama enak. Mau tua atau muda, mereka memiliki jepitan empot-empot yang mampu membuat lututnya bergetar dan memerah benihnya sampai habis tak bersisa kecuali hanya anginnya doang. Namun berkat kekuatan dan benda pusaka yang diberikan Datuk Maringgi padanya serta racun Gaharu Hitam yang mengalir di dalam darahnya, dia mampu memuaskan dahaga para wanita di haremnya. Saat ini Bimo sedang asyik memompa goa kenikmatan Dian, mama tirinya yang tak lain adalah mantan kekasihnya saat SMA dulu. Dian ikut menggoyangkan bongkahan pantatnya seirama dengan hujamannya. Plak! Plak! Plak! Bimo memberikan tamparan keras disana hingga membuat Dian memekik antara nikmat dan kesakitan. Entah sudah berapa kali wanita itu terpipis-pipis dibuat olehnya. “Aw!! Pelan-pelan Bimo!! Aku bisa mati dehidrasi! Aku gak kuat lagi!! Ouhhh!!” racau Dian seraya mencengkram erat sprei yang sudah berantakan. Pacuan Bimo bukannya melambat malah semakin cepat tak ter
Tanpa diperintah dua kali, Sella segera mendekat ke ranjang dan duduk di pinggirnya. ”Mundur sedikit, Lilis!” desak Sella tak sabar seraya naik ke atas ranjang. ”Ngghh... iya Nyonya…” desah Lilis dengan nafas terengah-engah. Tubuhnya terlihat basah dan mengkilap oleh peluh keringat. Bimo memberi satu hentakan terakhir yang amat dalam pada Lilis hingga membuat janda itu kembali memekik dan memejamkan mata sebelum melepaskan penyatuan mereka. PLOP! Keperkasaan Bimo masih tegang dan mengeras berlumuran cairan gairah Lilis. Sella langsung menungging di depan Bimo, memamerkan belahan kewanitaannya yang sudah basah dan berkedut-kedut.”Mas... cepat, Mas! Aku sudah tidak tahan melihat Lilis mendesah seperti tadi!” Bimo terkekeh seraya memegang keperkasaannya yang masih tegang dan mengeras lalu menggeseknya di belahan Sella.”Sabar Sella, sekarang adalah giliranmu Sayang. Kamu akan mendesah keenakan sama seperti Lilis.” Dalam satu hentakan kuat, Bimo mendorong pinggulnya se







