LOGINBimo melepaskan jarinya dalam mulut Mayang. Melihat tidak ada penolakan dari mama mertuanya itu, Bimo bergerak cepat menurunkan celana pendeknya ke bawah dan membebaskan keperkasaan monsternya yang sudah mengeras dan berurat kehitaman menonjol. Setelah itu dia meloloskan celana dalamnya Mayang hingga ke batas pergelangan kaki dan membuka kedua paha wanita itu selebar mungkin sambil menuntun ujung keperkasaannya menuju pintu goa kenikmatan Mayang yang sangat lebat. “Ughhh… Bimo… geli Nak,”erang Mayang ketika Bimo menggesekkan ujung kepalanya hingga mengenai biji kacang merah Mayang. Bimo menekan pinggulnya ke dalam, merasakan betapa sempit lubang Mayang menelan batangnya perlahan hingga akhirnya terbenam habis menyentuh titik sensitifnya yang paling dalam. JLEB!“Ahhhh! Bimo! Perut Mama terasa penuh!” pekik Mayang dengan tubuh melengkung ke atas. Bimo memejamkan matanya erat, menikmati setiap denyutan dinding kewanitaan Mayang meremas dan memelintir miliknya di dalam sana. “Sial,
Kepala Bimo terasa berdenyut menyakitkan. Dia berusaha bangkit sambil memegangi kepalanya yang berdarah. Kedua matanya menatap nanar ke arah pintu kamarnya Mayang. Ternyata Mayang masih mengkhawatirkan dirinya meskipun dia sudah menyakiti wanita itu. “Mama… maafin Bimo, Ma,” batinnya menyesal. “Ngapain kamu bengong disini?! Cepat keluar dari rumah ini!” usir Rosa. Dengan langkah tertatih, Bimo melangkah keluar dari rumah Mayang. Dia tidak ingin membuat keributan dan memperkeruh suasana malam ini. Setelah keluar, dia tidak langsung pergi melainkan duduk berlutut di halaman rumah, berharap Mayang mau menemuinya disini. Gluduk! Gluduk! Suara petir menyambar-nyambar di atas langit. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Bimo masih tidak bergeming di tempatnya. Dia mengabaikan rasa sakit yang terus mendera kepalanya. Rintik-rintik hujan mulai turun. Lalu hujan turun semakin lebat, mengguyur tubuhnya Bimo. Bimo masih tak beranjak sedikitpun dan terus berlutut di depan halaman r
Rosa melipat kedua tangan di dada seraya mendongakkan kepalanya keatas.”Bimo sudah kawin lagi beberapa hari yang lalu Ma. Dia sengaja tidak memberitahu kita soal pernikahannya!” Bimo dengan cepat mendekati Mayang dan berusaha untuk menjelaskan semuanya.”Ma, ini tidak seperti yang Mama pikirkan. Aku terpaksa menikahi Cindy karena…” “Udahlah, jangan banyak alasan! Alasan pria nikah lagi itu apalagi kalau bukan cuma mau lobangnya doang!” potong Rosa dengan nada berapi-api. Bimo memegang kedua bahu Mayang yang bergetar. Dia tahu saat ini mama mertuanya itu pasti sangat kecewa setelah tahu dia sudah menikah lagi tanpa memberitahunya. “Maafkan aku, Ma. Aku memang sudah menikah lagi dengan Cindy beberapa hati yang lalu. Aku terpaksa menikahinya karena permintaan dari Pak Toto, kakeknya Cindy. Aku…” “Mama tidak mau dengar apapun lagi, Rosa ayo bawa Mama pulang sekarang,”Mayang melepaskan pegangan tangan Bimo lalu berbalik pergi meninggalkan rumah itu. Rosa tersenyum sinis.”Dasar pria me
Cindy hanya bisa mengerang pelan dengan mata berkaca-kaca saat menjilati jarinya Tiara.”Nyam... mmm... s-sshh…”lidah Cindy menjilati jari Tiara sampai cairannya benar-benar bersih. Seringai smirk di wajah Bimo semakin melebar. Dia kembali bangkit, membiarkan sosis jumbonya yang menegang keras dan berurat bergoyang menantang tepat di hadapan wajah Cindy yang masih terengah-engah.”Bagus sekali, Tiara. Kamu membuatnya terkencing-kencing hanya dalam 2 menit saja,” puji Bimo. Tiara terkekeh seraya menutup mulutnya. ”Tentu saja Kak. Lubang Cindy sangat sensitif, disentuh sedikit saja lubangnya langsung menjerit minta digenjot.”Sella dan Tiara perlahan menjauh ke sudut sofa. Sementara Cindy masih bersandar dengan posisi kedua paha mengangkang tepat di hadapan Bimo. Bimo mencondongkan tubuhnya ke depan, menempelkan ujung sosis jumbonya tepat di atas bibir lubang Cindy yang berkedut-kedut basah. Sret... sret…sret… Bimo sengaja menggesek-gesekkan kepala keperkasaannya maju-mundur d
Jemari lentik Sella perlahan mulai membuka satu per satu kancing dress piyama yang dikenakan oleh Cindy. Sementara itu, Tiara dengan lembut menurunkan piyama tersebut dari bahu mulus Cindy, hingga merosot sampai ke pinggang.Sret! Kini, keindahan tubuh anak gadis Pak Darsono itu terpampang nyata di depan mereka. Dua gundukan bukit ranum milik Cindy yang besar,putih,kenyal dan memiliki puncak kemerahan langsung menyembul keluar tanpa ditutupi penutup bra sama sekali. Cindy reflek memejamkan matanya erat-erat dengan wajah merah padam bagai kepiting rebus. Kedua tangan gadis itu langsung menyilang di depan dada, berusaha menutupi bukit ranum montoknya. Bimo terkekeh pelan saat menyaksikannya. Sosis jumbonya yang masih menegang keras dan berlumuran cairan Sella dan Tiara tadi tampak bergoyang pelan saat berjalan mendekati ketiga wanita itu. Kemudian dia mendudukkan diri di atas meja yang berada tepat di hadapan mereka.Bimo mengulurkan kedua tangannya, meraih pergelangan tangan Ci
Lidah Sella dan Tiara yang lembut, licin dan basah mulai menjilati keperkasaan Bimo mulai dari pangkal sampai ke ujungnya dengan rakus. Slrrrpp… Slrpppp… nyam… . “Sshhhh….” desis Bimo nikmat. Dia menengadahkan kepalanya ke atas seraya menjilati bibir bawahnya. Sedotan dan hisapan dua kakak beradik ini memang sangat mantap. Mereka berdua secara bergantian melahap keperkasaan Bimo sambil memijat pangkal batangnya yang besar, panjang dan berurat. Pipi mereka sampai kembang kempis saat berusaha menelan habis sosis gemuknya di bawah sana. Suara decapan bibir mereka berdua memenuhi seluruh ruangan kamar ini. Sedotan mereka semakin liar dan tak terkendali. Bimo melirik Cindy yang tengah duduk di hadapannya. Wajah gadis itu merah padam, bahunya naik turun dan kedua kakinya bergesekan tak bisa diam. Bimo tahu kalau Cindy mulai terangsang melihat adegan ini. Tatapan matanya kembali beralih ke arah Sella dan Tiara.“Aku sebentar lagi akan keluar bersiaplah!” Sella dan Tiara semak







