เข้าสู่ระบบBimo tak punya banyak waktu untuk berpikir. Dia langsung mematikan panggilan teleponnya lalu segera pergi ke apartemen Prof. Malik. Sesampainya disana, dia menekan password yang tempo hari dimasukkan oleh Baskoro. Pintu apartemen itu otomatis terbuka lebar, dia segera merangsek masuk dan mencari keberadaan Prof. Malik disana. “Prof.Malik! Prof. Malik!” seru Bimo memanggil nama pria itu seraya mencarinya dari segala sudut apartemen. “Bimo, kamu mencari saya?” suara bariton yang terdengar berat itu seolah menghentikan detak jantungnya. DEG! Tubuhnya perlahan memutar ke arah belakang dan melihat Prof. Malik tengah berdiri di hadapannya sambil memegang dua cangkir kopi di tangannya. Asap kopi Itu terlihat mengepul di udara, aromanya menyeruak ke seluruh ruangan apartemen ini. “Saya baru saja dari dapur tadi. Ayo kita minum kopi dulu,” ajak Prof. Malik seraya berjalan menuju ruang tamu lebih dulu. Prof. Malik meletakkan kedua cangkir kopi itu di atas meja kaca. Wajahnya tampak buga
Staff Keuangan terpaku di ambang pintu, wajahnya terlihat syok dan tubuhnya gemetar. Laporan itu hampir saja jatuh dari kedua tangannya. “M-Maaf Bos, s-saya tidak tahu kalau Bos lagi bercocok tanam. Permisi!” staff itu dengan cepat menutup rapat pintu ruangannya. Wajahnya merah padam seperti kepiting rebus. Bukannya berhenti, Bimo malah kembali melanjutkan genjotannya dan menambah daya mode getaran dan kembang kempisnya ke level maksimal. Drrrttt… drrrrtt… drrrrtt… “OUHH TIDAAAAKKK!!” pekik Vanya, kepalanya mendongak ke atas dengan mata terbelalak ke atas menatap langit-langit ruangannya. Di waktu yang bersamaan seluruh tubuh wanita itu kembali kejang-kejang tak terkendali dan liang sempitnya berkedut-kedut menyedot miliknya. Air bah Vanya kembali menghantam batangnya berkali-kali dan bercucuran hingga jatuh ke bawah lantai. Bimo menyeringai seraya mendorong keras pinggulnya, membuat Vanya kembali memekik nikmat.”Aku belum keluar tapi kamu sudah klimaks berkali-kali. Kamu akan p
Bimo terkekeh pelan saat mendengarnya rayuan wanita itu. ”Menenangkan hal yang lain, hem?” Bimo memajukan tubuhnya, mengikis jarak di antara mereka lalu meraih jemari Vanya yang lembut di atas meja. Vanya menelan ludah dengan susah payah seraya menatap kedua manik mata Bimo. Kejantanan Bimo di balik celana mulai membesar dan mengeras hingga terasa sesak menyakitkan. ”M-Mas Bimo…” desah Vanya lirih, dadanya yang montok naik turun terengah. “A-Aku serius... aku mau…”Tanpa memberi aba-aba, Bimo berdiri dan memutar posisinya ke samping kursi Vanya. Kemudian, dia menarik tengkuk wanita itu dan melumat bibir plum merahnya dengan bergairah. Vanya terperanjat kaget, namun perlahan matanya terpejam dan kedua tangannya terulur merengkuh leher Bimo dengan erat sambil membalas ciuman itu dengan desahan yang tertahan.“Mmphhh…mmmpphhh…mmpphh…” Lidah mereka saling bertautan dan membelit satu sama lain di dalam sana. Mereka juga saling menghisap saliva satu sama lain hingga mengering.
Jantung Bimo seolah berhenti berdetak saat mendengar suara Prof. Malik. Bukankah pria itu sudah dibius sebelumnya? Kenapa bisa tiba-tiba terbangun? Dia dan yang lainnya perlahan berbalik dengan tubuh gemetar ketakutan. Di atas ranjang, Prof. Malik masih berbaring dan memejamkan kedua matanya. Mereka reflek menghembuskan nafas lega secara bersamaan. “Astaga, aku pikir obat bius itu tidak manjur. Sepertinya pria itu mengigau sebelum benar-benar jatuh pingsan,” ucap Angel seraya mengelus dadanya. “Ayo, jangan buang waktu lagi. Ayo kita cari bukti yang lain,” ajak Bimo seraya melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 00.30. Mereka masih memiliki waktu sekitar kurang lebih 30 menit lagi untuk mencari bukti lainnya. Mereka kembali mencari bukti lainnya yang bisa mereka temukan. Hampir 25 menit berlalu, Bimo akhirnya menemukan surat rujukan pengangkatan tahi lalat di bawah mata kirinya Prof. Malik. “Lihat, aku menemukan surat rujukan ke Rumah Sakit Medika. Prof Malik pernah mela
Malam ini Bimo datang ke apartemen Prof. Malik bersama Baskoro dan Angel. Tujuan mereka datang kesana untuk mencari tau apakah pria itu benar-benar Prof. Malik yang asli. Sesampainya disana, Baskoro dengan cekatan menaburkan bubuk terigu di permukaan scan finger apartemen Prof. Malik. Setelah itu, terlihat jejak sidik jari Prof Malik menempel di angka 6,9,1,0,5, dan 7. “Bas, bagaimana kita bisa tahu berapa kode password apartemennya? Kalau kita salah memasukkan angka sebanyak 3 kali, pintunya akan terkunci otomatis selama 24 jam dan alarmnya akan berbunyi,” tanya Bimo seraya melirik ke kanan dan ke kiri, takut jika ada Security yang lewat. “Tenang Bimo, untuk mengetahui urutan angkanya kita tinggal melihat tingkat ketebalan bubuk terigu yang menempel di tombol-tombol itu,” jawab Baskoro seraya mengarahkan lampu senter kecil ke arah keypad.Angel ikut mendekatkan wajahnya, mengamati dengan teliti. “Tombol yang paling pertama ditekan pasti memiliki jejak sidik jari yang paling tebal
Bimo tengah duduk menunggu kedatangan Vanya di dalam ruangannya. Dia tidak tahu kenapa istri sahabatnya itu ingin mengajaknya untuk bertemu. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu yang membuyarkan lamunannya. Tok… tok… tok… “Silahkan masuk!” serunya. Gagang pintu dibuka dari luar, disana terlihat Vanya berdiri dengan pakaian rapi dan modis yang menutupi tubuh montoknya. Wanita itu masuk ke dalam ruangannya dan menutup rapat pintunya. Bimo terpesona melihat kecantikan Vanya siang ini.”Vanya, ayo duduklah. Aku baru saja menyiapkan es kopi Americano dan pisang goreng untukmu.” Vanya tersenyum simpul seraya duduk di hadapan Bimo.”Wah, terima kasih banyak. Mas tahu banget aku lagi laper dan haus. Di luar panas banget ya cuacanya.” “Iya, sekarang memasuki musim kemarau. Asap jerebu ada dimana-mana dan sangat tebal terutama pada pagi dan malam hari. Jangan lupa pakai masker kalau mau bepergian kemana-mana,” jawab Bimo penuh perhatian. Vanya mengeluarkan masker bermotif heloki







