ログインMalam Jumat KliwonMalam ini Bimo akan melakukan pertapaan yang ketiga kalinya untuk menyempurnakan kekuatan yang dimilikinya. Kali ini dia akan bertapa di dalam sebuah telaga yang berada di hutan larangan. Tiga berkas cahaya menyilaukan datang dari langit lalu berubah wujud menjadi Datuk Maringgi dan kedua khodam harimaunya. “AUMMM!!” auman kedua khodam itu memecah hening di sekitaran hutan. “Cucuku, maaf kami datang agak telat. Tadi Kakek harus nganterin Sinta pulang ke rumahnya,” jawab Datuk seraya terkekeh. Bimo menghela nafas panjang. Beginilah kalau memiliki leluhur lagi puber kedua dengan manusia.”Iya gapapa, ayo kita mulai saja Kek. Hari sudah semakin larut.” Datuk Maringgi terkekeh pelan seraya mengelus janggut putihnya. Kedua khodam harimau di sampingnya kini bersiap di tepi telaga, mengawasi area sekitar hutan larangan dengan sorot mata merah menyala.”Baiklah, Cucuku. Masuklah ke dalam telaga. Rendam semua tubuhmu disana kecuali kepalamu. Kamu juga tidak perlu menutu
“Walaupun Nathan sudah meninggal, namun para petinggi The Genesis Project yang berasal dari kalangan elite sampai saat ini masih hidup. Sebagian dari mereka ada yang di penjara karena sudah banyak membunuh dan menjadikan manusia sebagai bahan percobaan mereka. Dan sebagian lagi berkeliaran dan kabur keluar negeri demi menghindari kejaran FBI,” ujar Prof. Malik. Bimo mendengarkannya dengan seksama. Matanya menelusuri wajah pria itu, seolah sedang mencari jejak kebohongan disana, namun ia tak dapat menemukannya. Perlahan dia memajukan wajahnya, menatap Prof. Malik serius.” Apa mereka masih mengincar sumsum tulang belakangku?” Prof. Malik mengangguk.”Benar, bagi mereka kamu adalah aset. Sumsum tulang belakangmu itu lebih berharga dari berlian sekalipun. Bagi mereka kamu adalah ladang bisnis yang sangat menjanjikan.” Kedua tangannya terkepal kuat dan giginya gemeretak saat mendengarnya.”Saya bukan barang yang bisa mereka jual,” Bimo menepuk dada bidangnya beberapa kali.”Ini adalah tub
Bimo tak punya banyak waktu untuk berpikir. Dia langsung mematikan panggilan teleponnya lalu segera pergi ke apartemen Prof. Malik. Sesampainya disana, dia menekan password yang tempo hari dimasukkan oleh Baskoro. Pintu apartemen itu otomatis terbuka lebar, dia segera merangsek masuk dan mencari keberadaan Prof. Malik disana. “Prof.Malik! Prof. Malik!” seru Bimo memanggil nama pria itu seraya mencarinya dari segala sudut apartemen. “Bimo, kamu mencari saya?” suara bariton yang terdengar berat itu seolah menghentikan detak jantungnya. DEG! Tubuhnya perlahan memutar ke arah belakang dan melihat Prof. Malik tengah berdiri di hadapannya sambil memegang dua cangkir kopi di tangannya. Asap kopi Itu terlihat mengepul di udara, aromanya menyeruak ke seluruh ruangan apartemen ini. “Saya baru saja dari dapur tadi. Ayo kita minum kopi dulu,” ajak Prof. Malik seraya berjalan menuju ruang tamu lebih dulu. Prof. Malik meletakkan kedua cangkir kopi itu di atas meja kaca. Wajahnya tampak buga
Staff Keuangan terpaku di ambang pintu, wajahnya terlihat syok dan tubuhnya gemetar. Laporan itu hampir saja jatuh dari kedua tangannya. “M-Maaf Bos, s-saya tidak tahu kalau Bos lagi bercocok tanam. Permisi!” staff itu dengan cepat menutup rapat pintu ruangannya. Wajahnya merah padam seperti kepiting rebus. Bukannya berhenti, Bimo malah kembali melanjutkan genjotannya dan menambah daya mode getaran dan kembang kempisnya ke level maksimal. Drrrttt… drrrrtt… drrrrtt… “OUHH TIDAAAAKKK!!” pekik Vanya, kepalanya mendongak ke atas dengan mata terbelalak ke atas menatap langit-langit ruangannya. Di waktu yang bersamaan seluruh tubuh wanita itu kembali kejang-kejang tak terkendali dan liang sempitnya berkedut-kedut menyedot miliknya. Air bah Vanya kembali menghantam batangnya berkali-kali dan bercucuran hingga jatuh ke bawah lantai. Bimo menyeringai seraya mendorong keras pinggulnya, membuat Vanya kembali memekik nikmat.”Aku belum keluar tapi kamu sudah klimaks berkali-kali. Kamu akan p
Bimo terkekeh pelan saat mendengarnya rayuan wanita itu. ”Menenangkan hal yang lain, hem?” Bimo memajukan tubuhnya, mengikis jarak di antara mereka lalu meraih jemari Vanya yang lembut di atas meja. Vanya menelan ludah dengan susah payah seraya menatap kedua manik mata Bimo. Kejantanan Bimo di balik celana mulai membesar dan mengeras hingga terasa sesak menyakitkan. ”M-Mas Bimo…” desah Vanya lirih, dadanya yang montok naik turun terengah. “A-Aku serius... aku mau…”Tanpa memberi aba-aba, Bimo berdiri dan memutar posisinya ke samping kursi Vanya. Kemudian, dia menarik tengkuk wanita itu dan melumat bibir plum merahnya dengan bergairah. Vanya terperanjat kaget, namun perlahan matanya terpejam dan kedua tangannya terulur merengkuh leher Bimo dengan erat sambil membalas ciuman itu dengan desahan yang tertahan.“Mmphhh…mmmpphhh…mmpphh…” Lidah mereka saling bertautan dan membelit satu sama lain di dalam sana. Mereka juga saling menghisap saliva satu sama lain hingga mengering.
Jantung Bimo seolah berhenti berdetak saat mendengar suara Prof. Malik. Bukankah pria itu sudah dibius sebelumnya? Kenapa bisa tiba-tiba terbangun? Dia dan yang lainnya perlahan berbalik dengan tubuh gemetar ketakutan. Di atas ranjang, Prof. Malik masih berbaring dan memejamkan kedua matanya. Mereka reflek menghembuskan nafas lega secara bersamaan. “Astaga, aku pikir obat bius itu tidak manjur. Sepertinya pria itu mengigau sebelum benar-benar jatuh pingsan,” ucap Angel seraya mengelus dadanya. “Ayo, jangan buang waktu lagi. Ayo kita cari bukti yang lain,” ajak Bimo seraya melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 00.30. Mereka masih memiliki waktu sekitar kurang lebih 30 menit lagi untuk mencari bukti lainnya. Mereka kembali mencari bukti lainnya yang bisa mereka temukan. Hampir 25 menit berlalu, Bimo akhirnya menemukan surat rujukan pengangkatan tahi lalat di bawah mata kirinya Prof. Malik. “Lihat, aku menemukan surat rujukan ke Rumah Sakit Medika. Prof Malik pernah mela







