Início / Urban / Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi / Bab 56 Rak Goyang Di Perpustakaan

Compartilhar

Bab 56 Rak Goyang Di Perpustakaan

Autor: Sora Archery
last update Data de publicação: 2026-03-21 21:26:18
Vanya segera berbalik, ia menungging di depan rak buku Etnobotani, mengangkat rok span hitamnya hingga memperlihatkan pinggulnya yang lebar dan montok.

​Tunangan sahabatnya itu, menarik celana dalam G-string miliknya ke samping, memamerkan kewanitaannya yang sudah basah dan merah merekah di depannya. "Mas... cepat! Genjot aku dari belakang! Masukin semua keperkasaan monstermu ke dalam milikku! “

​Bimo menelan ludahnya kasar. Di sisi lain dia tidak mau melakukannya karena Vanya adalah tunan
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (9)
goodnovel comment avatar
Viva Oke
tapi ada proses yang membahayakan jiwa
goodnovel comment avatar
Viva Oke
salut mah othor, dibalik cerita mesummmm ternyata ada ilmu tentang racun dan penawarnya.
goodnovel comment avatar
Huzi_Acc
tambah ngeri kamu Bimo
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 237 Simbol Segitiga Terbalik

    “Brrrr!! Dug! Dug!” Bimo terus memukul tabung itu berulang kali dengan mata melotot marah saat pimpinan menggesekkan ujung keperkasaannya ke lembah kenikmatan Mayang. Pimpinan tertawa kecil di balik topengnya.”Lihat Bimo, milik mama mertuamu sudah sangat basah. Aku akan segera masuk ke dalam ahhhhh!! Sempit sekali!” Pimpinan mendorong pinggulnya sangat dalam, masuk ke dalam rongga kenikmatan Mayang seraya memegang erat pinggangnya.”Stttt, Bimo lubang mama mertuamu begitu sempit, hangat dan menggigit di dalam. Pantas saja kamu ketagihan saat menggenjotnya. Ughh rasakan ini!” Plok! Plok! Plok! Pimpinan mengayunkan pinggulnya dengan cepat. Mayang hanya bisa mengerang dengan tatapan kosong di hadapan Bimo. Bukit ranum Mayang yang jumbo bergoyang kesana-kemari seperti bola basket tiap kali pimpinan menyodoknya dengan keras. “Brrrrr!! Dug! Dug! Aku akan membunuhmu bajingan!!” teriak Bimo di dalam air. Bimo semakin emosi dan terus memukul kaca tabung itu hingga retak. Dia terus memukul

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 236 Terkurung Di Dalam Tabung

    Bimo segera ke depan untuk menemui pelanggan yang ingin bertemu langsung dengannya. Sesampainya disana, matanya membelalak saat melihat Pak Burhan dan beberapa karyawannya duduk di salah satu meja. “Pak Burhan? Sejak kapan dia duduk disana?” batinnya resah. Masalah buket mawar semalam sudah membuatnya resah dan tidak bisa tidur. Sekarang Pak Burhan datang ke Cafenya. Firasatnya berubah menjadi tidak enak. “Selamat siang Pak, ada yang bisa saya bantu?” tanya Bimo berusaha bersikap profesional. “Selamat siang Pak Bimo. Selamat ya atas pembukaan Cafe barunya. Saya datang kemari mengajak para karyawan saya untuk makan bersama. Makanan dan minumannya enak-enak. Hanya saja… saya menemukan sebuah rambut di dalam makanan,” ucap Pak Burhan sambil memperlihatkan rambut yang ada di dalam makanannya. “Rambut?” mata Bimo memicing saat melihat sehelai rambut disana.”Maaf Pak Burhan,saya tidak yakin kalau rambut yang ada di dalam makanan Bapak adalah rambut Chef yang memasak pesanan Bapak.” Ra

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 235 Buket Bunga Mawar Hitam

    “Bimo, apa isi paketnya Nak?” tanya Mayang penasaran. Bimo cepat-cepat menutup kotak itu agar Mayang dan yang lainnya tidak melihatnya. “Ah, bukan apa-apa kok. Ayo nikmati jamuannya,”Bimo menaruh kotak itu di atas rak lalu kembali bergabung bersama teman-teman dan keluarganya yang hadir dalam acara Grand Opening Cafe barunya. Cukup lama mereka berbincang-bincang dan menikmati hidangan di cafe ini. Satu-persatu dari mereka sudah pulang ke rumah. “Bimo, ayo kita pulang,” ajak Sella seraya menguap. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam, wajar saja kalau istrinya itu mengantuk. “Kamu duluan saja. Aku ada sedikit urusan yang harus diselesaikan,”tolak Bimo, dia masih harus membereskan semua piring kotor dan membantu karyawannya untuk bersih-bersih sebelum pulang karena besok Cafe akan dibuka untuk umum. “Baiklah, tapi jangan kemalaman yang pulangnya. Kami pulang dulu,”Sella memberikan ciuman singkat tepat di pipinya Bimo sebelum akhirnya pulang bersama Mayang dan Tiara. Setel

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 234 Grand Opening Cafe

    Wajah Mayang seketika memucat saat melihat Pak Burhan. Bimo kembali menghentikan pekerjaannya dan langsung menarik Mayang agar berdiri di belakangnya. “Mau apa Bapak datang kemari?” tanya Bimo dingin. “Saya kebetulan lewat dan mampir saja kok. Emangnya tidak boleh ya? Saya juga kangen banget sama Mayang. Mayang, apa kabar?” tanya Pak Burhan seraya terkekeh. Mayang meremas ujung bajunya Bimo dengan kuat. Bimo tahu, kalau saat ini Mayang sangat ketakutan saat melihat kehadiran Pak Burhan. “Apa Bapak tidak ingat apa yang sudah lakukan terhadap kami? Kalau Bapak masih memiliki rasa malu, sebaiknya Bapak segera angkat kaki dari tempat ini,” usir Bimo dengan nada tegas. Rahang Pak Burhan seketika mengeras namun pria paruh baya itu dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya dan tersenyum.”Saya memang mau pergi sekarang kok. Sukses ya Pak Bimo untuk usaha barunya.” Setelah mengatakan itu, Pak Burhan berbalik meninggalkan mereka dan kembali masuk ke dalam mobilnya. Begitu mobil Pak Burhan m

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 233 Persaingan Mayang dan Dian

    Hari ini Bimo mulai melakukan renovasi pada rumah Belanda yang akan jadikan sebagai cafe. Ada sekitar tiga tukang bangunan yang ikut membantunya. Rencananya, bulan depan dia akan mulai membuka bisnis cafenya. “Bimo anakku!” panggil Dian tiba-tiba saja datang tanpa diundang. Bimo yang sedang mengecat dinding, reflek menghentikan pekerjaannya.”Dian? Ngapain kamu datang kemari?” “Ngapain? Tentu saja aku datang kemari untuk melihatmu, Bimo. Sekalian aku mau lihat cafe barumu. Papamu bilang kalau kamu akan membangun bisnis cafe,” jawab Dian seraya memeluk erat lengannya Bimo. “Lepaskan aku, aku sedang sibuk sekarang. Apa kamu tidak melihatnya? Aku juga bau keringat,” Bimo berusaha menarik lengannya dan merasa jengah melihat kehadiran Dian disini.Dian mendengus kesal dan terpaksa melepaskan pelukannya.”Ck, kamu ini galak banget sih sama Mama. Mama kan kangen sama kamu. Kapan kamu genjot Mama lagi Bimo? Mama udah kangen berat sama sosis gemukmu itu.” Bimo mendadak panik saat Dian bicar

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 232 Memulai Bisnis

    Bu Marinka menatap Bimo serius.”Saya serius Pak Bimo. Semua Perusahaan rata-rata sudah tahu track record Bapak di Perusahaan sebelumnya. Bapak dipecat karena tuduhan mencuri di apartemen di apartemen salah satu Investor bukan?” Deg! “Bagaimana Bu Marinka sampai tahu? Sepertinya benar dugaanku kalau Pak Burhan sudah menyebar berita buruk tentangku di semua Perusahaan. Sial!” “Saya tidak bisa memberikan jabatan yang Anda inginkan Pak Bimo. Karena saya kasihan, makanya saya tawarkan pekerjaan lain. Jika Bapak berkenan, Bapak bisa mulai bekerja hari ini juga,” ucap Bu Marinka seraya menyodorkan baju cleaning service di atas meja. Bimo meremas kuat kedua tangannya saat melihat baju cleaning service itu. Seumur hidup dia tidak pernah merasa direndahkan seperti ini. Dari jabatan CEO, kini ia harus turun derajat menjadi seorang cleaning service. “Maaf Bu, saya tidak bisa menerima pekerjaan yang tidak saya lamar sebelumnya. Saya permisi,” tanpa pikir panjang, Bimo langsung cabut meningga

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status