Masuk“Om… aku belum siap… a-aku…” belum sempat Cindy menolak dan menghindar, Bimo sudah lebih dulu bangkit dan menarik kakinya lebih dekat lalu membuka kedua pahanya selebar mungkin. Mata Cindy seketika melotot dengan wajah ketakutan.”O-Om! S-sepertinya aku belum siap! A-aku… ouhhh!!” Belum sempat Cindy menyelesaikan kalimatnya, Bimo sudah lebih dulu meraup kewanitaan Cindy yang banjir bandang dan merah merekah. Slrrppp… slllrppp.. Slrrppp… Lidah Bimo meliuk-liuk menjilati dan sesekali keluar masuk ke dalam lubang gadis itu. Tubuh Cindy menggelinjang seolah tak tahan menerima siksaan gairah ini. “Ouhh geli Om!! Jangan masukkan lidahnya disana! Kotor… ouhhh!!” desah Cindy seraya merem melek dan kembali meremas rambutnya Bimo. Bimo tak berhenti menggerakkan lidahnya dan sesekali menghisap biji kacang merahnya. Kedua tangan Cindy bergerak menekan kepalanya hingga membuatnya susah untuk bernafas. “H-hentikan Om! A-aku gak tahan lagi! Aku ingin keluar!! Ouhh!!” pekik Cindy saat menuju k
Sepasang buah melon yang amat segar, kencang, putih, dan berukuran besar sekitar 38B kini terpampang nyata di hadapan Bimo. Puncaknya berwarna pink dan kecil tidak selebar seperti punya Mayang dan Lilis. Wajar saja karena Cindy ini masih gadis. Cindy reflek menutup menyilangkan kedua tangan untuk menutupi bukit ranumnya seraya menunduk malu. Bimo tersenyum miring saat melihatnya.”Kenapa? Apa kamu berubah pikiran?” Cindy menggeleng pelan tanpa berani menatapnya.”B-bukan, a-aku masih…masih perawan Om.” Bimo terdiam sejenak saat mendengarnya. Perawan? Sangat jarang menemukan gadis masih perawan di zaman yang serba gila ini. Tangannya perlahan menyentuh dagu Cindy hingga kepala gadis itu mendongak menatapnya. “Tenang, Om akan melakukannya dengan lembut. Kamu tidak perlu khawatir,”ucap Bimo seraya menatap bibir plum merah Cindy yang sedikit terbuka. Perlahan wajahnya kian mendekat dan meraup bibir manis itu dengan lembut. CupAwalnya hanya kecupan-kecupan biasa, lalu ia memberanik
Cindy tampak cantik dan seksi dengan mengenakan gaun satin tipis yang memperlihatkan sebagian paha putihnya. Belahan gundukan bukit ranumnya juga terlihat jelas dan hampir melompat keluar saking besarnya. Jakun Bimo naik turun saat melihat kemontokan istri mudanya itu. “Cindy? Kamu belum tidur?” tanya Bimo tanpa mengalihkan tatapannya ke arah kedua melon Cindy yang sangat besar setara dengan punya Mayang dan Lilis. Samar-samar dia juga melihat cetakan puncaknya Cindy, sepertinya gadis itu tidak memakai bra. “Aku haus banget Om, makanya aku mau keluar ambil minum,”ucap Cindy dengan raut wajah malu-malu. “Kalau begitu biar Om saja yang ambilkan minumnya. Kamu tetaplah di kamar,” tawar Bimo sedikit gugup. “Iya Om, terima kasih ya,” ucap Cindy dengan suara mendayu-dayu sambil membenarkan tali spagetti gaun tidurnya yang melorot. Wangi harum semerbak dari tubuh gadis itu seketika menyeruak, menyerang indra penciumannya. Bimo menyunggingkan smirk tajamnya seraya berbalik men
Setelah acara berakhir, satu- persatu para tamu undangan pulang ke rumah masing-masing. Mayang dan Tiara terlihat cukup kelelahan karena meladeni banyak tamu, jadi Bimo menyuruh mereka beristirahat terlebih dahulu sebelum membuka kado dari para tamu. Setelah memastikan mereka masuk ke dalam kamar, Bimo masuk ke dalam ruangan kerjanya lalu duduk di atas kursi kebesarannya dan membuka laptop. Disana terlihat grafik penjualan Bimo Coffee bulan ini. Penjualan semakin meningkat setelah sejak peluncuran produk baru. Permintaan pasar semakin membludak akhir-akhir ini. Bimo Coffee sukses besar di Singapore hingga membuat pengusaha asal Korea dan Jepang tertarik dan ingin bekerja sama dengannya. Rencananya bulan depan dia akan taken kontrak bersama mereka. Ingatannya kembali melayang saat melihat Vanya menatap Prof. Malik tanpa ekspresi. “Ada yang aneh, apa hanya perasaanku saja?” batinnya. ***“Om, aku mau tinggal disini mulai detik ini,” ucap Cindy, istri muda Bimo. Semua orang yang
Perhatian Bimo tertuju pada pria paruh baya yang baru saja datang dan berjalan menghampirinya. Dia adalah Prof. Malik. Vanya yang tengah berdiri di antara kerumunan tamu bersama Anto, tampak terkejut saat melihat kedatangan pria itu. “P-Prof Malik? P-Prof masih hidup?!” seru Vanya dengan nada suara gemetar seperti orang yang habis melihat hantu. Prof. Malik tersenyum ke arah Vanya.”Iya, maaf karena sudah mengejutkanmu, Vanya. Seharusnya saya menghubungimu lebih awal. Seperti yang kamu lihat, saya masih sehat dan bugar.” “Siapa dia, Bimo?” tanya Mayang kebingungan. “Ah, dia adalah temanku Ma. Namanya Prof Malik,” jawab Bimo. Prof Malik naik ke atas panggung lalu memberikan selamat untuk Bimo, Mayang dan Tiara. Pria itu menepuk pelan bahunya seraya tersenyum.”Selamat ya Pak Bimo. Sebentar lagi Bapak akan dianugerahkan seorang anak laki-laki dan perempuan.” Bimo membalas senyumannya.”Iya, terima kasih Prof.” Prof. Malik lalu merogoh saku dalam jasnya dan meng
Bu RT hampir menangis haru sambil mengibaskan tangan ke arah wajahnya saat mendapatkan kejutan yang sudah dipersiapkan oleh Bimo hari ini. Semua tatapan para tamu undangan tertuju pada kotak besar berwarna merah itu. Mereka sepertinya sangat penasaran ingin melihat apa isi di dalamnya. Begitu kedua orang yang diperintah Bimo tadi membuka simpul pita kotak itu dalam sekali sentakan, semua orang langsung terdiam saat melihat sosok pria yang ada di dalamnya. Wajah Bu RT yang tadinya sumringah kini berubah memucat saat melihatnya. “P-Pak Ujang?!” Pak Ujang tampak terlihat gagah dan tampan dengan mengenakan setelan raja dangdut roma irama. Kepalanya yang plontos kini dipakaikan wig keriting dan ditangannya ada sebuah gitar kecil yang biasa dipakai pengamen jalanan di lampu merah. Pak Ujang langsung memetikkan gitarnya di hadapan para tamu undangan. Jrenggg!! “Hidup tanpa Bu RT, bagai taman tak berbunga~ Hai… begitulah kata para pujangga~~” Tubuh Bu RT langsung mer







