ANMELDENRanjang perawatan Adel perlahan didorong menyusuri koridor lantai lima yang sunyi dan harum aromaterapi, jauh dari kebisingan UGD di lantai bawah. Pintu ganda kayu jati berwarna hangat itu terbuka lebar, menyambut mereka ke dalam ruang perawatan VIP Utama. Ruangan itu sangat luas, dilengkapi sofa empuk, televisi layar datar, dan jendela besar yang menampilkan pemandangan pepohonan hijau di luar.Para perawat memindahkan tubuh mungil Adel ke atas tempat tidur berukuran besar dengan seprei putih lembut yang bersih. Setelah memastikan seluruh alat pemantau medis dan cairan infus terpasang sempurna, para perawat memohon diri dan meninggalkan ruangan, memberikan ketenangan utuh bagi ayah dan anak tersebut.Begitu pintu VIP tertutup rapat, keheningan yang menenangkan seketika menyelimuti ruangan. Adam melangkah mendekat, menarik kursi di samping ranjang, lalu duduk sembari mengusap lembut jemari mungil Adel yang terbebas dari infus.Mata kecil Adel perlahan terbuka, berkedip pelan menyes
Lidah Mira dan Marni terasa kaku, kelu tak sanggup membendung gelombang tatapan jijik dan bisik-bisik celaan dari puluhan keluarga pasien di koridor UGD tersebut. Wajah Mira memerah padam menahan malu yang teramat sangat, sementara Marni mengepalkan tangannya dengan mata melotot penuh kebencian. Rencana busuk mereka untuk mengarak dan mempermalukan Adam di depan umum justru berbalik menjadi senjata makan tuan yang menghancurkan harga diri mereka sendiri.Namun, dasar wanita berdarah dingin yang dikuasai ketamakan, Marni menolak untuk mengaku kalah begitu saja. Dengan urat leher yang menegang, ibu kandung Mira itu melangkah maju satu tindak, memajukan tubuhnya dan menyemburkan makian dengan suara melengking."Jangan sok suci kamu, Adam!" jerit Marni meluapkan rasa frustrasinya, mengabaikan cemoohan warga di sekitarnya. "Dasar pria sombong dan lupa daratan! Baru juga beberapa hari diangkat jadi Direktur Utama di Holding Pusat, kelakuanmu sudah seperti penguasa dunia! Kamu pikir dengan
Adam mengepalkan tangannya begitu erat mendengar makian Mira yang pandai bersilat lidah. Amarah yang membakar dadanya beradu dengan kepanikan yang teramat sangat membayangkan kondisi Adel yang kritis di UGD. Tuduhan keji Mira yang diteriakkan lewat telepon tadi tak hanya mencoreng kehormatannya, tetapi juga memutarbalikkan kenyataan secara membabi buta."Wanita iblis..." geram Adam dengan rahang mengetat keras, matanya memerah menahan napas yang memburu. "Dia benar-benar ingin menghancurkanku!"Alya, yang berdiri tepat di samping ranjang, memegang lembut lengan Adam. Sentuhan jemari Alya yang hangat perlahan meredakan guncangan hebat di tubuh pria itu."Pak Adam, tenanglah..." bisik Alya halus, berusaha menetralkan emosi Adam. "Fokus Bapak sekarang hanya Adel. Jangan biarkan emosi memakan akal sehat Bapak sebelum sampai di sana."Adam menoleh, menatap Alya dengan pandangan sarat akan rasa terima kasih dan bersalah. Ia mengangguk pelan. "Aku harus ke rumah sakit sekarang, Alya."
Dini hari yang dingin merayap makin pekat di dalam rumah tua Marni. Dari dalam kamar belakang yang gelap dan pengap, suara rintihan Adel tidak lagi terdengar sebagai tangisan nyaring, melainkan hembusan napas pendek-pendek yang amat lelah dan halus.Di atas kasur kusam tanpa selimut yang hangat, tubuh mungil anak berusia lima tahun itu menggigil makin hebat. Wajah Adel melenyapkan warna rona merahnya, berganti menjadi pucat pasi dengan bibir kering pecah-pecah yang membiru. Ketika Marni masuk ke dalam kamar untuk mengambil sapu pada pukul tiga pagi, ia tersentak saat melihat mata Adel memutar ke atas, sementara tubuhnya mulai kejang-kejang kecil akibat demam tinggi yang terus melonjak tanpa penanganan medis."Mira! Mira, bangun!" teriak Marni panik, menepuk-nepuk pipi putrinya di kamar sebelah. "Anak ini kejang-kejang! Tubuhnya panas sekali bagaikan dibakar!"Mira yang terbangun dengan wajah kesal langsung membelalak kaget. Ketakutan menyergap dadanya, bukan karena rasa kasih sayan
Malam kian melarut, merayap menembus dinding-dinding rumah tua keluarga Marni. Di dalam ruang tamu yang remang, Marni berjalan mondar-mandir dengan gelisah, sesekali melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Setiap kali terdengar suara kendaraan melintas di depan rumah, ia refleks menoleh cepat ke arah jendela, berharap itu adalah langkah kaki Adam yang datang membawa kepanikan.Namun, jalanan di luar tetap lengang. Tidak ada tanda-tiga kedatangan Adam sama sekali."Kenapa pria konyol itu belum muncul juga?!" bentak Marni dengan suara tertahan namun penuh amarah. Ia memutar tubuhnya, menatap Mira yang sedang bersandar di sofa sambil mengikir kuku jarinya. "Harusnya saat ini dia sudah menggedor pintu kita sambil berlutut memohon agar Adel dikembalikan!"Mira melirik ibunya malas, meski di dalam dadanya mulai merayap rasa kebingungan yang sama. "Mungkin dia masih sibuk mencari uang ganti rugi atau bingung mau tinggal di mana, Bu. Tadi kan di kosannya mereka suda
Napas Adam memburu di ceruk leher Alya, menghantarkan hawa hangat yang membuat seluruh tubuh Alya meremang hebat. Di dalam kamar hotel melati yang temaram itu, gesekan kain dan keheningan yang menghimpit seolah melipatgandakan desakan emosi yang selama ini terpendam. Adam, yang berada di puncak rasa frustrasi, lelah, dan kesepian akibat pengkhianatan Mira, tak lagi mampu membendung gejolak insting prianya di hadapan wanita yang menjadi satu-satunya tempat ia bersandar."Pak Adam... Tolong, ingat situasi kita... Jangan begini..." desis Alya terbata-bata. Jemari tangannya yang gemetaran menahan dada bidang Adam, mencoba memberikan jarak di antara tubuh mereka.Namun, Adam seakan tuli oleh pusaran gairah dan rasa butuh yang mendalam. Dekapan tangannya di pinggang Alya justru makin mengerat, mengunci pergerakan wanita itu hingga tak ada celah untuk menghindar. Pria itu menyusupkan wajahnya makin dalam, menyesap aroma harum yang terbayang dari leher Alya, lalu mengecup garis rahang wanit







