LOGINRaisa mengerutkan kening, dan berkata, "Situasinya beda, nggak perlu dibandingkan."Bravi berkata, "Ini soal cinta atau nggak. Kau lebih mencintai Kevin, dia adalah orang pertama yang benar-benar kau cintai. Bukan aku, aku datang belakangan."Raisa mengepalkan tangan, lalu berkata, "Bravi, menurutku nggak perlu membandingkan begitu. Saat bersamamu, aku juga memberikan seratus persen hatiku. Kalau kau membandingkan dirimu dengan Kevin, itu nggak cuma menyakiti hatimu, tapi seolah-olah aku adalah wanita jahat yang nggak memberi cinta yang setara pada kalian …. Ikatan orang itu beda-beda."Wajah Bravi tiba-tiba berubah, rasa sakitnya terlihat jelas.Raisa tertegun, belum pernah melihat Bravi begitu emosional. Apa yang dia katakan membuat pria itu seperti ini? Raisa hanya berkata jujur.Namun melihat dia begitu menderita, hatinya tiba-tiba terasa sesak, bahkan sedikit sulit bernapas.Raisa memalingkan wajahnya.Tangannya tiba-tiba digenggam oleh Bravi. Telapak tangan yang dulu hangat kini
Raisa bertanya pada Bravi, "Kenapa kau berpikir dengan mengawasiku dan menculik anakku, aku akan kembali padamu?"Bravi memilih semua ini karena pola pikir yang terbentuk sejak kecil karena ditinggalkan.Saat Raisa mengajukan putus, di matanya itu sama saja dengan ditinggalkan. Bravi sepenuhnya kehilangan keinginan untuk bertahan dan tidak pernah belajar cara mempertahankan hubungan, jadi dia pun tidak berusaha mempertahankannya.Mungkin saat kecil Bravi pernah bertanya kenapa ayah dan ibunya tidak pernah menjenguknya, tetapi setelah bertanya itu tidak ada gunanya, dia perlahan-lahan terbiasa menerima takdir seperti itu.Jadi dalam pemahaman Bravi, ketika Raisa mengajukan putus, dia tidak berhak lagi mendekatinya, bahkan tidak berhak berbicara dengannya, dan sama sekali tidak berani muncul di hadapannya.Tetapi Bravi tidak bisa menerima kehilangan Raisa, tidak ingin menerima takdirnya seperti saat kecil. Tapi dia juga tidak punya keberanian untuk menemui Raisa, hanya bisa mengamatinya
Raisa masih sangat marah pada Bravi, apa pun yang dikatakannya sekarang, dia mungkin tidak akan bisa menanggapinya dengan tenang.Lagipula, Rey datang bersamanya sebagai pacar. Sebelum datang, Rey bahkan sempat dikurung secara paksa olehnya, kebebasan geraknya pun dibatasi.Bravi tidak memberikan penjelasan atau meminta maaf, malah mengusirnya dengan sikap yang begitu tegas. Tanpa berpikir panjang, Raisa berkata, "Rey sekarang pacarku. Penjelasanmu, dia juga bisa mendengarnya."Bravi sedikit menundukkan pandangannya, melihat Raisa yang marah, tanpa sadar dia ingin berpura-pura menjadi sosok yang pengertian seperti dulu.Namun, semua itu justru berbalik menjadi bumerang.Meskipun memang sulit untuk mengubah sikap saat berhadapan dengan Raisa, Bravi tidak akan lagi bersikap seperti dulu, tidak memiliki sikap yang jelas terhadap apapun, sehingga Raisa sama sekali tidak bisa merasakan emosinya yang sebenarnya.Jadi Bravi berkata dengan blak-blakan, "Raisa, anak-anakmu masih di tanganku. Ka
Angga benar-benar takjub dengan kemampuan bicara Rey, tetapi Raisa sudah dipenuhi amarah. Dia terus menahan emosinya hingga merasa khawatir akan dampaknya pada bayinya. Angga tidak bisa lagi mengabaikan perasaannya dan harus segera menenangkannya, lalu berkata, "Bravi ingin merawat mereka."Rey bertanya, "Apa haknya? Anak-anak itu bukan miliknya."Angga berkata, "Mau menggunakan anak-anak untuk menghukum Kevin."Rey sangat mengenal Kevin, lalu berkata, "Itu memang cara yang bagus, langsung kena sasaran, dan bisa dibilang itu karma untuk Kevin." Dia menoleh melihat Raisa yang wajahnya semakin pucat, lalu menatap Angga dengan tatapan berbahaya, melanjutkan, "Masalah antara mereka sebaiknya diselesaikan secara pribadi saja. Kenapa harus melibatkan anak-anak? Itu sangat egois. Apa sudah mempertimbangkan perasaan anak-anak? Atau perasaan Raisa? Pasti nggak, kan?"Apa yang dikatakan Rey sangat benar, dan Angga tidak bisa membantahnya.Rey melanjutkan pertanyaannya, "Jadi Bravi memutuskan ing
Setelah Bravi pergi, Angga pun menjamu Raisa sesuai dengan instruksi Bravi.Dia mengantar mereka ke gedung bergaya Eropa itu.Angga memandang punggung Bravi yang pergi bersama dokter, dan akhirnya bisa bernapas lega.Untunglah Bravi mendengarkan Raisa, kalau tidak, jika dia bersikeras, tidak ada yang bisa menghentikannya.Raisa pasti juga … khawatir pada Bravi, kan?Namun sikap dingin Raisa sepertinya tidak menunjukkan itu, dan dia selalu bersama Rey. Mereka sekarang sepasang kekasih. Sejujurnya, Angga merasa sulit percaya, apa Raisa benar-benar menjalin hubungan dengan Rey?Jika mereka sudah bersama, lalu bagaimana Bravi bisa mengejar Raisa? Menjadi selingkuhan?Angga merasa dengan kondisi mental Bravi saat ini, mungkin dia benar-benar bersedia menjadi selingkuhan Raisa. Karena dari kondisinya setelah putus, Bravi tidak mungkin melepaskan Raisa.Angga menyuruh pelayan menyiapkan teh hitam terlebih dahulu, tetapi Raisa hanya khawatir pada anak-anaknya, dan meminta segera mengantarkanny
"Lukanya harus diobati dulu," kata Angga dengan tegas.Saat itu, Bravi hanya berpikir untuk menjamu tamu pentingnya dan tidak mau membuang waktu untuk urusan yang tidak penting.Bravi pun berkata tanpa bisa dibantah, "Minggir."Raisa yang berjalan di depan tiba-tiba menghentikan langkahnya, berbalik, dan menatap Bravi dengan wajah sinis, lalu berkata, "Aku masih ingin mendengar permintaan maaf darimu, Bravi. Jangan sampai kau belum selesai bicara, sudah mati di depanku. Nanti tuntutan pembunuhan ini malah dilimpahkan padaku."Entah kenapa, mendengar sarkasme dan sindiran Raisa, Bravi justru merasa senang.Dulu saat mereka bersama, Raisa tidak pernah benar-benar menyindirnya. Sekarang saat benar-benar disindir, dia sama sekali tidak merasa tersinggung, malah bersyukur karena Raisa masih mau berbicara seperti itu padanya.Bravi menatap matanya dan berkata, "Tenang saja, aku nggak akan menyusahkanmu."Wajah Raisa semakin muram, dan berkata dengan nada suaranya yang semakin tajam, "Bravi,
Mulut Rian memang sangat tajam, bahkan Raisa saja sesekali kesulitan menahannya, apalagi Dina.Semua orang di sekitarnya hanya mengucapkan kata-kata baik, tetapi setelah mendengar itu, Dina begitu marah hingga hampir meledak. Dengan suara pelan, dia mengancam, "Kalau kau berani menyentuhku, aku akan
Dina melangkah maju beberapa langkah.Nora menariknya kembali.Dina bertanya, "Apa sih?"Nora berkata, "Jangan ke sana, waktu kita balapan di luar kota kemarin, kita cuma dapat sial darinya." Sebenarnya, karena Raisa dan Dina sangat tidak akur, kalau mereka mendekat, pasti akan buat Raisa kesal.Mem
Raisa benar-benar kesal. Dia seringkali ingin menampar Rian, tapi adiknya itu juga bisa melakukan hal yang membuat hatinya terasa hangat. Raisa dengan senang hati menikmati daging kepiting itu.Rian telah memberinya daging kepiting dengan sukarela, bukan untuk pamer. Namun, karena Bravi juga hadir,
Di benak Rian, tiba-tiba muncul banyak kriteria. Namun ketika dianalisis secara mendalam, semua itu jika disatukan hasilnya tidak jauh berbeda dengan sosok Bravi. Bayangan calon ideal yang bisa dia bayangkan, juga tidak lain adalah sosok seperti Bravi itu sendiri, yang memang sudah di level tertingg







