LOGINRey adalah orang yang sangat berwawasan, dia bisa melihat segala sesuatu dengan jelas.Bahkan dengan kepribadian Kevin yang buruk sehingga kebanyakan orang tidak akan bisa bergaul dengannya, tetapi Rey justru bisa, karena dia tahu bagaimana mempertahankan posisi dan batasannya sendiri.Namun yang paling utama adalah karena Rey cerdas sejak usia dini, terampil dalam hubungan interpersonal, dan memiliki kecerdasan emosional yang sangat tinggi. Jika mau, dia bisa saja membina hubungan dekat dengan sangat baik.Lagipula, dia suka menjadi orang yang memberi dan mahir menciptakan suasana santai dan hangat, dia mampu merasakan dan menyebarkan kebahagiaan.Sebaliknya, Bravi dan Kevin masing-masing memiliki masa kecil yang tragis dan mengerikan, sehingga membuat kepribadian mereka cacat dalam hal berinteraksi dengan orang lain.Oleh karena itu, Rey bisa memahami semuanya dengan sempurna.Wajah Bravi langsung pucat pasi.Setiap kata yang diucapkan Rey menusuk tepat ke hatinya, dan membuatnya sem
Pada akhirnya, semua itu hanyalah bentuk rasa kasihan pada dirinya sendiri.Sungguh menggelikan.Bravi merasa pusing dan pandangannya terasa kabur, gelombang rasa sakit dan amarah yang luar biasa melandanya. Jika saja dia secara aktif mengungkapkan cintanya saat masih bersama Raisa, bukankah Raisa akan memiliki kepercayaan diri untuk bersamanya, bahkan menikah dengannya?Sebaliknya, ketika anak-anak itu muncul, Raisa langsung mundur karena rasa takut.Bravi terus berpikir di mana letak kesalahannya, dan sekarang dia akhirnya mengerti.Tetapi, semua ini baru dia sadari setelah putus.Perpisahan mereka adalah akibat yang harus dia tanggung.Sama seperti Kevin yang baru menyadari bahwa dia menyukai Raisa setelah bercerai.Bravi mengira dia dan Kevin sangat berbeda, tetapi ternyata mereka sama-sama bodoh!Bravi menggertakkan gigi, sama sekali tidak tahan dengan kebodohannya sendiri. Bagaimana mungkin dia baru menyadari semua ini setelah beberapa bulan putus?Memang benar, Bravi tidak perna
Rey menunjukkan bahwa keengganan Bravi untuk mendekati Raisa bukanlah karena kebiasaannya yang selalu menahan diri, melainkan karena kurangnya keberanian.Bravi selalu sadar diri bahwa dia tidak pandai mengungkapkan perasaan, dan karena dia selalu seperti itu, hal itu telah menjadi naluri alam bawah sadarnya. Tidak ada seorang pun di sekitarnya yang pernah mendengar hal seperti itu sebelumnya.Pada saat itu, kata-kata Rey seperti sebuah pukulan keras di kepala, membuatnya sangat terkejut.Bersikap seperti itu selama ini bukanlah hal yang benar.Kebiasaan bukanlah sesuatu yang dibawa sejak lahir.Bravi teringat sebuah pepatah, apa yang sangat ingin kau hindari tidak akan begitu saja tidak terjadi, hal itu akan tetap muncul dengan akibat yang lebih besar sampai kau terpaksa menghadapinya.Sejak bersama Raisa, Bravi sangat berhati-hati dalam menjaga hubungan, sampai akhirnya kemunculan Daniel menghancurkan semua bayangan indahnya. Bravi kembali teringat pada kegilaan dan penindasan di mas
Sial, benar-benar tidak bisa ditebak.Rey terdiam selama dua detik, lalu berkata sambil menggertakkan gigi, "Bravi, kau ini mau memisahkan sepasang kekasih ya?"Bravi menjawab dengan suara berat, "Seperti yang kau lihat."Rey mencibir sinis. "Dengan dasar apa kau ikut campur dalam hubunganku dan Raisa? Sebagai mantan pacarnya yang sudah putus hampir empat bulan? Bravi, Raisa sudah memutuskanmu, kalian berdua sudah nggak ada hubungan apa-apa. Apa hakmu ikut campur pada pilihan Raisa?""Makanya aku datang menemuimu, agar kau mundur dengan sukarela."Begitu kata-kata Bravi selesai, para pengawal itu langsung menariknya dengan keras. Karena kedua tangannya terikat di belakang punggung, tarikan itu membuat Rey merasakan sakit yang semakin hebat. Jika tarikannya sedikit lebih keras, mungkin tulangnya akan terkilir. Wajah Rey mulai memucat.Rey benar-benar tidak bisa lagi menjaga martabatnya, dia menggigit bibirnya dan berkata, "Bravi, pacarku ada di sebelah sana. Kalau kau begitu nggak suka
Setelah Elang dan Aurelia lahir, Rey sering menghabiskan waktu bersama Raisa.Dia sangat menyadari bahwa Bravi sama sekali tidak pernah kembali menemui Raisa.Dari perilaku Bravi, tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana sebenarnya sikapnya terhadap Raisa.Jelas terlihat bahwa Bravi, sang orang terkaya lingkaran elit pusat ini telah diputuskan, lalu marah, dan tidak pernah berpikir untuk kembali.Citranya yang dingin dan angkuh sejak awal sudah sulit didekati, biasanya tidak ada yang berani mengganggunya, namun akhirnya dia ditinggalkan oleh seorang wanita, itu terlalu memalukan. Bravi tidak bisa menerima hal itu, jadi semakin tidak mungkin baginya untuk merendahkan diri dan kembali mencari Raisa.Mulai saat itu mereka berdua adalah orang yang berbeda jalan, itulah pesan yang disampaikan oleh Bravi.Karena tidak mau berebut, tidak mau kembali, tapi sekarang dengan keras memaksa Rey putus dengan Raisa, Rey merasa hal itu tidak masuk akal.Jika sejak awal Bravi benar-benar memperebutkan
Jika benar-benar bersama Raisa, maka mereka adalah kawan seperjuangan yang bertempur bahu-membahu."Oke," ucap Rey yang cukup memercayai Raisa.Rey masih mengenakan piyama, lalu meninggalkan kamar Raisa. Pintu ditutup, dia mengikuti Dimas kembali ke kamar presidensial-nya.Begitu pintu didorong terbuka, sebuah pistol diacungkan ke dahi Rey.Aura bahaya terasa begitu mendebarkan.Rey tidak menyangka akan seperti ini. Tidak heran Dimas terlihat begitu ketakutan dan tak berdaya, ternyata dia sedang diancam!Rey hanya terdiam sejenak, lalu tampak sama sekali tidak takut, kemudian menatap Bravi yang entah sejak kapan sudah berada di ruangannya."Bravi, lama nggak jumpa."Rey mengangkat kedua tangannya, dan Dimas mengikuti gerakannya dengan mengangkat tangan seolah menyerah.Bravi duduk di sofa, sementara Angga berdiri di belakangnya. Posisi duduk dan berdiri mereka memancarkan aura yang sangat mengintimidasi. Dulu Rey lebih sering melihat Bravi dan Kevin saling berhadapan dan bertengkar. Ta
Bravi tidak terlalu memikirkannya. Raisa selalu bersikap sopan padanya, tapi kini kesopanan itulah yang paling dibencinya saat ini.Pandangan matanya tertahan sebentar di bibir wanita itu, dia menahan dorongan yang membuncah dalam dirinya, lalu membawa Raisa ke kamarnya.Kamar tipe presidensial teta
Raisa mencium Bravi, dia sengaja melakukannya agar Kevin melihatnya. Dia tahu Kevin telah menyaksikannya.Namun kenapa melakukan itu, sebelum sempat memikirkan alasannya, tubuhnya sudah bertindak lebih dulu dari pikirannya.Raisa benar-benar mencium Bravi.Saat bibir mereka bersentuhan, dia masih be
Raisa merasa hal itu cukup masuk akal, lalu menjawab, "Oke."Begitulah.Tidak ada cara yang lebih baik untuk menghadapi perasaan Bravi....Perjalanan bisnis ke luar negeri kali ini, Raisa dan Suri menyaksikan pameran teknologi kecerdasan buatan terbaru, sekaligus berhasil merekrut seorang insinyur
Raisa dibawa pergi oleh Kevin. Begitu masuk ke mobil, dia dengan suara dingin memerintahkan sopir untuk berangkat.Mungkin karena tahu Raisa pandai mengemudi, pembatas dengan kursi belakang dinaikkan agar dia tidak sembarangan berbuat.Ruangan yang sempit menimbulkan rasa sesak dan tekanan yang mend







