แชร์

156.

ผู้เขียน: Poepoe
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-12 20:20:08

Kaki Ardi melangkah ringan di sepanjang koridor. Dia menyelesaikan semua pekerjaannya tepat waktu, tanpa ada meeting tambahan atau hal-hal mendadak lainnya.

“Selamat bersenang-senang, Pak Ardi!” ucap Vita, sekretaris lamanya yang kini sudah kembali setelah cuti melahirkan. “Sampaikan salam saya pada Bu Naya dan Haryasena yang imut!”

“Tentu,” Ardi mengangguk riang.

Sebelum menjemput istri dan anaknya, dia berencana mampir ke toko bunga terlebih dahulu, mengambil pesanan buket bunga tulip untuk N
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   156.

    Kaki Ardi melangkah ringan di sepanjang koridor. Dia menyelesaikan semua pekerjaannya tepat waktu, tanpa ada meeting tambahan atau hal-hal mendadak lainnya.“Selamat bersenang-senang, Pak Ardi!” ucap Vita, sekretaris lamanya yang kini sudah kembali setelah cuti melahirkan. “Sampaikan salam saya pada Bu Naya dan Haryasena yang imut!”“Tentu,” Ardi mengangguk riang.Sebelum menjemput istri dan anaknya, dia berencana mampir ke toko bunga terlebih dahulu, mengambil pesanan buket bunga tulip untuk Naya.“Masih banyak waktu,” gumam Ardi saat melirik pergelangan tangannya. “Pasti Naya senang dengan kejutan kecil dariku,” lanjutnya lagi.Namun begitu Ardi baru saja masuk ke dalam mobilnya, ponselnya bergetar. Dia pikir itu telepon dari Naya, tetapi keningnya langsung mengerut tajam saat mengetahui bahwa Shannon yang meneleponnya.Ardi terdiam sejenak, membiarkan nama Shannon terus berada di layar ponselnya. Sampai akhirnya, ibu jarinya bergerak menerima panggilan itu.Tadinya, Ardi mau mengab

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   155.

    Sedari tadi, jemari Naya mengetuk-ngetukkan jemarinya dengan gelisah di atas permukaan meja yang keras. Croissant dan air mineral di hadapannya tak tersentuh sama sekali.Jujur, dia begitu gugup menunggu kedatangan Mardani.Firasatnya mengatakan ada hal buruk yang terjadi pada suaminya dan wanita itu. Mungkin mereka benar-benar berselingkuh?Naya menarik napasnya pelan. Di lubuk hatinya, dia tak yakin Ardi tega melakukan itu. Tapi, kalau ternyata hal itu terjadi, apa yang harus dia lakukan?“Maaf, Nyonya Naya,” sosok Mardani akhirnya muncul juga di hadapannya. Pria itu langsung menarik kursi dan menghempaskan dirinya. “Jalanan macet siang ini.”“Silakan pesan minum dulu. Aku yang bayar,” tawar Naya.Setelah secangkir latte tersaji di hadapan detektif itu, jantung Naya pun berdebar cepat. Kini, saatnya wanita itu mengetahui apa yang terjadi.“Ceritakan padaku,” tandas Naya gugup. “Semuanya. Jangan ada yang ditutup-tutupi.”Mardani menaruh cangkir itu dan mulai membuka mulutnya. “Semala

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   154.

    Naya menggeliat pelan begitu dia merasakan ada sentuhan hangat di pipinya.“Ardi?” Suara Naya terdengar parau, melihat Ardi yang sudah ada di sampingnya. Wajah suaminya itu nampak lelah.“Maaf, aku jadi membangunkanmu,” tukas Ardi sedikit bersalah.“Jam berapa sekarang?” Naya menyipitkan matanya. Lalu pandangannya menangkap jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul sepuluh malam. “Lembur lagi ya? Kamu pasti capek banget.”Ardi tak menjawab. Hanya senyuman tipis yang membingkai di wajahnya.Lantas, pria itu mencium kening Naya dan menyuruh istrinya kembali tidur. Setelah itu, Ardi menenggelamkan dirinya di bathtub yang berisi air hangat.Kepalanya terkulai ke belakang sambil terus-terusan menghela napas panjang. Rasa bersalah itu kemudian menyeruak dalam dirinya.“Sungguh bodoh…” gumamnya pelan. “Seharusnya aku mengikuti kata-kata Naya untuk tak terlalu dekat dengan Shannon…”Kedua mata Ardi pun terpejam. Ingatannya seakan terlempar ke beberapa jam sebelumnya, di saat bibir Shanno

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   153.

    Senyuman pongah Shannon masih terekam jelas di benak Naya. Senyum yang membuat hatinya terbakar penuh amarah.‘Dia pikir aku bakal jatuh ke dalam jebakannya?’ ucap Naya dalam hati. ‘Ha, tentu saja tidak! Untuk apa aku menerima tantangan konyol itu, mengetes kesetiaan Ardi?? Yang benar saja!’“Kamu terlihat geram, Nay. Ada masalah apa?” Tanya Ardi seketika dari balik kemudinya. Sedari tadi, pria itu sesekali memperhatikan ekspresi istrinya yang terus-terusan mengernyitkan dahinya.“Apa ini soal Shannon?” Tebak Ardi lagi sambil melajukan mobilnya di tengah jalanan malam yang padat.“Huh, untuk apa aku kesal gara-gara wanita itu?” Kilah Naya. “Aku… hanya sedikit lelah.”“Maafkan aku ya. Gara-gara menemaniku kamu dan bayi kita jadi kelelahan…” Ardi menoleh sekilas ke arah Naya, memamerkan lesung pipinya yang manis.“Tidak masalah kok… Ternyata aku cukup senang juga malam ini. Sepertinya, aku harus banyak keluar rumah dan berinteraksi dengan orang-orang,” balas Naya riang.“Memang seharus

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   152.

    Napas Naya tertahan. Kepalanya langsung terasa panas saat melihat adegan itu.“Ah, sorry, pipimu jadi kena noda lipstik-ku,” Shannon tertawa tak tahu diri sambil berusaha mengusapkan tangannya di pipi Ardi.Namun, buru-buru Ardi mengelak. Lantas Naya mengeluarkan tisu dari tasnya dan membersihkan pipi suaminya dari noda lipstik wanita itu.“Kamu terlalu ceroboh, Shannon,” Naya berujar sambil tersenyum manis walaupun nada suaranya jelas-jelas terdengar sinis. “Maaf,” balas Shannon santai. “Kami dulu memang sedekat itu… Jadi kebiasaan.”“Maksudku lipstikmu,” sergah Naya lagi. “Hanya lipstik murahan yang gampang luntur, soalnya lipstikku tidak begitu. Tahan lama.”Naya mengecap bibir merahnya perlahan.Senyum yang sedari tadi membingkai wajah Shannon seketika memudar.“Naya…” desis Ardi pelan. Pria itu seakan tahu istrinya telah menabuh genderang perang.“Kenapa, Sayang?” Naya menoleh ke arah suaminya. “Noda lipstik murahan itu sudah lenyap kok dari pipimu.”“Well, sorry kalau lipstikku

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   151.

    Pintu kamar tidur Haryasena bergerak pelan. Ruangan yang tadinya gelap itu kini mendapatkan sedikit cahaya dari lorong di luar.Perlahan, Ardi bergerak masuk. Sebisa mungkin tanpa suara, karena dia tak ingin membangunkan putranya yang sudah tertidur lelap di atas ranjang.Dan di samping Haryasena, ada Naya yang sebenarnya tak benar-benar tidur.“Sayang…” bisik Ardi begitu pelan, mengusap punggung istrinya.Dalam hati Naya mendengus kesal. Wanita itu tetap mempertahankan kelopak matanya yang tertutup rapat.“Plis, kita harus bicara,” lanjut Ardi lagi. “Kamu tak bisa mendiamkanku seperti ini terus. Sudah tiga hari lho…”Naya bergeming. Fakta bahwa Ardi pernah memiliki wanita lain selain Intan–tunangannya yang meninggal secara tragis karena ulah keji Keluarga Kartajaya–membuat Naya begitu cemburu. Masalahnya, Ardi tak pernah memberitahunya soal keberadaan Shannon!Pria itu pun mengguncang pelan tubuh istrinya. “Nay, setidaknya kamu beri tahu aku apa salahku… Kenapa kamu mendiamkanku sepe

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status