로그인BRAK!Suara gedebum keras disertai teriakan histeris itu sontak membuat Ardi tersentak kaget. Dia tak mungkin sanggup menghadapi kenyataan bahwa dirinya harus kehilangan orang-orang yang dicintainya dua kali.“Hmpft!” Sekuat tenaga pria itu menyeret tubuhnya yang terikat ke ambang pintu. Dia bertekad akan menghabisi Shannon bagaimanapun caranya!Sampai akhirnya, dia melihat bayangan yang bergerak di lorong depan. Jantung Ardi pun berdegup cepat.Dari balik tangannya yang terikat, dia mengepal dengan erat. Begitu Shannon hendak melepaskannya, dia akan memukul wanita sialan itu sampai babak belur.Dan ketika Ardi mendongak, sosok itu kini berdiri di ambang pintu. Kedua mata Ardi lantas membelalak tak percaya.“A-Ardi…” Naya bergerak dengan langkah gontai ke arah suaminya yang terikat di lantai. “A-aku… kurasa aku sudah membunuh Shannon…”Ardi menggerak-gerakkan kepalanya.Naya lalu membuka kedua ikatan itu dan mereka pun berpelukan erat. Sementara itu, Naya terisak di bahu suaminya.“N
Haryasena meringkuk di balik selimutnya. Dalam tidurnya, wajah bocah itu masih terlihat muram.Bagaimana tak muram? Bayangan dirinya makan malam bersama kedua orangtuanya di sebuah restoran yang ada di gedung pencakar langit buyar seketika.Dua jam Naya dan Haryasena menunggu, Ardi tak kelihatan batang hidungnya sama sekali.“Astaga, apa yang terjadi padanya?” Naya berdecak gelisah setelah keluar dari kamar putranya. Sedari tadi, dia coba menghubungi suaminya namun hanya terdengar nada sambung tanpa jawaban.Kilatan petir seketika menyambar. Hujan yang tadinya turun rintik-rintik kini berubah lebat.Sejujurnya Naya gundah. Dia takut hal buruk menimpa suaminya.Ardi tak pernah tiba-tiba membatalkan janjinya seperti ini, apalagi ini adalah makan malam keluarga mereka yang spesial.Ini sungguh di luar perilakunya, pikir Naya dalam hati. Lalu, tiba-tiba saja sosok Shannon muncul di kepalanya.“Shannon…” mata Naya menyipit tajam. Buru-buru dia menghubungi Mardani, meminta alamat wanita t
Kaki Ardi melangkah ringan di sepanjang koridor. Dia menyelesaikan semua pekerjaannya tepat waktu, tanpa ada meeting tambahan atau hal-hal mendadak lainnya.“Selamat bersenang-senang, Pak Ardi!” ucap Vita, sekretaris lamanya yang kini sudah kembali setelah cuti melahirkan. “Sampaikan salam saya pada Bu Naya dan Haryasena yang imut!”“Tentu,” Ardi mengangguk riang.Sebelum menjemput istri dan anaknya, dia berencana mampir ke toko bunga terlebih dahulu, mengambil pesanan buket bunga tulip untuk Naya.“Masih banyak waktu,” gumam Ardi saat melirik pergelangan tangannya. “Pasti Naya senang dengan kejutan kecil dariku,” lanjutnya lagi.Namun begitu Ardi baru saja masuk ke dalam mobilnya, ponselnya bergetar. Dia pikir itu telepon dari Naya, tetapi keningnya langsung mengerut tajam saat mengetahui bahwa Shannon yang meneleponnya.Ardi terdiam sejenak, membiarkan nama Shannon terus berada di layar ponselnya. Sampai akhirnya, ibu jarinya bergerak menerima panggilan itu.Tadinya, Ardi mau mengab
Sedari tadi, jemari Naya mengetuk-ngetukkan jemarinya dengan gelisah di atas permukaan meja yang keras. Croissant dan air mineral di hadapannya tak tersentuh sama sekali.Jujur, dia begitu gugup menunggu kedatangan Mardani.Firasatnya mengatakan ada hal buruk yang terjadi pada suaminya dan wanita itu. Mungkin mereka benar-benar berselingkuh?Naya menarik napasnya pelan. Di lubuk hatinya, dia tak yakin Ardi tega melakukan itu. Tapi, kalau ternyata hal itu terjadi, apa yang harus dia lakukan?“Maaf, Nyonya Naya,” sosok Mardani akhirnya muncul juga di hadapannya. Pria itu langsung menarik kursi dan menghempaskan dirinya. “Jalanan macet siang ini.”“Silakan pesan minum dulu. Aku yang bayar,” tawar Naya.Setelah secangkir latte tersaji di hadapan detektif itu, jantung Naya pun berdebar cepat. Kini, saatnya wanita itu mengetahui apa yang terjadi.“Ceritakan padaku,” tandas Naya gugup. “Semuanya. Jangan ada yang ditutup-tutupi.”Mardani menaruh cangkir itu dan mulai membuka mulutnya. “Semala
Naya menggeliat pelan begitu dia merasakan ada sentuhan hangat di pipinya.“Ardi?” Suara Naya terdengar parau, melihat Ardi yang sudah ada di sampingnya. Wajah suaminya itu nampak lelah.“Maaf, aku jadi membangunkanmu,” tukas Ardi sedikit bersalah.“Jam berapa sekarang?” Naya menyipitkan matanya. Lalu pandangannya menangkap jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul sepuluh malam. “Lembur lagi ya? Kamu pasti capek banget.”Ardi tak menjawab. Hanya senyuman tipis yang membingkai di wajahnya.Lantas, pria itu mencium kening Naya dan menyuruh istrinya kembali tidur. Setelah itu, Ardi menenggelamkan dirinya di bathtub yang berisi air hangat.Kepalanya terkulai ke belakang sambil terus-terusan menghela napas panjang. Rasa bersalah itu kemudian menyeruak dalam dirinya.“Sungguh bodoh…” gumamnya pelan. “Seharusnya aku mengikuti kata-kata Naya untuk tak terlalu dekat dengan Shannon…”Kedua mata Ardi pun terpejam. Ingatannya seakan terlempar ke beberapa jam sebelumnya, di saat bibir Shanno
Senyuman pongah Shannon masih terekam jelas di benak Naya. Senyum yang membuat hatinya terbakar penuh amarah.‘Dia pikir aku bakal jatuh ke dalam jebakannya?’ ucap Naya dalam hati. ‘Ha, tentu saja tidak! Untuk apa aku menerima tantangan konyol itu, mengetes kesetiaan Ardi?? Yang benar saja!’“Kamu terlihat geram, Nay. Ada masalah apa?” Tanya Ardi seketika dari balik kemudinya. Sedari tadi, pria itu sesekali memperhatikan ekspresi istrinya yang terus-terusan mengernyitkan dahinya.“Apa ini soal Shannon?” Tebak Ardi lagi sambil melajukan mobilnya di tengah jalanan malam yang padat.“Huh, untuk apa aku kesal gara-gara wanita itu?” Kilah Naya. “Aku… hanya sedikit lelah.”“Maafkan aku ya. Gara-gara menemaniku kamu dan bayi kita jadi kelelahan…” Ardi menoleh sekilas ke arah Naya, memamerkan lesung pipinya yang manis.“Tidak masalah kok… Ternyata aku cukup senang juga malam ini. Sepertinya, aku harus banyak keluar rumah dan berinteraksi dengan orang-orang,” balas Naya riang.“Memang seharus







