Se connecterAngin sore yang sejuk berembus pelan, menggerakkan helaian rambut Naya.Di tangannya ada secangkir teh hangat. Mata wanita itu kini tertuju ke arah taman rumah sakit.“Kemungkinan besar Arman mengalami kelumpuhan, itu yang dikatakan dokter,” terang Sophia dengan parau. Wanita itu lalu mengusap matanya yang basah. “Tapi persidangan tetap dilanjutkan. Bukti-buktinya cukup lengkap, begitu pula dengan vonis Arman nantinya…”Naya menyesap teh itu. “Kurasa… aku akan bertahan.”Sophia langsung menoleh, menatap Naya yang masih memandang lurus ke arah taman. “Be-Bertahan? Maksudmu?”“Sepertinya, Arman masih membutuhkan keberadaanku. Lagi pula, kesepakatan kami tak bocor ke publik. Jadi, orang-orang tahunya Haryasena memang anaknya Arman,” tandas Naya datar.“Naya, kamu serius?” Kening Sophia mengerut dalam.“Iya, Ma.” Naya lalu menatap ibu mertuanya yang nampak terkejut. “Aku… akan menarik gugatan ceraiku di pengadilan.”Sophia masih tak bisa mempercayai apa yang baru saja dia dengar.Lalu mer
Dua minggu setelah kedatangan Nirma, Arman diizinkan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan di rumah sakit.Setelah selesai, dia kembali ke selnya yang sempit. Dan sepanjang dia menunggu hasilnya, dia merasa begitu merana. Berkali-kali dia coba menanamkan pikiran positif bahwa semua bakal baik-baik saja.“Aku tak akan tertular penyakit itu dari Nirma… Tidak… Aku yakin,” gumam Arman.Tetapi tetap saja, rasa takut itu nyata. Sampai akhirnya, asisten pribadi Arman yang setia datang menjenguknya.Di ruangan itu, ekspresi Wira tak bisa ditebak. Dia terlihat datar, tapi Arman bisa melihat bola mata pria itu bergerak gelisah.“Jadi, bagaimana?” Tanya Arman. “Kamu sudah mendapatkan hasilnya kan?”Wira mengangguk. Dia lantas menjulurkan sebuah amplop besar ke hadapan Arman. “Hasilnya ada di situ, Tuan. Saya sendiri belum memeriksanya.”Arman mengembuskan napas keras-keras sebelum dia mengambil amplop itu. Membuka amplop ini seperti menentukan nasibnya ke depan.Degup jantung Arman menjadi-jadi
Naya berjalan di sepanjang lorong rumah sakit. Wajahnya nampak lelah.Dia tak tahu kejadian apa yang menimpa ibu mertuanya sampai wanita itu tak sadarkan diri di teras belakang. Padahal Naya baru saja berbicara dengan Sophia beberapa saat sebelum kejadian.Kepala Naya terasa berat sekarang. Maka, dia memutuskan untuk membeli kopi di kafetaria rumah sakit.Setelah memastikan keadaan Haryasena baik-baik saja, Naya duduk di salah satu bangku yang kosong yang ada di kafetaria itu. Dia menyisip kopi hitam yang masih mengepul dan pandanganya mengarah keluar jendela.Dirinya termenung, sampai-sampai dia tak menyadari ada sesosok bayangan yang mendekat ke arahnya.Saat Naya menoleh, ulu hatinya seperti dihantam sesuatu.“Nay,” Suara berat dan lembut itu mengalun. “Aku boleh duduk di sini?”Naya tak bisa berkata-kata. Dia tidak sedang bermimpi kan? Ardi, pria itu tiba-tiba muncul di hadapannya.“Se-sedang apa kamu di sini?” Tanya Naya sambil tergagap.“Aku membuntutimu dari mansion,” balas Ard
Ekspresi Naya sontak melongo. Matanya membulat kaget dengan mulut yang setengah menganga.“A-Arman?!” Desis Naya.Dengusan sinis keluar dari mulut pria itu. “Jangan pikir aku akan melepasmu begitu saja, Naya…”Kini giliran Naya yang menatapnya nyalang. “Kamu tak akan bisa menahanku selamanya. Walau kamu tak mau menandatangani berkas perceraian itu, aku bisa memakai pengacara untuk menggugatmu ke pengadilan.”Pandangan Arman menyipit. Pria itu nampak jengkel dengan pemberontakan istrinya.“Mudah bagiku untuk bercerai denganmu, Arman. Bukti-bukti perselingkuhanmu begitu jelas dan tentu saja hak asuh Haryasena jatuh ke tanganku,” tandas Naya dengan nada tajam.“Oh.. Jadi sekarang kamu berperan sebagai istri yang durhaka, hah?” Dagu Arman menukik ke atas, coba mengintimidasi Naya.“Terserah kamu mau mengasumsikanku sebagai apa. Aku tak peduli. Tapi satu hal yang pasti, kita akan bercerai,” tegas perempuan itu sambil bangkit dari kursinya. “Dan tenang saja, kita sudah membuat perjanjian p
“Pak Arman, Anda kedatangan tamu,” kepala penjaga itu muncul dari balik jeruji.Arman yang sedang berbaring di atas ranjang yang keras langsung menggerakkan tubuhnya. Dia menyeret gontai langkahnya di sepanjang lorong. Raut wajahnya nampak begitu kusut karena dia masih harus menghadapi persidangan demi persidangan ke depannya.Setelah menghela napas panjang, Arman mendongakkan kepalanya, masuk ke dalam ruangan di mana dia pikir dia akan bertemu dengan pengacaranya lagi. Tetapi kerutan di dahinya itu langsung muncul saat di hadapannya kini duduk seorang pria yang tak pernah Arman harapkan kehadirannya.Haryanto melempar senyum samar.“Untuk apa kamu ke sini?” Tanya Arman dengan nada sinis. “Duduklah,” dagu Haryanto bergerak, mengisyaratkan Arman untuk duduk di hadapannya.Bunyi kaki-kaki bangku yang menyeret terdengar, begitu Arman menariknya dengan kasar. Dia lantas mendengus dan menatap sinis ayah kandungnya ini.“Kamu mau mengejekku, hah? Mau menertawakan segala kesialanku?” Desis
Naya menatap keluar jendela kamar rawat inapnya yang mungil. Di luar sana, matahari nampak bersinar cerah membuat sebagian pasien berkeliaran di taman rumah sakit yang asri.Senyum membingkai di wajah Naya. Setelah mengepak baju-bajunya, kini dia siap pergi meninggalkan tempat ini.‘Ternyata tidak buruk juga…’ pikir Naya. Arman dan Sophia mungkin ada benarnya juga, memasukkan dirinya ke sini karena sekarang Naya merasa jauh lebih baik.“Nyonya Naya,” suara perawat itu mengalihkan pandangan Naya dari jendela. “Sopir Anda sudah datang.”“Oh, baiklah,” buru-buru Naya menenteng tas besarnya.Setelah dia berpamitan dengan para perawat di sana, akhirnya Naya bisa keluar juga dari tempat itu. Udara jadi terasa lebih segar sekarang, entah kenapa.Jantung Naya berdebar penuh semangat karena dalam waktu hitungan menit dia akan bertemu putranya, Haryasena.Sudah dua setengah bulan dia tak menyentuh anaknya. Mereka hanya bertemu melalui video call dari Sophia, dimana setelah Rahmat meninggal, Sop
“Mereka sepertinya memiliki kedekatan yang tak wajar,” Wira melaporkan apa yang didengarnya ke bosnya.Arman bersedekap sambil menghela napas pelan. “Kamu tak perlu cemas soal itu. Mustahil ada hubungan spesial antara istriku dengan sopir itu. Istriku orang yang terhormat. Lagi pula, sopir itu tak
Rahang pria itu yang tadinya mengeras kini melembut. Sepasang mata coklat itu tak lagi memicing tajam melainkan menyipit keheranan.“Penawaran? Untukku?” Dia nampak tak percaya, menerima kartu nama yang disodorkan Arman.“Dia asisten pribadiku. Kamu bisa menghubunginya,” terang Arman. “Ada pekerjaa
Naya mendesah berat. Rambutnya berantakan karena kepalanya terus bergerak ke sana kemari. Dadanya berdebar, naik turun dengan napas yang tak beraturan.Tubuhnya sedari tadi menggeliat di atas ranjang hotel yang empuk, m
Kaki-kaki Naya seakan tertanam di lantai marmer, tak mampu bergerak. Dia membiarkan Ardi mendekatinya.Berada begitu dekat seperti ini selalu membuat dada Naya sesak, bukan karena beban tapi lebih karena dia tak bisa mengatur debaran jantungnya yang menjadi.“Maaf kalau saya lancang….” lanjut Ardi







