LOGINHarapan kembali menyala di mata Adrian. Karena aku tidak langsung pergi, dia tampaknya mengira masih ada kesempatan. Dia berjalan cepat melintasi aula."Elena."Orang-orang menoleh. Dia berhenti di hadapanku, lalu mengeluarkan sebuah kotak cincin dari saku mantelnya. Di dalamnya ada cincin yang dulu seharusnya kami saling sematkan pada hari pernikahan."Aku tahu aku salah," ucapnya dengan suara serak."Aku nggak seharusnya meninggalkanmu di altar. Aku nggak seharusnya membiarkan Livia mengenakan gaunmu. Aku nggak seharusnya menganggap kamu akan selalu menungguku.""Elena, mari kita mulai dari awal. Aku bisa tinggal di Santa Fe. Kamu bekerja dan aku akan membantumu. Kalau kamu nggak menginginkan Vila Selatan, aku juga nggak akan mempertahankannya.""Kalau kamu nggak ingin bertemu Keluarga Marjono, aku juga nggak akan kembali. Beri aku satu kesempatan lagi."Perlahan-lahan, dia berlutut. Suara gaduh yang pelan menyebar di seluruh aula pameran.Adrian belum pernah menundukkan kepala kepad
Adrian menatap ponsel lama di tanganku.Untuk pertama kalinya, kepanikan menghancurkan ketenangan di balik sorot mata yang selalu terkendali itu."Nggak," katanya dengan suara serak. "Rekaman bisa dipalsukan. Livia nggak mungkin melakukan ini.""Kalau begitu, periksakan saja keasliannya." Aku menyimpan kembali ponsel itu. "Cari sendiri kebenarannya."Lalu, aku menoleh ke arah ibuku dan para pengawal di belakangnya. "Sekarang bawa orang-orangmu pergi."Ibuku meraih pergelangan tanganku. "Elena, Ibu salah."Suaranya bergetar. Dia tidak lagi terdengar seperti Nyonya Pranata, wanita yang hanya tahu memberi perintah. "Ibu seharusnya nggak memihak Livia. Ibu juga sudah dibohongi. Tapi Butik Pranata nggak boleh hancur. Denda itu akan menghancurkan kami. Rumah, toko, peralatan, semuanya akan disita."Air mata mengalir di pipinya. "Tolong keluargamu. Tolong."Aku menunduk menatapnya.Wanita ini telah melahirkanku. Dia mengajariku jahitan pertamaku, lalu menghapus namaku dari setiap karya yang k
Aku berjalan ke depan bengkel. Ibuku berdiri di samping sebuah sedan hitam, dengan seorang sopir dan dua pengawal di belakangnya. Setelan jasnya mahal, riasannya sempurna, tetapi suaranya menggelegar."Aku yang membesarkan putriku sendiri dan sekarang dia malah bersembunyi di sini sementara keluarganya berantakan. Dia bahkan nggak mau mengakui ibunya sendiri."Orang-orang berhenti untuk menonton.Begitu melihatku, dia langsung bergegas menghampiri dan mengangkat tangannya. Aku melangkah mundur. Tamparannya meleset."Elena, berani sekali kamu menghindar dariku? Kemasi barang-barangmu dan pulang ke New York. Pergelangan tangan Livia masih belum sembuh. Dia nggak bisa menyelesaikan gaun Iris.""Pameran asosiasi akan digelar besok. Kalau kita melewatkan tenggat waktu, Butik Pranata harus membayar denda yang sangat besar." Dia menatapku seolah aku adalah bawahannya. "Kamu yang akan menyelesaikannya malam ini."Adrian berdiri di sampingnya, seolah akhirnya menemukan alasan yang tak bisa kuto
Adrian mendorong gerbang halaman hingga terbuka lalu melangkah masuk. Sebelum sempat bereaksi, dia menepis bunga liar dari tanganku lalu menarikku ke belakang tubuhnya."Siapa kamu?" Tatapannya tertuju tajam kepada pemuda yang berdiri di hadapanku. "Jauhi tunanganku."Semua orang di halaman berhenti bekerja.Pemuda itu mematung, satu tangannya masih terangkat di udara."Elena?" Dia menatapku dan bertanya, "Dia temanmu?"Aku melepaskan pergelangan tanganku. Adrian menggenggamnya begitu erat hingga masih meninggalkan sedikit rasa nyeri."Aku nggak kenal dia. Cuma seseorang yang sedang nanya arah."Adrian langsung menoleh. "Elena, kamu bilang apa barusan?"Aku mengabaikannya, membungkuk mengambil bunga-bunga yang jatuh, lalu mengembalikannya kepada pemuda itu."Mateo, maaf."Mateo menerimanya dengan wajah kaku. Dia mundur selangkah, tetapi Adrian terus menatap jarak di antara kami berdua."Kamu menghilang selama berhari-hari hanya untuk datang ke sini menemui dia? Tahu berapa lama aku men
Adrian mulai mencariku. Dia pergi ke kedai kopi yang biasa kukunjungi, toko buku tua di dekat Butik Pranata, dan bengkel Nyonya Belani.Tidak seorang pun memberitahunya di mana aku berada.Nomor teleponku sudah tidak aktif. Akun obrolanku tidak bisa dihubungi. Berkas-berkas klienku telah dipindahkan, dan kontrak sewa butik juga sudah berakhir. Aku menghilang dari hidupnya sepenuhnya.Pada malam ketiga, Nico masuk ke Vila Selatan dan menemukan botol-botol minuman kosong berserakan di lantai ruang tamu. Adrian duduk di depan perapian sambil memegang rancangan lambang elang hitam yang telah robek.Nico mengernyit."Bos nggak bisa terus seperti ini."Adrian tidak mengangkat kepala saat berkata, "Dia menghapus semuanya.""Mungkin Elena hanya butuh beberapa hari untuk menenangkan diri.""Dia membawa paspor, uang tunai, dan dokumen kepemilikannya. Dia menutup butiknya dan memindahkan semua kliennya."Adrian mengangkat matanya yang memerah dan berkata, "Itu bukan sedang menenangkan diri."Dulu
Udara di Santa Fe terasa kering dan tajam, membawa aroma sage dan pewarna mineral ke seluruh halaman. Aku tinggal di sebuah kamar kecil di belakang bengkel tekstil.Saat fajar, aku belajar merebus pewarna, membilas kain, dan menggantung benang bersama para peserta magang lainnya. Saat senja, aku duduk di halaman sambil menyusun pola-pola di bawah pohon di luar jendelaku.Keheningan itu terasa asing.Sementara itu, di New York, Adrian masih berdiri di dalam Butik Pranata. Dia menatap rancangan lambang elang hitam yang robek di atas meja, sementara dahinya semakin berkerut. Dia mengira aku hanya mencari tempat lain untuk bersembunyi.Ini bukan pertama kalinya.Setiap kali kami bertengkar, aku akan pergi ke bengkel Nyonya Belani atau mengurung diri di ruang sulam hingga tengah malam. Adrian akan datang membawa makanan penutup, merendahkan suaranya, dan pada akhirnya aku selalu memberinya kesempatan untuk kembali.Adrian meletakkan kue hazelnut itu di atas meja lalu meneleponku. Panggilan







