Se connecterSaat lonceng pernikahan berbunyi, mempelai pria yang seharusnya menikah denganku, Adrian Marjono, menghilang. Dia adalah bos mafia Keluarga Marjono, sekaligus pria yang telah kucintai selama tujuh tahun. Menurut tradisi keluarga, hari ini aku seharusnya diakui sebagai istri sang bos. Namun, yang terjadi malah aku berdiri sendirian di depan altar. Pada saat yang sama, ibuku mengirim sebuah video ke grup obrolan keluarga. Di dalam video itu, Adrian berlutut di aula perjamuan di sebelah dan menyematkan cincinku ke jari saudara kembarku, Livia Pranata. Para kerabat bersorak. Ayahku tersenyum berdiri di samping mereka. Livia menangis di bahu Adrian, sementara Adrian menghiburnya seolah-olah sejak awal dialah pengantin wanita. Aku melepaskan kerudung pengantinku, bersiap meminta penjelasan, ketika ibuku menandai namaku. [ Elena, Livia itu saudaramu. Dia selalu lemah dan selama ini dia selalu mengalah untukmu. Kali ini, biarkan dia yang mendapatkannya. ] Dengan tangan gemetar, aku meneleponnya, "Kenapa semuanya menyembunyikan ini dariku?" "Karena sejak kecil kamu selalu bertengkar dengan Livia. Kalau kami kasih tahu kamu lebih awal, kamu pasti akan membuat keributan. Gimana kalau dia sampai melukai dirinya lagi?" "Kamu sehat. Kamu masih bisa mengadakan pernikahan lain nanti. Kita ini keluarga. Jangan membuat semuanya jadi buruk hanya karena seorang pria." Aku menggenggam ponsel itu, tetapi tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Jadi, ternyata bukan hanya pernikahanku yang bisa mereka berikan kepada orang lain. Mereka bahkan bisa mengorbankanku bersamanya. Sejak saat itu, aku selesai dengan mereka.
Voir plusHarapan kembali menyala di mata Adrian. Karena aku tidak langsung pergi, dia tampaknya mengira masih ada kesempatan. Dia berjalan cepat melintasi aula."Elena."Orang-orang menoleh. Dia berhenti di hadapanku, lalu mengeluarkan sebuah kotak cincin dari saku mantelnya. Di dalamnya ada cincin yang dulu seharusnya kami saling sematkan pada hari pernikahan."Aku tahu aku salah," ucapnya dengan suara serak."Aku nggak seharusnya meninggalkanmu di altar. Aku nggak seharusnya membiarkan Livia mengenakan gaunmu. Aku nggak seharusnya menganggap kamu akan selalu menungguku.""Elena, mari kita mulai dari awal. Aku bisa tinggal di Santa Fe. Kamu bekerja dan aku akan membantumu. Kalau kamu nggak menginginkan Vila Selatan, aku juga nggak akan mempertahankannya.""Kalau kamu nggak ingin bertemu Keluarga Marjono, aku juga nggak akan kembali. Beri aku satu kesempatan lagi."Perlahan-lahan, dia berlutut. Suara gaduh yang pelan menyebar di seluruh aula pameran.Adrian belum pernah menundukkan kepala kepad
Adrian menatap ponsel lama di tanganku.Untuk pertama kalinya, kepanikan menghancurkan ketenangan di balik sorot mata yang selalu terkendali itu."Nggak," katanya dengan suara serak. "Rekaman bisa dipalsukan. Livia nggak mungkin melakukan ini.""Kalau begitu, periksakan saja keasliannya." Aku menyimpan kembali ponsel itu. "Cari sendiri kebenarannya."Lalu, aku menoleh ke arah ibuku dan para pengawal di belakangnya. "Sekarang bawa orang-orangmu pergi."Ibuku meraih pergelangan tanganku. "Elena, Ibu salah."Suaranya bergetar. Dia tidak lagi terdengar seperti Nyonya Pranata, wanita yang hanya tahu memberi perintah. "Ibu seharusnya nggak memihak Livia. Ibu juga sudah dibohongi. Tapi Butik Pranata nggak boleh hancur. Denda itu akan menghancurkan kami. Rumah, toko, peralatan, semuanya akan disita."Air mata mengalir di pipinya. "Tolong keluargamu. Tolong."Aku menunduk menatapnya.Wanita ini telah melahirkanku. Dia mengajariku jahitan pertamaku, lalu menghapus namaku dari setiap karya yang k
Aku berjalan ke depan bengkel. Ibuku berdiri di samping sebuah sedan hitam, dengan seorang sopir dan dua pengawal di belakangnya. Setelan jasnya mahal, riasannya sempurna, tetapi suaranya menggelegar."Aku yang membesarkan putriku sendiri dan sekarang dia malah bersembunyi di sini sementara keluarganya berantakan. Dia bahkan nggak mau mengakui ibunya sendiri."Orang-orang berhenti untuk menonton.Begitu melihatku, dia langsung bergegas menghampiri dan mengangkat tangannya. Aku melangkah mundur. Tamparannya meleset."Elena, berani sekali kamu menghindar dariku? Kemasi barang-barangmu dan pulang ke New York. Pergelangan tangan Livia masih belum sembuh. Dia nggak bisa menyelesaikan gaun Iris.""Pameran asosiasi akan digelar besok. Kalau kita melewatkan tenggat waktu, Butik Pranata harus membayar denda yang sangat besar." Dia menatapku seolah aku adalah bawahannya. "Kamu yang akan menyelesaikannya malam ini."Adrian berdiri di sampingnya, seolah akhirnya menemukan alasan yang tak bisa kuto
Adrian mendorong gerbang halaman hingga terbuka lalu melangkah masuk. Sebelum sempat bereaksi, dia menepis bunga liar dari tanganku lalu menarikku ke belakang tubuhnya."Siapa kamu?" Tatapannya tertuju tajam kepada pemuda yang berdiri di hadapanku. "Jauhi tunanganku."Semua orang di halaman berhenti bekerja.Pemuda itu mematung, satu tangannya masih terangkat di udara."Elena?" Dia menatapku dan bertanya, "Dia temanmu?"Aku melepaskan pergelangan tanganku. Adrian menggenggamnya begitu erat hingga masih meninggalkan sedikit rasa nyeri."Aku nggak kenal dia. Cuma seseorang yang sedang nanya arah."Adrian langsung menoleh. "Elena, kamu bilang apa barusan?"Aku mengabaikannya, membungkuk mengambil bunga-bunga yang jatuh, lalu mengembalikannya kepada pemuda itu."Mateo, maaf."Mateo menerimanya dengan wajah kaku. Dia mundur selangkah, tetapi Adrian terus menatap jarak di antara kami berdua."Kamu menghilang selama berhari-hari hanya untuk datang ke sini menemui dia? Tahu berapa lama aku men


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.