Share

Tak Hanya Pernikahan, Tetapi Hidupku Pun Dicuri
Tak Hanya Pernikahan, Tetapi Hidupku Pun Dicuri
Author: Michelle

Bab 1

Author: Michelle
Aku kembali ke ruang pengantin dan mengirim satu pesan kepada Adrian.

[ Pernikahan ini dibatalkan. ]

Kurang dari sepuluh detik kemudian, telepon darinya masuk, "Elena, apa kamu sudah puas bikin keributan?"

Suaranya terdengar berat saat melanjutkan, "Livia mengiris pergelangan tangannya. Dokter bilang dia nggak boleh syok lagi. Apa kamu benar-benar mau memperebutkan sebuah upacara dengannya sekarang?"

Kotak cincin terbuka di atas meja rias. Di dalamnya ada sepasang cincin yang kupilih sendiri, dengan nama kami terukir di bagian dalam.

"Adrian, hari ini adalah hari jadi kita yang ketujuh. Ini juga pernikahan yang kita persiapkan selama enam bulan."

"Aku tahu. Tapi ini menyangkut nyawa seseorang. Kamu selalu menjadi orang yang paling bijaksana. Tolong bantu dia melewati ini."

Aku tidak mengatakan apa pun.

"Dia menderita depresi berat. Satu-satunya obsesinya adalah mengenakan gaun pengantin sekali dan menikah denganku sekali."

"Upacara ini nggak ada kekuatan hukum. Dokumen pernikahan Keluarga Marjono nggak berubah. Kamu tetap tunanganku."

Secara hukum, mungkin benar. Namun, di dunia Keluarga Marjono, siapa pun yang berdiri di samping sang bos di altar itu akan diakui sebagai Nyonya keluarga di mata seluruh anggota keluarga.

Dia terdiam sejenak, lalu merendahkan suaranya, "Begitu kondisinya stabil, besok aku akan mengajakmu mendaftarkan pernikahan kita."

Aku bertanya, "Lalu hari ini aku ini apa?"

Di seberang sana hening.

"Hari ini, kita membuatnya merasa aman."

Suara ibuku terdengar dari sisi Adrian, "Adrian, jangan buang-buang waktu lagi untuk dia."

"Elena sudah benci Livia sejak mereka masih kecil. Livia nggak sekuat dia. Nggak sesehat dia. Sekarang Livia bahkan nggak bisa dapat sebuah pernikahan tanpa Elena membuat semuanya seolah-olah tentang dirinya?"

"Kalau Elena berani datang ke sini membuat masalah, anggap saja aku nggak pernah punya anak seperti dia."

"Bu, hari ini seharusnya adalah hari pernikahanku."

"Kamu dan Adrian sudah bersama selama tujuh tahun. Apa satu hari akan membuatmu mati?" Nada bicaranya berubah semakin dingin, "Tapi itu bisa membuat Livia mati. Dia baru saja pulang dari rumah sakit."

Adrian kembali berbicara, "Elena, jangan membesar-besarkan masalah ini. Keluarga Marjono ada di luar. Kamu tahu apa arti upacara ini."

Tentu saja aku tahu. Karena itulah, aku menyulam gaun pengantin itu sendiri.

Di bagian kerahnya tersulam lambang elang hitam Keluarga Marjono. Di bagian roknya tersulam motif sulur warisan Keluarga Pranata. Selama tiga bulan, aku bekerja hingga larut malam, menusuk jari-jariku berkali-kali sampai jahitannya tampak kabur di mataku.

Dulu Adrian pernah menggenggam kedua tanganku dan berjanji bahwa seluruh Keluarga Marjono akan tahu kalau aku adalah satu-satunya pengantinnya.

Sekarang dia berkata, "Ada satu hal lagi."

"Katakan."

"Livia melihat gaunmu. Dia menyukainya."

"Lepaskan gaun itu dan suruh seseorang antarkan ke sini. Kalau dia memakainya, dia akan lebih cepat tenang."

Aku menatap gaun putih itu di cermin dan bertanya, "Tahu berapa lama aku membuat gaun ini?"

"Aku tahu. Nanti aku akan buatkan yang lebih bagus untukmu."

"Nggak perlu."

"Elena."

"Aku akan membawanya."

Dia mengembuskan napas, lalu berkata, "Jangan terlalu dipikirkan. Setelah Livia sembuh, aku akan menebus semuanya."

Aku mengakhiri panggilan.

Pendamping pengantinku membuka pintu menyampaikan, "Elena, tamu-tamu nanya di mana Bos sekarang."

"Dia nggak akan datang."

Dia mematung seketika.

"Dia sedang di sebelah, menikahi Livia."

Aku menghapus lipstik merah di bibirku, melepaskan gaun pengantin, lalu mengenakan mantel hitam. Bagian dada gaun itu masih menyimpan kehangatan tubuhku ketika kulipat dan kumasukkan ke dalam kantong pakaian dari kertas.

Tak seorang pun di luar menghentikanku.

Koridor yang menghubungkan dua aula perjamuan dipenuhi mawar putih dan para pengawal Keluarga Marjono. Bunga yang sama, musik yang sama, jadwal pastor yang sama. Hanya pengantinnya yang telah diganti.

Setengah jam kemudian, aku memasuki aula perjamuan di sebelah.

Ruangan itu begitu riuh hingga mampu menenggelamkan suara lonceng pernikahan dari luar.

Para prajurit Keluarga Marjono berjaga di sepanjang dinding. Kerabat mengelilingi Livia, tertawa dan mengucapkan selamat kepadanya. Selendang putih menutupi bahunya, sementara perban baru masih membalut salah satu pergelangan tangannya.

Adrian berdiri di samping sambil mengusap air matanya.

Ibuku menggenggam tangan Livia, berkata, "Livia kita cantik sekali hari ini."

Ayahku mengangguk. "Adrian pria yang bertanggung jawab. Kita bisa memercayakan Livia kepadanya."

Tanteku mengangkat gelas sambil mengucapkan, "Livia benar-benar beruntung. Elena terlalu keras. Pria mana yang bisa tahan dengan sifat seperti itu selamanya?"

Sepupuku menimpali, "Sejak dulu dia selalu berusaha mengungguli Livia. Kali ini Bos Adrian benar. Seorang pria memang seharusnya melindungi yang lebih lemah."

Adrian melihatku lalu segera menghampiri, menghalangi pandanganku ke arah Livia.

"Kenapa kamu datang sendiri?" Lalu dengan suara lebih pelan dia berkata, "Livia baru saja tenang. Jangan buat dia terguncang lagi."

Aku menyerahkan kantong pakaian itu kepadanya. "Gaunnya."

Dia menerimanya. "Elena, aku tahu hari ini kamu diperlakukan nggak adil."

"Setelah Livia pulih, aku akan memberimu pernikahan yang lebih megah. Tempatnya, tamunya, gaunnya, apa pun yang kamu inginkan."

Aku tidak menjawab. Dia berbalik hendak pergi, lalu berhenti.

"Karena kamu sudah di sini, carilah tempat duduk. Jangan sampai Livia mengira kamu menyerahkan gaun ini dengan terpaksa."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tak Hanya Pernikahan, Tetapi Hidupku Pun Dicuri   Bab 10

    Harapan kembali menyala di mata Adrian. Karena aku tidak langsung pergi, dia tampaknya mengira masih ada kesempatan. Dia berjalan cepat melintasi aula."Elena."Orang-orang menoleh. Dia berhenti di hadapanku, lalu mengeluarkan sebuah kotak cincin dari saku mantelnya. Di dalamnya ada cincin yang dulu seharusnya kami saling sematkan pada hari pernikahan."Aku tahu aku salah," ucapnya dengan suara serak."Aku nggak seharusnya meninggalkanmu di altar. Aku nggak seharusnya membiarkan Livia mengenakan gaunmu. Aku nggak seharusnya menganggap kamu akan selalu menungguku.""Elena, mari kita mulai dari awal. Aku bisa tinggal di Santa Fe. Kamu bekerja dan aku akan membantumu. Kalau kamu nggak menginginkan Vila Selatan, aku juga nggak akan mempertahankannya.""Kalau kamu nggak ingin bertemu Keluarga Marjono, aku juga nggak akan kembali. Beri aku satu kesempatan lagi."Perlahan-lahan, dia berlutut. Suara gaduh yang pelan menyebar di seluruh aula pameran.Adrian belum pernah menundukkan kepala kepad

  • Tak Hanya Pernikahan, Tetapi Hidupku Pun Dicuri   Bab 9

    Adrian menatap ponsel lama di tanganku.Untuk pertama kalinya, kepanikan menghancurkan ketenangan di balik sorot mata yang selalu terkendali itu."Nggak," katanya dengan suara serak. "Rekaman bisa dipalsukan. Livia nggak mungkin melakukan ini.""Kalau begitu, periksakan saja keasliannya." Aku menyimpan kembali ponsel itu. "Cari sendiri kebenarannya."Lalu, aku menoleh ke arah ibuku dan para pengawal di belakangnya. "Sekarang bawa orang-orangmu pergi."Ibuku meraih pergelangan tanganku. "Elena, Ibu salah."Suaranya bergetar. Dia tidak lagi terdengar seperti Nyonya Pranata, wanita yang hanya tahu memberi perintah. "Ibu seharusnya nggak memihak Livia. Ibu juga sudah dibohongi. Tapi Butik Pranata nggak boleh hancur. Denda itu akan menghancurkan kami. Rumah, toko, peralatan, semuanya akan disita."Air mata mengalir di pipinya. "Tolong keluargamu. Tolong."Aku menunduk menatapnya.Wanita ini telah melahirkanku. Dia mengajariku jahitan pertamaku, lalu menghapus namaku dari setiap karya yang k

  • Tak Hanya Pernikahan, Tetapi Hidupku Pun Dicuri   Bab 8

    Aku berjalan ke depan bengkel. Ibuku berdiri di samping sebuah sedan hitam, dengan seorang sopir dan dua pengawal di belakangnya. Setelan jasnya mahal, riasannya sempurna, tetapi suaranya menggelegar."Aku yang membesarkan putriku sendiri dan sekarang dia malah bersembunyi di sini sementara keluarganya berantakan. Dia bahkan nggak mau mengakui ibunya sendiri."Orang-orang berhenti untuk menonton.Begitu melihatku, dia langsung bergegas menghampiri dan mengangkat tangannya. Aku melangkah mundur. Tamparannya meleset."Elena, berani sekali kamu menghindar dariku? Kemasi barang-barangmu dan pulang ke New York. Pergelangan tangan Livia masih belum sembuh. Dia nggak bisa menyelesaikan gaun Iris.""Pameran asosiasi akan digelar besok. Kalau kita melewatkan tenggat waktu, Butik Pranata harus membayar denda yang sangat besar." Dia menatapku seolah aku adalah bawahannya. "Kamu yang akan menyelesaikannya malam ini."Adrian berdiri di sampingnya, seolah akhirnya menemukan alasan yang tak bisa kuto

  • Tak Hanya Pernikahan, Tetapi Hidupku Pun Dicuri   Bab 7

    Adrian mendorong gerbang halaman hingga terbuka lalu melangkah masuk. Sebelum sempat bereaksi, dia menepis bunga liar dari tanganku lalu menarikku ke belakang tubuhnya."Siapa kamu?" Tatapannya tertuju tajam kepada pemuda yang berdiri di hadapanku. "Jauhi tunanganku."Semua orang di halaman berhenti bekerja.Pemuda itu mematung, satu tangannya masih terangkat di udara."Elena?" Dia menatapku dan bertanya, "Dia temanmu?"Aku melepaskan pergelangan tanganku. Adrian menggenggamnya begitu erat hingga masih meninggalkan sedikit rasa nyeri."Aku nggak kenal dia. Cuma seseorang yang sedang nanya arah."Adrian langsung menoleh. "Elena, kamu bilang apa barusan?"Aku mengabaikannya, membungkuk mengambil bunga-bunga yang jatuh, lalu mengembalikannya kepada pemuda itu."Mateo, maaf."Mateo menerimanya dengan wajah kaku. Dia mundur selangkah, tetapi Adrian terus menatap jarak di antara kami berdua."Kamu menghilang selama berhari-hari hanya untuk datang ke sini menemui dia? Tahu berapa lama aku men

  • Tak Hanya Pernikahan, Tetapi Hidupku Pun Dicuri   Bab 6

    Adrian mulai mencariku. Dia pergi ke kedai kopi yang biasa kukunjungi, toko buku tua di dekat Butik Pranata, dan bengkel Nyonya Belani.Tidak seorang pun memberitahunya di mana aku berada.Nomor teleponku sudah tidak aktif. Akun obrolanku tidak bisa dihubungi. Berkas-berkas klienku telah dipindahkan, dan kontrak sewa butik juga sudah berakhir. Aku menghilang dari hidupnya sepenuhnya.Pada malam ketiga, Nico masuk ke Vila Selatan dan menemukan botol-botol minuman kosong berserakan di lantai ruang tamu. Adrian duduk di depan perapian sambil memegang rancangan lambang elang hitam yang telah robek.Nico mengernyit."Bos nggak bisa terus seperti ini."Adrian tidak mengangkat kepala saat berkata, "Dia menghapus semuanya.""Mungkin Elena hanya butuh beberapa hari untuk menenangkan diri.""Dia membawa paspor, uang tunai, dan dokumen kepemilikannya. Dia menutup butiknya dan memindahkan semua kliennya."Adrian mengangkat matanya yang memerah dan berkata, "Itu bukan sedang menenangkan diri."Dulu

  • Tak Hanya Pernikahan, Tetapi Hidupku Pun Dicuri   Bab 5

    Udara di Santa Fe terasa kering dan tajam, membawa aroma sage dan pewarna mineral ke seluruh halaman. Aku tinggal di sebuah kamar kecil di belakang bengkel tekstil.Saat fajar, aku belajar merebus pewarna, membilas kain, dan menggantung benang bersama para peserta magang lainnya. Saat senja, aku duduk di halaman sambil menyusun pola-pola di bawah pohon di luar jendelaku.Keheningan itu terasa asing.Sementara itu, di New York, Adrian masih berdiri di dalam Butik Pranata. Dia menatap rancangan lambang elang hitam yang robek di atas meja, sementara dahinya semakin berkerut. Dia mengira aku hanya mencari tempat lain untuk bersembunyi.Ini bukan pertama kalinya.Setiap kali kami bertengkar, aku akan pergi ke bengkel Nyonya Belani atau mengurung diri di ruang sulam hingga tengah malam. Adrian akan datang membawa makanan penutup, merendahkan suaranya, dan pada akhirnya aku selalu memberinya kesempatan untuk kembali.Adrian meletakkan kue hazelnut itu di atas meja lalu meneleponku. Panggilan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status