Short
Tujuh Tahun Menjadi Rahasia

Tujuh Tahun Menjadi Rahasia

بواسطة:  Jujuمكتمل
لغة: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
16فصول
1وجهات النظر
قراءة
أضف إلى المكتبة

مشاركة:  

تقرير
ملخص
كتالوج
امسح الكود للقراءة على التطبيق

Aku telah menjalin hubungan rahasia selama tujuh tahun bersama bos mafia Marco Hardianto. Tidak ada kontak di depan umum. Tidak ada foto bersama. Tidak ada bukti apa pun bahwa aku pernah berada di sisinya. Dia berkata, "Tunggu sampai aku cukup kuat, sampai nggak ada yang berani menyakitimu. Aku akan memberimu status resmi." Aku percaya. Sampai sehari sebelum hari jadi kami yang ketujuh, aku menemukan cincin berlian sepuluh karat di saku bagian dalam jasnya. Aku menangis bahagia. Aku pikir tujuh tahun bersabar dan bersembunyi akhirnya akan berakhir. ... Keesokan paginya, aku mengenakan gaun termahal, menyemprotkan satu-satunya botol parfum yang pernah dia berikan, dan berkali-kali berlatih tersenyum di depan cermin untuk saat menerima lamaran nanti. Tiba-tiba, berita dari dunia hiburan muncul di ponselku. [Berita Terkini: Kisah cinta tujuh tahun berakhir bahagia, influencer percintaan terpopuler Sunny Sanjaya menerima lamaran ke-100 kali dari pacarnya!] Di foto itu, sang "idola cinta" yang memiliki delapan juta pengikut sedang berjinjit, mencium seorang pria dengan bahagia. Pria itu memegangi belakang lehernya. Di punggung tangan pria itu, ada bekas luka yang sangat kuhafal di luar kepala. Itu bekas luka tusukan pisau saat Marco melindungiku.

عرض المزيد

الفصل الأول

Bab 1

Dengan gemetar, aku membuka foto itu dan memperbesarnya sedikit demi sedikit.

Bekas luka itu membentang mengerikan di punggung tangannya.

Berulang kali aku telah menciuminya sambil menangis dalam kegelapan, dengan keyakinan bahwa itu adalah bukti cinta Marco padaku.

Tapi sekarang, rasanya lebih seperti pisau yang menusuk mataku.

Tujuh tahun.

Janjinya masih terngiang di telingaku.

Berat kotak cincin sepuluh karat dari tadi malam masih terasa di telapak tanganku.

Aku sudah merencanakan pernikahan kami. Saat dia tidur di sisiku dan tangannya yang memiliki bekas luka itu di atas perutku, aku sudah membayangkan nama-nama untuk anak-anak kami.

Ternyata ... cincin itu sama sekali bukan untukku.

Tidak!

Otakku menolak menerima kenyataan ini!

Aku akan menanyakannya. Aku akan pergi menemuinya!

Aku langsung naik taksi menuju hotel itu sambil meneleponnya.

Dulu, dia selalu mengangkat telepon dalam sekejap. Hari ini hanya ada nada sibuk.

Air mata mengaburkan pandanganku, tapi aku tidak mau menyerah.

Saat aku menelepon untuk yang ke-20 kalinya, terdengar suara tabrakan yang sangat keras.

Tubuhku terlempar seperti boneka tak berdaya.

Suara nyaring klakson menusuk kepalaku yang pusing, rasa sakit yang hebat menyebar ke seluruh tubuhku.

Lalu, cairan hangat mengalir keluar dari tubuhku.

Aku memegangi perutku. Merasakan nyawa yang ada di sana mengalir keluar dari sela-sela jariku.

"Nggak, nggak, nggak ... selamatkan anakku!"

Tapi, tidak ada yang mendengar teriakanku.

Aku menahan rasa sakit yang luar biasa dan menelepon Marco lagi dengan tangan gemetar.

Panggilan ke-21, aku menekan tombol panggil. Jempolku meninggalkan jejak darah di layar.

"Angkat teleponnya. Angkat teleponnya. Sekali ini saja dalam hidupku, kumohon, angkat teleponnya ...."

Telepon akhirnya tersambung.

Aku seperti menemukan cahaya penyelamat, ingin meminta tolong. Hingga suara perempuan terdengar.

"Sayang, dia nggak akan marah kalau lihat berita itu?"

Itu suara Sunny.

Aku menonton video pengumuman resminya berkali-kali, membandingkan diriku dengannya seperti orang bodoh, jadi telingaku sangat kenal dengan suara itu.

"Dia cuma pengganti. Apa haknya marah-marah? Tanpa aku, anak yatim piatu itu sudah membusuk di selokan."

"Lagi pula, dia terlalu mencintaiku. Dia nggak akan meninggalkanku. Bahkan kalau dia lihat berita itu? Dia nggak akan pergi. Dia selalu begitu."

Saat itu, darah di seluruh tubuhku seolah membeku.

Ponsel terlepas dari tanganku. Batas dunia mulai kabur, dan rasa sakit yang tajam di perutku menelan segalanya.

Sebelum pingsan, aku berpikir, 'Itu bukan Marco yang aku cintai.'

'Itu pasti orang asing yang menggunakan suara kekasihku.'

...

Setelah itu, aku terbangun oleh cahaya lampu neon yang menyilaukan dan bau disinfektan.

Dokter belum sempat bicara, tapi raut wajahnya yang sedih sudah memberitahuku segalanya.

"Turut berduka cita. Bayimu baru hampir tiga bulan, kami nggak bisa menyelamatkannya."

Tanganku mengusap perutku yang kosong. Pandanganku terpaku pada langit-langit. Mataku terasa perih.

Aku sebenarnya ingin memberi kejutan untuk Marco. Seorang anak. Sebuah keluarga.

Tapi, semua itu dia hancurkan dengan tangannya sendiri.

Aku menyeka air mata, menelepon nomor yang sudah lama kusimpan tapi belum pernah kuhubungi.

"Ayah."

Suaranya di ujung sana terdengar gemetaran. "Anakku? Benar ini kamu?"

"Aku sudah memutuskan." Suaraku datar dan dingin. "Aku bersedia menerima perjodohan dan menjadi pewaris keluarga. Tapi aku punya satu syarat."

"Asal kamu pulang, syarat apa pun boleh."

"Usir Sunny dari keluarga kita."

Ayah tidak ragu sedikit pun. "Sepakat. Tapi, anakku sayang, apa yang terjadi?"

Aku menahan isakan yang hampir meledak dari tenggorokanku.

"Bukan apa-apa, aku bisa mengatasinya. Aku telepon lagi nanti."

Setelah mengucapkan itu, aku menutup telepon.

Mereka mengira aku seorang yatim piatu, tidak punya apa-apa.

Mereka salah.

Sebulan yang lalu, orang tua kandungku menemukanku.

Mereka memberitahuku bahwa akulah pewaris sejati Keluarga Sanjaya.

Sunny adalah penipu. Ibunya menukar kami saat kami masih bayi, mencuri tempat tidurku, namaku, dan hak warisku.

Saat itu, aku tidak peduli.

Aku punya Marco, aku tidak butuh kerajaan mafia.

Betapa bodohnya diriku.

Sekarang, Sunny ingin mengambil identitasku, menikahi kekasihku, lalu menguburku di pemukiman kumuh.

'Langkahi dulu mayatku,' pikirku.

Tapi, tak lama kemudian, telepon berdering lagi. Sebuah pesan masuk.

[Diana, kamu pikir Marco mencintaimu? Tiga bulan lalu, saat kamu dituduh mencuri di toko dan ingin minta bantuannya, dia sedang bercinta selama denganku tiga jam di ruang ganti sebelah.]

Kuku-kukuku menancap dalam di telapak tanganku, tubuhku gemetar.

Pesan kedua.

[Kamu beruntung masih selamat dari kecelakaan itu. Menjauhlah dari Marco. Lain kali, aku nggak akan meleset dan kamu nggak akan pernah bangun lagi.]

Ternyata ... Sunny yang merencanakan semua ini.

Dia bahkan ingin membunuhku demi mendapatkan Marco.

Anakku ... meninggal karena dia.

Aku menatap kata-kata itu sampai pandanganku kabur.

Lalu menyimpan dua pesan itu dalam tangkapan layar.

Bukti dan kesabaran. Hidup dalam bayang-bayang selama tujuh tahun telah mengajariku banyak hal.

Berita dari media sosial kembali muncul di ponselku.

Aku refleks membukanya, dan melihat Sunny mengumumkan kabar gembira tentang dirinya dan Marco.

Komentar di bawahnya penuh dengan ucapan selamat.

[Tujuh tahun, akhirnya dia berhasil mendapatkan hati Sunny. Hebat!]

[Cincin itu disimpan selama tujuh tahun, menunggu dia yang menerima. Ini yang namanya cinta sejati.]

[Kekasih paling setia. Selamat!]

Kata-kata itu menghantam hatiku dengan keras.

Selama tujuh tahun, tak seorang pun dari teman-temannya mengenalku.

Tapi, kisah cinta mereka malah menjadi berita utama.

Dia mendapatkan status resmi, ciuman di depan umum, dan seratus kali lamaran.

Sedangkan aku ... hanya pantas dikurung di kamar, mendengarkan dia mengucapkan kata-kata cinta bekas yang sudah didengar orang lain.

Tepat pada saat itu, pintu kamar rawat tiba-tiba terbuka.

Marco muncul di pintu dengan seikat mawar, wajahnya masih dihiasi senyum lembut dan penuh kasih sayang.

"Sayang, aku dengar kamu dirawat di rumah sakit, jadi aku langsung bergegas ke sini. Untung, kamu nggak luka serius."

Dia meletakkan mawar itu di meja samping tempat tidurku, lalu mengeluarkan sebuah kotak beludru.

Lagi-lagi sebuah kalung berlian, sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

"Selamat hari jadi yang ketujuh."

Aku tidak berkata apa-apa.

Dia mendekat, mengira aku sedih karena dia tidak mengangkat teleponku.

Tangannya menyentuh daguku, mengangkat wajahku dengan lembut, jarinya menyapu bibirku.

Lembut, mesra, seperti yang selalu dia lakukan sebelum menciumku.

"Maaf, aku sedang sibuk. Kamu tahu aku nggak akan sengaja mengabaikanmu. Maafkan aku, ya?"

Matanya sangat tulus, sangat berpengalaman.

Lalu, pandangannya beralih ke bawah.

Ke ponselku yang masih menyala di atas pangkuanku.

Di sana terpampang berita tentang Sunny yang mengumumkan hubungan dengannya.

توسيع
الفصل التالي
تحميل

أحدث فصل

فصول أخرى

للقراء

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

لا توجد تعليقات
16 فصول
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status