Share

Bab 4

Author: Bintang
Setelah Mina pindah ke kamarku, Jack dan yang lainnya hampir datang setiap hari.

Jack bertugas membawakan makan.

Jonny membantunya menyiapkan materi untuk belajar sebelum masuk kuliah.

Sementara Kelvin membelinya sebuah proyektor dan memasangnya sendiri di dinding kamarku, karena takut Mina bosan selama masa pemulihan.

Saat sedang mengatur proyektor, akhirnya dia menyadari bahwa rak bukuku sudah kosong setengah.

“Di mana barangmu?”

“Sudah kusimpan.”

Tatapannya melirik koper-koper di luar pintu, lalu bertanya santai,

“Cepat kali sudah mulai mempersiapkan kuliah?”

Aku hanya mengiyakan.

Kelvin tak terlalu memikirkannya dan kembali menundukkan kepala untuk memainkan remote.

“Lagipula kamu kuliah di kota ini. Kalau ada yang kurang, tinggal pulang dan ambil. Nggak perlu bawa begitu banyak.”

Mina bersandar di kepala ranjangku. Mendengar itu, dia menggigit bibirnya pelan.

“Jena nggak senang aku tinggal di sini, ya?”

Dia menyingkap selimut dan berpura-pura hendak turun dari ranjang.

“Sebenarnya aku bisa pulang ke rumah sendiri, nggak perlu mempersulit Jena.”

Ujung kakinya bahkan belum menyentuh lantai, ketiga pemuda itu langsung mengerumuninya.

Jack menahan bahunya.

Jonny merapikan selimutnya.

Sementara Kelvin menoleh melihatku dengan kening berkerut.

“Dia hanya tinggal di sini selama dua bulan, perlukah kamu memasang wajah seperti itu?”

Aku terdiam.

Ternyata, tak tersenyum pun dianggap memasang wajah tak senang.

“Aku tak mengatakan apa-apa.”

“Kamu memang nggak mengatakan apa-apa, tapi Mina sampai ketakutan dan ingin pergi.”

Ibu masuk membawa sepiring buah dan kebetulan mendengar itu.

“Kamarnya memang aku yang minta Jena kosongkan, jangan salahkan dia.”

Dia meletakkan mangga di samping Mina, lalu menoleh padaku dan mengingatkan,

“Mina itu sensitif, kalau bicara dan bertindak itu harus lebih berhati-hati.”

Aku menatap sepiring mangga itu tanpa bicara.

Sejak kecil, aku alergi terhadap mangga.

Dulu, Ibu bahkan tak pernah mengizinkan mangga ada di rumah. Tapi, setelah Mina bilang dirinya suka makan mangga, kulkas di rumah selalu menyimpan beberapa kotak.

Ibu bukan tak ingat.

Dia hanya ingat apa yang disukai Mina, tapi lupa apa yang tak boleh kusentuh.

Aku keluar dari kamar dan menyeret koper terakhir ke ruang kerja.

Sore harinya, Jack mengirimkan denah sebuah apartemen padaku.

Mereka menyewa sebuah apartemen dengan empat kamar tidur di dekat kampus. Jaraknya hanya sepuluh menit dari kampus.

[Mina perlu lebih sering berjemur. Biar dia menempati kamar utama yang punya teras, bagaimana?]

Aku hanya membalas, [Iya.]

Beberapa menit kemudian, dia mengirim pesan lagi,

[Gudang di sebelah ruang tamu bisa diberi ranjang lipat. Kamu bisa tinggal di sana. Kamu juga bisa pulang ke rumah kalau akhir pekan.]

Gudang itu luasnya bahkan tak sampai enam meter persegi dan tak punya jendela.

Belum sempat aku membalas, Jack sudah mengirim pesan suara di grup berlima.

[Jena tidur di mana saja nggak masalah. Kita tentukan kamar Mina dulu. Dokter bilang dia harus lebih banyak terkena sinar matahari, jadi kamar utama paling cocok.]

Kelvin kemudian mengirim bukti transferan.

[Maaf kamu harus mengalah, nanti setelah perkuliahan dimulai, aku traktir makan.]

Aku tak menerimanya.

Aku hanya membuka kontrak sewa yang dikirim agen properti dari kota lain, lalu membayar sewa untuk enam bulan sekaligus.

Beberapa hari kemudian, hasil penerimaan universitas mereka berempat keluar satu per satu.

Seperti yang sudah kuduga, mereka diterima di kampus lokal yang sama.

Mina berhasil lolos dengan nilai yang pas-pasan ke jurusan manajemen pariwisata.

Begitu kabar itu sampai di rumah, Ibu langsung senang dan memesan tempat di restoran untuk merayakannya.

Di pesta perayaan itu, Jack membawa sebuah kamera polaroid. Katanya, mulai sekarang mereka akan menggunakannya untuk mengabadikan kehidupan kuliah selama empat tahun.

Pada foto pertama, Mina duduk di tengah, sementara ketiga pemuda itu berdiri di belakangnya.

Saat foto perlahan menampakkan gambar, Mina melihat sekilas, lalu tiba-tiba mengangkat kamera dan mengarahkannya padaku.

“Jena, kita juga foto berlima, yuk.”

Aku bahkan belum sempat berdiri, Jack sudah mengambil kamera dari tangannya.

“Filmnya tinggal beberapa lembar, simpan untuk masuk kuliah nanti saja.”

Mina tampak agak kecewa.

“Tapi kita berlima belum punya foto kelulusan bersama.”

Jonny menundukkan kepala dan memeriksa kotak film.

“Bukannya kita akan tetap berada di kota yang sama? Kapan saja bisa foto.”

Kelvin menyerahkan foto yang baru saja diambil padaku.

“Kamu yang paling teliti kalau menyimpan barang, bantu kami simpan dulu.

Di foto itu, keempat orang itu tersenyum ceria.

Aku menerimanya dan memasukkannya ke dalam tas.

Mereka selalu bilang masih akan ada banyak kesempatan nanti.

Jadi sekarang, mereka boleh tak menungguku, tak memilihku dan tak perlu menyisakan tempat untukku.

Namun, mereka tak tahu bahwa kami sudah tak memiliki masa depan bersama.

Di tengah makan, Mina mengusulkan agar kami pergi ke pantai sekali lagi sebelum kuliah dimulai.

“Waktu itu Jena nggak bisa ikut ke pegunungan bersalju, kali ini dia harus ikut.”

Jack langsung menyetujuinya.

“Boleh, aku yang menyetir.”

Jonny langsung mencari hotel.

“Bagaimana kalau tanggal 3 september? Pas sebelum hari pendaftaran ulang.”

Sementara Kelvin menatapku.

“Kali ini jangan tiba-tiba membatalkan lagi. Ingat bawa kamera. Foto kelulusan resmi kita harus kamu yang foto.”

Aku menghitung waktunya.

Tanggal 3 september, aku sudah berada 2.700 kilometer jauhnya.

“Iya.”

Mereka dengan penuh semangat mendiskusikan rute perjalanan.

Tak ada seorang pun yang bertanya, sebenarnya aku diterima di kampus mana.

Larut malam setelah pulang, aku memasukkan foto berempat itu ke laci paling bawah meja belajarku.

Kusimpan bersama papan jawaban dari permainan kekompakan yang bertuliskan namaku.

Yang satu adalah orang yang mereka pilih untuk tetap bersama mereka.

Yang satu lagi adalah orang yang mereka putuskan untuk ditinggalkan.

Keesokan paginya, aku keluar rumah hanya dengan membawa satu tas ransel.

Tiga koperku sudah lebih dulu dikirim ke kampus. Di ruang belajar itu, tak ada lagi barang milikku.

Sebelum pergi, aku tak berpamitan dan tak meninggalkan penjelasan apapun.

Dalam perjalanan menuju bandara, ponselku terus berdering.

Mina bertanya apakah aku bisa membelikan sup kacang merah dari daerah Bengkong.

Jack mengirim daftar barang kebutuhan yang kurang di apartemen dan memintaku sekalian membawanya.

Jonny menyuruhku merapikan dokumen pendaftaran kuliah kami berlima, terutama jangan sampai lupa membawa hasil pemeriksaan kesehatan Mina.

Pesan terakhir datang dari Kelvin.

[Kok nggak membalas pesan?]

[Masih marah gara-gara permainan itu?]

Pengumuman keberangkatan terdengar.

Aku mematikan ponsel dan berjalan menuju gerbang keberangkatan.

Selama sebulan berikutnya, mereka tetap mengatur kehidupanku melalui grup.

Menyuruhku mengambil paket Mina, meminta aku memperbaiki rencana perjalanan, bahkan menyuruhku datang lebih awal ke apartemen untuk membereskan gudang yang kutempati.

Aku tak pernah membalas.

Anehnya, tak ada satu orang pun dari mereka yang benar-benar datang mencariku.

Sampai tanggal 3 september, hari yang telah kami sepakati untuk pergi ke pantai.

Pukul enam pagi, Kelvin memarkir mobil di bawah rumahku.

Jack mendesakku di grup agar segera turun.

Jonny mengingatku agar tak lupa membawa kamera.

Mina memeluk cemilan yang sudah mereka siapkan dan duduk di kursi penumpang depan untuk menungguku.

Sepuluh menit berlalu, aku tak muncul.

Kelvin mulai kehabisan kesabaran. Dia langsung naik ke lantai atas dan mengetuk pintu rumahku.

Ibu membuka pintu dengan mata yang masih mengantuk.

“Jena nggak ada di rumah, kalian nggak tahu?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tak Lagi Menunggu Untuk Dipilih   Bab 10

    Saat berusia dua puluh enam tahun, proyek observasi luar angkasa yang kuikuti akhirnya resmi mengumumkan hasil penelitiannya.Setelah konferensi pers selesai, seorang wartawan bertanya kepadaku mengapa aku memilih bidang astrofisika.Aku menatap gambar nebula di belakangku, lalu teringat pada hujan deras saat aku berusia enam belas tahun.Hari itu, aku pergi sendirian ke gunung. Bukan karena sedang marah atau ingin mencari perhatian.Aku hanya mendengar bahwa akan ada hujan meteor yang sangat langka.Namun, hujan semakin deras dan aku akhirnya terjebak di sebuah gardu pandang yang sudah tidak digunakan.Ketika mereka bertiga menemukanku, seluruh tubuh mereka sudah basah kuyup.Jack menggendongku turun gunung, Jonny memayungiku, sementara Kelvin menggenggam tanganku dan berulang kali berjanji bahwa mulai saat itu, dia pasti akan memilihku lebih dulu.Saat masih muda, aku menganggap kata-kata itu lebih abadi daripada bintang-bintang.Baru kemudian aku mengerti bahwa bintang pun bisa pada

  • Tak Lagi Menunggu Untuk Dipilih   Bab 9

    Saat semester enam perkuliahaku, aku mendapatkan kesempatan mengikuti program pertukaran mahasiswa di luar negeri.Sebelum berangkat, untuk pertama kalinya Ibu datang sendirian ke kampus untuk menemuiku.Tiga tahun tidak bertemu, dia terlihat jauh lebih tua. Beberapa helai rambut putih sudah tampak di pelipisnya.Dia tidak lagi membujukku untuk pulang, juga tidak menyinggung Mina maupun ketiga pemuda itu.Dia hanya mengikutiku berkeliling laboratorium, mendengarkan saat aku menjelaskan alat-alat dan proyek penelitian yang sedang kukerjakan.Saat kami sampai di dinding penghargaan, dia langsung melihat fotoku.Dalam foto itu, aku berdiri di tengah tim sambil memegang piala perlombaan.Ibu mendongak dan menatapnya cukup lama.“Waktu kecil, setiap kali kamu mendapat penghargaan, kamu juga selalu suka berdiri di tengah.”Aku tidak menyangka dia masih mengingatnya.“Lalu kenapa setelah itu kamu tidak pernah berdiri di tengah lagi?”“Karena harus memberi tempat kepada orang lain.”Seketika,

  • Tak Lagi Menunggu Untuk Dipilih   Bab 8

    Sebelum libur, proyek observasi yang kuikuti akhirnya mencapai hasil tahap awal.Dosen pembimbing mencantumkan namaku dalam laporan penelitian, bahkan merekomendasikanku untuk mengikuti program penelitian mahasiswa tahun depan.Ketika kabar itu dikirim ke grup keluarga, Ibu langsung mengirim beberapa emoji ucapan selamat.Ayah juga sampai menelepon, sesuatu yang jarang dilakukannya dan bilang ingin mengadakan pesta untuk merayakannya.Setelah orang tuaku bercerai, Ayah segera membangun keluarga baru.Selama bertahun-tahun, dia sesekali mengirimiku uang untuk biaya hidup, tetapi jarang menanyakan kabarku. Sekarang, setelah tahu aku berhasil masuk ke proyek penelitian penting, dia baru tiba-tiba teringat bahwa dia masih memiliki seorang putri yang bisa dibanggakan.Aku menolak pesta itu dan juga tidak pulang untuk merayakan tahun baru.Ibu bertanya apakah aku masih marah kepadanya.Aku bilang, proyek observasi selama liburan di kampus sedang kekurangan orang.Itu bukan alasan.Dibandingk

  • Tak Lagi Menunggu Untuk Dipilih   Bab 7

    Sebulan setelah mulai kuliah, aku bergabung dengan klub astronomi kampus.Saat kegiatan observasi pertama di luar kampus, dosen menyerahkan tugas pencatatan kepadaku.Aku memotret Nebula Orion, lalu merapikan seluruh data dan menyusunnya dalam bentuk tabel. Setelah sibuk hingga larut malam, ketua klub, Jeff, menyerahkan segelas air hangat kepadaku.“Kamu jago melakukan hal-hal seperti ini. Dulu sering melakukannya?”“Dulu aku terbiasa mengatur perjalanan untuk orang lain.”Dia tampak bingung.“Untuk orang lain?”Aku tersenyum, tetapi tidak menjelaskan.Kemampuan yang dulu dianggap sebagai sesuatu yang wajar dariku, untuk pertama kalinya mendapat pengakuan di lingkungan baru.Aku bisa memotret, mengedit video, merencanakan rute perjalanan, dan mengingat kebutuhan setiap orang.Di sisi Mina, kemampuan-kemampuan itu hanya menjadi alat untuk memudahkan mereka untuk menjaganya.Namun, di sini, semua kemampuan itu adalah milikku sendiri.Setelah kegiatan observasi selesai, aku menerima paket

  • Tak Lagi Menunggu Untuk Dipilih   Bab 6

    Keesokan sorenya, aku bertemu Kelvin di bawah gedung asrama.Dia terlihat seperti tidak tidur semalaman. Lingkaran gelap tampak jelas di bawah matanya dan kemejanya juga kusut.Selama delapan belas tahun terakhir, aku belum pernah melihatnya seberantakan ini.Dia berjalan cepat menghampiriku dan mengulurkan tangan, berniat mengambil ranselku.Aku menghindar ke samping.Tangannya terhenti di udara. Ada sedikit rasa canggung yang melintas di matanya.“Kok nggak angkat telepon?”“Nggak dengar.”“Lalu pesanku?”“Nggak lihat.”Kelvin menatapku, seolah tidak mengerti kenapa aku tahu dia akan datang, tetapi tetap tidak pergi menjemputnya di bandara.Dulu, setiap kali salah satu dari mereka bertiga pergi ke luar kota, aku selalu lebih dulu memeriksa jadwal penerbanganSaat mereka turun dari pesawat, aku akan membawa air minum dan jaket, lalu menunggu mereka di pintu keluar.Kelvin pernah berkata sambil tersenyum, selama dia melihatku, dia akan tahu bahwa dirinya sudah pulang.Namun sekarang, d

  • Tak Lagi Menunggu Untuk Dipilih   Bab 5

    Pada hari mereka menyadari bahwa aku sudah pergi, diriku sedang mengikuti kegiatan pengamatan bintang untuk mahasiswa baru.Universitasku berada di dataran tinggi bagian utara, dengan perbedaan suhu yang cukup ekstrim antara siang dan malam. Siang hari langit masih cerah tanpa awan, tapi begitu malam tiba, angin dingin mulai berhembus melewati lereng bukit.Aku merapatkan jaket, lalu bersama teman asramaku memasang teleskop.Begitu ponsel dinyalakan, puluhan panggilan tak terjawab langsung masuk bersamaan.Dari Ibu, Jack, Jonny dan Kelvin.Pesan di grup berlima juga perlahan berubah, dari yang awalnya penuh ketidaksabaran menjadi kepanikan.Jack bertanya aku bersembunyi di mana.Jonny mengatakan kalau aku hanya sedang merajuk, sekarang masih belum terlambat untuk pulang.Kelvin hanya mengirim satu pesan.[Kirim alamatmu.]Nada bicaranya masih seperti sedang memerintahku.Seolah-olah selama dia membuka suara, aku seharusnya kembali seperti dulu, memberitahu jadwal, perasaan dan semua ra

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status