Share

Bab 3

Author: Bintang
Pada hari ketiga perjalanan mereka ke pegunungan bersalju, Mina mengunggah sebuah video perjalanan kelulusan.

Dalam video itu, mereka berempat memakai jaket dengan warna yang sama dan berlarian, serta bercanda di kaki gunung bersalju.

Jack membawakan tasnya.

Jonny berjongkok untuk membantu mengikat tali sepatunya.

Sementara itu, saat Mina hampir kehilangan keseimbangan karena diterpa angin, Kelvin mengulurkan tangan dan merangkulnya ke dalam pelukan.

Di akhir video, Mina tersenyum ke arah kamera dan berkata,

“Dari seragam sekolah hingga masuk kuliah, aku beruntung karena kami selalu menjadi empat sahabat terbaik.”

Di kolom komentar, seseorang bertanya apakah yang merekam video itu adalah teman mereka yang kelima.

Mina menjawab,

[Nggak ada orang kelima. Kami hanya selalu berempat.]

Aku menatapnya selama beberapa detik, lalu keluar dari halaman tersebut.

Sepuluh menit kemudian, video itu dihapus.

Kelvin meneleponku.

“Kamu sudah lihat video tadi?”

“Sudah.”

“Mina salah menulis caption. Awalnya dia memang ingin menulis lima orang, tapi karena kamu nggak ikut, dia takut netizen jadi bingung, jadi terpaksa menulis empat orang.”

Penjelasannya terdengar begitu lancar, seolah sudah dipersiapkan sejak awal.

“Iya, aku tahu.”

Tiba-tiba terdengar seruan kaget dari seberang telepon.

Disusul suara langkah kaki yang berantakan.

Kelvin buru-buru berkata, “Aku tutup dulu.”

Dia bahkan tak sempat menunggu jawabanku.

Tak lama kemudian, grup berlima langsung ramai.

Saat sedang foto, Mina salah menginjak pijakan dan tergelincir menuruni lereng salju hingga pergelangan kakinya terkilir. Mereka harus mengakhiri perjalanan lebih awal.

Jack bertanya kenapa aku tak mengangkat telepon.

Jonny memintaku segera mencari penerbangan pulang paling awal.

Aku pun bingung melihatnya.

[Bukannya kalian ada di bandara? Kok nggak cari sendiri?]

Tak lama kemudian, Jonny mengirim pesan suara,

“Bukannya selama ini kamu yang mengurus semuanya? Mina kesakitan sampai terus menangis. Mana sempat kami memikirkan penerbangan?!”

Ternyata, saat membutuhkan orang untuk membereskan semuanya, barulah mereka teringat padaku.

Selama ini, setiap kali pergi berlima, selalu aku yang memesan tiket, menyiapkan dokumen, membuat rencana perjalanan dan membawa obat-obatan.

Mereka sudah terbiasa menikmati semua persiapanku, tapi tak pernah menganggapnya sebagai bentuk pengorbanan.

Aku keluar dari halaman percakapan dan tak membantu mereka mencari penerbangan.

Setengah jam kemudian, Ibu membuka pintu kamarku.

“Mina terluka, kok kamu masih bisa duduk santai di sini?”

Dia menyodorkan ponselnya padaku.

Di layar terlihat foto pergelangan kaki Mina yang memerah dan membengkak.

“Mereka sudah membawanya ke rumah sakit.”

“Kalau begitu, cepat bereskan kamarmu.”

Aku terdiam.

“Untuk apa?”

“Mina terluka seperti ini. Kalau dia tinggal di lantai dua, nggak ada yang bisa menjaganya. Kamarmu ada di lantai satu, jadi biarkan dia tinggal di sini selama dua bulan.”

Ibu mengatakannya begitu saja, seolah tak pernah terpikir olehnya bahwa aku mungkin akan menolak.

“Kalau begitu, aku tinggal di mana?”

“Di ruang belajar kan ada ranjang lipat? Lagipula, sebentar lagi kamu kuliah di sini. Biasanya kamu juga akan tinggal di asrama, jadi jangan mempermasalahkan hal-hal kecil seperti ini.”

Sebentar lagi kuliah.

Jadi, bahkan sebelum aku benar-benar pergi, kamarku sudah bisa diberikan pada orang lain.

Aku terdiam sejenak, lalu bangkit dan membuka lemari.

Ibu mengangguk puas.

“Bagus. Mina memang kurang sehat sejak kecil. Kamu harus lebih memakluminya.”

Aku tak menjelaskan apa-apa. Aku hanya memasukkan pakaianku satu per satu ke dalam koper.

Setelah tiga koper terisi penuh, sebagian besar kamar sudah kosong.

Saat Ibu masuk lagi, akhirnya dia merasa ada yang tak beres saat melihat koper-koper di lantai.

“Kenapa kamu kemas semua barang?”

“Untuk keperluan kuliah.”

“Kamu kuliah di kota ini, emangnya perlu membawa barang sebanyak itu?”

Aku menarik ritsleting koper terakhir.

“Bereskan dari sekarang, biar nanti tak merepotkan.”

Dia menatapku dengan curiga beberapa kali, tapi tak lama kemudian kembali membicarakan Mina.

“Kampus lokal yang kamu pilih itu sudah pasti, ‘kan? Nilai Mina saja lebih rendah darimu, tapi dia sudah yakin bisa masuk. Kalau ternyata kamu nggak lolos, jangan menangis nanti.”

Aku tersenyum.

Dia tak tahu berapa nilaiku.

Sama seperti tiga pemuda yang tumbuh bersamaku sejak kecil, mereka juga tak pernah menanyakannya.

Sejak nilai ujian diumumkan hingga pengisian pilihan kampus, perhatian mereka selalu tertuju pada Mina.

Saat nilainya bertambah satu poin, mereka ikut bersorak untuknya.

Saat nilai berkurang satu poin, mereka sibuk mencarikan jalan keluar untuknya.

Sementara satu-satunya pertanyaan yang kuterima adalah saat Kelvin bertanya,

“Seharusnya kamu bisa tetap kuliah di kota ini bersama kami, ‘kan?”

Malam itu, akhirnya mereka kembali.

Ketiga pria itu bergantian menggendong Mina masuk ke rumah.

Jack membawa kopernya, Jonny membawa obat-obatan, sementara Kelvin dengan hati-hati menopang kakinya yang cedera.

Mereka membawanya masuk ke kamarku.

Ibu sudah mengganti sprei dengan yang baru dan bahkan membawakan sepiring mangga yang telah dipotong-potong.

“Mina tinggal di sini saja dengan tenang. Jena sebentar lagi sudah kuliah, kamar ini juga akan kosong.”

Tak ada yang menyadari bahwa semua fotoku yang tergantung di dinding sudah dilepas.

Tak ada pula yang memperhatikan bahwa tiga koper di samping ranjang itu berisi seluruh barangku yang kutinggalkan di kota ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tak Lagi Menunggu Untuk Dipilih   Bab 10

    Saat berusia dua puluh enam tahun, proyek observasi luar angkasa yang kuikuti akhirnya resmi mengumumkan hasil penelitiannya.Setelah konferensi pers selesai, seorang wartawan bertanya kepadaku mengapa aku memilih bidang astrofisika.Aku menatap gambar nebula di belakangku, lalu teringat pada hujan deras saat aku berusia enam belas tahun.Hari itu, aku pergi sendirian ke gunung. Bukan karena sedang marah atau ingin mencari perhatian.Aku hanya mendengar bahwa akan ada hujan meteor yang sangat langka.Namun, hujan semakin deras dan aku akhirnya terjebak di sebuah gardu pandang yang sudah tidak digunakan.Ketika mereka bertiga menemukanku, seluruh tubuh mereka sudah basah kuyup.Jack menggendongku turun gunung, Jonny memayungiku, sementara Kelvin menggenggam tanganku dan berulang kali berjanji bahwa mulai saat itu, dia pasti akan memilihku lebih dulu.Saat masih muda, aku menganggap kata-kata itu lebih abadi daripada bintang-bintang.Baru kemudian aku mengerti bahwa bintang pun bisa pada

  • Tak Lagi Menunggu Untuk Dipilih   Bab 9

    Saat semester enam perkuliahaku, aku mendapatkan kesempatan mengikuti program pertukaran mahasiswa di luar negeri.Sebelum berangkat, untuk pertama kalinya Ibu datang sendirian ke kampus untuk menemuiku.Tiga tahun tidak bertemu, dia terlihat jauh lebih tua. Beberapa helai rambut putih sudah tampak di pelipisnya.Dia tidak lagi membujukku untuk pulang, juga tidak menyinggung Mina maupun ketiga pemuda itu.Dia hanya mengikutiku berkeliling laboratorium, mendengarkan saat aku menjelaskan alat-alat dan proyek penelitian yang sedang kukerjakan.Saat kami sampai di dinding penghargaan, dia langsung melihat fotoku.Dalam foto itu, aku berdiri di tengah tim sambil memegang piala perlombaan.Ibu mendongak dan menatapnya cukup lama.“Waktu kecil, setiap kali kamu mendapat penghargaan, kamu juga selalu suka berdiri di tengah.”Aku tidak menyangka dia masih mengingatnya.“Lalu kenapa setelah itu kamu tidak pernah berdiri di tengah lagi?”“Karena harus memberi tempat kepada orang lain.”Seketika,

  • Tak Lagi Menunggu Untuk Dipilih   Bab 8

    Sebelum libur, proyek observasi yang kuikuti akhirnya mencapai hasil tahap awal.Dosen pembimbing mencantumkan namaku dalam laporan penelitian, bahkan merekomendasikanku untuk mengikuti program penelitian mahasiswa tahun depan.Ketika kabar itu dikirim ke grup keluarga, Ibu langsung mengirim beberapa emoji ucapan selamat.Ayah juga sampai menelepon, sesuatu yang jarang dilakukannya dan bilang ingin mengadakan pesta untuk merayakannya.Setelah orang tuaku bercerai, Ayah segera membangun keluarga baru.Selama bertahun-tahun, dia sesekali mengirimiku uang untuk biaya hidup, tetapi jarang menanyakan kabarku. Sekarang, setelah tahu aku berhasil masuk ke proyek penelitian penting, dia baru tiba-tiba teringat bahwa dia masih memiliki seorang putri yang bisa dibanggakan.Aku menolak pesta itu dan juga tidak pulang untuk merayakan tahun baru.Ibu bertanya apakah aku masih marah kepadanya.Aku bilang, proyek observasi selama liburan di kampus sedang kekurangan orang.Itu bukan alasan.Dibandingk

  • Tak Lagi Menunggu Untuk Dipilih   Bab 7

    Sebulan setelah mulai kuliah, aku bergabung dengan klub astronomi kampus.Saat kegiatan observasi pertama di luar kampus, dosen menyerahkan tugas pencatatan kepadaku.Aku memotret Nebula Orion, lalu merapikan seluruh data dan menyusunnya dalam bentuk tabel. Setelah sibuk hingga larut malam, ketua klub, Jeff, menyerahkan segelas air hangat kepadaku.“Kamu jago melakukan hal-hal seperti ini. Dulu sering melakukannya?”“Dulu aku terbiasa mengatur perjalanan untuk orang lain.”Dia tampak bingung.“Untuk orang lain?”Aku tersenyum, tetapi tidak menjelaskan.Kemampuan yang dulu dianggap sebagai sesuatu yang wajar dariku, untuk pertama kalinya mendapat pengakuan di lingkungan baru.Aku bisa memotret, mengedit video, merencanakan rute perjalanan, dan mengingat kebutuhan setiap orang.Di sisi Mina, kemampuan-kemampuan itu hanya menjadi alat untuk memudahkan mereka untuk menjaganya.Namun, di sini, semua kemampuan itu adalah milikku sendiri.Setelah kegiatan observasi selesai, aku menerima paket

  • Tak Lagi Menunggu Untuk Dipilih   Bab 6

    Keesokan sorenya, aku bertemu Kelvin di bawah gedung asrama.Dia terlihat seperti tidak tidur semalaman. Lingkaran gelap tampak jelas di bawah matanya dan kemejanya juga kusut.Selama delapan belas tahun terakhir, aku belum pernah melihatnya seberantakan ini.Dia berjalan cepat menghampiriku dan mengulurkan tangan, berniat mengambil ranselku.Aku menghindar ke samping.Tangannya terhenti di udara. Ada sedikit rasa canggung yang melintas di matanya.“Kok nggak angkat telepon?”“Nggak dengar.”“Lalu pesanku?”“Nggak lihat.”Kelvin menatapku, seolah tidak mengerti kenapa aku tahu dia akan datang, tetapi tetap tidak pergi menjemputnya di bandara.Dulu, setiap kali salah satu dari mereka bertiga pergi ke luar kota, aku selalu lebih dulu memeriksa jadwal penerbanganSaat mereka turun dari pesawat, aku akan membawa air minum dan jaket, lalu menunggu mereka di pintu keluar.Kelvin pernah berkata sambil tersenyum, selama dia melihatku, dia akan tahu bahwa dirinya sudah pulang.Namun sekarang, d

  • Tak Lagi Menunggu Untuk Dipilih   Bab 5

    Pada hari mereka menyadari bahwa aku sudah pergi, diriku sedang mengikuti kegiatan pengamatan bintang untuk mahasiswa baru.Universitasku berada di dataran tinggi bagian utara, dengan perbedaan suhu yang cukup ekstrim antara siang dan malam. Siang hari langit masih cerah tanpa awan, tapi begitu malam tiba, angin dingin mulai berhembus melewati lereng bukit.Aku merapatkan jaket, lalu bersama teman asramaku memasang teleskop.Begitu ponsel dinyalakan, puluhan panggilan tak terjawab langsung masuk bersamaan.Dari Ibu, Jack, Jonny dan Kelvin.Pesan di grup berlima juga perlahan berubah, dari yang awalnya penuh ketidaksabaran menjadi kepanikan.Jack bertanya aku bersembunyi di mana.Jonny mengatakan kalau aku hanya sedang merajuk, sekarang masih belum terlambat untuk pulang.Kelvin hanya mengirim satu pesan.[Kirim alamatmu.]Nada bicaranya masih seperti sedang memerintahku.Seolah-olah selama dia membuka suara, aku seharusnya kembali seperti dulu, memberitahu jadwal, perasaan dan semua ra

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status