로그인Setelah lulus, kami bertiga pergi ke Islandia untuk melihat aurora sebagai perayaan. Syal sahabatku, Jennifer, tertiup angin hingga terbang. Pacarku, Xavier, segera melepas syalnya sendiri, lalu membungkus Jennifer rapat-rapat agar tetap hangat. Setelah itu, dia menoleh kepadaku dan berkata, "Tolong ambilkan syal Jennifer ya. Itu syal kesayangannya." Aku berlari di tengah angin kencang dan mengejar syal itu cukup lama. Akhirnya, aku berhasil menemukannya. Namun, ketika aku kembali, aurora sudah menghilang dan mereka pun sudah tidak berada di tempat semula. Tak lama kemudian, ponselku menerima sebuah pesan. [ Kamu lama sekali. Jennifer kedinginan. Aku antar dia pulang dulu. ] Di negeri asing, aku berdiri di pinggir jalan, menunggu selama enam jam. Aku menghentikan lebih dari 20 mobil, hingga akhirnya ada seseorang yang bersedia memberiku tumpangan. Saat aku kembali ke hotel, hari sudah lewat tengah malam. Seluruh tubuhku membeku karena kedinginan, tetapi kulihat mereka sudah berbalut selimut, duduk berdempetan sambil melihat foto-foto yang mereka ambil hari ini. Mereka mengobrol tentang fotografi dan aurora, topik yang tak akan pernah bisa kuikuti. Saat melihatku, Xavier mengernyit. "Kenapa lama sekali? Aku sudah siapkan air hangat untukmu. Sana minum, hangatkan badan." Aku menyentuh gelas itu. Air di dalamnya sudah lama menjadi dingin. Kelelahan yang selama ini kupendam akhirnya meluap. Sudahlah. Aku langsung mengubah jadwal ke penerbangan paling dekat, lalu membatalkan reservasi hotel. Aurora yang memang tak bisa kuraih ... tak perlu lagi kukejar.
더 보기Jevan mengejarku selama hampir dua tahun. Dari Samarda sampai ke kampung halamanku, dari masa magang hingga akhirnya menjadi karyawan tetap.Ibu bilang dia jauh lebih bisa diandalkan daripada Xavier. Ayah tidak pernah berkomentar.Namun, setiap kali Jevan datang makan di rumah, Ayah selalu memasak dua hidangan tambahan.Pernah suatu hari Jevan lembur di kantor, aku pulang sendirian. Ayah melihat ada satu set peralatan makan yang kosong di meja makan. Dia terdiam beberapa detik, lalu baru membereskannya.Sejak hari itu, dia tidak pernah lagi menyiapkan satu set peralatan makan tambahan. Namun, kalau Jevan datang, Ayah selalu menggoreng sepiring kacang tanah sebagai camilan.Suatu kali aku demam dan tidak masuk kerja. Jevan meneleponku berkali-kali, tetapi aku tidak mengangkatnya, jadi dia langsung datang mencariku.Ibu yang membukakan pintu. Jevan berdiri di depan pintu sambil membawa sekantong obat dan sekotak plester penurun demam. Napasnya sedikit terengah-engah.Rumahku berada di la
Setengah tahun kemudian, selain aku, ada satu pengikut kecil yang ikut pulang bersamaku."Kak Rachel, aku tidur di mana ya?""Kak Rachel, biar aku yang bawakan kopermu."Aku berjalan di depan sambil menggeleng pasrah.Jevan adalah pria yang kukenal di Samarda. Kami sama-sama baru lulus kuliah, bahkan rumah kami berada di kota yang sama, sehingga kami cepat akrab.Dia beberapa bulan lebih muda dariku. Karena itulah, dia selalu memanfaatkan kesempatan untuk mengikuti di belakangku sambil memanggilku "Kak Rachel".Jevan terus mengoceh sambil mengikutiku masuk ke kompleks perumahan."Kak Rachel, di sini pohonnya banyak sekali.""Kak Rachel, pohon pagoda tua itu sudah berapa tahun umurnya?""Kak Rachel ...."Aku berhenti melangkah.Xavier berdiri di bawah pohon pagoda tua itu. Tubuhnya tampak lebih kurus. Di dagunya masih ada luka kecil bekas cukuran. Begitu melihatku, dia maju satu langkah, lalu berhenti lagi. Kemudian, dia melihat Jevan yang berdiri di belakangku.Jevan menarik satu koper
Aku tidak menoleh lagi kepadanya, lalu berjalan pulang.Begitu membuka pintu, kulihat Ayah dan Ibu sedang menempel di jendela balkon, mati-matian mengintip ke bawah.Ayah terus mengomel, "Anak itu masih berani datang! Dia sudah berdiri di bawah gedung kita 20 puluh menit. Mau main drama kasihan segala!""Ayah kasih tahu ya, waktu Ayah mengejar Ibumu dulu, Ayah nggak pernah sehina itu!"Ibu langsung menyambung dengan cepat, "Waktu ayahmu mengejar Ibu, hari pertama saja sudah Ibu usir. Setelah itu dia nongkrong di depan pabrik tekstil buat nungguin Ibu, eh Ibu malah kabur lewat tembok.""Ngapain kamu cerita begitu ke anak kita?""Kamu yang mulai duluan."Aku mengganti sandal, berjalan ke tengah ruang tamu, lalu berdeham pelan. "Aku berencana magang di tempat Tante selama enam bulan.""Ke Samarda?""Ya.""Enam bulan?""Ya.""Sekalian belajar." Aku meletakkan kunci di atas rak sepatu, lalu menggeser paket yang penuh lilitan lakban ke samping. "Tante kerja di bidang desain interior. Sesuai
Aku menghabiskan seminggu di rumah menjadi pengangguran yang hanya makan dan tidur.Akhirnya, masa menjadi anak kesayangan keluarga pun berakhir. Ayah dan Ibu mulai tidak tahan melihat tingkahku."Lihat tuh kamu. Piring nggak dicuci, selimut juga nggak dirapikan. Kerjanya cuma rebahan di sofa." Ayah mengomel sambil mengepel lantai. Pelnya hampir menyenggol kakiku, membuatku buru-buru mengangkat kaki.Ibu duduk di samping sambil makan kuaci, malah ikut memperkeruh suasana. "Sudah kubilang kemarin, anak ini jangan terlalu dimanja. Lihat, baru seminggu saja sudah kembali ke sifat aslinya."Aku memeluk bantal sofa erat-erat dan membalas tanpa merasa bersalah, "Kalian yang suruh aku pulang buat jadi pengangguran. Itu kata-kata Ibu sendiri. Katanya mau kembalikan berat badanku."Ayah terkekeh di samping. Dia mengepel beberapa kali lagi sebelum akhirnya berkata, "Gimana kalau hari ini jalan-jalan sebentar? Nggak enak juga kalau terus mengurung diri di rumah."Aku menyipitkan mata. "Ayah benar












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.