Share

Bab 7

Penulis: Larasati
Tangan pria itu bergerak lebih dekat ke pinggang Shella. Kehangatan dari tangannya yang besar membuat Shella tersentak. "Riady, aku lagi mens."

Gerakan Riady terhenti dan dia mengalihkan pandangannya. Ada sedikit ketidaksenangan di matanya. "Sayang, aku selalu ingat hari mensmu. Itu bukan dalam beberapa hari ini."

Dia menatap Shella dan melanjutkan, "Terakhir kali, kamu bahkan bilang mau batalkan tempat pernikahan. Apa itu karena aku bekerja lembur akhir-akhir ini dan mengabaikanmu? Bisa nggak kamu jangan marah padaku? Besok ulang tahun Nenek, aku bawa kamu pergi, ya?"

Begitu mengungkit anggota Keluarga Swarma, Shella tanpa sadar menegang. Sebenarnya, anggota Keluarga Swarma sama sekali tidak menyukainya, terutama nenek Riady. Dia selalu merasa bahwa Shella telah bersama Riady selama enam tahun, tetapi masih belum hamil. Itu berarti Shella mandul.

Sekarang, Amila sudah hamil. Nenek Riady mungkin akan sangat senang. Pergi ke sana hanya akan membuat Shella terlihat seperti orang bodoh.

"Riady, aku ada urusan akhir-akhir ini."

Shella memilih untuk menghindari situasi tersebut. Dia tidak ingin bertemu anggota Keluarga Swarma. Lagi pula, anggota Keluarga Swarma juga tidak suka bertemu dengannya.

Namun, Riady merasa bahwa anggota keluarganya sudah sangat baik terhadap Shella. Dia berpura-pura tersinggung dan berkata, "Sayang, kamu nggak suka sama keluargaku?"

Sejak kecil, Shella telah menjadi yatim piatu. Dia sama sekali tidak memiliki orang tua. Sebelumnya, Riady selalu merasa sedih untuknya ketika mendengar bahwa dia tidak memiliki keluarga.

Sekarang, Riady malah berujar, "Sayang, kamu nggak punya orang tua. Orang tuaku itu orang tuamu. Kenapa kamu nggak coba untuk lebih dekat dengan mereka?"

Apakah dia yang tidak ingin dekat dengan mereka? Shella tersenyum sinis. Seberapa pun dia berusaha menyenangkan mereka, orang-orang Keluarga Swarma hanya akan menganggapnya memalukan. Lanjut menyenangkan mereka hanya akan membuang waktu.

"Riady, aku akan pergi."

Shella menghela napas pelan. Dia akhirnya pasrah pada takdirnya. Dia tahu dia tidak akan bisa menolak Riady.

Riady merangkul pinggang Shella dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Meskipun Shella merasa jijik, pelukan ini pernah menjadi satu-satunya tempat perlindungan hangatnya.

Shella bukanlah tipe wanita yang rela merendahkan dirinya sendiri. Dia tahu bahwa sedalam apa pun jalinan cinta enam tahunnya dengan Riady, semua itu telah hancur total ketika Riady berselingkuh.

Riady tersenyum tipis dan berkata, "Sayang, sudah lama aku nggak peluk kamu seperti ini. Aku mau peluk kamu seperti ini seumur hidup."

Seumur hidup terasa terlalu panjang ....

Bagi Riady, kekasih yang stabil kalah menarik daripada sensasi mendebarkan dari sesuatu yang baru.

Keesokan harinya, Riady menyuruh orang mengirimkan sebuah gaun panjang berwarna merah muda dan putih. Entah kenapa, melihat gaun itu membuat Shella mual. Dia berlari ke wastafel, lalu membungkuk dan memuntahkan cairan asam.

Penata gaya yang bertanggung jawab untuk mendandani Shella pun terkejut. "Bu Shella, kamu kenapa?"

"Aku baik-baik saja," jawab Shella. "Ganti gaunnya dengan yang biru tua itu."

"Tapi Pak Riady bilang cuma gaun ini yang paling cocok denganmu. Pak Riady juga bilang gaun ini dibuat khusus untukmu. Yang biru tua terkesan kurang bawa keberuntungan. Orang tua mungkin nggak begitu menyukainya."

Lagi-lagi seperti ini. Shella bahkan tidak punya hak untuk memilih gaunnya sendiri. Setiap langkah yang diambilnya selalu diatur oleh orang lain. Dia sudah muak dengan penghinaan ini. Dia membenci warna merah muda dan putih.

"Aku bilang, aku mau pakai yang itu!" Shella berujar dengan tegas, "Aku dan Riady akan segera menikah. Uang yang Riady berikan padamu akan jadi harta bersama kami. Apa kamu yakin mau menentangku?"

Penata gaya itu tiba-tiba tersedak. Dia tidak menyangka Shella akan bersikap begitu tegas. Sebelumnya, Shella tidak akan pernah bersikap seperti ini. Dia hanya akan menerima segala sesuatu dengan enggan.

Bagaimanapun juga, semua orang menganggap Shella memiliki kepribadian yang baik. Dia tidak pernah pilih-pilih. Secara pribadi, mereka semua mengatakan bahwa status dan kedudukan Shella tidak setara dengan Riady. Jadi, dia hanya bisa bersabar dan tidak meminta lebih. Jika tidak, Riady akan segera mencampakkannya.

Penataan gaya pun dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya. Dia mengeluarkan sebuah kalung, lalu mengenakannya di leher Shella. Kalung itu terlihat sangat berkilau di lehernya.

Dalam sekejap, penata gaya itu tak kuasa menahan diri untuk berseru, "Bu Shella, kamu benar-benar cantik!"

Penampilan Shella tidak norak. Dia memiliki kecantikan yang sangat anggun. Selain itu, kepribadiannya juga agak dingin. Di kampus dulu, dia sangat terkenal sebagai gadis cantik yang dingin.

Di sisi lain, Amila lebih seperti gadis manis yang sederhana. Lebih tepatnya, Shella menggambarkannya sebagai wanita penggoda. Amila sangat pandai menggoda orang dan sangat memahami pria. Riady hanya tertarik padanya karena merasa masih baru.

Setelah enam tahun penuh, Shella percaya bahwa tidak ada seorang pun yang lebih memahami Riady daripada dirinya.

Shella masuk ke mobil Keluarga Swarma. Sepanjang jalan, sopir masih menjelaskan berbagai hal kepadanya, "Pak Riady ada urusan mendadak, jadi dia nggak bisa pergi bersama Bu Shella."

Shella mengerutkan bibir. Pandangannya perlahan beralih ke jendela. Riady tidak bisa menemaninya, atau sedang menemani orang lain?

Setelah tiba di rumah Keluarga Swarma, Shella masuk sendirian.

Melihat Shella, Yanisa menyambutnya dengan hangat. Akan tetapi, dia tiba-tiba tertegun setelah melihat pakaian Shella. "Shella, seingatku, kamu paling benci pakai warna biru dulu. Kenapa hari ini ...."

Bukan Shella yang membencinya, melainkan Riandy. Dulu, dia berpakaian sesuai keinginan Riandy hanya untuk menyenangkan pria itu.

Shella dengan santai menjelaskan, "Gaun warna merah muda dan putih itu robek, jadi aku menggantinya dengan ini."

Tatapan curiga Yanisa pun sirna. Dia menggenggam tangan Shella dengan mesra. "Shella, kamu sudah minta temanmu untuk belikan tasku?"

Shella mengerutkan bibir, "Belum ada kabar dari orangnya. Coba kita tunggu lagi."

Sedikit kekecewaan terlintas di mata Yanisa, tetapi dia tidak menaruhnya dalam hati. Dia tahu bahwa Shella akan mendapatkan apa pun yang diinginkannya.

Joana, nenek Riady, mengenakan pakaian tradisional dan dikelilingi orang-orang. Ketika melihat Shella, ekspresinya langsung menjadi muram. Sambil bertumpu pada tongkatnya, dia berkata dengan nada tidak setuju, "Kenapa dia datang kemari?"

Sebagai menantu Joana, Rossa selalu berada di sisinya sepanjang waktu. Dia menjawab dengan tidak berdaya, "Gimanapun, Shella itu cucu menantumu."

"Aku nggak punya cucu menantu seperti itu. Mana ada wanita yang masih belum hamil setelah enam tahun? Dia pada dasarnya sudah nggak layak buat dampingi Riady, tapi masih nggak berusaha untuk berikan lebih banyak putra bagi Keluarga Swarma. Wanita seperti ini benar-benar nggak berguna."

Shella telah berkali-kali menanggung kata-kata kasar seperti ini. Di masa lalu, dia selalu patuh. Sekarang, dia telah memutuskan untuk mengakhiri pertunangan ini. Untuk apa dia masih peduli pada hal-hal ini?

Tiba-tiba, Shella mengangkat wajah kecilnya dan berkata dengan santai, "Nenek, aku dan Riady sudah berusaha sebaik mungkin. Sayangnya, waktu aku melakukan pemeriksaan di rumah sakit, dokter bilang nggak ada yang salah denganku. Mungkin Riady terlalu sering lembur dan bergadang, makanya kesehatannya terpengaruh."

Wajah anggota Keluarga Swarma tiba-tiba dipenuhi kebingungan.

Joana sangat marah hingga seluruh tubuhnya gemetar. "Apa kamu lagi mengutuk cucuku?"

Rossa menimpali, "Ibu, tenanglah. Riady memang terlalu sering lembur akhir-akhir ini. Itu bukan salah Shella."

Bahkan Yanisa juga terkejut. Rossa biasanya tidak menyukai Shella. Kenapa dia membela Shella hari ini?

Tepat pada saat ini, terdengar sedikit suara di depan pintu ....
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tak Rujuk, Tak Memaafkan, Penyesalanmu Datang Terlambat   Bab 50

    Shella membayar biaya pengobatan Christoff, lalu berbalik untuk pergi. Sebelum berpisah, Christoff memberikan informasi kontaknya kepada Shella.Setelah agak malam, Amila mencoba menelepon Peter, tetapi nomor Peter tidak dapat dihubungi. Amila pun merasa bingung. Mengingat Shella tidak tewas hari ini, sepertinya pria tadi siang yang telah menyelamatkannya. Dia benar-benar beruntung! Namun, rencananya perlu dipercepat. Jika tidak, semuanya akan terlambat!Memikirkan hal ini, Amila sengaja mendekati Riady. "Riady, jangan marah lagi. Shella pasti nggak bermaksud begitu. Mungkin ada kesalahpahaman! Sebelumnya, kamu bilang Nenek sangat percaya sama mitos. Kebetulan, aku kenal seorang peramal yang bisa meramal dengan sangat akurat. Aku akan bawa dia untuk melakukan ritual buat Nenek besok. Gimana menurutmu?" ucap Amila dengan manja sambil merangkul lengan Riady.Mata Riady menjadi gelap. Rasa sakit hati karena Shella perlahan-lahan memudar. Dia berbalik dan mencium bibir Amila, lalu memper

  • Tak Rujuk, Tak Memaafkan, Penyesalanmu Datang Terlambat   Bab 49

    "Shella, kita akan segera menikah, apa gunanya kamu berbuat begini? Kamu sengaja pakai pria seperti ini untuk membuatku cemburu, 'kan?""Shella, kamu seharusnya minta maaf sama Riady. Bukan salahmu berselingkuh. Lagian, pria ini memang sangat tampan. Wajar saja kamu tergoda! Tapi karena kamu sudah berselingkuh, jangan berpegang teguh pada posisi istri Riady lagi."Hanya orang yang memfitnah orang lain yang tahu betapa tidak adilnya tuduhan itu.Tatapan dingin Shella tertuju pada Amila. Amila pun secara refleks merasa takut. Kemudian, entah sejak kapan, Shella telah berhasil menepis cengkeraman Riady dan menampar Amila dengan kuat."Ngomong soal ini, aku bahkan belum menyelesaikan urusanku denganmu. Amila, beraninya kamu menghasut kakakmu untuk menabrakku dengan mobil. Aku sudah lapor polisi, juga catat nomor pelatnya. Suruh dia siap-siap untuk masuk penjara!" Ekspresi Amila seketika berubah. Kemudian, dia menatap Riady dengan ekspresi sedih."Shella, apa-apaan kamu! Amila nggak punya

  • Tak Rujuk, Tak Memaafkan, Penyesalanmu Datang Terlambat   Bab 48

    "Dia pingsan karena gula darah rendah. Untungnya, dia dibawa ke rumah sakit tepat waktu. Berhubung pacarmu ada gula darah rendah, jangan lupa untuk tetap sediakan beberapa butir permen biar bisa antisipasi keadaan darurat," ujar dokter.Shella hendak menjelaskan bahwa Christoff bukan pacarnya. Namun, dokter itu sudah berbalik dan pergi.Kebetulan, Riady mendengar semua ini dari luar. Dia pun mengepalkan tangannya dan menerobos masuk.Shella seketika mematung. Riady menghampirinya, lalu meraih pergelangan tangannya dan menuntut, "Siapa dia?"Riady menunjuk ke arah Christoff yang bertelanjang dada. Amila yang baru saja masuk langsung merasakan aura mengesankan pria itu. Dia dapat menilai bahwa jam tangan di pergelangan tangan pria itu saja sudah bernilai miliaran. Shella juga mengenal orang sehebat itu?Amila menggigit bibir dan bertanya kepada Shella, "Shella, apa hubunganmu dengan orang ini? Kenapa kamu sampai secara khusus temani dia datang ke rumah sakit?"Shella sangat ingin merobek

  • Tak Rujuk, Tak Memaafkan, Penyesalanmu Datang Terlambat   Bab 47

    Bagi Amila, janji seperti itu hanyalah bentuk dari menguji kesabarannya. Perutnya sudah makin besar. Jika Riady benar-benar menikahi Shella, dia hanya bisa menjadi simpanan seumur hidupnya.Amila menarik napas dalam-dalam. Namun, sebentar lagi, dia akan mendapatkan apa yang diinginkannya!Keesokan harinya.Shella bersiap untuk pergi memeriksa rumah di Kota Horion. Saat tiba di pintu masuk bandara dan baru saja dia keluar dari mobil, dia melihat sebuah mobil melaju kencang ke arahnya. Ekspresinya langsung berubah dan kakinya lemas secara refleks.Ada seseorang yang menarik Shella dari belakang. Dia pun jatuh ke pelukan orang itu. Kemudian, terdengar erangan tertahan.Shella menunduk dan melihat Christoff menahan jatuhnya. Lengan pria itu memeluknya dengan erat. Mobil yang sudah lewat itu tiba-tiba mengerem, lalu berbalik dan kembali melaju ke arah Shella.Ekspresi Shella seketika berubah. Ini adalah pembunuhan yang disengaja! Shella menggigit bibirnya dan meraih lengan Christoff. "Cep

  • Tak Rujuk, Tak Memaafkan, Penyesalanmu Datang Terlambat   Bab 46

    Pernikahan itu tidak pernah ada.Shella menarik napas dalam-dalam, lalu memaksakan senyum."Resepsi pernikahan kita akan diadakan di sebuah pulau. Ibu sudah mengatur semuanya. Kalau nggak percaya, tanya saja sama dia."Shella segera menyebut nama Rossa.Kecurigaan Riady mulai goyah lagi. "Sayang, aku juga cuma nanya."Dia melangkah maju dan meraih lengan Shella. "Aku takut banget kehilangan kamu. Kamu tahu aku sudah tunggu enam tahun penuh untuk hari ini." Shella mengerutkan bibir. Enam tahun bukanlah waktu yang lama, tetapi juga tidak singkat. Bagi Shella, ini terasa seperti mimpi. Setelah bangun, semuanya pun hilang."Apa kamu benar-benar berpikir kita bisa menikah?" tanya Riady untuk menguji.Shella terkekeh. "Selama kamu mau, kita pasti bisa menikah."Riady memeluknya. "Sayang, terima kasih kamu bersedia menikahiku!"Shella tersenyum getir. Berakting sangat melelahkan. Namun, dia tidak tahu kenapa Riady dapat melakukannya dengan santai."Masih ada urusan di perusahaan. Aku pergi

  • Tak Rujuk, Tak Memaafkan, Penyesalanmu Datang Terlambat   Bab 45

    Tubuh Amila sedikit gemetar. Entah kenapa, tatapan Riady terasa menakutkan baginya. Dia mendekat ke arah Riady, ingin menyenangkan pria itu seperti biasa. Namun, Riady langsung menghindar. Jarang-jarang dia bersikap sedingin ini."Kamu sudah capek. Aku akan mengantarmu pulang sekarang!"Riady seolah-olah menolak melakukan kontak fisik dengan Amila.Setelahnya, Amila mencoba mengulangi trik lamanya. Dia ingin menggunakan anak untuk mengikat Riady. Namun, Riady tetap tenang dan berujar, "Aku ada urusan di perusahaan. Aku pulang dulu."Entah kenapa, setiap kali melihat Amila, Riady akan teringat adegan mesra Amila dan Kenji. Kenji merangkul pinggang Amila, sedangkan Amila mencium Kenji. Dia merasa seolah-olah barang miliknya telah disentuh orang lain dan tidak lagi murni.Ketika mendengar suara pintu ditutup, Amila mengentakkan kaki dengan marah. Ada apa ini sebenarnya? Kenapa Riady bahkan tidak mau menyentuhnya lagi sekarang?Amila mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang seperti b

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status