Share

Bab 8

Penulis: Larasati
Seorang gadis cantik yang mengenakan gaun merah muda muncul dengan merangkul lengan Riady. Amila sengaja berdandan cantik. Pipinya merona, seperti kelopak bunga yang lembut. Riady yang juga mengenakan setelan putih terlihat sangat serasi dengan Amila.

Melihat Amila, bibir Shella melengkung membentuk senyum sinis. Mereka akhirnya tiba juga.

Kalung yang dikenakan Amila sama persis dengan yang dikenakan Shella. Apabila Shella tidak mendadak mengganti warna gaunnya, mereka pasti juga akan kembar gaun.

Amila dan Riady berjalan ke depan Joana. Joana segera menggenggam tangan Amila dengan penuh kasih sayang sambil berkata, "Kamu pasti capek. Ayo duduk bersama Nenek di depan."

Amila melirik Shella dari sudut matanya, lalu menjawab, "Selamat ulang tahun, Nek!"

"Aku sangat senang kamu bisa datang!"

Pandangan Yanisa juga tertuju pada Amila. Dia mengangguk puas. Di matanya, Amila barulah cucu menantu yang benar-benar sesuai dengan keinginan Keluarga Swarma.

Riady berjalan ke sisi Shella dan berkata dengan ekspresi mengalah, "Amila itu putri teman Ibu. Dia dengar hari ini ulang tahun Nenek dan secara khusus minta aku bawa dia datang. Sayang, jangan keberatan, ya."

"Nggak apa-apa, asalkan Nenek senang."

Riady pun merasa lega. Akan tetapi, dia melihat Shella tiba-tiba mengulurkan tangan untuk menarik kalung dari lehernya, lalu langsung membuangnya ke tong sampah. Ekspresinya terlihat angkuh dan senyum yang menyiratkan sedikit ejekan tersungging di bibirnya.

"Riady, apa kamu suka beli dua set perhiasan identik sebagai hadiah?"

Riady terkejut. "Istriku sayang, biar kujelaskan. Aku nggak nyangka Amila akan begitu menyukainya, makanya aku ...."

"Istrimu itu siapa?" balas Shella.

Riady pun terdiam. Dia mencoba meraih tangan Shella, tetapi Shella menghindar dengan cekatan. "Kukira kamu akan datang ke pesta ulang tahun ini bersamaku. Sekarang, aku sepertinya bahkan nggak sebanding sama seorang sekretaris."

"Shella, jangan permalukan Riady di depan umum," sela Yanisa. "Gimanapun, Riady itu tunanganmu. Lagian, kehadiran Amila nggak mengancam posisimu. Amila sudah menikah dan lagi hamil."

Shella berpikir sejenak dan setuju. Dia berjalan menghampiri Amila dengan sepatu hak tingginya.

"Amila, di mana suamimu? Kenapa dia nggak mengantarmu kemari? Apa kamu merasa lebih nyaman pakai suami orang lain?" Shella sengaja meninggikan kata terakhirnya. Semua orang mendengar Shella berbicara, tetapi tidak ada yang berani menghentikannya. Sebab, Shella masih adalah tunangan resmi Riady.

Wajah Amila memucat. Dia tergagap, lalu menatap Riady.

"Buat apa kamu tatap suamiku? Amila, memangnya Riady itu suamimu?"

"Nggak, Sayang." Riady melangkah ke depan Amila untuk melindungi wanita itu. "Suami Amila ada di luar kota."

"Oh, begitu. Sepertinya aku salah paham," cibir Shella. Kemudian, dia meraih lengan Riady. "Riady, ayo kita pergi bersulang dengan Nenek."

Amila menatap Riady dengan mata memelas, tetapi Riady menghindari tatapannya.

"Karena Amila bukan bagian dari Keluarga Swarma, silakan cari tempat duduk sendiri. Nggak ada tempat bagi Amila di meja utama untuk sementara." Shella lanjut berkata sambil tersenyum tipis, "Ini makan malam keluarga. Sayang, kamu seharusnya bisa bedakan antara tamu dan keluarga, 'kan?"

Riady ingin membantah, tetapi mendapati dirinya tidak dapat menemukan alasannya. Lagi pula, Shella terlihat sangat cantik hari ini. Terutama sikapnya yang sedikit mendominasi, ini sangat berbeda dari Shella yang biasanya dingin.

Api mulai berkobar di hati Riady .... Dia harus mengakui bahwa Shella yang seperti ini sangat memikat.

Yanisa duduk di samping Amila dan menghibur, "Nggak apa-apa. Kamu lagi hamil. Riady akan kembali."

Amila tentu saja tidak rela. Dia tidak menyangka Shella mampu merebut hati Riady, terutama setelah Shella berulang kali mempermalukannya di depan umum akhir-akhir ini.

Joana mengerutkan kening. "Kenapa Amila nggak datang kemari?"

Joana tidak menyangka Shella akan ikut datang tanpa malu, juga terus berpegangan pada cucunya. Wanita seperti itu benar-benar memalukan.

"Nenek, Amila itu tamu. Dia nggak seharusnya duduk di sini." Riady berkata, "Aku dan Shella akan bersulang denganmu."

Shella tidak bisa minum alkohol. Biasanya, Riady yang akan menggantikannya minum. Namun, Riady jelas bertingkah aneh hari ini. Tatapannya terus tertuju pada Amila.

Pandangan mereka berdua sangat penuh perasaan. Siapa pun pasti tahu ada sesuatu yang tidak beres di antara mereka.

Shella menghabiskan minumannya dalam sekali teguk. Ketika menyadari apa yang terjadi, Riady langsung menegur, "Sayang, kenapa kamu nggak biarkan aku gantikan kamu minum?"

"Kamu sudah bekerja terlalu capek akhir-akhir ini. Kamu nggak boleh minum terlalu banyak lagi."

Kata-kata lembut Shella membuat jantung Riady berdebar kencang. Dia tidak menyangka Shella akan begitu perhatian padanya pada saat ini. Namun, sebuah seruan tiba-tiba menarik perhatiannya.

Amila tiba-tiba mencengkeram gaunnya yang hampir lepas dengan wajah penuh kesedihan. Melihat ini, Riady segera melepas jasnya dan menyelimuti Amila.

Amila menatap Shella dengan tatapan menuduh. "Bu Shella, kamu yang suruh orang kirimkan gaun ini kepadaku. Kupikir, kamu berbaik hati memberiku gaun. Tak disangka, kamu malah menjebakku seperti ini."

Shella tersenyum. "Aku yang mengirimkannya?"

Pada saat ini, Riady baru menyadari kenapa gaun itu terlihat begitu familier. Bukankah itu adalah gaun yang dia kirimkan kepada Shella? Kenapa gaun itu bisa dikenakan Amila, juga terbuka sendiri?

Riady menatap Shella dengan dingin. "Shella, apa sebenarnya yang terjadi?"

Tatapan mata Riady sudah mengatakan segalanya. Dia tidak percaya pada Shella, melainkan percaya pada kebohongan Amila.

"Bukannya gaun itu hadiah darimu?" Shella mengangkat alisnya. "Aku punya satu lagi yang sama persis."

"Gaun ini cuma ada satu dan dibuat secara khusus. Nggak mungkin ada yang sama!" kata Riady dengan tegas. "Apa kamu cemburu sama Amila karena dia itu sekretarisku? Tapi, Amila sudah menikah!"

Shella benar-benar mengagumi Riady yang bisa berbohong dengan setenang itu. Laki-laki memang terlahir jago berpura-pura, tetapi Riady telah berpura-pura selama enam tahun.

"Riady." Shella menarik napas dalam-dalam dan bertanya, "Pernah nggak kamu berpikir gimana aku bisa punya alamat Amila?"

Wajah Riady menegang. Dia melihat Shella berjalan mendekat.

Amila menggigit bibir merahnya. Tubuhnya sedikit gemetar.

"Riady, kamu masih ingat apa yang kukatakan sebelumnya, mengenai ada orang yang mengikutiku? Aku curiga itu dia. Dia sengaja sewa orang untuk mengikutiku biar bisa ... memantauku! Dia nggak percaya aku sekretarismu. Dia selalu curiga kita punya hubungan. Dia nggak percaya padamu, Riady."

Riady sepertinya sudah menemukan alasannya. Tangannya terkepal erat.

"Shella, sejak kapan kamu jadi begitu curigaan? Suami Amila lagi di luar kota. Aku khawatir akan terlalu berbahaya baginya untuk tinggal sendirian, makanya aku sengaja biarkan dia tinggal di rumah atas namaku. Ini juga bentuk perhatian terhadap karyawan. Gimana kita bisa menikah kalau kamu begitu curiga padaku?"

"Kalau begitu, ya nggak usah nikah," jawab Shella tiba-tiba.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tak Rujuk, Tak Memaafkan, Penyesalanmu Datang Terlambat   Bab 50

    Shella membayar biaya pengobatan Christoff, lalu berbalik untuk pergi. Sebelum berpisah, Christoff memberikan informasi kontaknya kepada Shella.Setelah agak malam, Amila mencoba menelepon Peter, tetapi nomor Peter tidak dapat dihubungi. Amila pun merasa bingung. Mengingat Shella tidak tewas hari ini, sepertinya pria tadi siang yang telah menyelamatkannya. Dia benar-benar beruntung! Namun, rencananya perlu dipercepat. Jika tidak, semuanya akan terlambat!Memikirkan hal ini, Amila sengaja mendekati Riady. "Riady, jangan marah lagi. Shella pasti nggak bermaksud begitu. Mungkin ada kesalahpahaman! Sebelumnya, kamu bilang Nenek sangat percaya sama mitos. Kebetulan, aku kenal seorang peramal yang bisa meramal dengan sangat akurat. Aku akan bawa dia untuk melakukan ritual buat Nenek besok. Gimana menurutmu?" ucap Amila dengan manja sambil merangkul lengan Riady.Mata Riady menjadi gelap. Rasa sakit hati karena Shella perlahan-lahan memudar. Dia berbalik dan mencium bibir Amila, lalu memper

  • Tak Rujuk, Tak Memaafkan, Penyesalanmu Datang Terlambat   Bab 49

    "Shella, kita akan segera menikah, apa gunanya kamu berbuat begini? Kamu sengaja pakai pria seperti ini untuk membuatku cemburu, 'kan?""Shella, kamu seharusnya minta maaf sama Riady. Bukan salahmu berselingkuh. Lagian, pria ini memang sangat tampan. Wajar saja kamu tergoda! Tapi karena kamu sudah berselingkuh, jangan berpegang teguh pada posisi istri Riady lagi."Hanya orang yang memfitnah orang lain yang tahu betapa tidak adilnya tuduhan itu.Tatapan dingin Shella tertuju pada Amila. Amila pun secara refleks merasa takut. Kemudian, entah sejak kapan, Shella telah berhasil menepis cengkeraman Riady dan menampar Amila dengan kuat."Ngomong soal ini, aku bahkan belum menyelesaikan urusanku denganmu. Amila, beraninya kamu menghasut kakakmu untuk menabrakku dengan mobil. Aku sudah lapor polisi, juga catat nomor pelatnya. Suruh dia siap-siap untuk masuk penjara!" Ekspresi Amila seketika berubah. Kemudian, dia menatap Riady dengan ekspresi sedih."Shella, apa-apaan kamu! Amila nggak punya

  • Tak Rujuk, Tak Memaafkan, Penyesalanmu Datang Terlambat   Bab 48

    "Dia pingsan karena gula darah rendah. Untungnya, dia dibawa ke rumah sakit tepat waktu. Berhubung pacarmu ada gula darah rendah, jangan lupa untuk tetap sediakan beberapa butir permen biar bisa antisipasi keadaan darurat," ujar dokter.Shella hendak menjelaskan bahwa Christoff bukan pacarnya. Namun, dokter itu sudah berbalik dan pergi.Kebetulan, Riady mendengar semua ini dari luar. Dia pun mengepalkan tangannya dan menerobos masuk.Shella seketika mematung. Riady menghampirinya, lalu meraih pergelangan tangannya dan menuntut, "Siapa dia?"Riady menunjuk ke arah Christoff yang bertelanjang dada. Amila yang baru saja masuk langsung merasakan aura mengesankan pria itu. Dia dapat menilai bahwa jam tangan di pergelangan tangan pria itu saja sudah bernilai miliaran. Shella juga mengenal orang sehebat itu?Amila menggigit bibir dan bertanya kepada Shella, "Shella, apa hubunganmu dengan orang ini? Kenapa kamu sampai secara khusus temani dia datang ke rumah sakit?"Shella sangat ingin merobek

  • Tak Rujuk, Tak Memaafkan, Penyesalanmu Datang Terlambat   Bab 47

    Bagi Amila, janji seperti itu hanyalah bentuk dari menguji kesabarannya. Perutnya sudah makin besar. Jika Riady benar-benar menikahi Shella, dia hanya bisa menjadi simpanan seumur hidupnya.Amila menarik napas dalam-dalam. Namun, sebentar lagi, dia akan mendapatkan apa yang diinginkannya!Keesokan harinya.Shella bersiap untuk pergi memeriksa rumah di Kota Horion. Saat tiba di pintu masuk bandara dan baru saja dia keluar dari mobil, dia melihat sebuah mobil melaju kencang ke arahnya. Ekspresinya langsung berubah dan kakinya lemas secara refleks.Ada seseorang yang menarik Shella dari belakang. Dia pun jatuh ke pelukan orang itu. Kemudian, terdengar erangan tertahan.Shella menunduk dan melihat Christoff menahan jatuhnya. Lengan pria itu memeluknya dengan erat. Mobil yang sudah lewat itu tiba-tiba mengerem, lalu berbalik dan kembali melaju ke arah Shella.Ekspresi Shella seketika berubah. Ini adalah pembunuhan yang disengaja! Shella menggigit bibirnya dan meraih lengan Christoff. "Cep

  • Tak Rujuk, Tak Memaafkan, Penyesalanmu Datang Terlambat   Bab 46

    Pernikahan itu tidak pernah ada.Shella menarik napas dalam-dalam, lalu memaksakan senyum."Resepsi pernikahan kita akan diadakan di sebuah pulau. Ibu sudah mengatur semuanya. Kalau nggak percaya, tanya saja sama dia."Shella segera menyebut nama Rossa.Kecurigaan Riady mulai goyah lagi. "Sayang, aku juga cuma nanya."Dia melangkah maju dan meraih lengan Shella. "Aku takut banget kehilangan kamu. Kamu tahu aku sudah tunggu enam tahun penuh untuk hari ini." Shella mengerutkan bibir. Enam tahun bukanlah waktu yang lama, tetapi juga tidak singkat. Bagi Shella, ini terasa seperti mimpi. Setelah bangun, semuanya pun hilang."Apa kamu benar-benar berpikir kita bisa menikah?" tanya Riady untuk menguji.Shella terkekeh. "Selama kamu mau, kita pasti bisa menikah."Riady memeluknya. "Sayang, terima kasih kamu bersedia menikahiku!"Shella tersenyum getir. Berakting sangat melelahkan. Namun, dia tidak tahu kenapa Riady dapat melakukannya dengan santai."Masih ada urusan di perusahaan. Aku pergi

  • Tak Rujuk, Tak Memaafkan, Penyesalanmu Datang Terlambat   Bab 45

    Tubuh Amila sedikit gemetar. Entah kenapa, tatapan Riady terasa menakutkan baginya. Dia mendekat ke arah Riady, ingin menyenangkan pria itu seperti biasa. Namun, Riady langsung menghindar. Jarang-jarang dia bersikap sedingin ini."Kamu sudah capek. Aku akan mengantarmu pulang sekarang!"Riady seolah-olah menolak melakukan kontak fisik dengan Amila.Setelahnya, Amila mencoba mengulangi trik lamanya. Dia ingin menggunakan anak untuk mengikat Riady. Namun, Riady tetap tenang dan berujar, "Aku ada urusan di perusahaan. Aku pulang dulu."Entah kenapa, setiap kali melihat Amila, Riady akan teringat adegan mesra Amila dan Kenji. Kenji merangkul pinggang Amila, sedangkan Amila mencium Kenji. Dia merasa seolah-olah barang miliknya telah disentuh orang lain dan tidak lagi murni.Ketika mendengar suara pintu ditutup, Amila mengentakkan kaki dengan marah. Ada apa ini sebenarnya? Kenapa Riady bahkan tidak mau menyentuhnya lagi sekarang?Amila mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang seperti b

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status