Share

Bab 6

Penulis: Larasati
Amila menggigit bibir merahnya. Rumah apa? Riady memberi Shella sebuah rumah?

"Oh iya, jangan lupa berikan surat perjanjian pranikah itu kepadaku sesegera mungkin. Seingatku, Keluarga Swarma mau beri aku saham sebagai maskawin," ucap Shella.

Amila benar-benar sudah tidak tahan. Itu adalah barang milik anaknya. Bagaimana mungkin dia membiarkan Shella memilikinya? Dia sangat marah dan keluar dari galeri dengan terburu-buru.

Melihat ini, Shella tersenyum sinis. Jika semuanya berjalan lancar, Riady tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini.

Sejak hamil, kepribadian Amila menjadi lebih manja dari sebelumnya. Dulu, dia bisa membujuk Riady, sangat penurut, dan selalu menyesuaikan diri dengan keinginan Riady. Namun, wanita harus memiliki ambisi.

Hanya ada satu orang yang bisa menjadi istri Riady. Namun, sekarang Shella menempati posisi itu. Terutama setelah mengetahui bahwa Riady telah memberi Shella sebuah rumah dan saham, Amila benar-benar tidak tahan lagi.

Riady baru saja pulang kerja dan merasa kelelahan. Dia ingin memeluk Amila, tetapi terhenti saat melihat mata Amila yang memerah.

Amila menuduhnya, "Di hatimu cuma ada Shella, sama sekali nggak ada aku. Kamu berikan uang dan rumahmu kepada Shella, juga akan menikahinya. Riady, apa kamu benar-benar memikirkan aku dan anak kita?"

Wajah Riady tiba-tiba menjadi dingin, tetapi segera kembali normal. Dia terus membujuk Amila.

"Yang paling kucintai tetap kamu. Aku nikah sama Shella karena dia sudah bersamaku selama enam tahun. Aku harus menikahinya. Sayang, kamu sabar dikit, ya? Aku akan beri kamu rumah di Vila Blue Moon sekarang juga. Kamu bisa pindah ke sana besok!"

Amila memasang tampang cemberut. Dia tahu dirinya tidak boleh terlalu memaksa seorang pria. Jadi, dia hanya bisa mendesak, "Kalau begitu, cepat pergi."

Shella tidak menyangka Riady akan kembali. Terlihat lingkaran hitam samar di bawah matanya, dan bau alkohol di tubuhnya sangat menyengat. Mungkin karena terlalu lelah, dia bahkan tidak ingin berpura-pura lagi. Aroma parfum dari tubuhnya menyerbak ke hidung Shella.

Riady langsung merebahkan diri di sofa. Suasana di sekitarnya sangat sunyi, sampai Shella menuangkan segelas air hangat untuknya. Dia hanya menatap Riady, tetapi pria itu tiba-tiba duduk dan memeluknya.

"Istriku sayang, aku rindu banget sama kamu. Mereka terus mencoba membuatku mabuk, kenapa kamu nggak datang membantuku?"

Shella tetap berekspresi datar. Tidak peduli apa pun yang dikatakan Riady, hatinya tidak lagi tergerak. Dia memiliki "obsesi kebersihan" dalam masalah perasaan. Jika seorang pria tidak setia sekali saja, dia tidak akan menginginkan pria itu lagi.

"Riady, minumlah sedikit air, lalu istirahat yang baik."

Bahkan Shella juga menyadari nada dingin dalam suaranya. Riady mungkin merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

Namun, Riady hanya menatap Shella dengan penuh harap dan berkata, "Sayang, boleh nggak seorang temanku menginap di rumah Vila Blue Moon? Dia baru pulang dari luar negeri dan nggak punya tempat tinggal."

"Oke."

Shella setuju tanpa ragu. Dia terlalu malas untuk membongkar kebohongan Riady yang dangkal. Teman mana yang pulang dan perlu menginap di rumah pernikahan mereka? Dari semua rumah yang dimiliki Keluarga Swarma, orang itu juga hanya memilih rumah pernikahan mereka.

Riady segera mendekat untuk mencium bibir Shella, tetapi Shella menghindar.

"Aku makan sesuatu. Mulutku bau."

Riady tertegun sejenak, lalu mengerutkan kening dan berujar, "Sayang, apa kamu nggak senang? Kalau kamu keberatan, rumah di Vila Blue Moon ...."

"Nggak perlu." Shella menunduk dan melanjutkan, "Riady, kamu tahu aku nggak akan pernah menolak apa pun yang kamu inginkan."

Riady merasakan gejolak di hatinya. Bagaimanapun juga, Shella selalu menuruti keinginannya. Tepat pada saat itu, ponsel di dalam sakunya berdering lagi.

Riady segera mengangkatnya, tetapi tak lupa memperhatikan reaksi Shella. Namun, Shella sudah masuk ke kamar. Dia sama sekali tidak peduli siapa yang menelepon selarut ini. Dia menghela napas lega tanpa alasan yang jelas, lalu pergi ke balkon untuk menjawab telepon.

"Mila, aku akan carikan rumah yang lebih baik buatmu besok."

Maksud Riady sudah sangat jelas. Dia tidak akan memberikan rumah Vila Blue Moon kepada Amila.

Amila seketika terkejut. "Riady, apakah Nyonya nggak bersedia mengalah? Nggak apa-apa, aku bisa terima."

Suara Amila terdengar seperti akan menangis. Jadi, nada suara Riady juga melembut. Dia mengucapkan beberapa kata manis untuk menghibur Amila.

Baru saja Riady hendak menutup telepon, Amila tiba-tiba berkata, "Anak kita bilang, dia merindukan ayahnya. Riady, aku akan tunggu kamu di rumah malam ini."

Hati Riady terasa hangat. Dia segera mengenakan jasnya dan bersiap untuk pergi. Namun, dia tiba-tiba berhenti ketika melihat segelas air hangat di atas meja.

Shella berjalan ke depan pintu dan berdiri di sana untuk mengawasi Riady.

"Sayang, ada urusan mendadak di perusahaan. Aku harus lembur dan pergi tangani dulu."

Seusai berbicara, Riady menghabiskan air tersebut dan pergi.

Shella segera membuang gelas itu ke tempat sampah. Gelas yang telah disentuh Riady membuatnya merasa jijik!

Lukisan itu telah dikirim ke tempat tinggal Amila. Dia menggantungnya di tempat yang paling mencolok di rumah, seolah-olah ingin memamerkan trofi kemenangannya.

Ketika Riady datang dan melihat lukisan itu, matanya sedikit menyipit. Amila bersandar pada Riady, seolah-olah sedang pamer. Dia sama sekali tidak menyadari tatapan menghindar Riady.

"Riady, ada apa?"

Tak lama kemudian, Amila merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

Riady menarik tangannya dari pelukan Amila, lalu menarik Amila ke pangkuannya dan bertanya, "Dari mana kamu dapatkan lukisan ini?"

"Aku membelinya di galeri. Katanya, ini dilukis untuk memperingati cinta. Aku merasa maknanya bagus, jadi aku membelinya." Amila tersenyum dan menempelkan tangannya di telapak tangan Riady dan menambahkan, "Kita gunakan saja lukisan ini untuk memperingati cinta kita."

Malam itu, tidak seperti biasanya, Riady sama sekali tidak bisa tidur. Pikirannya dipenuhi oleh lukisan itu. Dia mengambil ponselnya, lalu berjingkat keluar dari tempat tidur dan memeriksa waktu.

Entah kenapa, Riady memiliki firasat buruk. Akan tetapi, melihat tanggal pernikahan yang makin dekat, dia tiba-tiba menghela napas lega. Semuanya pasti berjalan lancar, 'kan?

Riady mencondongkan tubuh dan mencium pipi Amila dengan lembut, lalu berbalik dan pergi.

Hujan sedang turun di Kota Morkar. Shella bersandar di jendela sambil memegang buku sketsa. Namun, dia tidak mampu melukis apa yang ingin dilukisnya. Dia telah melukiskan emosinya selama enam tahun penuh. Sekarang, memintanya untuk melukis sesuatu yang lain terasa sangat sulit.

Suara pintu terbuka mengejutkan Shella. Riady kembali? Dia bergidik tanpa alasan yang jelas.

Pintu kamar terbuka. Riady berdiri di ambang pintu dan tiba-tiba memanggil dengan suara rendah dan serak, "Sayang."

Sebelum Shella sempat bereaksi, pria itu sudah memeluknya dengan erat dan bertanya berulang kali, "Sayang, kita pasti akan menikah, 'kan?"

Shella mendengus. Bahkan sampai sekarang, pria itu masih membohonginya. Hatinya tidak akan melunak hanya karena satu pelukan dan kata-kata Riady yang terdengar kasihan.

"Ya, kita pasti akan menikah. Aku nggak pernah berbohong padamu, Riady."

Shella tidak pandai berbohong. Namun, dia malah harus berbohong dalam hubungannya dengan Riady.

"Sayang, hari ini, boleh nggak kita ...."

Mata Riady terlihat membara. Tangannya mencengkeram erat pinggang Shella.

Shella tidak mengerti. Satu detik sebelumnya, Riady mungkin baru saja bangun dari tempat tidur Amila. Pada detik berikutnya, Riady malah mengucapkan hal seperti ini kepadanya ....
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tak Rujuk, Tak Memaafkan, Penyesalanmu Datang Terlambat   Bab 50

    Shella membayar biaya pengobatan Christoff, lalu berbalik untuk pergi. Sebelum berpisah, Christoff memberikan informasi kontaknya kepada Shella.Setelah agak malam, Amila mencoba menelepon Peter, tetapi nomor Peter tidak dapat dihubungi. Amila pun merasa bingung. Mengingat Shella tidak tewas hari ini, sepertinya pria tadi siang yang telah menyelamatkannya. Dia benar-benar beruntung! Namun, rencananya perlu dipercepat. Jika tidak, semuanya akan terlambat!Memikirkan hal ini, Amila sengaja mendekati Riady. "Riady, jangan marah lagi. Shella pasti nggak bermaksud begitu. Mungkin ada kesalahpahaman! Sebelumnya, kamu bilang Nenek sangat percaya sama mitos. Kebetulan, aku kenal seorang peramal yang bisa meramal dengan sangat akurat. Aku akan bawa dia untuk melakukan ritual buat Nenek besok. Gimana menurutmu?" ucap Amila dengan manja sambil merangkul lengan Riady.Mata Riady menjadi gelap. Rasa sakit hati karena Shella perlahan-lahan memudar. Dia berbalik dan mencium bibir Amila, lalu memper

  • Tak Rujuk, Tak Memaafkan, Penyesalanmu Datang Terlambat   Bab 49

    "Shella, kita akan segera menikah, apa gunanya kamu berbuat begini? Kamu sengaja pakai pria seperti ini untuk membuatku cemburu, 'kan?""Shella, kamu seharusnya minta maaf sama Riady. Bukan salahmu berselingkuh. Lagian, pria ini memang sangat tampan. Wajar saja kamu tergoda! Tapi karena kamu sudah berselingkuh, jangan berpegang teguh pada posisi istri Riady lagi."Hanya orang yang memfitnah orang lain yang tahu betapa tidak adilnya tuduhan itu.Tatapan dingin Shella tertuju pada Amila. Amila pun secara refleks merasa takut. Kemudian, entah sejak kapan, Shella telah berhasil menepis cengkeraman Riady dan menampar Amila dengan kuat."Ngomong soal ini, aku bahkan belum menyelesaikan urusanku denganmu. Amila, beraninya kamu menghasut kakakmu untuk menabrakku dengan mobil. Aku sudah lapor polisi, juga catat nomor pelatnya. Suruh dia siap-siap untuk masuk penjara!" Ekspresi Amila seketika berubah. Kemudian, dia menatap Riady dengan ekspresi sedih."Shella, apa-apaan kamu! Amila nggak punya

  • Tak Rujuk, Tak Memaafkan, Penyesalanmu Datang Terlambat   Bab 48

    "Dia pingsan karena gula darah rendah. Untungnya, dia dibawa ke rumah sakit tepat waktu. Berhubung pacarmu ada gula darah rendah, jangan lupa untuk tetap sediakan beberapa butir permen biar bisa antisipasi keadaan darurat," ujar dokter.Shella hendak menjelaskan bahwa Christoff bukan pacarnya. Namun, dokter itu sudah berbalik dan pergi.Kebetulan, Riady mendengar semua ini dari luar. Dia pun mengepalkan tangannya dan menerobos masuk.Shella seketika mematung. Riady menghampirinya, lalu meraih pergelangan tangannya dan menuntut, "Siapa dia?"Riady menunjuk ke arah Christoff yang bertelanjang dada. Amila yang baru saja masuk langsung merasakan aura mengesankan pria itu. Dia dapat menilai bahwa jam tangan di pergelangan tangan pria itu saja sudah bernilai miliaran. Shella juga mengenal orang sehebat itu?Amila menggigit bibir dan bertanya kepada Shella, "Shella, apa hubunganmu dengan orang ini? Kenapa kamu sampai secara khusus temani dia datang ke rumah sakit?"Shella sangat ingin merobek

  • Tak Rujuk, Tak Memaafkan, Penyesalanmu Datang Terlambat   Bab 47

    Bagi Amila, janji seperti itu hanyalah bentuk dari menguji kesabarannya. Perutnya sudah makin besar. Jika Riady benar-benar menikahi Shella, dia hanya bisa menjadi simpanan seumur hidupnya.Amila menarik napas dalam-dalam. Namun, sebentar lagi, dia akan mendapatkan apa yang diinginkannya!Keesokan harinya.Shella bersiap untuk pergi memeriksa rumah di Kota Horion. Saat tiba di pintu masuk bandara dan baru saja dia keluar dari mobil, dia melihat sebuah mobil melaju kencang ke arahnya. Ekspresinya langsung berubah dan kakinya lemas secara refleks.Ada seseorang yang menarik Shella dari belakang. Dia pun jatuh ke pelukan orang itu. Kemudian, terdengar erangan tertahan.Shella menunduk dan melihat Christoff menahan jatuhnya. Lengan pria itu memeluknya dengan erat. Mobil yang sudah lewat itu tiba-tiba mengerem, lalu berbalik dan kembali melaju ke arah Shella.Ekspresi Shella seketika berubah. Ini adalah pembunuhan yang disengaja! Shella menggigit bibirnya dan meraih lengan Christoff. "Cep

  • Tak Rujuk, Tak Memaafkan, Penyesalanmu Datang Terlambat   Bab 46

    Pernikahan itu tidak pernah ada.Shella menarik napas dalam-dalam, lalu memaksakan senyum."Resepsi pernikahan kita akan diadakan di sebuah pulau. Ibu sudah mengatur semuanya. Kalau nggak percaya, tanya saja sama dia."Shella segera menyebut nama Rossa.Kecurigaan Riady mulai goyah lagi. "Sayang, aku juga cuma nanya."Dia melangkah maju dan meraih lengan Shella. "Aku takut banget kehilangan kamu. Kamu tahu aku sudah tunggu enam tahun penuh untuk hari ini." Shella mengerutkan bibir. Enam tahun bukanlah waktu yang lama, tetapi juga tidak singkat. Bagi Shella, ini terasa seperti mimpi. Setelah bangun, semuanya pun hilang."Apa kamu benar-benar berpikir kita bisa menikah?" tanya Riady untuk menguji.Shella terkekeh. "Selama kamu mau, kita pasti bisa menikah."Riady memeluknya. "Sayang, terima kasih kamu bersedia menikahiku!"Shella tersenyum getir. Berakting sangat melelahkan. Namun, dia tidak tahu kenapa Riady dapat melakukannya dengan santai."Masih ada urusan di perusahaan. Aku pergi

  • Tak Rujuk, Tak Memaafkan, Penyesalanmu Datang Terlambat   Bab 45

    Tubuh Amila sedikit gemetar. Entah kenapa, tatapan Riady terasa menakutkan baginya. Dia mendekat ke arah Riady, ingin menyenangkan pria itu seperti biasa. Namun, Riady langsung menghindar. Jarang-jarang dia bersikap sedingin ini."Kamu sudah capek. Aku akan mengantarmu pulang sekarang!"Riady seolah-olah menolak melakukan kontak fisik dengan Amila.Setelahnya, Amila mencoba mengulangi trik lamanya. Dia ingin menggunakan anak untuk mengikat Riady. Namun, Riady tetap tenang dan berujar, "Aku ada urusan di perusahaan. Aku pulang dulu."Entah kenapa, setiap kali melihat Amila, Riady akan teringat adegan mesra Amila dan Kenji. Kenji merangkul pinggang Amila, sedangkan Amila mencium Kenji. Dia merasa seolah-olah barang miliknya telah disentuh orang lain dan tidak lagi murni.Ketika mendengar suara pintu ditutup, Amila mengentakkan kaki dengan marah. Ada apa ini sebenarnya? Kenapa Riady bahkan tidak mau menyentuhnya lagi sekarang?Amila mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang seperti b

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status