MasukTiffany masih ingat betul rasa panik yang meremas dadanya sewaktu gedoran pintunya diabaikan, hingga akhirnya suara ledakan tembakan pistol terdengar nyaring dari dalam.Christian mengakhiri hidupnya dengan menembakkan pistol ke kepalanya sendiri, meninggalkan Tiffany dalam jeratan utang dan kebingungan luar biasa.Rasa sakit di masa lalu itu kian menyayat ketika Tiffany menemukan sepucuk surat peninggalan di meja kerja Christian setelah jasad pria itu dievakuasi.Di dalam surat terakhirnya, Christian menuliskan pengakuan pahit bahwa sepanjang hidupnya, ia tidak pernah mencintai Tiffany dan hanya mencintai Chloe.Ingatan kelam yang merayap cepat itu membuat tubuh Tiffany bergetar tipis, hingga napasnya mendadak terasa sedikit agak berat dan tercekat.Ethan yang merasakan perubahan getaran tubuh istrinya langsung menggeser telapak tangan kokohnya turun dari bahu menuju perut hamil Tiffany.Jemari Ethan mengusap lembut lingkaran perut membuncit yang menyimpan buah hati kembar mere
Suara ketukan stempel kayu dan benturan gembok besi di pintu gerbang utama bergema nyaring, memotong sisa keheningan di halaman kediaman mewah keluarga Ashford.Christian Ashford berdiri terpaku di atas anak tangga teras depan, menggenggam erat koper kusam yang hanya berisi beberapa helai pakaian dan dokumen pribadi.Dua orang kurator pengadilan bersetelan jas kelabu berdiri kaku di samping dua petugas kepolisian, mengawasi setiap gerak-gerik mantan pengusaha muda tersebut."Waktu dua jam yang diberikan oleh pengadilan sudah habis, Tuan Ashford," ujar kurator berwajah dingin itu seraya menunjuk ke arah jalan raya."Seluruh bangunan ini beserta isinya sudah resmi dikunci dan berada di bawah pengawasan kurator pengadilan," sambung sang petugas tanpa keraguan.Christian mengepalkan jemari tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, menatap pintu rumah mewahnya yang kini telah ditempeli pita segel merah.Semua kebanggaan, harga diri, dan kekayaan melimpah yang ia kumpulkan selama b
Ketukan keras berturut-turut di pintu jati utama kediaman megah milik keluarga Ashford memecahkan keheningan pagi yang basah oleh sisa hujan.Christian Ashford melangkah dengan terburu-buru melintasi ruang tamu bertingkat dua yang luas, mengabaikan tumpukan berkas yang berserakan di atas meja kaca. Wajahnya yang tirus tampak pucat, dengan lingkaran hitam pekat menggelayut di bawah mata yang memancarkan rasa lelah luar biasa.Pria yang dulunya dipuja sebagai salah satu pengusaha muda paling disegani itu membuka pintu kayu tebal dengan napas yang tertahan di tenggorokan.Di ambang pintu, dua orang pria bersetelan jas kelabu rapi berdiri tegap bersama dua petugas kepolisian yang bersiaga penuh di belakang mereka. Pria yang berdiri paling depan memegang sebuah amplop cokelat tebal berlogo garuda emas resmi dari Pengadilan Niaga Kota."Apakah Anda benar Saudara Christian Ashford, pemilik tunggal dari Ashford Group?" tanya pria bersetelan jas kelabu itu dengan nada suara kaku dan dingi
"Tutup mulutmu, Beatrice!" bentak Arthur Sinclair dengan suara bariton menggelegar yang sanggup menggetarkan pendar lampu kristal gantung di atas mereka."Kamu tidak tahu apa-apa tentang tindakan murahan yang dilakukan oleh putri kesayanganmu ini di kelab malam tadi!" pangkas Arthur dengan dada naik turun."Dia menyuap staf klub, merendahkan harga diri keluarga Sinclair, dan mencoba merayu suami adiknya sendiri seperti wanita tanpa norma!" teriak Arthur kian murka.Beatrice sedikit tersentak mendengar ucapan suaminya, namun rasa sayang yang buta pada Chloe membuat wanita itu enggan mengalah sedikit pun."Lalu kenapa kalau dia melakukan kesalahan kecil?!" balas Beatrice menolak kalah. "Dia cuma cemburu dan khilaf! Kamu harusnya membimbingnya, bukan malah mengusirnya!""Bagaimanapun caranya, Chloe adalah putri rumah ini karena aku masih menjadi istri sahmu! Selama aku Nyonya Sinclair, Chloe berhak tinggal di sini!" tegas Beatrice nekat.Arthur menatap Beatrice dengan sorot mata y
Suara klakson taksi sewaan yang terhenti kasar di depan gerbang besi kediaman megah keluarga Sinclair memecahkan kesunyian malam yang dingin.Chloe turun dari dalam taksi dengan tubuh yang basah kuyup, menggigil kencang akibat siraman air hujan deras yang mengguyur seluruh tubuhnya.Gaun malam hitam ketatnya yang mahal kini kusam ternoda lumpur, sementara riasan wajah tebalnya luntur berantakan menciptakan coretan hitam mengerikan di bawah mata.Ia melangkah pincang menyusuri jalan setapak taman, mengabaikan tatapan heran dari para penjaga pagar yang tidak berani menghalanginya masuk ke dalam bangunan utama.Tanpa mengetuk pintu kayu jati berukir yang menjulang tinggi itu, Chloe mendorongnya kuat-kuat lalu menerobos masuk ke dalam ruang tamu yang luas.Aroma wewangian bunga melati segar dan kehangatan pendingin udara langsung menyergap tubuhnya yang dingin, berbanding terbalik dengan kehancuran di jiwanya.Beatrice Sinclair yang sedang duduk anggun di sofa kulit sambil menyesap
Chloe mengepalkan kedua tangannya, membuang pandangan matanya ke arah Tiffany dengan tatapan penuh kebencian yang mendalam dan tidak pernah padam."Ini semua gara-gara kamu, Tiffany! Kamu wanita sialan yang sudah merebut segalanya dari hidupku!" jerit Chloe histeris seraya hendak merangsek maju.Belum sempat kaki Chloe melangkah dua jengkal, dua pengawal berbadan tegap suruhan Ethan langsung menyergap kedua lengan Chloe dari belakang dengan cengkeraman besi.Genggaman erat pengawal itu mengunci pergerakan Chloe sepenuhnya, membuat wanita itu hanya bisa menghentak-hentakkan kakinya yang terbalut sepatu mahal."Lepaskan aku! Lepaskan tanganku, pengawal sialan!" teriak Chloe seraya memutar tubuhnya liar berusaha melepaskan diri dari himpitan otot pengawal.Arthur menggelengkan kepalanya perlahan, menatap putri kandungnya itu dengan raut wajah yang dipenuhi rasa pusing, malu, dan keputusasaan mutlak.Pria tua berwibawa itu menarik napas panjang yang terdengar sangat berat, seolah-ol
Tiffany berdiri di depan jendela besar kamarnya, menatap hamparan lampu kota yang berpijar layaknya ribuan mata yang mengawasi. Angin malam berhembus pelan, membawa hawa dingin yang menyentuh kulitnya, namun ia tak sedikit pun merasa kedinginan. Pikirannya jauh lebih hangat, dipenuhi oleh kalkulas
"Aku setuju menikah dengan Ethan Vance," ucap Tiffany dengan nada yang sangat tenang, seolah dia baru saja membicarakan menu sarapan pagi.Kata-kata itu meluncur dengan presisi yang mengejutkan, memotong udara tegang dengan ketajaman pisau bedah. Chloe yang baru saja bersiap mengeluarkan rengekan
Mata Tiffany melekat pada laras pistol dingin yang sekarang tertaut kencang di genggamannya. Di kehidupan ini, laras itulah yang baru saja meletupkan nyawa suaminya. Dia menarik napas, dadanya terasa sesak saat dia memaksa dirinya untuk memfokuskan pandangan pada secarik kertas di meja yang kini t
"Christian, hentikan semua kegilaan ini! Buka pintunya!"Tiffany Sinclair menggedor pintu kayu ek ruang kerja suaminya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Suara isakan tertahan dari para pelayan yang berkumpul di ujung koridor memenuhi udara yang mendadak terasa mencekik. Mereka gemetar, saling be







