공유

5. Kapten Raka

작가: Min Ye-Rin
last update 게시일: 2026-03-11 07:13:35

Malam turun perlahan di kota itu. Lampu-lampu jalan mulai menyala, memantulkan cahaya kuning redup di aspal yang sedikit basah oleh hujan sore tadi.

Di dalam rumah dinas militer, suasana terasa jauh lebih sunyi daripada di luar. Rumah besar itu memiliki ruang tamu luas dengan jendela tinggi, lantai marmer yang dingin, dan perabotan mahal yang tertata rapi, tapi entah kenapa, semuanya terasa sangat kosong, terlebih itu untuk Aluna. Rumah itu sudah seperti bangunan tanpa kehidupan.

Aluna berdiri di depan jendela ruang tamu. Tangannya memegang cangkir teh yang sudah mulai dingin, dengan tatapan tertuju pada halaman depan rumah yang gelap dan sepi. Pikirannya masih terjebak pada mobil hitam yang terparkir di luar pagar siang tadi.

“Udah Aluna, tenang aja,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri. “Tiga bulan lagi baru kecelakaan itu terjadi. Masih ada waktu. Jangan panik dulu.” Bahkan ketika dia mengatakan itu, hatinya tidak benar-benar tenang.

Dalam cerita asli, setelah mencabut gugatan cerai, Aluna seharusnya pulang dengan marah. Dia akan menghancurkan beberapa barang di rumah sebelum akhirnya pergi ke pesta malam yang mempermalukannya. Tapi sekarang, dia hanya berdiri diam sambil memikirkan keselamatannya.

Alur ceritanya sudah mulai berubah. Dan perubahan itu bisa membawa dua kemungkinan yang berbeda. Entah itu hal baik, atau sesuatu yang jauh lebih buruk dari kecelakaan yang akan menimpanya.

Aluna meneguk sedikit teh yang sudah hampir dingin. Kemudian langkah kakinya terdengar di lantai marmer ketika dia berjalan menuju sofa. Baru saja dia duduk, suara pintu depan terbuka. Aluna menoleh pelan. Langkah kaki berat masuk ke dalam rumah.

Sebenarnya, Aluna tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Tidak banyak orang yang punya langkah setegas itu. Beberapa detik kemudian, sosok pria tinggi muncul di ruang tamu. Seragam militernya masih rapi seperti pagi tadi. Bahunya lebar, posturnya tegap, dan aura dingin yang keluar darinya langsung memenuhi ruangan.

Aluna mengangkat kepalanya sedikit. Jujur saja, meskipun dia sudah melihat pria itu beberapa kali sejak masuk ke dunia ini, dia masih sedikit tertegun setiap kali melihatnya.

Dalam novel, deskripsi Raka selalu sederhana. Entah itu menjelaskan kalau dia tampan, tegas, baik, dan dingin. Tapi jika melihat secara langsung, ini jauh berbeda.

Wajah pria itu tegas dengan garis rahang tajam. Mata gelapnya terlihat tenang, tetapi di balik ketenangan itu seperti ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Sebuah tekanan alami yang dihasilkan membuat orang lain secara otomatis menjaga jarak dengannya.

Dan yang paling mencolok, dia benar-benar terlalu tampan untuk ukuran manusia biasa. Aluna hampir tertawa dalam hati. Dia sampai menundukkan wajahnya. Pantas saja semua wanita di novel itu jatuh cinta padanya. Karena Raka memang setampan dan sekeren itu.

Raka melepas topi militernya dan meletakkannya di meja tanpa berkata apa pun. Tatapannya sekilas melewati Aluna, tapi dia tetap tidak berhenti. Seolah tidak melihat Aluna di sana.

“Kapten,” sapa Aluna. Membuat langkah Raka berhenti.

Dia menoleh tanpa berkata. Sebelah alisnya yang sedikit terangkat sudah cukup untuk menjawab sapaan Aluna sebelumnya.

Aluna mengangkat cangkir tehnya sedikit, lalu tersenyum hangat. “Minum teh?”

Beberapa detik ruangan itu menjadi sunyi. Raka menatapnya seolah baru saja mendengar sesuatu yang sangat aneh dari mulut istrinya.

“Tidak. Terimakasih.”

Raka kembali kembali melangkah menuju tangga. Sebelum dia benar-benar naik, suara Aluna kembali membuat langkahnya terhenti.

“Kamu makan malam di rumah?” tanya Aluna dengan wajah bulat yang dibuat semanis mungkin.

Raka menatap istrinya tak percaya. Kali ini, tatapannya bertahan cukup lama. “Sejak kapan kamu peduli?” tanya Raka menginterogasi.

Aluna berdiri. Dia menyembunyikan kedua tanganya di belakang tubuh, lalu kembali tersenyum.

“Sebagai istri, bertanya seperti itu normal kan? Apa aku salah?”

Jawaban itu membuat suasana di antara mereka semakin aneh. Karena memang di dalam ingatan Raka, Aluna tidak pernah melakukan hal normal.

Wanita itu bisanya hanya membuat keributan dan mencari perhatian, atau memaksanya melakukan sesuatu yang bahkan tidak dia inginkan. Tapi sekarang, Aluna bersikap seolah mereka pasangan biasa.

“Aku sudah makan,” sahut Raka akhirnya. Setelah itu dia benar-benar naik ke lantai atas. Langkahnya menghilang di balik lorong kamar. Membuat ruangan kembali sunyi.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   125. Keputusan Aluna

    Aluna tersenyum tipis. Bohong kalau dia tidak ragu. Bohong, kalau dia tidak menyayangi semua jerih payahnya. Tapi semua sudah menjadi keputusan. Dia sudah menganggap kalau pertemuan ini memang sudah menjadi jalan takdirnya. “Apa itu benar-benar hidupku?” tanya Aluna. Justru pertanyaan itu yang keluar dari mulutnya. Pertanyaan itu membuat Raka terdiam lagi. Aluna menunduk sebentar, lalu kembali menatapnya. Dengan tatapan yang lebih tenang dan lebih jujur. “Aku emang hidup di sana, tapi aku nggak merasa hidup,” lanjutnya pelan. “Semua berjalan seperti kewajiban. Aku bangun, kerja, pulang. Besoknya ulang lagi. Aku bahkan nggak ingat kapan terakhir kali aku merasa benar-benar bahagia di sana. Semuanya terasa begitu monoton.” Raka menggertakkan rahangnya pelan. Pupilnya menyusut. Dia tidak tahu kalau hidup Aluna sebenarnya serumit itu. Bahkan kalau diingat, masa kecilnya bersama sang mama mungkin jauh lebih baik dari kisah hidup Aluna. “Aku nggak bilang hidup Aku di sana buru

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   124. Menerima Takdir

    Aluna bangkit dari duduknya. Matanya masih menatap ke arah gerbang. Di mana tulisan itu berada. Lambat laun, cahaya yang membentuk tulisan itu mulai memudar. Seperti sebuah asap yang mulai hancur tersapu angin. Perlahan, Raka mulai menggenggam tangan Aluna. Membuat dia menoleh ke arah pria yang ternyata sudah lebih dulu menatapnya. Raka sudah tersenyum. ada kelegaan yang terpancar dari wajah tegas itu. “Kamu bilang… kamu mau happy ending,” ujar Raka dengan suara yang nyaris seperti bisikan. Aluna hanya mengerjap pelan. “Ini mungkin akhirnya. Kita sudah bahagia, dan villain dari cerita ini juga sudah terungkap.” Entah kenapa, ucapan Raka sama sekali tidak membuatnya lega. Villain utama? Aisar? Jelas bukan Aisar. Lagi pula, yang dia tahu, setiap tokoh yang keluar dalam cerita pasti memiliki tujuan dan plot sendiri. Dan di cerita ini, masih banyak tokoh yang menggantung dan perannya belum terasa sama sekali. Sabrina, Andi, Arga, bahkan Dion dan Jenderal yang sering disebutkan.

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   123. Cerita Ini Akan Berakhir?

    Raka kembali melingkarkan kedua tangannya di pinggang Aluna. Menghirup dalam aroma tubuh wanita itu yang tidak pernah membuatnya bosan. Dari kejauhan, suara prajurit masih terdengar, meskipun mereka sudah berlari menjauh. Beberapa bahkan masih sempat melambaikan tangan, membuat Aluna semakin salah tingkah. “Kamu tahu… ucapan kamu yang berhasil membuat Kolonel Andi terpojok, berhasil membuat gosip baru di markas,” ujar Raka, kini dia sibuk memainkan ujung rambut Aluna yang tergerai. “Gosip apa? Kata siapa?” “Dion… dia yang bercerita. Serius kamu tidak tahu alasannya?” taya Raka dengan sebelah alis terangkat. Aluna hanya menggeleng samar. Dia masih merasa kalau apa yang dia katakan pada Kolonel Andi dua bulan yang lalu adalah hal yang wajah. Raka menarik napas panjang. Dia menyandarkan wajahnya di perut Aluna. “Kolonel tidak pernah bisa

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   122. Berbincang

    Tanpa banyak bicara, Rengganis mengambil ponselnya, lalu masuk ke platform online itu. Namun belum ada chapter baru. Sindi yang menyadari itu, kembali mengernyit. Dia meremas papan kerani yang ada di genggamannya. “Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” Rengganis tidak menjawab, tapi hanya dengan membalas tatapannya saja, Sindi sudah tahu kalau ada sesuatu yang tidak beres yang sedang terjadi. Sementara itu di dunia cerita, sudah ada dua bulan setelah insiden itu terjadi. Raka sudah mulai pulih, Andi terbukti tidak bersalah, Arga diturunkan dari pangkatnya, dan Aisar masih ada di dalam penjara. Semuanya berjalan sesuai yang Aluna inginkan. Hanya satu yang tidak ia tahu kabarnya. Sabrina. Wanita itu seperti ditelan bumi. Dia bahkan selalu meminta informasi dari Dion, tapi tetap tidak mendapat jawaban. “Kamu lagi apa?” tanya Aluna, ketika melihat Raka yang sedan

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   121. Cerita Ini Harus Segera Diakhiri

    “Setiap kali Aluna mengubah sesuatu, cerita itu menyesuaikan. Tapi bukan berarti menerima. Kadang… cerita itu juga melawan. Ingat Aisar?” tanya Rengganis. Sindi langsung mengangguk. Nama itu terlalu membekas setelah apa yang dia baca, dan apa yang dia lihat di dunia nyata. “Dia bukan villain utama di draft awal,” ujar Rengganis. “Dia cuma karakter pendukung. Tapi karena konflik terus dipaksa naik, karena Raka harus terus disiksa, karena pembaca suka dia berubah, dia jadi lebih menonjol dari villain utama. Dia bahkan bisa keluar dari cerita dan mengubah semua alurnya.” “Berubah maksud kamu?” “Part Raka disiksa di ruang interogasi bukanlah bagian dari chapter yang sudah aku siapkan. Buka juga bagian dari chapter yang editor buat,” lanjutnya. Tubuh Sindi seketika menegang. Dia menelan saliva dengan susah payah. “Dan sekarang, ketika Aluna mencoba menyelamatkan Raka, karakter seperti Aisar akan jadi penyeimbang cerita itu.” Sindi mundur satu langkah tanpa sadar. Dia tidak

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   120. Gara-gara Aluna

    Tepat setelah Sang editor pergi, Sindi tidak langsung pergi. Dia masih mematung di tempatnya. Semua yang dia dengar, semua yang dia alami, sangat tidak masuk akal. “Dr. Aluna ke tempat itu lagi?” tanya Rengganis tiba-tiba. Dia bergerak untuk mengubah posisinya menjadi duduk lebih tegak. Sindi tidak menjawab. Namun tatapannya cukup untuk menjadi jawaban. Rengganis pun tersenyum lirih. “Apa sebenarnya yang mereka mau?” tanya Rengganis lagi. Suaranya lebih rendah, seolah dia bertanya pada dirinya sendiri. “Mereka terlalu banyak ikut campur.” “Kenapa ceritanya bisa jadi seperti ini?” tanya Sindi. “Aluna… dia hanya pembaca. Dia tidak salah apapun. Dia—” “Dia berusaha menjadi tokoh utama,” potong Rengganis. “Dia seharusnya mati, dan tokoh utama yang sudah disiapkan adalah Sabrina.” Rengganis metapa Sindi lebih dalam. “Dr. Aluna selalu berbuat seenaknya.” Dia meremas jari-jarinya. “Dia berlagak, seolah dia adalah tokoh Aluna. Hanya dengan sama nama, bukan berarti tokoh yang k

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   16. Di Antara Dua Bahaya

    Halaman kantor polisi sektor itu tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa motor terparkir dan satu mobil patroli yang berdiri di dekat gerbang. Aluna masih duduk di dalam mobilnya. Kedua tangannya memegang setir dengan lemah. Napasnya belum benar-benar stabil setelah kejadian tadi. Ia menatap ke

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   15. Pengejaran

    Mobil Aluna melaju cukup cepat di jalan raya yang masih dipenuhi kendaraan pagi hari. Matahari sudah naik lebih tinggi, tapi udara kota masih terasa sedikit dingin. Mungkin efek dari pagi tadi yang sempat turun hujan. Kedua tangan Aluna mencengkeram stir dengan erat. Ia tidak benar-benar tahu k

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   13. Perhatian Yang Mulai Ketara

    Pagi datang terlalu cepat bagi Aluna. Ketika ia membuka mata, cahaya matahari sudah menyusup melalui celah tirai kamar. Hangatnya sinar itu jatuh tepat di wajahnya, membuat Aluna sedikit mengerjapkan mata. Beberapa detik ia hanya berbaring diam, mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Tak

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   11. Dalam Pemantauan

    Tubuh Aluna terasa lebih ringan. Dia seperti sedang melayang di ruang yang tidak memiliki batas. Tidak ada cahaya. Tidak ada suara. Hanya ada kegelapan yang hampir menelan semuanya. Namun di tengah kegelapan itu, sebuah suara terdengar samar. Suara yang terus memanggil

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status