로그인Aluna tersenyum tipis. Bohong kalau dia tidak ragu. Bohong, kalau dia tidak menyayangi semua jerih payahnya. Tapi semua sudah menjadi keputusan. Dia sudah menganggap kalau pertemuan ini memang sudah menjadi jalan takdirnya. “Apa itu benar-benar hidupku?” tanya Aluna. Justru pertanyaan itu yang keluar dari mulutnya. Pertanyaan itu membuat Raka terdiam lagi. Aluna menunduk sebentar, lalu kembali menatapnya. Dengan tatapan yang lebih tenang dan lebih jujur. “Aku emang hidup di sana, tapi aku nggak merasa hidup,” lanjutnya pelan. “Semua berjalan seperti kewajiban. Aku bangun, kerja, pulang. Besoknya ulang lagi. Aku bahkan nggak ingat kapan terakhir kali aku merasa benar-benar bahagia di sana. Semuanya terasa begitu monoton.” Raka menggertakkan rahangnya pelan. Pupilnya menyusut. Dia tidak tahu kalau hidup Aluna sebenarnya serumit itu. Bahkan kalau diingat, masa kecilnya bersama sang mama mungkin jauh lebih baik dari kisah hidup Aluna. “Aku nggak bilang hidup Aku di sana buru
Aluna bangkit dari duduknya. Matanya masih menatap ke arah gerbang. Di mana tulisan itu berada. Lambat laun, cahaya yang membentuk tulisan itu mulai memudar. Seperti sebuah asap yang mulai hancur tersapu angin. Perlahan, Raka mulai menggenggam tangan Aluna. Membuat dia menoleh ke arah pria yang ternyata sudah lebih dulu menatapnya. Raka sudah tersenyum. ada kelegaan yang terpancar dari wajah tegas itu. “Kamu bilang… kamu mau happy ending,” ujar Raka dengan suara yang nyaris seperti bisikan. Aluna hanya mengerjap pelan. “Ini mungkin akhirnya. Kita sudah bahagia, dan villain dari cerita ini juga sudah terungkap.” Entah kenapa, ucapan Raka sama sekali tidak membuatnya lega. Villain utama? Aisar? Jelas bukan Aisar. Lagi pula, yang dia tahu, setiap tokoh yang keluar dalam cerita pasti memiliki tujuan dan plot sendiri. Dan di cerita ini, masih banyak tokoh yang menggantung dan perannya belum terasa sama sekali. Sabrina, Andi, Arga, bahkan Dion dan Jenderal yang sering disebutkan.
Raka kembali melingkarkan kedua tangannya di pinggang Aluna. Menghirup dalam aroma tubuh wanita itu yang tidak pernah membuatnya bosan. Dari kejauhan, suara prajurit masih terdengar, meskipun mereka sudah berlari menjauh. Beberapa bahkan masih sempat melambaikan tangan, membuat Aluna semakin salah tingkah. “Kamu tahu… ucapan kamu yang berhasil membuat Kolonel Andi terpojok, berhasil membuat gosip baru di markas,” ujar Raka, kini dia sibuk memainkan ujung rambut Aluna yang tergerai. “Gosip apa? Kata siapa?” “Dion… dia yang bercerita. Serius kamu tidak tahu alasannya?” taya Raka dengan sebelah alis terangkat. Aluna hanya menggeleng samar. Dia masih merasa kalau apa yang dia katakan pada Kolonel Andi dua bulan yang lalu adalah hal yang wajah. Raka menarik napas panjang. Dia menyandarkan wajahnya di perut Aluna. “Kolonel tidak pernah bisa
Tanpa banyak bicara, Rengganis mengambil ponselnya, lalu masuk ke platform online itu. Namun belum ada chapter baru. Sindi yang menyadari itu, kembali mengernyit. Dia meremas papan kerani yang ada di genggamannya. “Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” Rengganis tidak menjawab, tapi hanya dengan membalas tatapannya saja, Sindi sudah tahu kalau ada sesuatu yang tidak beres yang sedang terjadi. Sementara itu di dunia cerita, sudah ada dua bulan setelah insiden itu terjadi. Raka sudah mulai pulih, Andi terbukti tidak bersalah, Arga diturunkan dari pangkatnya, dan Aisar masih ada di dalam penjara. Semuanya berjalan sesuai yang Aluna inginkan. Hanya satu yang tidak ia tahu kabarnya. Sabrina. Wanita itu seperti ditelan bumi. Dia bahkan selalu meminta informasi dari Dion, tapi tetap tidak mendapat jawaban. “Kamu lagi apa?” tanya Aluna, ketika melihat Raka yang sedan
“Setiap kali Aluna mengubah sesuatu, cerita itu menyesuaikan. Tapi bukan berarti menerima. Kadang… cerita itu juga melawan. Ingat Aisar?” tanya Rengganis. Sindi langsung mengangguk. Nama itu terlalu membekas setelah apa yang dia baca, dan apa yang dia lihat di dunia nyata. “Dia bukan villain utama di draft awal,” ujar Rengganis. “Dia cuma karakter pendukung. Tapi karena konflik terus dipaksa naik, karena Raka harus terus disiksa, karena pembaca suka dia berubah, dia jadi lebih menonjol dari villain utama. Dia bahkan bisa keluar dari cerita dan mengubah semua alurnya.” “Berubah maksud kamu?” “Part Raka disiksa di ruang interogasi bukanlah bagian dari chapter yang sudah aku siapkan. Buka juga bagian dari chapter yang editor buat,” lanjutnya. Tubuh Sindi seketika menegang. Dia menelan saliva dengan susah payah. “Dan sekarang, ketika Aluna mencoba menyelamatkan Raka, karakter seperti Aisar akan jadi penyeimbang cerita itu.” Sindi mundur satu langkah tanpa sadar. Dia tidak
Tepat setelah Sang editor pergi, Sindi tidak langsung pergi. Dia masih mematung di tempatnya. Semua yang dia dengar, semua yang dia alami, sangat tidak masuk akal. “Dr. Aluna ke tempat itu lagi?” tanya Rengganis tiba-tiba. Dia bergerak untuk mengubah posisinya menjadi duduk lebih tegak. Sindi tidak menjawab. Namun tatapannya cukup untuk menjadi jawaban. Rengganis pun tersenyum lirih. “Apa sebenarnya yang mereka mau?” tanya Rengganis lagi. Suaranya lebih rendah, seolah dia bertanya pada dirinya sendiri. “Mereka terlalu banyak ikut campur.” “Kenapa ceritanya bisa jadi seperti ini?” tanya Sindi. “Aluna… dia hanya pembaca. Dia tidak salah apapun. Dia—” “Dia berusaha menjadi tokoh utama,” potong Rengganis. “Dia seharusnya mati, dan tokoh utama yang sudah disiapkan adalah Sabrina.” Rengganis metapa Sindi lebih dalam. “Dr. Aluna selalu berbuat seenaknya.” Dia meremas jari-jarinya. “Dia berlagak, seolah dia adalah tokoh Aluna. Hanya dengan sama nama, bukan berarti tokoh yang k
Halaman kantor polisi sektor itu tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa motor terparkir dan satu mobil patroli yang berdiri di dekat gerbang. Aluna masih duduk di dalam mobilnya. Kedua tangannya memegang setir dengan lemah. Napasnya belum benar-benar stabil setelah kejadian tadi. Ia menatap ke
Mobil Aluna melaju cukup cepat di jalan raya yang masih dipenuhi kendaraan pagi hari. Matahari sudah naik lebih tinggi, tapi udara kota masih terasa sedikit dingin. Mungkin efek dari pagi tadi yang sempat turun hujan. Kedua tangan Aluna mencengkeram stir dengan erat. Ia tidak benar-benar tahu k
Pagi datang terlalu cepat bagi Aluna. Ketika ia membuka mata, cahaya matahari sudah menyusup melalui celah tirai kamar. Hangatnya sinar itu jatuh tepat di wajahnya, membuat Aluna sedikit mengerjapkan mata. Beberapa detik ia hanya berbaring diam, mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Tak
Tubuh Aluna terasa lebih ringan. Dia seperti sedang melayang di ruang yang tidak memiliki batas. Tidak ada cahaya. Tidak ada suara. Hanya ada kegelapan yang hampir menelan semuanya. Namun di tengah kegelapan itu, sebuah suara terdengar samar. Suara yang terus memanggil







