LOGINPenyesalkan macam apa yang sedang menggerogoti kepercayaan diri ya sekarang? Kenapa dia harus berada di dalam novel ini? Jika memang harus berpindah ke novel, kenapa dia tidak berpindah ke novel romantis dengan nuansa indah dipenuhi bunga-bunga mekar.
"Aku emang suka novel ini, tapi nggak ada niatan juga buat masuk kesini," cicit Aluna lagi Tatapan Aluna turun pada layar kecil di bagian belakang kursi mobil. Di sana tertera tanggal hari ini: ‘12 Mei.’ Tubuh Aluna menegang. Jantungnya berdegup sedikit lebih keras. Dia kembali ingat sesuatu. Di dalam novel, kecelakaan itu terjadi pada tanggal 30 Agustus. Masih ada waktu tiga bulan sebelum kecelakaan itu terjadi. Aluna menatap tanggal itu cukup lama, lalu menyeka keringat yang hampir saja masuk ke mata. Tiga bulan adalah waktu yang sedikit, tapi jika dia tetap mengikuti alur cerita asli, dia pasti akan mati. Dan kalau dia mengubah alur itu, mungkin semuanya bisa berbeda dan semua isi novel jelas akan berubah. Mobil akhirnya berhenti di depan gerbang besar rumah dinas militer. Bangunan itu berdiri megah dengan pagar besi tinggi dan penjagaan ketat. Namun suasananya selalu saja terasa kosong. Rumah ini terlalu besar untuk dua orang yang bahkan hampir tidak berbicara. Tepat ketika sopir membuka pintu, Aluna turun perlahan. Langkahnya menggema pelan di halaman luas itu. Dia baru saja akan masuk ke dalam rumah ketika sesuatu membuatnya berhenti. Perasaan aneh itu datang lagi. Sama seperti yang dia rasakan di pengadilan tadi. Seolah ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Aluna menoleh perlahan. Menatap gerbang besi di belakangnya yang masih terbuka sedikit. Tepat di luar pagar, sebuah mobil hitam parkir di seberang jalan. Kaca mobilnya gelap. Dan dia tidak mungkin bisa melihat siapa yang ada di dalamnya. Namun entah kenapa, Aluna merasa mobil itu tidak ada di sana secara kebetulan. Perasaan dingin mendadak merayap di punggungnya. Tanpa sadar dia memegang tasnya lebih erat. “Nyonya Aluna?” seorang penjaga memanggilnya dari arah pos. “Apakah ada masalah?” Aluna berkedip cepat, lalu menggeleng. Dia bahkan memaksakan senyum kecil. “Tidak apa-apa.” Tepat ketika dia kembali menoleh ke arah jalan, mobil hitam itu sudah tidak ada. Seolah tidak pernah muncul sebelumnya. Aluna masih berdiri diam beberapa detik. Perasaannya campr aduk. Anatara gelisah, takut dan penasaran. Dia jelas-jelas melihat penguntit itu. Tapi dia juga bingung harus mengadu pada siapa. Dan dia juga belum punya bukti atau alasan, mengapa dia sampai diikut. Aluna hanya menghela napas kasar, lalu masuk ke dalam rumah. Membiarkan pikirannya berkecamuk tanpa arah. Aluna percaya kalau semua ini ada hubungannya dengan kecelakaan yang akan menimpanya tiga bulan lagi. “Hah,” gumam Aluna kasar. “Aku harus gimana? Kenapa jadi kayak buronan gini?” Aluna menatap ke arah jalan kosong itu dengan mata sedikit menyipit. Jika benar kematiannya bukan kecelakaan, itu artinya ada seseorang yang ingin dia mati. Dan orang itu mungkin sudah memperhatikannya sejak sekarang. Aluna memiringkan kepala dengan kedua tangan terlipat di depan dada. “Kalau begitu ...,” gumamnya pelan. “Permainan ini baru saja dimulai?” Dia berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumah. Tidak menyadari bahwa pada saat yang sama, di dalam mobil militer yang sedang melaju di jalan raya kota, Raka sedang menatap layar ponselnya dengan ekspresi dingin. Sebuah panggilan baru saja masuk dari asistennya. “Kapten, ada seseorang yang mengikuti Nyonya Aluna sejak dia keluar dari pengadilan.” Tatapan Raka langsung berubah tajam. Beberapa detik dia tidak mengatakan apa pun. “Siapa?” Jawaban dari asistennya muncul beberapa detik kemudian. Dia hanya mengangguk, lalu menutup panggilan itu. Tatapannya kembali dingin. Raka sempat bingung pada dirinya sendiri. Dia jelas-jelas tidak merasakan perasaan apapun pada Aluna. Dia sama sekali tidak peduli dengan semua hal yang Aluna lakukan. Tapi hari ini, Aluna berbah dan menarik gugatan cerai itu. mustahil kalau Raka tidak terguncang dan bertanya-tanya. Dan sekarang, dia kembali mendapat kabar kalau istrinya sedang dalam bahaya. Aluna diikuti oleh orang asing, dan itu lolos dari pemantauannya. Raka mengusap wajahnya kasar. “Apa yang sudah dia lakukan sebelumnya?” gumam Raka pelan. “Kenapa dia sampai diikuti seperti ini. Dan kenapa harus dia?” ***“Arga,” gumam Raka pelan. Arga hanya mengulas senyum. Dia mengulurkan tangannya dengan begitu ramah. “Pasti Kapten Raka ya?” tanya Arga pelan. Namun Raka tidak langsung menjawab. Matanya terus menatap Arga dengan tajam. “Saya Arga, editor yang membantu Bu Aluna.” raka buru-buru menoleh pada Aluna yang masih bergeming. “Editor?” tanya Raka dengan suara tercekat. “Maksudnya?” Arga menarik kembali uluran tangannya. “Sudah lama, Bu Aluna tidak memberi kabar,” katanya ringan. “Katanya mau ngajuin naskah baru, tapi saya hubungi tidak bisa.” “Aku?” tanya Aluna, nyaris berteriak. Arga mengangguk samar. “Bukankah setelah kisah Kapten Raka berakhir, Bu Aluna berencana mengajukan naskah baru?” tanya Arga lagi. “Dulu sempat membahas tentang cerita yang berjudul Diary Penulis Fiksi.” “A-aku penulis?” tanya Aluna pelan. Arga tidak langsung menjawab. Matanya menyipit tanpa sadar. Perlahan tangannya meraih sesuatu di dalam tasnya. Sebuah buku bercetak tebal dengan judul Kapten Raka karya Al
Suasana hening dalam sekejap. Tangan Aluna masih memegang tangan Raka. Bahkan jauh lebih erat dari sebelumnya. Lampu jalan yang bersinar temaram, menyorot tepat di wajah Aluna. Dia sedikit mengerjap. Mereka kini sudah berada di depan rumah sakit tempat Aluna bekerja. “Ini—” kalimat itu menggantung. Matanya mengedar memperhatikan setiap sisi. Aluna melirik Raka yang juga belum sepenuhnya sadar. “Raka… kita udah bener-bener keluar dari dunia itu?” Raka tidak langsung menjawab. Dia melepaskan tangan Aluna, lalu maju beberapa langkah. Dunia yang sama seperti yang ia tinggali sebelumnya. “Aku nggak tahu, Luna,” katanya nyaris seperti bisikan. “Semuanya sama. Aku nggak bisa membedakanya.” Aluna ikut melangkah maju. Angin malam menyentuh wajahnya pelan. Tidak ada retakan di langit, tidak ada kalimat-kalimat aneh yang muncul tiba-tiba, dan tidak ada juga perasaan seperti sedang diawasi. Semuanya terlalu normal. Aluna menggenggam tangan Raka, membuat pria itu menoleh ke arahnya. “Raka,
Tidak ada yang langsung menjawab. Baik Aluna ataupun Raka, mereka justru saling bertemu tatap dan tak percaya apa yang Rengganis katakan. “Dr. Aluna,” ujar Rengganis. Gadis itu maju satu langkah. Dia meraih kedua tangan Aluna. “Bahagia, ya…” katanya. Aluna menggeleng tanpa sadar. Dia melepaskan tangan Rengganis dari tangannya. “Jangan ngomong kayak orang yang mau pergi,” bisiknya lirih. Kedua matanya sudah memanas. “Aku nggak suka. Kita bisa pikirin jalan keluar lain.” Senyum Rengganis perlahan memudar. Namun gadis itu tidak terlihat terkejut. Seolah dia memang sudah menduga Aluna akan mengatakan hal itu. “Aku cuma pengen lihat akhir cerita ini,” katanya pelan. “Aku udah banyak bikin kalian menderita. Sekarang, aku bakal nepatin janji aku—” “Nggak!” potong Aluna tegas. Dadanya sudah naik turun dengan sangat cepat. Dia mundur satu langkah. “Kamu pikir semuanya sesederhana itu? Lihat! Sindi, orang tua aku bahkan ada di dunia ini. Terus kamu minta aku balik ke dunia sama Raka,
Aluna mengangguk samar. Walau sulit, dia berusaha mengulas senyum.Keduanya langsung menuju UGD—dimana orang bernama Rengganis ada di sana. “Aluna!” Sindi langsung menarik tangan Aluna yang baru saja masuk ke dalam lobi. “Lama banget datangnya. Ayo buruan. Dia nunggu kamu di ruang istirahat staf.” Aluna mengernyit. Dia menahan dirinya. Membuat Sindi refleks ikut mundur selangkah. “Kenapa jadi di ruang istirahat?” tanya Aluna heran. Kedua alisnya sudah saling bertaut. “Bukannya dia sakit?” Sindi tidak langsung menjawab. Dia bahkan masih bingung dengan apa yang dia lihat. “Kenapa malah ngelamun?” suara berat Raka membuat Sindi mengerjap pelan. Dia melirik Raka yang sudah melipat kedua tangannya di depan dada. “Kamu bilang tadi dia kritis, terus kenapa bukan di UGD atau ICU, malah di ruang istirahat staf.”“Aneh,” ujar Sindi pelan. “Aneh banget pokoknya. Pertama kali dia datang, mukanya pucat kayak nggak ada darah yang mengalir di tubuhnya. Tapi pas aku… pas aku…” Sindi menggantung
Raka tidak memberi Aluna kesempatan untuk berpikir terlalu lama. Pria itu segera mengambil kunci mobil dan jaketnya. Wajahnya masih tegang. Bahkan sejak mendengar nama Rengganis beberapa menit yang lalu, Raka belum benar-benar bisa berpikir jernih. Mobil melaju dengan cepat tanpa banyak bicara. Raka sesekali melirik Aluna yang sudah pucat pasi. “Luna…” Raka menggenggam tangan Aluna yang sudah dingin. Wanita itu menoleh perlahan. “Tenang, ya. Kita kan belum tahu dia Rengganis yang kamu kenal atau bukan.” Aluna tidak langsung menjawab. Namun matanya tiba-tiba memicing saat melihat jalanan di depan mereka yang tampak transparan. “Ra-Raka…” tangan Aluna menunjuk ke arah depan dengan gemetar. “Itu apa? Kenapa jalannya jadi gitu?” Raka buru-buru memalingkan wajahnya. Alih-alih menghentikan laju mobil, dia justru menancap gas semakin dalam. “Pegangan, Aluna!” seru Raka. Aluna refleks mencengkeram dashboard mobil. Napasnya tercekat ketika jalan raya di depan mereka mulai berubah. A
Raka menatap Aluna dengan mata yang sudah merah. Rasa bersalah yang ia tanggung akibat melenyapkan Aisar masih menghantui. Dia tidak ingin menambah lagi, dengan mengorbankan Rengganis. “Apa lagi dia manusia dari awal,” ujar Raka lirih. Kening yang berkerut, kini mulai mengendur. Raka menunduk dalam. “Mana mungkin aku tega mengurungnya di tempat ini.” Aluna tidak langsung menjawab. Rencana Rengganis memang gila. Dia bahkan sempat menolaknya, tapi saat bertemu dengan Raka lagi, perasaannya untuk ingin tetap bersamanya semakin besar. “Aku tahu,” gumam Aluna lirih. “Aku juga tahu ini salah, Raka. Tapi mau sampai kapan? Mau sampai kapan kita terus dihantui rasa takut?”Belum sempat Raka menjawab, tiba-tiba ponsel Aluna berdering. Keduanya refleks menoleh ke arah nakas, dimana ponsel itu tergeletak dengan layar menyala. “Sindi,” ujar Aluna sambil memperlihatkan layar ponselnya. “Kayaknya penting, udah ada banyak panggilan masuk dari dia ternyata.”Raka mengangguk. “Angkat aja,” katanya.
Aluna menatap tangga itu beberapa saat sebelum akhirnya tertawa pelan. “Dia benar-benar dingin.” Aluna memainkan jemarinya. Dia senang karena fakta bahwa Raka yang masih memperlakukannya seperti orang asing, berarti alur ceritanya belum berubah terlalu jauh. Dan itu bagus. Karena jika Raka tiba-t
Malam turun perlahan di kota itu. Lampu-lampu jalan mulai menyala, memantulkan cahaya kuning redup di aspal yang sedikit basah oleh hujan sore tadi. Di dalam rumah dinas militer, suasana terasa jauh lebih sunyi daripada di luar. Rumah besar itu memiliki ruang tamu luas dengan jendela tinggi, la
Belum senpat melangkah, Aluna kembali teringat ucapan Raka sebelumnya. "Dia beneran nggak bisa percaya sama aku," keluhnya, seraya meremas jemarinya lalu kembali melangkah. "Ah, sudah lah. Kayak nggak kenal aja deh tokoh Raka gimana dinginnya." Udara di luar gedung pengadilan militer terasa jau
“Gugatan cerai atas nama Aluna Rengganis terhadap Kapten Raka Juang Mahardika telah diproses selama dua minggu,” kata petugas itu formal sambil membuka map di depannya. Tatapannya berpindah pada Aluna. “Apakah Anda tetap ingin melanjutkan gugatan ini?” Ruangan pengadilan militer itu cukup sun







