Beranda / Romansa / Takdir Kedua Istri Sang Kapten / 6. Diam-diam Memperhatikan

Share

6. Diam-diam Memperhatikan

Penulis: Min Ye-Rin
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-11 07:19:14

Aluna menatap tangga itu beberapa saat sebelum akhirnya tertawa pelan. “Dia benar-benar dingin.”

Aluna memainkan jemarinya. Dia senang karena fakta bahwa Raka yang masih memperlakukannya seperti orang asing, berarti alur ceritanya belum berubah terlalu jauh. Dan itu bagus. Karena jika Raka tiba-tiba berubah sekarang, justru akan sangat mencurigakan.

Aluna berdiri dan membawa cangkirnya ke dapur. Tepat ketika ia kembali ke ruang tamu, langkahnya tiba-tiba berhenti. Matanya jatuh pada kalender kecil di meja. Menampilkan tanggal hari ini dengan sangat jelas.

Aluna menatap tanggal itu cukup lama. Kemudian perlahan duduk di sofa lagi dengan tanggal terlipas di pangkuan. Pikirannya kembali bekerja sekarang.

Dia harus mulai mencari tahu tentang dua hal yang sangat penting yang bisa mengubah alur cerita ini. Tentang siapa yang ingin membunuhnya, dan tentang alasan kenapa dia harus dibunuh.

Karena dalam cerita asli, kematian Aluna hampir tidak dibahas lagi setelah itu. Seolah hidupnya memang tidak penting. Tapi sekarang, ini adalah hidupnya. Dia tidak mau menjadi bangkai lalu dilupakan begitu saja.

Aluna mengangguk pasti. Kalau memang dia harus merubah hidupnya, dia harus memulai dari hal yang paling sederhana, yatiu mengubah hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya. Termasuk dengan pria yang saat ini berada di lantai atas rumah ini.

Dia harus bisa mengambil hati Raka. Tokoh pria utama dalam novel. Pria yang seharusnya jatuh cinta pada wanita lain. Aluna tersenyum simpul, entah kenapa nasibnya seperti akan sangat terhubung dengan Raka

Sementara itu, di lantai dua, Raka berdiri di depan jendela kamar kerjanya dengan lampu meja menyala redup dan ponsel berada di tangannya. Raka merems ponsel itu.

“Keluarga Surya,” gumamnya pelan. Mata Raka sedikit menyipit. Nama keluarga Surya tidak asing untuknya.

Raka mengetuk ponsel untuk kembali mengirim pesan pada asistennya.

“Awasi mereka.” Pesan itu terkirim bersamaan dengan tarikan napas gusar Raka yang belum sepenuhnya hilang.

Raka meletakkan ponselnya di meja, dengan tatapan yang kembali ke arah jendela. Di luar sana, lampu kota terlihat seperti lautan cahaya kecil, tapi pikirannya tidak berada di sana. Melainkan pada satu hal yang terasa semakin aneh hari ini. Apa lagi kalau bukan tentang perubahan sikap Aluna.

Dari tatapan wanita itu, cara dia bicara, senyum kecilnya yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Membuat Raka percaya kalau dia bukan orang yang sama.

Dia mengenal siapa istrinya. Aluna tidak akan berubah dalam sekejap mata. Dan Raka bukan orang yang mudah percaya pada perubahan mendadak. Dia juga bukan orang yang suka permainan.

Jika Aluna sedang merencanakan sesuatu, cepat atau lambat, dia pasti akan mengetahuinya. Tapi entah kenapa, pikiran lain justru muncul di kepalanya. Bagaimana jika dia benar-benar berubah?

Kening Raka berkerut samar, lalu menggeleng pelan. Kemungkinan itu terasa tidak masuk akal untuknya.

“Tapi dia benar-benar berbeda sekarang,” gumam Raka pelan. “Apa yang dia rencakan? Atau dia sudah melakukan kesalahan? Dan ini hanya untuk menutupi rasa takutnya saja?”

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat otak Raka lelah. Dia tidak tahu apakah perubahan itu baik, atau justru akan membawa masalah baru.

Tatapan Raka perlahan turun ke arah halaman rumah. Lampu taman menyinari area depan. Dan di sana dia bisa melihat Aluna berdiri sendirian di teras. Wanita itu menatap langit malam dengan ekspresi tenang. Seolah sedang memikirkan sesuatu yang sangat jauh di depannya.

Raka menatapnya beberapa detik. “Dia lagi mikirin apa?” gumam Raka tanpa sadar.

Di luar, Aluna menarik napas dalam-dalam. Dia tersenyum kala melihat bintang yang berkedip sesekali. Di kehidupan nyata, dia sangat menyukai bintang. Tapi di tempat tinggalnya sangat sulit untuk melihat bintang karena terlalu sering tertutup awan.

Aluna merentangkan kedua tangan, mengihup napas dalam-dalam. Mengisi rongga parunya yang terasa kosong. Dia tidak sadar kalau tingkah lakunya, bahkan sudah membuat Raka menarik senyum tanpa sadar.

“Aaa!” teriakan Aluna membuat Raka menyipitkan mata. “Aku mau jalan-jalan!” teriaknya lagi.

Raka kembali tersenyum, lalu menggeleng. “Dia aneh,” katanya.

Aluna menatap ponselnya, membuat Raka ikut memperhatikan pergerakannya. Wajah wanita itu tiba-tiba saja menegang. Dia terduduk dengan wajah yang sudah pucat pasi.

Raka hendak turun menghampiri, tapi langkahnya seperti ada yang mencegah. Dari atas sana, Raka bahkan bisa melihat air mata Aluna yang sudah mulai mengalir. Wanita itu semakin gugup dengan mata yang masih menatap ponselnya.

“Aku harus apa sekarang?”

Suara Aluna yang cukup pelan, berhasil tertangkap oleh indera runggu Raka. Kening Raka mengernyit.

“Apa yang sudah kamu lakukan?” gumam Raka pelan. “Apa yang kini membuat kamu ketakutan?”

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   9. Katukan Misterius

    Aluna hampir saja tertawa miris. Kalau dia mengatakan yang sebenarnya, bahwa dia adalah jiwa dari dunia lain yang masuk ke tubuh ini, Raka mungkin akan langsung memanggil psikiater militer, atau bahkan menyeretnya ke rumah sakit jiwa. “Anggap saja aku baru sadar sesuatu,” jawab Aluna. Perlahan, wajahnya terangkat. Dari mulai kaki, badan dan kini berhenti di wajah Raka yang sudah berdiri tepat di depannya. Aluna kembali menelan ludah dengan sangat susah payah. Namun tanpa diduga, Raka kini justru berjalan menuju meja makan, lalu duduk di salah satu kursinya. Gerakan sederhana itu, membuat Aluna semakin merasa gugup. Apa lagi ketika Raka mengambil sendok dan mencicipi sup panas itu, Aluna langsung menahan napasnya, dengan mata membulat sempurna. “Ini terlalu asin,” katanya kemudian. “Kamu terlalu banyak mencampurkan garam di sini.” Raut wajah Aluna yang semula tegang, kini berubah tak bergairah. Tentu saja. Dia sendiri tidak percaya pada hasil karyanya. Aluna meletak

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   8. Istri Yang Berubah

    “Hemmm,” Aluna menarik napas berat. Walau dia masih terasa asing di rumah itu, dua tidak bisa berdiam diri selamanya di dalam kamar. Dan sialnya, di kehidupan sebelumnya, dia belum pernah menginjakkan kakinua ke dapur. Dia hanya memakan makanan dari hasil online food, atau berteriak minta makan, kala sedang berlibur ke rumah orang tuanya. Dan di dalam kehidupan sebelumnya, Aluna adalah seorang dokter bedah. Dia terbiasa membaca hasil CT scan organ, dan berdiri di depan meja operasi dengan taruhan hidup dan mati seseorang. Dan itu lebih mudah untuknya, dibandingkan ketika dia harus berdiri di depan kompor, membaca resep dan perbumbuan yang belum sepenuhnya dia kenal. Tapi kini Aluna sudah berdiri di dapur yang selama tiga bulan ini menjadi tempat menuangkan ide-ide masakannya. Dia berdiri dengan ekspresi serius, menatap buku resep di ponselnya seperti sedang mempelajari strategi perang. “Oke, dua sendok garam,” katanya dengan kening yang sedikit berkerut. “Eh, dua apa sa

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   7. Pesan Ancaman

    Lampu taman memantulkan cahaya kuning lembut di lantai batu yang dingin, tapi untuk Alana, udara terasa jauh lebih berat dari pada beberapa detik sebelumnya. Tangannya masih memegang ponsel dengan layar yang masih menyala. Di sana, pesan itu masih terpampang jelas: ‘Seharusnya kamu sudah mati hari ini.’ Dan di bawahnya, sebuah foto mobil hitam yang tadi dia lihat di luar pagar rumah. Alana menepuk-nepuk kepalanya kasar. Dia berusaha mengingat kejadian di novel. Dalam novel yang dia baca, kematian Aluna terjadi pada 30 Agustus dalam kecelakaan mobil di tikungan pegunungan. Dan itu bukan hari ini. Jadi kenapa seseorang mengirim pesan seperti ini? “Apa kecelakaan di novel bukan kecelakaan pertama?” bisik Aluna bimbang. Matanya masih menatap layar ponsel. Ketika Aluna baru saja akan masuk ke dalam rumah, langkah kaki kembali terdengar dari belakangnya. “Kenapa kamu berdiri di luar?” Aluna menoleh. Dia langsung bisa menatap Raka yang kini berdiri di belakangnya. Lampu dari da

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   6. Diam-diam Memperhatikan

    Aluna menatap tangga itu beberapa saat sebelum akhirnya tertawa pelan. “Dia benar-benar dingin.” Aluna memainkan jemarinya. Dia senang karena fakta bahwa Raka yang masih memperlakukannya seperti orang asing, berarti alur ceritanya belum berubah terlalu jauh. Dan itu bagus. Karena jika Raka tiba-tiba berubah sekarang, justru akan sangat mencurigakan. Aluna berdiri dan membawa cangkirnya ke dapur. Tepat ketika ia kembali ke ruang tamu, langkahnya tiba-tiba berhenti. Matanya jatuh pada kalender kecil di meja. Menampilkan tanggal hari ini dengan sangat jelas. Aluna menatap tanggal itu cukup lama. Kemudian perlahan duduk di sofa lagi dengan tanggal terlipas di pangkuan. Pikirannya kembali bekerja sekarang. Dia harus mulai mencari tahu tentang dua hal yang sangat penting yang bisa mengubah alur cerita ini. Tentang siapa yang ingin membunuhnya, dan tentang alasan kenapa dia harus dibunuh. Karena dalam cerita asli, kematian Aluna hampir tidak dibahas lagi setelah itu. Seolah hidupnya

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   5. Kapten Raka

    Malam turun perlahan di kota itu. Lampu-lampu jalan mulai menyala, memantulkan cahaya kuning redup di aspal yang sedikit basah oleh hujan sore tadi. Di dalam rumah dinas militer, suasana terasa jauh lebih sunyi daripada di luar. Rumah besar itu memiliki ruang tamu luas dengan jendela tinggi, lantai marmer yang dingin, dan perabotan mahal yang tertata rapi, tapi entah kenapa, semuanya terasa sangat kosong, terlebih itu untuk Aluna. Rumah itu sudah seperti bangunan tanpa kehidupan. Aluna berdiri di depan jendela ruang tamu. Tangannya memegang cangkir teh yang sudah mulai dingin, dengan tatapan tertuju pada halaman depan rumah yang gelap dan sepi. Pikirannya masih terjebak pada mobil hitam yang terparkir di luar pagar siang tadi. “Udah Aluna, tenang aja,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri. “Tiga bulan lagi baru kecelakaan itu terjadi. Masih ada waktu. Jangan panik dulu.” Bahkan ketika dia mengatakan itu, hatinya tidak benar-benar tenang. Dalam cerita asli, setelah mencabut gu

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   4. Tanggal Kematian Part 2

    Penyesalkan macam apa yang sedang menggerogoti kepercayaan diri ya sekarang? Kenapa dia harus berada di dalam novel ini? Jika memang harus berpindah ke novel, kenapa dia tidak berpindah ke novel romantis dengan nuansa indah dipenuhi bunga-bunga mekar. "Aku emang suka novel ini, tapi nggak ada niatan juga buat masuk kesini," cicit Aluna lagi Tatapan Aluna turun pada layar kecil di bagian belakang kursi mobil. Di sana tertera tanggal hari ini: ‘12 Mei.’ Tubuh Aluna menegang. Jantungnya berdegup sedikit lebih keras. Dia kembali ingat sesuatu. Di dalam novel, kecelakaan itu terjadi pada tanggal 30 Agustus. Masih ada waktu tiga bulan sebelum kecelakaan itu terjadi. Aluna menatap tanggal itu cukup lama, lalu menyeka keringat yang hampir saja masuk ke mata. Tiga bulan adalah waktu yang sedikit, tapi jika dia tetap mengikuti alur cerita asli, dia pasti akan mati. Dan kalau dia mengubah alur itu, mungkin semuanya bisa berbeda dan semua isi novel jelas akan berubah. Mobil akhirn

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status