LOGINAluna menatap tangga itu beberapa saat sebelum akhirnya tertawa pelan. “Dia benar-benar dingin.”
Aluna memainkan jemarinya. Dia senang karena fakta bahwa Raka yang masih memperlakukannya seperti orang asing, berarti alur ceritanya belum berubah terlalu jauh. Dan itu bagus. Karena jika Raka tiba-tiba berubah sekarang, justru akan sangat mencurigakan. Aluna berdiri dan membawa cangkirnya ke dapur. Tepat ketika ia kembali ke ruang tamu, langkahnya tiba-tiba berhenti. Matanya jatuh pada kalender kecil di meja. Menampilkan tanggal hari ini dengan sangat jelas. Aluna menatap tanggal itu cukup lama. Kemudian perlahan duduk di sofa lagi dengan tanggal terlipas di pangkuan. Pikirannya kembali bekerja sekarang. Dia harus mulai mencari tahu tentang dua hal yang sangat penting yang bisa mengubah alur cerita ini. Tentang siapa yang ingin membunuhnya, dan tentang alasan kenapa dia harus dibunuh. Karena dalam cerita asli, kematian Aluna hampir tidak dibahas lagi setelah itu. Seolah hidupnya memang tidak penting. Tapi sekarang, ini adalah hidupnya. Dia tidak mau menjadi bangkai lalu dilupakan begitu saja. Aluna mengangguk pasti. Kalau memang dia harus merubah hidupnya, dia harus memulai dari hal yang paling sederhana, yatiu mengubah hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya. Termasuk dengan pria yang saat ini berada di lantai atas rumah ini. Dia harus bisa mengambil hati Raka. Tokoh pria utama dalam novel. Pria yang seharusnya jatuh cinta pada wanita lain. Aluna tersenyum simpul, entah kenapa nasibnya seperti akan sangat terhubung dengan Raka Sementara itu, di lantai dua, Raka berdiri di depan jendela kamar kerjanya dengan lampu meja menyala redup dan ponsel berada di tangannya. Raka merems ponsel itu. “Keluarga Surya,” gumamnya pelan. Mata Raka sedikit menyipit. Nama keluarga Surya tidak asing untuknya. Raka mengetuk ponsel untuk kembali mengirim pesan pada asistennya. “Awasi mereka.” Pesan itu terkirim bersamaan dengan tarikan napas gusar Raka yang belum sepenuhnya hilang. Raka meletakkan ponselnya di meja, dengan tatapan yang kembali ke arah jendela. Di luar sana, lampu kota terlihat seperti lautan cahaya kecil, tapi pikirannya tidak berada di sana. Melainkan pada satu hal yang terasa semakin aneh hari ini. Apa lagi kalau bukan tentang perubahan sikap Aluna. Dari tatapan wanita itu, cara dia bicara, senyum kecilnya yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Membuat Raka percaya kalau dia bukan orang yang sama. Dia mengenal siapa istrinya. Aluna tidak akan berubah dalam sekejap mata. Dan Raka bukan orang yang mudah percaya pada perubahan mendadak. Dia juga bukan orang yang suka permainan. Jika Aluna sedang merencanakan sesuatu, cepat atau lambat, dia pasti akan mengetahuinya. Tapi entah kenapa, pikiran lain justru muncul di kepalanya. Bagaimana jika dia benar-benar berubah? Kening Raka berkerut samar, lalu menggeleng pelan. Kemungkinan itu terasa tidak masuk akal untuknya. “Tapi dia benar-benar berbeda sekarang,” gumam Raka pelan. “Apa yang dia rencakan? Atau dia sudah melakukan kesalahan? Dan ini hanya untuk menutupi rasa takutnya saja?” Pertanyaan-pertanyaan itu membuat otak Raka lelah. Dia tidak tahu apakah perubahan itu baik, atau justru akan membawa masalah baru. Tatapan Raka perlahan turun ke arah halaman rumah. Lampu taman menyinari area depan. Dan di sana dia bisa melihat Aluna berdiri sendirian di teras. Wanita itu menatap langit malam dengan ekspresi tenang. Seolah sedang memikirkan sesuatu yang sangat jauh di depannya. Raka menatapnya beberapa detik. “Dia lagi mikirin apa?” gumam Raka tanpa sadar. Di luar, Aluna menarik napas dalam-dalam. Dia tersenyum kala melihat bintang yang berkedip sesekali. Di kehidupan nyata, dia sangat menyukai bintang. Tapi di tempat tinggalnya sangat sulit untuk melihat bintang karena terlalu sering tertutup awan. Aluna merentangkan kedua tangan, mengihup napas dalam-dalam. Mengisi rongga parunya yang terasa kosong. Dia tidak sadar kalau tingkah lakunya, bahkan sudah membuat Raka menarik senyum tanpa sadar. “Aaa!” teriakan Aluna membuat Raka menyipitkan mata. “Aku mau jalan-jalan!” teriaknya lagi. Raka kembali tersenyum, lalu menggeleng. “Dia aneh,” katanya. Aluna menatap ponselnya, membuat Raka ikut memperhatikan pergerakannya. Wajah wanita itu tiba-tiba saja menegang. Dia terduduk dengan wajah yang sudah pucat pasi. Raka hendak turun menghampiri, tapi langkahnya seperti ada yang mencegah. Dari atas sana, Raka bahkan bisa melihat air mata Aluna yang sudah mulai mengalir. Wanita itu semakin gugup dengan mata yang masih menatap ponselnya. “Aku harus apa sekarang?” Suara Aluna yang cukup pelan, berhasil tertangkap oleh indera runggu Raka. Kening Raka mengernyit. “Apa yang sudah kamu lakukan?” gumam Raka pelan. “Apa yang kini membuat kamu ketakutan?” ***“Arga,” gumam Raka pelan. Arga hanya mengulas senyum. Dia mengulurkan tangannya dengan begitu ramah. “Pasti Kapten Raka ya?” tanya Arga pelan. Namun Raka tidak langsung menjawab. Matanya terus menatap Arga dengan tajam. “Saya Arga, editor yang membantu Bu Aluna.” raka buru-buru menoleh pada Aluna yang masih bergeming. “Editor?” tanya Raka dengan suara tercekat. “Maksudnya?” Arga menarik kembali uluran tangannya. “Sudah lama, Bu Aluna tidak memberi kabar,” katanya ringan. “Katanya mau ngajuin naskah baru, tapi saya hubungi tidak bisa.” “Aku?” tanya Aluna, nyaris berteriak. Arga mengangguk samar. “Bukankah setelah kisah Kapten Raka berakhir, Bu Aluna berencana mengajukan naskah baru?” tanya Arga lagi. “Dulu sempat membahas tentang cerita yang berjudul Diary Penulis Fiksi.” “A-aku penulis?” tanya Aluna pelan. Arga tidak langsung menjawab. Matanya menyipit tanpa sadar. Perlahan tangannya meraih sesuatu di dalam tasnya. Sebuah buku bercetak tebal dengan judul Kapten Raka karya Al
Suasana hening dalam sekejap. Tangan Aluna masih memegang tangan Raka. Bahkan jauh lebih erat dari sebelumnya. Lampu jalan yang bersinar temaram, menyorot tepat di wajah Aluna. Dia sedikit mengerjap. Mereka kini sudah berada di depan rumah sakit tempat Aluna bekerja. “Ini—” kalimat itu menggantung. Matanya mengedar memperhatikan setiap sisi. Aluna melirik Raka yang juga belum sepenuhnya sadar. “Raka… kita udah bener-bener keluar dari dunia itu?” Raka tidak langsung menjawab. Dia melepaskan tangan Aluna, lalu maju beberapa langkah. Dunia yang sama seperti yang ia tinggali sebelumnya. “Aku nggak tahu, Luna,” katanya nyaris seperti bisikan. “Semuanya sama. Aku nggak bisa membedakanya.” Aluna ikut melangkah maju. Angin malam menyentuh wajahnya pelan. Tidak ada retakan di langit, tidak ada kalimat-kalimat aneh yang muncul tiba-tiba, dan tidak ada juga perasaan seperti sedang diawasi. Semuanya terlalu normal. Aluna menggenggam tangan Raka, membuat pria itu menoleh ke arahnya. “Raka,
Tidak ada yang langsung menjawab. Baik Aluna ataupun Raka, mereka justru saling bertemu tatap dan tak percaya apa yang Rengganis katakan. “Dr. Aluna,” ujar Rengganis. Gadis itu maju satu langkah. Dia meraih kedua tangan Aluna. “Bahagia, ya…” katanya. Aluna menggeleng tanpa sadar. Dia melepaskan tangan Rengganis dari tangannya. “Jangan ngomong kayak orang yang mau pergi,” bisiknya lirih. Kedua matanya sudah memanas. “Aku nggak suka. Kita bisa pikirin jalan keluar lain.” Senyum Rengganis perlahan memudar. Namun gadis itu tidak terlihat terkejut. Seolah dia memang sudah menduga Aluna akan mengatakan hal itu. “Aku cuma pengen lihat akhir cerita ini,” katanya pelan. “Aku udah banyak bikin kalian menderita. Sekarang, aku bakal nepatin janji aku—” “Nggak!” potong Aluna tegas. Dadanya sudah naik turun dengan sangat cepat. Dia mundur satu langkah. “Kamu pikir semuanya sesederhana itu? Lihat! Sindi, orang tua aku bahkan ada di dunia ini. Terus kamu minta aku balik ke dunia sama Raka,
Aluna mengangguk samar. Walau sulit, dia berusaha mengulas senyum.Keduanya langsung menuju UGD—dimana orang bernama Rengganis ada di sana. “Aluna!” Sindi langsung menarik tangan Aluna yang baru saja masuk ke dalam lobi. “Lama banget datangnya. Ayo buruan. Dia nunggu kamu di ruang istirahat staf.” Aluna mengernyit. Dia menahan dirinya. Membuat Sindi refleks ikut mundur selangkah. “Kenapa jadi di ruang istirahat?” tanya Aluna heran. Kedua alisnya sudah saling bertaut. “Bukannya dia sakit?” Sindi tidak langsung menjawab. Dia bahkan masih bingung dengan apa yang dia lihat. “Kenapa malah ngelamun?” suara berat Raka membuat Sindi mengerjap pelan. Dia melirik Raka yang sudah melipat kedua tangannya di depan dada. “Kamu bilang tadi dia kritis, terus kenapa bukan di UGD atau ICU, malah di ruang istirahat staf.”“Aneh,” ujar Sindi pelan. “Aneh banget pokoknya. Pertama kali dia datang, mukanya pucat kayak nggak ada darah yang mengalir di tubuhnya. Tapi pas aku… pas aku…” Sindi menggantung
Raka tidak memberi Aluna kesempatan untuk berpikir terlalu lama. Pria itu segera mengambil kunci mobil dan jaketnya. Wajahnya masih tegang. Bahkan sejak mendengar nama Rengganis beberapa menit yang lalu, Raka belum benar-benar bisa berpikir jernih. Mobil melaju dengan cepat tanpa banyak bicara. Raka sesekali melirik Aluna yang sudah pucat pasi. “Luna…” Raka menggenggam tangan Aluna yang sudah dingin. Wanita itu menoleh perlahan. “Tenang, ya. Kita kan belum tahu dia Rengganis yang kamu kenal atau bukan.” Aluna tidak langsung menjawab. Namun matanya tiba-tiba memicing saat melihat jalanan di depan mereka yang tampak transparan. “Ra-Raka…” tangan Aluna menunjuk ke arah depan dengan gemetar. “Itu apa? Kenapa jalannya jadi gitu?” Raka buru-buru memalingkan wajahnya. Alih-alih menghentikan laju mobil, dia justru menancap gas semakin dalam. “Pegangan, Aluna!” seru Raka. Aluna refleks mencengkeram dashboard mobil. Napasnya tercekat ketika jalan raya di depan mereka mulai berubah. A
Raka menatap Aluna dengan mata yang sudah merah. Rasa bersalah yang ia tanggung akibat melenyapkan Aisar masih menghantui. Dia tidak ingin menambah lagi, dengan mengorbankan Rengganis. “Apa lagi dia manusia dari awal,” ujar Raka lirih. Kening yang berkerut, kini mulai mengendur. Raka menunduk dalam. “Mana mungkin aku tega mengurungnya di tempat ini.” Aluna tidak langsung menjawab. Rencana Rengganis memang gila. Dia bahkan sempat menolaknya, tapi saat bertemu dengan Raka lagi, perasaannya untuk ingin tetap bersamanya semakin besar. “Aku tahu,” gumam Aluna lirih. “Aku juga tahu ini salah, Raka. Tapi mau sampai kapan? Mau sampai kapan kita terus dihantui rasa takut?”Belum sempat Raka menjawab, tiba-tiba ponsel Aluna berdering. Keduanya refleks menoleh ke arah nakas, dimana ponsel itu tergeletak dengan layar menyala. “Sindi,” ujar Aluna sambil memperlihatkan layar ponselnya. “Kayaknya penting, udah ada banyak panggilan masuk dari dia ternyata.”Raka mengangguk. “Angkat aja,” katanya.
Malam turun perlahan di kota itu. Lampu-lampu jalan mulai menyala, memantulkan cahaya kuning redup di aspal yang sedikit basah oleh hujan sore tadi. Di dalam rumah dinas militer, suasana terasa jauh lebih sunyi daripada di luar. Rumah besar itu memiliki ruang tamu luas dengan jendela tinggi, la
Penyesalkan macam apa yang sedang menggerogoti kepercayaan diri ya sekarang? Kenapa dia harus berada di dalam novel ini? Jika memang harus berpindah ke novel, kenapa dia tidak berpindah ke novel romantis dengan nuansa indah dipenuhi bunga-bunga mekar. "Aku emang suka novel ini, tapi nggak ada ni
Belum senpat melangkah, Aluna kembali teringat ucapan Raka sebelumnya. "Dia beneran nggak bisa percaya sama aku," keluhnya, seraya meremas jemarinya lalu kembali melangkah. "Ah, sudah lah. Kayak nggak kenal aja deh tokoh Raka gimana dinginnya." Udara di luar gedung pengadilan militer terasa jau
Proses administrasi selesai lebih cepat dari yang diperkirakan. Beberapa menit kemudian, orang-orang mulai meninggalkan ruangan. Hanya tersisa dua orang yang masih berdiri di tempat yang sama. Aluna dan Raka. Keduanya masih tidak bersuara. Membuat suasana menjadi jauh lebih sunyi tanpa para petuga







