INICIAR SESIÓNDapur utama kediaman Vance bergemuruh oleh kesibukan sejak matahari tepat berada di puncak kepala. Aroma rempah-rempah yang hangat membumbung tinggi, memenuhi setiap sudut ruangan batu yang luas tersebut. Olivia berdiri tegap di depan meja kerja utama, mengikat tali celemek kain bersulamnya dengan erat. Di sampingnya, Martha dan Hans sibuk memotong serta menyiapkan berbagai bahan segar yang baru dipetik dari kebun perbatasan."Martha, pastikan daun mint ajaib dan jamur perak direndam dalam air garam tipis selama sepuluh menit," perintah Olivia tenang seraya mengasah pisaunya dengan tangkas. "Hans, tolong kecilkan api di tungku kedua. Kita butuh bara yang stabil untuk memanggang daging.""Baik, Nona Olivia!" sahut Martha dan Hans serempak, bergerak cekatan menuruti instruksi.Untuk hidangan pembuka, Olivia memutuskan membuat Creamy Mushroom Consommé beraroma herbal ajaib. Ia memotong tipis jamur perak hasil perburuan hutan Vance, lalu menumisnya bersama mentega mentah, bawang putih tum
Seminggu telah berlalu sejak insiden duel berdarah si kembar Bane memecah ketenangan wilayah perbatasan. Kehidupan di kediaman Baron Vance perlahan-lahan kembali normal. Pagi itu, sinar matahari hangat memancar cerah di atas halaman kediaman Vance, menghapus jejak-jejak ketegangan masa lalu.Olivia melangkah keluar ke area teras samping, membawa nampan berisi teh herbal hangat dan kue gandum tipis. Di meja batu taman, Baron Julian Vance tampak sibuk memeriksa tumpukan dokumen resmi. Dahi sang Baron berkerut tipis, matanya cermat memindai surat konfirmasi bertempel segel lilin serikat dagang kerajaan."Teh hangat Anda, Tuan Baron," sapa Olivia lembut, meletakkan cangkir porselen di samping berkas dokumen.Julian mendongak, menyunggingkan senyum tipis yang hangat. "Terima kasih, Olivia. Kau selalu tahu kapan aku membutuhkan ini.""Saya lihat Anda sangat sibuk sejak pagi, Tuan," ujar Olivia ramah.Julian mengembuskan napas pelan seraya menyandarkan punggungnya. "Hari ini adalah jadwal ked
Malam makin larut, tetapi ketegangan di area kediaman Vance sama sekali tidak menyurut. Udara dingin yang merayap di antara pepohonan perbatasan seolah ikut membeku bersama helaan napas para prajurit. Di tengah lapangan berumput yang dikelilingi obor bertiang tinggi, dua pria berdarah sama berdiri saling berhadapan. Kilatan api obor memantul di atas bilah-bilah pedang yang terhunus, memotong kegelapan dengan aura kepedihan dan dendam yang pekat.Di sudut perkemahan sementara pasukan Bane, Olivia berdiri di bawah pengawasan ketat dua ksatria bersenjata lengkap. Meski kedua tangannya tidak diikat, pergerakannya dibatasi rapat. Tatapan matanya yang cokelat hangat tak pernah lepas dari sosok Kenneth yang berdiri tegap di tengah arena. Di samping lapangan, Julian berdiri bersedekap dengan wajah kaku. Tangan kirinya terus meremas hulu pedang, bersiap menerjang kapan saja jika ada sedikit saja kecurangan yang dilancarkan pihak musuh."Kau yakin tidak ingin menyerah sekarang, Kenneth?" ejek B
"Maju satu langkah lagi, Benedict, dan aku pastikan kau tidak akan bisa berjalan keluar dari aula ini hidup-hidup, kamu berani menerobos masuk ke wilayahku yang menjalin kemitraan bisnis yg sangat baik dengan wilayah Bane." desis Julian dingin. Tangan kanannya mencabut pedang panjang berukiran lambang Vance, memancarkan kilatan perak yang memotong kegelapan malam.Benedict terkekeh sinis, matanya melirik tajam ke arah Julian sebelum akhirnya kembali terkunci pada Kenneth. "Baron Vance... kau pikir kau berada di posisi yang bisa mengancamku? Diluar sana, lima puluh ksatriaku sudah mengepung seluruh perimeter kediamanmu.""Ini wilayah kekuasaanku, Benedict!" bentak Julian, langkah kakinya makin mengikis jarak. "Kau membawa pasukan bersenjata menembus pintu kediamanku di tengah perjamuan resmi. Itu adalah deklarasi perang terbuka melawan Vance!""Persetan dengan deklarasi perangmu, Julian! Setelah aku jadi Viscount aku-lah yang akan menguasai wilayahmu!" teriak Benedict murka. Suaranya y
Suasana perjamuan yang tadinya dipenuhi tawa dan musik hangat seketika membeku menjadi keheningan yang mengimpit. Laporan pengawal pribadi Kenneth mengenai pergerakan pasukan ke kota Vance membuat Julian langsung memutar tubuhnya, memasang gestur siaga."Benedict benar-benar sudah hilang akal," desis Kenneth pelan, suaranya terdengar begitu dingin hingga membuat pembantu di sekitarnya menahan napas."Berapa banyak pasukan yang dia gerakkan ke perbatasan Vance?" tanya Julian tegas, mengikis suasana canggung di aula."Sekitar lima puluh ksatria berkuda, Tuan Baron!" jawab pengawal itu dengan napas memburu. "Mereka mengepung lumbung gandum utama dan membakar surat-surat kuasa lama milik almarhum Viscount!"Olivia melangkah mendekati Julian dan Kenneth, pandangan matanya memancarkan rasa ingin tahu sekaligus keprihatinan. "Tuan Viscount... apakah Tuan Muda yang dimaksud adalah saudara kandung Anda sendiri?"Kenneth menoleh pelan menatap Olivia, senyum pahit terukir tipis di bibirnya. "Buk
Rombongan Baron Julian Vance akhirnya tiba kembali di kediaman utama Vance menjelang senja. Berita mengenai kesuksesan misi bantuan logistik, ditambah keajaiban terpancarnya mata air baru yang sanggup memulihkan tanah mati perbatasan, telah menyebar lebih cepat daripada angin malam. Rakyat perbatasan bersorak di sepanjang jalan desa, menyambut sang Baron dan koki berbakatnya dengan linangan air mata haru.Guna merayakan keberhasilan besar yang menyelamatkan wilayah perbatasan dari kehancuran total tersebut, Julian mengumumkan sebuah pesta perjamuan resmi di aula utama kediaman Vance.Di dapur utama kediaman yang megah, aroma harum mentega cair, panggangan daging, dan rempah-rempah eksotis membumbung tinggi. Olivia sibuk memimpin para juru masak dengan celemek kain sederhana bersulam yang terikat rapi di pinggangnya."Nona Olivia, kuah kaldu iga sapi ini sudah mendidih sesuai petunjuk Anda!" seru salah seorang pembantu dapur dengan wajah sumringah."Bagus. Masukkan daun thyme dan sedik







