LOGINKeheningan yang mencekam menyelimuti seluruh sudut aula utama Mansion Rosewood sesaat setelah penawaran sensasional dari Lady Seraphina Sterling bergema di udara. Suasana perjamuan ulang tahun yang semula dipenuhi gelak tawa kini mendadak sarat akan intrik politik. Para bangsawan tinggi saling berbisik kasak-kusuk di balik kipas sutra dan piala kristal mereka, melemparkan pandangan penuh spekulasi ke arah Olivia. Gadis itu berdiri bergeming di belakang punggung tegap Baron Julian Vance, merasakan puluhan pasang mata menilai setiap gerak-geriknya.Melihat tekanan publik yang makin mengimpit Olivia, Julian mengambil satu langkah tegas ke depan. Tubuh jangkung sang baron menyembunyikan posisi Olivia secara utuh dari pandangan umum. Iris mata hijaunya yang tajam menatap Lady Seraphina dengan pancaran dingin dan menekan."Nona Olivia hadir di perjamuan ini sebagai partner resmiku, Lady Seraphina. Beliau bukanlah komoditas yang bisa Anda tawar begitu saja di depan umum hanya untuk dijadikan
Dua hari berlalu dengan cepat, dan malam puncak perjamuan ulang tahun Serikat Dagang Rosewood akhirnya tiba. Dapur utama Mansion Rosewood yang amat luas memancarkan kesibukan luar biasa. Puluhan koki dan asisten berjas putih bersih sibuk di depan tungku-tungku tembaga berukir.Atmosfer mendadak kaku saat Olivia melangkah masuk dengan celemek sederhana terikat di pinggangnya. Chef Pierre, koki eksekutif bertubuh gempal yang memimpin dapur Rosewood, menyilangkan tangan di dada seraya menatap Olivia dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan."Jadi kau koki dari perbatasan Vance yang dibicarakan Marquess Caelum?" tegur Chef Pierre dingin. "Dapur ini hanya mengolah bahan kelas atas. Jangan sampai resep desa rendahanmu merusak reputasi perjamuan ini."Para asisten koki di sekelilingnya saling berbisik, menatap Olivia dengan keraguan yang amat terang-terangan. Namun, Olivia hanya tersenyum tenang. Matanya bergulir meneliti deretan bahan makanan di meja pualam besar. Sek
Pelayan wanita membimbing Julian dan Olivia menelusuri lorong berlantai marmer mengilap menuju suite utama di sayap utara. Ruangan tersebut amat luas, dilengkapi balkon pribadi yang menghadap langsung ke hamparan taman mawar perak."Rupanya Caelum menyiapkan dua kamar berdampingan yang terhubung pintu tengah," gumam Julian seraya memeriksa selot pintu penghubung. Ia berbalik menatap Olivia yang sedang mengagumi vas porselen di sudut meja. "Olivia, jika ada sesuatu yang mencurigakan nanti malam, segera panggil aku."Olivia tersenyum tipis, mengangguk pelan. "Anda terlalu cemas, Tuan Baron. Ini hanya perjamuan penyambutan terbatas.""Ibu Kota bukan perbatasan Vance, Olivia," sahut Julian serius, menatap mata cokelat itu dengan lekat. "Di sini, setiap senyuman manis menyembunyikan belati."Sore berganti malam dengan cepat. Cahaya rembulan memantul di atas atap kubah kaca Mansion Rosewood yang megah. Olivia telah bersiap, mengenakan gaun hijau sage pilihannya yang jatuh dengan anggun di t
Keputusan membawa Olivia ke Ibu Kota telah bulat. Sebulan sebelum keberangkatan, Julian membawa penjahit langganan bangsawan terbaik ke kediaman Vance untuk menyiapkan seluruh kebutuhan sang koki. Di ruang tamu utama, tumpukan kain sutra premium, renda impor, beludru halus, hingga kotak-kotak perhiasan dan botol parfum porselen berserakan anggun di atas meja."Tuan Baron, ini sungguh terlalu berlebihan," ujar Olivia menghentikan jemari Julian yang sedang menunjuk sebuah gaun malam berlapis sulaman benang emas yang amat mahal.Julian menoleh, mata hijaunya menatap Olivia lembut. "Kau akan hadir sebagai koki kehormatan dari wilayah Vance, Olivia. Aku ingin kau mendapatkan fasilitas terbaik.""Tetapi saya ke sana untuk bekerja di dapur perjamuan, bukan berpesta sebagai bangsawan," kekeh Olivia halus. Ia memilah tumpukan pakaian tersebut dengan jemarinya yang terampil. "Saya hanya butuh beberapa gaun katun sederhana untuk dipakai sehari-hari di perjalanan, dan satu gaun formal yang nyaman
Enam bulan telah berlalu sejak Olivia pertama kali menapakkan kakinya di Kediaman Vance. Wilayah perbatasan yang dulunya terasa sepi dan tegang, kini perlahan-lahan berubah menjadi jauh lebih hangat dan hidup. Dapur utama kediaman bukan lagi sekadar tempat memasak biasa, melainkan pusat dari seluruh kehangatan di istana kecil milik Baron Julian Vance.Pagi itu, sinar matahari hangat menerobos masuk melalui jendela dapur yang terbuka lebar. Olivia berdiri tegap mengikat celemek kain bersulam kesayangannya. Di sampingnya, Martha dan Hans sibuk menata bahan-bahan segar yang baru dipetik dari kebun perbatasan."Nona Olivia," panggil Martha seraya tersenyum menggoda. "Tuan Baron dan Viscount Kenneth sudah menunggu di teras samping sejak tadi. Sepertinya mereka sengaja memajukan jadwal sarapan hanya untuk mencicipi buatanmu lebih awal."Olivia terkekeh pelan seraya mengaduk adonan roti gandum renyah. "Jangan berspekulasi yang tidak-tidak, Martha. Mereka berdua itu sibuk mengurus kerja sama
Kata-kata Olivia menggantung tajam di udara, melumpuhkan keberanian para ksatria serikat dagang yang semula begitu bernafsu menghunuskan pedang. Sang Kapten tertegun, menatap ceceran teh bening di atas karpet beludru dengan pandangan ragu yang mendalam.Derap langkah terburu-buru mendadak memecah keheningan lorong. Dokter Smith masuk membawa tas medisnya, disusul beberapa pelayan yang tampak panik."Singkirkan senjata kalian! Biarkan saya memeriksa para korban!" perintahkan Dokter Smith tegas.Dokter Smith segera berlutut, memeriksa denyut nadi Marquess Caelum dan Lady Seraphina yang telah dipindahkan ke kamar masing-masing demi kenyamanan penanganan medis. Setelah memberikan ramuan penawar standar dan memeriksa pupil mata kedua bangsawan tersebut, Dokter Smith melangkah keluar kamar dan menghela napas lega di hadapan Julian, Kenneth, serta Olivia."Bagaimana keadaan mereka, Dokter Smith?" tanya Julian cepat, merapatkan jubahnya."Tuan Baron, Anda tidak perlu khawatir," jawab Dokter S







